Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELULUHKAN GUNUNG ES.
Sisa-sisa kemeriahan pesta pernikahan mendadak itu masih terasa di ruang tengah rumah besar keluarga Rosita. Haris tampak menyandarkan punggungnya di sofa sambil merangkul Haniyah yang terlihat mulai mengantuk namun tetap memaksakan senyum bahagia. Di hadapan mereka, pasangan pengantin baru, Farel dan Ratih, duduk bersisian. Farel masih dengan posisi tegapnya yang kaku, sementara Ratih sudah tampak lebih santai meski kelelahan menggelayuti wajah cantiknya.
Rosita memandang keduanya dengan tatapan hangat. "Farel, Ratih, kamar di lantai atas sudah Ibu siapkan jika kalian lelah dan ingin menginap di sini saja malam ini. Lagipula ini sudah sangat larut."
Farel berdehem, mencoba menolak dengan sopan. "Terima kasih, Bu Rosita. Tapi saya rasa lebih baik saya membawa Ratih ke apartemen saya saja agar lebih tenang."
Ratih menoleh, alisnya bertaut sedikit. "Ke apartemenmu? Tapi Farel, aku tidak bisa meninggalkan rumah peninggalan orang tuaku begitu saja. Aku lebih nyaman jika kita di rumahku."
Haris yang melihat perdebatan kecil itu langsung terkekeh. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang diletakkannya di atas meja kopi.
"Kalian tidak usah berdebat soal tempat tinggal dulu. Masih pengantin baru, jangan meributkan hal teknis seperti itu. Lebih baik kalian berbulan madu saja agar semakin dekat dan sehati," ujar Haris sambil mengedipkan mata ke arah Ratih.
Ratih dengan cepat menyambar amplop itu dan membukanya. Matanya membelalak senang. "Tiket ke Paris? Dan keberangkatannya dua jam lagi?"
Farel tersentak, ia menatap bosnya dengan tidak percaya. "Bos, Anda bercanda? Pekerjaan di kantor sedang menumpuk, laporan audit desa juga belum selesai. Saya tidak bisa pergi begitu saja."
Haris melambaikan tangan dengan santai. "Lupakan soal kantor, Farel. Ini adalah bonus atas dedikasimu selama bertahun-tahun menjagaku. Kamu pantas mendapatkannya. Ini bukan tawaran, tapi perintah dari bosmu. Pergilah."
Farel terdiam. Ia tahu jika Haris sudah mengeluarkan kata perintah, maka tidak ada ruang untuk negosiasi. Akhirnya, dengan berat hati namun ada sedikit rasa penasaran di sudut hatinya, ia mengangguk patuh. Malam itu juga, mereka bergegas berkemas dan meluncur menuju bandara internasional.
Setelah menempuh perjalanan udara yang cukup panjang, mereka akhirnya sampai di sebuah hotel mewah di pusat kota romantis tersebut. Pelayan hotel mengantarkan mereka ke sebuah honeymoon suite yang dekorasinya benar-benar di luar bayangan Farel. Kelopak mawar merah bertebaran di atas ranjang king size, aroma lilin terapi melati menyeruak lembut, dan pencahayaan kamar diatur sedemikian temaram.
Farel berdiri mematung di dekat balkon, merasa sangat kikuk dengan suasana yang begitu intim. "Aku tidak menyangka Bos Haris menyiapkan sampai sedetail ini," gumamnya pelan.
Ratih tertawa renyah sambil melepas hijabnya, membiarkan rambut hitamnya terurai indah. "Haris itu ahlinya romansa, Farel. Bukan sepertimu yang hanya tahu strategi keamanan. Sekarang, mandilah duluan agar lelahmu hilang. Aku akan menyiapkan baju ganti."
Farel menurut dan segera masuk ke kamar mandi. Air hangat yang mengguyur tubuhnya sedikit membantu merilekskan otot-ototnya yang tegang. Namun, jantungnya tetap berdegup kencang saat ia keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi hotel. Di sana, Ratih sudah menunggu, duduk di tepi ranjang dengan gaun tidur berbahan sutra yang sangat elegan namun tetap sopan.
"Kenapa berdiri di sana saja seperti patung? Sini duduk," panggil Ratih sambil menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.
Farel berjalan dengan ragu dan duduk di samping istrinya. Ia memandang lurus ke depan, tidak berani melirik Ratih yang kini jaraknya hanya beberapa senti darinya.
"Farel, lihat aku," bisik Ratih lembut.
Saat Farel menoleh, ia mendapati wajah Ratih yang sangat dekat. "Iya, Nona? Eh, maksudku Ratih."
"Aku sudah milikmu seutuhnya sekarang. Kau suamiku, dan aku istrimu. Jangan bersikap seolah aku ini musuh yang harus kau waspadai," ujar Ratih dengan nada berani.
Farel menelan ludah. "Maaf, aku hanya tidak tahu harus memulai dari mana."
Melihat suaminya yang masih membeku, jiwa agresif Ratih kembali muncul. Ia menangkup wajah tegas Farel dengan kedua tangannya, lalu tanpa ragu ia mendaratkan kecupan lembut di bibir suaminya. Mata Farel terbelalak sempurna, tubuhnya menegang seperti tersengat listrik. Namun, sensasi manis dan hangat dari kecupan itu ternyata terasa sangat menenangkan.
Ratih sedikit menjauhkan wajahnya, ingin melihat reaksi Farel. Namun kali ini, insting pria normal dalam diri Farel akhirnya bangkit. Ia tidak membiarkan Ratih menjauh lebih lama. Tangannya yang kuat menarik kembali tengkuk Ratih, membalas kecupan itu dengan keberanian yang baru ia temukan.
"Ternyata kamu tidak sedingin yang aku kira," bisik Ratih di sela napas mereka yang mulai memburu.
Ciuman yang awalnya kaku perlahan berubah menjadi lumatan yang penuh gairah. Ratih membimbing suaminya dengan sabar, sementara Farel mulai menjelajahi rasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Seluruh tubuh Farel terasa panas, gairahnya benar-benar terpancing oleh aroma tubuh Ratih yang harum dan memabukkan.
Insting pelindungnya kini berubah menjadi insting seorang pria yang ingin memiliki istrinya sepenuhnya. Ia mulai mengeksplorasi setiap inci kecantikan Ratih, membuat istrinya mendesah pelan dalam pelukannya. Penyatuan suci itu pun akhirnya terjadi di bawah remang lampu kamar hotel. Di tengah dinginnya malam kota romantis itu, mereka berdua terhanyut dalam mahligai percintaan yang begitu panas dan penuh emosi.
Farel menyadari satu hal malam itu; ia telah menemukan misi baru dalam hidupnya. Bukan lagi sekadar menjaga Haris, melainkan menjaga dan mencintai wanita di pelukannya ini selamanya. Ia merasa kecanduan dengan kehangatan Ratih yang berhasil mencairkan gunung es di dalam hatinya.
Keesokan paginya di Jakarta, Haris sedang menyesap teh hangat di teras rumah ibunya saat Haniyah menghampirinya dengan wajah penuh keheranan sambil memegang hasil tes medis terbaru.
"Mas, ada sesuatu yang aneh dengan hasil pemeriksaan ultrasound terakhir dari dokter," ujar Haniyah dengan suara gemetar.
Haris langsung berdiri tegak, wajahnya cemas. "Ada apa? Apa kandunganmu bermasalah lagi?"
Haniyah menggeleng, namun matanya berkaca-kaca bahagia. "Dokter bilang, dia melihat ada dua detak jantung yang berbeda. Mas, sepertinya bayi kita kembar."
Gelas teh di tangan Haris hampir saja merosot. Ia terdiam sejenak, mencerna informasi luar biasa itu, lalu ia berteriak kegirangan dan langsung mengangkat Haniyah ke dalam pelukannya. "Dua? Kita akan punya dua bayi sekaligus? Alhamdulillah!"
Rosita yang mendengar teriakan itu langsung berlari keluar. "Ada apa? Kenapa ribut-ribut?"
"Bu! Haniyah hamil kembar!" seru Haris penuh kemenangan.
Rosita terpaku, lalu ia jatuh terduduk di kursi sambil menangis haru. "Ya Allah, terima kasih. Kau memberikan ganti yang jauh lebih besar atas ketidaksabaranku dulu."
Kebahagiaan itu kini lengkap. Di satu sisi, Farel sedang memulai hidup barunya dengan penuh cinta di Paris, dan di sisi lain, Haris sedang menantikan kehadiran dua malaikat kecil yang akan meramaikan rumahnya. Badai benar-benar telah berlalu, menyisakan pelangi yang begitu indah bagi mereka semua.