"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Jebakan di Gudang Tua
Debu beterbangan di udara yang mati, menari-nari di bawah berkas cahaya senter yang gemetar di tangan Kim Seokjin. Bau karat dan oli mesin yang basi menyengat penciuman, memberikan sensasi mual yang terus-menerus menekan ulu hatinya. Jin melangkah sangat hati-hati, setiap gesekan sol sepatunya di atas lantai beton yang retak terdengar seperti ledakan di telinganya sendiri.
Ia berada jauh di dalam perut kompleks gudang tua milik perusahaan cangkang yang dikelola Jimin. Tempat ini adalah labirin baja dan bayangan. Di depannya, barisan kontainer berkarat bertumpuk hingga ke langit-langit, seolah-olah siap runtuh dan mengubur siapa pun yang berani mengusik rahasia di dalamnya.
Langkah Jin terhenti di sebuah area terbuka yang menyerupai ruang kerja darurat. Di tengah ruangan itu, sebuah meja kayu panjang berdiri kokoh. Di atasnya, bukan narkoba atau senjata yang ia temukan, melainkan sesuatu yang jauh lebih personal.
Denah laboratorium forensik tempat Sheril bekerja tersebar di sana. Ada coretan tinta merah pada jam-jam rotasi penjaga, titik-titik buta kamera pengawas, bahkan jadwal detail autopsi yang dilakukan Sheril dalam sebulan terakhir.
"Brengsek," desis Jin. Amarah membakar dadanya. Mereka tidak hanya mengawasi Jungkook atau dirinya; mereka sedang membedah seluruh hidup Sheril dari balik bayang-bayang.
Saat Jin mengulurkan tangan untuk menyentuh salah satu denah itu, sebuah bunyi klik mekanis terdengar dari sudut ruangan. Detik berikutnya, suara dengung listrik yang masif membelah kesunyian.
TAK! TAK! TAK!
Lampu-lampu halogen di langit-langit gudang menyala secara serentak, membanjiri ruangan dengan cahaya putih yang menyilaukan. Jin terpejam sejenak, matanya perih karena perubahan cahaya yang drastis. Ia segera mengangkat pistol Glock-nya, memutar tubuh ke segala arah dengan waspada.
"Selamat datang, Detektif Kim Seokjin," suara Park Jimin menggema melalui sistem pengeras suara tua yang tersembunyi. Suaranya terdengar statis, pecah, namun tetap membawa nada elegan yang memuakkan. "Kau selalu menjadi tamu yang paling tidak sabar. Bukankah terlalu dini untuk melakukan inspeksi?"
"Keluar kau, Jimin! Berhenti bersembunyi di balik speaker rongsokan ini!" teriak Jin, suaranya memantul di dinding-dinding baja.
"Aku tidak bersembunyi, Detektif. Aku hanya sedang mengatur panggung," sahut Jimin diikuti tawa kecil yang dingin. "Kau tahu, Hoseok sangat mengeluh karena pertunjukannya di teater tadi malam tidak sempat kau nikmati sampai habis. Dia merasa... kurang diapresiasi."
Tepat saat kalimat itu berakhir, sebuah bayangan jatuh dari atas kontainer di sisi kanan Jin. Dengan gerakan yang lebih mirip akrobat daripada serangan manusia, J-Hope mendarat hanya beberapa meter di depan Jin.
Hoseok tidak mengenakan jaket merahnya kali ini. Ia memakai pakaian serba hitam yang melekat di tubuh, namun senyum lebarnya tetap ada, berkilau di bawah lampu halogen seperti pisau yang haus darah.
"Kejutan!" seru J-Hope riang.
Jin tidak membuang waktu. Ia menarik pelatuk.
BANG!
Peluru itu melesat, namun J-Hope bukan target yang mudah. Ia melenting ke samping, berguling di lantai dengan kelincahan yang tidak masuk akal, lalu menerjang ke arah Jin sebelum detektif itu bisa membidik lagi.
Pertarungan fisik yang brutal pecah di antara meja denah dan tumpukan peti. Jin mencoba menjaga jarak agar bisa menembak, namun J-Hope terus menempel padanya, menggunakan tangan kosong dan siku untuk memukul titik-titik lemah Jin. Jin berhasil mendaratkan sebuah pukulan keras ke rahang J-Hope, membuat pria itu terhuyung, namun J-Hope justru tertawa.
"Hanya itu? Koki kita punya pukulan yang lebih keras darimu!" ejek J-Hope.
Jin kembali menembak saat J-Hope mencoba menerjang lagi. Kali ini, peluru menyerempet lengan atas J-Hope, merobek kain dan kulitnya. Namun, alih-alih merintih, mata J-Hope justru berkilat dengan kegilaan yang murni. Ia mengeluarkan sebuah belati melengkung dari balik pinggangnya—belati yang sangat tipis dan tajam.
Dalam satu gerakan yang sangat cepat, J-Hope menghindari ayunan tangan Jin, merunduk di bawah ketiaknya, dan menghujamkan belati itu ke sisi perut Jin.
"AGHH!" Jin mengerang, rasa panas yang luar biasa menjalar dari perutnya.
Darah mulai merembes keluar, membasahi kemejanya. Jin mencoba mengangkat pistolnya sekali lagi, namun J-Hope memegang pergelangan tangan Jin dan menghantamkannya ke pinggiran meja besi dengan kekuatan yang mematahkan tulang. Pistol itu terjatuh, meluncur jauh ke bawah kontainer.
J-Hope mencengkeram rambut Jin, menarik kepalanya ke belakang, lalu menghantamkan dahi Jin ke sudut meja kayu berkali-kali.
DUAK! DUAK!
Pandangan Jin mulai kabur. Cairan hangat mengalir dari keningnya, menutupi matanya. Dunia di sekitarnya terasa berputar. Ia jatuh terkapar di atas lantai beton, napasnya tersengal, dan kesadarannya perlahan-lahan meredup.
J-Hope berdiri di atas tubuh Jin yang bersimbah darah. Ia menyeka darah di belatinya ke lengan baju Jin yang masih bersih, seolah-olah itu adalah ritual pembersihan. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Jin yang nyaris kehilangan kesadaran.
"Hadiah untuk adikmu, Seokjin-ah. Katakan padanya, Koki kecil tidak akan bisa membersihkan noda yang satu ini."
J-Hope bangkit, bersiul kecil seirama dengan langkah kakinya yang menjauh, lalu menghilang ke dalam kegelapan gudang sebelum pintu-pintu besi itu tertutup secara otomatis, mengunci Jin di dalam kesunyian yang mematikan.
Di luar, mobil Sheril berhenti dengan suara decitan ban yang memilukan. Ia melompat keluar, mengabaikan mesin mobilnya yang masih menyala. Matanya menatap gedung gudang tua yang tampak seperti peti mati raksasa di bawah sinar matahari pagi yang pucat.
Ponselnya kembali bergetar.
[Unknown Number]:
"Pintu samping tidak terkunci, Sheril. Masuklah. Waktu kakakmu tidak banyak. Oh, dan bawalah peralatan bedahmu... mungkin kau perlu menjahitnya sendiri."
Sheril terisak, napasnya memburu. Ia berlari menuju pintu samping yang dimaksud. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu besi yang dingin. Di dalam hatinya, ia berdoa pada tuhan mana pun yang bersedia mendengar, memohon agar ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir saat ia membuka mata.
Namun, saat pintu itu terbuka, aroma besi dari darah segar yang terbakar di bawah lampu halogen menyambutnya. Sheril melangkah masuk, melewati lorong-lorong kontainer yang gelap, hingga ia sampai di area tengah yang terang benderang.
Di sana, di bawah lampu yang menyilaukan, ia melihat sesosok tubuh terkapar tak berdaya di samping meja yang penuh dengan kertas-kertas.
"OPPA!" jerit Sheril, suaranya pecah menghancurkan kesunyian gudang.
Ia berlari dan jatuh berlutut di samping Jin. Tangan Sheril yang putih kini seketika berlumuran darah merah pekat saat ia mencoba menekan luka di perut kakaknya. Air matanya jatuh membasahi wajah Jin yang pucat dan penuh luka lebam.
"Oppa, bangun! Kumohon bangun!" Sheril merogoh tasnya, mencari apa pun yang bisa digunakan untuk menghentikan pendarahan.
Namun, di tengah kepanikannya, Sheril merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Sebuah bayangan panjang menutupi tubuhnya dan tubuh Jin.
Sheril membeku. Ia mengenakan aroma itu. Aroma kayu cendana yang menenangkan, aroma yang semalam memeluknya dengan hangat di atas atap gedung.
"Sheril," suara itu terdengar sangat lembut, namun di telinga Sheril sekarang, itu terdengar seperti lonceng kematian.
Sheril menoleh perlahan. Jungkook berdiri di sana, hanya beberapa meter jauhnya. Ia tidak memakai seragam koki atau kemeja kasmirnya. Ia memakai jaket kulit gelap, tangannya memegang tas hitam kecil yang selalu ia bawa—tas berisi peralatan "pembersih" miliknya.
Wajah Jungkook tampak sangat tenang, hampir tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam saat menatap Sheril yang bersimbah darah di samping Jin.
"Kook..." bisik Sheril, suaranya bergetar antara harapan dan ketakutan yang luar biasa. "Tolong dia... tolong bantu aku menyelamatkan Jin Oppa."
Jungkook menatap Jin, lalu kembali menatap Sheril. Ia melangkah maju perlahan, berlutut di sisi lain tubuh Jin. Ia membuka tas hitamnya, mengeluarkan antiseptik dan benang bedah nomor sebelas yang sangat dikenali Sheril.
"Aku akan membantumu, Sheril," ucap Jungkook lirih. "Tapi kau harus mengerti satu hal. Setelah ini, dunia kita tidak akan pernah sama lagi. Kau harus memilih... kebenaran yang akan menghancurkanmu, atau kebohongan yang akan menjagamu tetap bersamaku."
Sheril menatap tangan Jungkook yang mulai bergerak dengan presisi yang mengerikan untuk menutup luka di perut Jin. Di saat itulah, Sheril menyadari bahwa pesan dari nomor tak dikenal itu benar: Jungkook memang datang untuk membereskan kekacauan ini. Namun, ia tidak tahu apakah Jungkook adalah penyelamat kakaknya, ataukah pria yang sedang menjahit bukti terakhir dari kejahatannya sendiri.