Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggota keluarga baru
Hari itu hujan turun pelan, seolah ragu menyentuh Jakarta.
Keylara Putri Kusuma—yang sejak kecil dipanggil Lara—duduk di anak tangga rumah besar keluarga Kusuma, memeluk lutut sambil menghitung tetesan air yang jatuh dari ujung atap. Bau tanah basah bercampur wangi kayu tua rumah itu selalu membuatnya merasa aman. Rumah itu tidak pernah kecil—bahkan terlalu besar untuk sebuah keluarga berisi tiga orang. Namun justru karena itulah, rumah itu sering terasa sepi.
Lara adalah anak tunggal.
“Nona Lara, jangan duduk di situ. Lantainya dingin,” tegur bibi sambil membawa lap pel.
“Lara nunggu Ayah,” jawabnya polos.
“Katanya ada urusan penting. Mungkin pulangnya agak malam.”
Urusan penting. Ayahnya selalu menggunakan dua kata itu. Lara mendengus kecil, lalu bangkit dan berlari ke ruang tamu, menempelkan wajahnya ke jendela besar yang menghadap halaman depan. Mobil ayah belum terlihat.
Biasanya ayah pulang sebelum hujan turun.
Lara menghela napas, meninggalkan embun kecil di kaca. Tepat saat ia hendak berbalik, suara mesin mobil terdengar. Matanya langsung berbinar.
“Itu Ayah!” serunya riang.
Ia berlari ke pintu depan. Pintu terbuka, memperlihatkan ayahnya yang masuk lebih dulu dengan jas sedikit basah. Namun langkah Lara mendadak terhenti ketika melihat sosok di belakang ayahnya.
Seorang anak laki-laki.
Lebih tepatnya, seorang remaja.
Tingginya hampir menyamai ayahnya. Rambut hitamnya basah oleh hujan, menempel di kening. Wajahnya pucat, sorot matanya gelap dan kosong, seperti seseorang yang terlalu lama hidup dalam kesedihan. Ia membawa ransel hitam sederhana dan berdiri kaku di ambang pintu, seolah rumah itu bukan tempat yang ingin ia masuki.
Lara menatapnya tanpa berkedip.
Ayah menutup pintu, lalu menoleh ke arah Lara. Senyumnya berbeda dari biasanya—lebih lembut, namun menyimpan beban.
“Lara,” panggil ayahnya lembut.
Lara melangkah mendekat, masih menatap remaja itu dengan rasa ingin tahu yang besar. Ada sesuatu dalam diri anak laki-laki itu yang membuat dadanya terasa aneh, seperti dorongan ingin mendekat dan memeluk, meski ia tak tahu alasannya.
Ayah berjongkok di hadapan Lara.
“Mulai hari ini,” katanya pelan namun tegas, “Arka akan tinggal bersama kita.”
Lara mengernyit. “Tinggal lama, Yah?”
Ayah mengangguk. “Iya.”
Lara menoleh lagi ke arah remaja itu. Arka. Nama itu terasa asing, tapi anehnya juga hangat. Senyum kecil mengembang di wajahnya.
“Dia siapa, Yah?”
Ayah berdiri, lalu menepuk bahu Arka dengan hati-hati, seolah takut menyentuh luka yang tak terlihat.
“Namanya Arka Pratama. Mulai hari ini, dia adalah anggota keluarga kita.”
Anggota keluarga.
Kata-kata itu seperti kembang api kecil di kepala Lara.
Sebagai anak tunggal, Lara selalu bermimpi punya kakak. Rumah besar ini akan terasa lebih hidup jika ada orang lain yang menemaninya bermain, bercerita, atau sekadar duduk bersamanya.
Lara melangkah maju tanpa ragu.
“Halo,” sapanya ceria sambil menengadah. “Namaku Keylara. Tapi semua orang manggil aku Lara.”
Arka tidak menjawab.
Ia hanya melirik sekilas, lalu memalingkan wajah. Rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram tali ransel seolah benda itu satu-satunya penopang hidupnya.
Lara tidak tersinggung. Justru rasa penasarannya makin besar.
“Kamu kakakku?” tanyanya polos.
Ayah terkekeh kecil.
“Secara keluarga,” ujar ayah, “dia adik angkat Ayah. Jadi untuk Lara… paman.”
Mata Lara langsung berbinar.
“Paman?” ulangnya girang. “Lara belum pernah punya paman yang tinggal serumah!”
Tanpa berpikir panjang, Lara meraih tangan Arka.
Tangannya dingin.
Arka refleks menarik tangannya dengan kasar hingga Lara hampir terjatuh. Ayah langsung menegur, namun Lara justru tertawa kecil.
“Tidak apa-apa, Ayah,” kata Lara cepat. “Pamanku cuma kaget.”
Arka menatap Lara. Kali ini lebih lama. Di balik tatapan dinginnya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan—lelah, hampa, dan kehilangan yang terlalu besar untuk anak seusianya.
“Aku tidak suka anak kecil,” katanya datar.
Lara berkedip, lalu tersenyum lebih lebar.
“Tidak apa-apa,” jawabnya ringan. “Lara suka kamu.”
Arka tidak menjawab. Ia hanya berjalan masuk ke dalam rumah, melewati Lara tanpa menoleh.
Sejak hari itu, hidup Lara berubah.
Arka tinggal di kamar tamu di ujung koridor. Ia jarang bicara, jarang tersenyum, dan lebih sering mengurung diri. Namun Lara tidak pernah kehabisan semangat. Setiap pagi ia mengetuk pintu kamar Arka, membawakan roti, susu, atau sekadar mengajaknya bermain.
Arka selalu mengabaikannya.
Kadang menutup pintu tepat di depan wajah Lara.
Kadang berkata singkat, “Pergi.”
Kadang pura-pura tidak mendengar.
Namun Lara tidak menyerah.
Ia mengikuti Arka ke mana pun pria itu pergi di dalam rumah. Duduk diam di sudut ruangan saat Arka membaca, menggambar di buku kecilnya sambil sesekali melirik ke arahnya.
“Kau menyebalkan,” gumam Arka suatu sore.
Lara tersenyum bangga. “Iya.”
Hari demi hari berlalu.
Sejak Arka tinggal di rumah itu, Lara menemukan satu fakta penting:
Pamannya tidak ramah.
Tidak galak, tidak kejam—hanya… dingin. Terlalu dingin untuk ukuran seseorang yang tinggal di rumah penuh cahaya dan tawa seperti rumah Wijaya Kusuma.
Pagi pertama setelah Arka datang, Lara bangun lebih awal dari biasanya. Ia berlari ke dapur dengan piyama bermotif bintang, rambutnya masih berantakan. Di tangannya ada roti tawar yang ia ambil sendiri dari meja.
Ia berdiri di depan pintu kamar tamu di ujung koridor. Kamar itu kini menjadi kamar Arka.
Lara mengangkat tangan kecilnya dan mengetuk pintu dengan pelan.
Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
Masih sunyi.
Lara mendengus kecil. Ia menempelkan telinganya ke pintu.
“Paman Arka?” panggilnya lirih.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Lara hampir jatuh ke depan jika Arka tidak sigap menangkap lengannya. Namun bukan terima kasih yang keluar dari mulutnya—melainkan keluhan.
“Kau tidak bisa diam?” suara Arka serak, jelas baru bangun.
Lara mendongak. Rambut Arka sedikit berantakan, matanya sembab, kaus hitamnya kusut. Untuk pertama kalinya, ia terlihat… manusiawi.
“Ayah bilang sarapan itu penting,” ujar Lara serius sambil mengangkat roti tawar. “Ini buat Paman.”
Arka menatap roti itu seolah Lara baru saja menyerahkan sesuatu yang sangat aneh.
“Aku tidak lapar.”
“Bohong,” balas Lara cepat. “Perut Paman bunyi.”
Arka terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia menutup pintu perlahan—tepat di depan wajah Lara.
Bukan dibanting. Bukan dihempaskan. Tapi cukup jelas untuk menyampaikan satu pesan: pergi.
Lara berdiri mematung. Lalu ia tersenyum kecil.
“Berarti nanti Lara balik lagi,” gumamnya.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang hampir sama.
Lara selalu muncul di dekat Arka, entah dari mana. Kadang saat Arka duduk membaca buku, tiba-tiba Lara sudah duduk bersila di sampingnya, menggambar sesuatu di buku kecilnya. Kadang saat Arka minum di dapur, Lara berdiri di belakangnya, mengamati setiap gerakan.
“Kenapa kau selalu mengikutiku?” tanya Arka suatu sore, nadanya jelas kesal.
“Karena Paman ke mana-mana,” jawab Lara polos.
“Itu bukan alasan.”
“Itu alasan,” sanggah Lara sambil mengangguk yakin.
Arka menghela napas panjang, lalu berjalan menjauh. Lara mengikutinya dengan langkah kecil yang cepat.
“Jangan ikuti aku,” ujar Arka tanpa menoleh.
“Tapi Lara takut sendirian.”
“Kau tidak sendirian. Rumah ini penuh orang.”
“Tapi tidak ada Paman.”
Langkah Arka terhenti.
Ia menoleh, menatap Lara dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang bergetar sebentar di sana—terlalu cepat untuk disebut perasaan, terlalu nyata untuk diabaikan.
“Jangan katakan itu lagi,” katanya pelan.
Lara mengernyit. “Kenapa?”
“Karena…” Arka terdiam, lalu menggeleng. “Sudahlah.”
Malam hari adalah waktu favorit Lara.
Karena biasanya ayah dan ibunya sibuk, dan Arka duduk sendirian di ruang keluarga, membaca atau menatap layar ponselnya tanpa ekspresi. Lara akan datang membawa bantal kecilnya, lalu duduk di lantai dekat sofa.
“Paman,” panggilnya.
Tidak dijawab.
“Paman Arka.”
Masih sunyi.
“Pamannnn.”
Arka menutup bukunya dengan kasar. “Apa?”
Lara tersenyum lebar. “Cerita.”
“Aku tidak bisa bercerita.”
“Bisa,” sanggah Lara. “Ayah bilang semua orang bisa cerita.”
“Aku bukan semua orang.”
Lara berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Oh. Berarti Paman spesial.”
Arka terdiam. Lagi-lagi.
Ia menoleh ke arah Lara. Wajah kecil itu menatapnya penuh harap, tanpa sedikit pun rasa takut atau ragu. Tidak ada tatapan iba. Tidak ada rasa kasihan. Hanya ketulusan polos seorang anak kecil.
“Apa yang mau kau dengar?” tanya Arka akhirnya, nadanya datar.
Lara bersorak kecil. “Tentang Paman!”
Arka mengernyit. “Tidak.”
“Kenapa?”
“Tidak ada yang menarik.”
“Berarti Lara mau dengar yang tidak menarik,” ujar Lara mantap.
Arka memalingkan wajah, menatap ke arah jendela. Hujan kembali turun malam itu, mengetuk kaca dengan irama pelan. Suara itu membuat rahangnya mengeras.
“Aku tidak suka hujan,” katanya tiba-tiba.
Lara mengangkat kepala. “Kenapa?”
“Karena hujan selalu datang saat sesuatu pergi.”
Lara tidak mengerti sepenuhnya, tapi ia tahu satu hal: suara Arka berubah. Lebih pelan. Lebih berat.
Lara berdiri, lalu memanjat sofa dengan susah payah. Ia duduk di samping Arka, kakinya menggantung.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “Lara bakal duduk di sini tiap hujan.”
Arka menatapnya cepat. “Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena kau akan pergi juga.”
Lara menggeleng kuat. “Lara tidak pergi.”
“Kau akan pergi.”
“Tidak,” ulang Lara keras kepala. “Lara di sini.”
Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke rumah itu, Arka tidak membalas. Ia hanya menatap Lara lama sekali, seolah mencoba mencari kebohongan di mata kecil itu—dan gagal menemukannya.
Beberapa hari kemudian, Arka duduk di taman belakang, membaca buku. Lara berlari-lari mengejar kupu-kupu. Ia tersandung akar pohon dan jatuh.
Tangisnya langsung pecah.
Arka refleks berdiri.
Ia tidak sadar sudah berlari mendekat sampai lutut Lara berdarah. Tangannya bergerak sendiri, mengangkat tubuh kecil itu, mendudukkannya di bangku taman.
“Kau ini kenapa selalu ceroboh?” gumamnya.
Lara terisak, tapi tetap tersenyum. “Karena Lara mau cepat ke Paman.”
Arka membeku.
Ia membersihkan luka Lara dengan gerakan kaku, namun hati-hati. Saat Lara meringis, tangannya berhenti.
“Sakit?” tanyanya pelan.
Lara mengangguk.
Arka meniup luka itu perlahan.
Gerakan sederhana itu membuat Lara berhenti menangis.
Sejak hari itu, sesuatu berubah—meski sangat kecil.
Arka masih dingin. Masih jarang bicara. Masih sering menghindar.
Namun ia tidak lagi menutup pintu terlalu keras.
Ia membiarkan Lara duduk di dekatnya.
Ia membiarkan Lara memanggil namanya, berulang kali.
Dan tanpa Arka sadari, keberadaan Lara yang dulu terasa mengganggu, kini mulai meninggalkan ruang kosong setiap kali ia tidak ada.
Arka tidak menyebutnya rindu.
Ia hanya tahu satu hal yang tidak ia pahami:
Rumah itu tidak lagi terasa sepenuhnya sunyi.
Dan semua itu… karena seorang anak kecil bernama Lara.