Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Jaga Malam
Jadwal jaga malam ditempel sore itu. Kertasnya dilakban di papan pengumuman dekat pos logistik. Aku berdiri cukup lama di depan situ, baca namaku. Jam dua belas sampai dua pagi.
Aku narik napas pelan. Bukan kaget. Lebih ke pasrah. Dari awal aku sudah nebak bakal dapat jam segitu. Jam nanggung, dingin, dan biasanya sepi.
Aku ambil senter, jaket tipis, sama buku catatan kecil. Satu regu jaga sama aku, tapi kebanyakan orang datangnya nggak barengan. Ada yang ngilang, ada yang telat, ada juga yang sekadar lewat lalu duduk sebentar.
Jam sebelas lewat lima puluh, aku sudah di area api unggun. Api kecil masih nyala, tinggal bara. Beberapa anak duduk melingkar. Ada rokok, ada gelas kopi instan. Aku datang, mereka nengok sebentar. “Naya jaga?” tanya salah satu.
“Iya.”
“Oke.” Habis itu, obrolan lanjut. Aku ikut duduk. Nggak ada yang ngajak ngomong. Nggak juga diusir. Aku ada di situ, tapi kayak nggak benar-benar dihitung.
Topik mereka ngalor-ngidul. Soal capek, soal cuaca, soal anak regu lain yang ribet. Aku dengerin. Kadang angguk. Kadang senyum tipis. Ada yang nyeletuk, “Besok pagi kayaknya ribet deh, konsumsi belum jelas.”
Yang lain jawab, “Kan Rara yang pegang.” Aku refleks ngangkat kepala. Tapi nggak ada lanjutan. Namaku nggak disebut. Seolah aku nggak pernah terlibat. Aku nahan komentar.
Bukan karena nggak tahu. Tapi karena aku capek jelasin hal yang ujung-ujungnya nggak dianggap. Jam dua belas lewat sepuluh, dua orang berdiri. “Gue ngantuk, balik duluan ya.”
“Iya.” Satu lagi ikut pergi. Tinggal aku dan dua orang. Mereka sibuk main HP. Aku bangkit, jalan keliling area. Pengecekan tenda. Jalur keluar masuk. Aku lakukan kayak biasa. Serius. Bukan karena diawasi, tapi karena tanggung jawab itu nempel sendiri.
Waktu aku lewat dekat dapur umum, lampunya masih nyala. Ada suara sendok, panci. Aku nengok sebentar, tapi nggak masuk. Aku nggak mau disangka ikut campur. Balik ke api unggun, satu orang sudah tidur sambil duduk. Kepala nunduk. Satunya lagi masih scroll HP. “Kamu nggak keliling?” tanyaku.
Dia ngangkat bahu. “Nanti aja.” Aku diem. Aku tahu nanti itu bisa berarti nggak sama sekali. Jam setengah satu, udara makin dingin. Jaket tipisku nggak banyak bantu. Aku duduk, melipat tangan. Obrolan mulai mati. Yang tidur makin tenggelam. Yang satu lagi matanya setengah tertutup.
Aku ngerasa kayak satpam bayaran nol rupiah. Jaga tempat, tapi nggak punya kuasa apa-apa. Jam satu lewat, ada anak lewat. Dari arah barak cewek. Dia berhenti sebentar. “Ini yang jaga siapa?” tanyanya. “Aku.”
“Oke.” Lalu pergi. Pendek. Datar. Kayak laporan, bukan ngobrol. Aku kembali duduk. Ngerasa bodoh karena berharap suasana bakal lebih hangat. Padahal dari awal aku sudah tahu, jaga malam itu bukan soal rame. Tapi sepi yang panjang.
Jam satu tiga puluh, aku lihat ke arah pos logistik. Lampunya mati. Semua kelihatan aman. Aku catat di buku kecil: 01.30 — kondisi aman.
Bukan karena harus. Tapi karena kebiasaan lama. Aku sadar, banyak hal yang aku lakukan di organisasi ini bukan karena disuruh. Tapi karena aku terbiasa jadi orang yang mikir duluan. Dan sekarang, kebiasaan itu malah bikin aku makin sendirian. Sekitar jam dua kurang lima belas, dua orang yang tadi pergi balik. Mereka duduk lagi, langsung ambil rokok. “Santai ya?” kata salah satu. Aku cuma angguk.
Mereka mulai ngobrol lagi, lebih pelan. Aku nggak ikut. Aku cuma dengerin. Topiknya bergeser ke hal-hal ringan. Lucu-lucuan kecil. Aku senyum, tapi nggak masuk. Ada satu momen, salah satu dari mereka bilang,
“Eh, tadi pas rapat Naya ngomong panjang banget ya.” Yang lain jawab,“Iya, ribet.” Aku ngerasa panas di telinga. Tapi aku diem. Aku pura-pura nggak dengar. Padahal jelas.
Aku berdiri. “Aku keliling bentar.”
“Nggak usah juga nggak apa-apa,” katanya santai.
Aku jalan aja. Aku nggak mau duduk di situ sambil pura-pura nggak tersinggung. Keliling kedua ini rasanya lebih berat. Kakiku pegal. Mataku perih. Tapi aku tetap cek satu-satu. Aku mikir, kenapa sih aku masih segininya? Kenapa aku masih mau repot, padahal posisiku sudah nggak jelas? Jawabannya simpel dan nyebelin: karena kalau aku nggak lakuin, aku nggak tenang.
Jam dua tepat, jaga malam selesai. Regu berikutnya datang. Aku serahin kondisi. Aku jelasin singkat. Mereka denger setengah. “Oke,” kata salah satu.
“Makasih.” Aku balik ke barak.
Langkahku pelan. Badanku capek, tapi pikiranku lebih capek. Di barak, beberapa sudah tidur. Ada yang masih ngobrol pelan. Aku naik ke kasurku. Tara ada di kasur atas, masih melek. “Jaga malam?” bisiknya.
“Iya.”
“Capek?”
Aku ketawa kecil. “Banget.”
Dia diem sebentar. “Mereka aneh ya akhir-akhir ini.” Aku nggak jawab langsung. Aku mikir. “Mungkin bukan mereka. Mungkin aku aja yang terlalu peduli.” Tara turun setengah, mukanya muncul dari atas.
“Kamu nggak salah, Nay.” Kalimat itu harusnya bikin lega. Tapi malah bikin dadaku makin berat. Aku pejamkan mata. Tubuhku capek, tapi tidur nggak langsung datang.
Suara jangkrik, langkah orang lewat, semuanya kedengaran jelas. Di situ aku sadar, diam itu ternyata lebih melelahkan dari debat. Karena waktu aku diam, pikiranku ribut sendiri.
Dan malam itu, di tengah rasa dingin dan lelah, aku ngerasa satu hal dengan jelas: Aku masih ada di sini. Masih kerja. Masih jaga. Tapi perlahan, aku berhenti berharap dianggap penting.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭