NovelToon NovelToon
Di Ulang Tahun Ke-35

Di Ulang Tahun Ke-35

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ama Apr

Di malam ulang tahun suaminya yang ke tiga puluh lima, Zhea datang ke kantor Zavier untuk memberikan kejutan.

Kue di tangan. Senyum di bibir. Cinta memenuhi dadanya.

Tapi saat pintu ruangan itu terbuka perlahan, semua runtuh dalam sekejap mata.

Suaminya ... lelaki yang ia percaya dan ia cintai selama ini, sedang meniduri sekretarisnya sendiri di atas meja kerja.

Kue itu jatuh. Hati Zhea porak-poranda.

Malam itu, Zhea tak hanya kehilangan suami. Tapi kehilangan separuh dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Zhea masih duduk di atas ranjang, di sebelah Zheza sambil memegang ponselnya. Ia menekan nomor ibu mertuanya: Rindu Dinata.

Panggilan tersambung dan langsung diangkat. Jantung Zhea berdebar hebat. "Halo, Ma ..."

Suara mama mertuanya terdengar hangat dari seberang sana. Ada sedikit suara angin dan riuh suara orang, mungkin mereka sedang jalan-jalan ... tebak Zhea.

"Halo, sayang. Kebetulan kamu nelepon. Mama pengen video call, kangen Zheza."

Zhea menyahuti dengan cepat. "Zheza-nya lagi tidur, Ma. Oh ya, Mama dan Papa lagi apa? Kapan kalian pulang ke Indonesia?" tanyanya memulai rencana.

Rindu membalas dari seberang sana. "Oh tidur ya. Mama dan Papa lagi mau nyari makan siang. Besok lusa, sayang ... kenapa, kamu mau minta dibeliin apa? Bilang aja, nggak usah sungkan."

Zhea terkekeh pelan. "Nggak, Ma. Aku nggak mau dibeliin apa-apa. Aku cuma mau bilang ... kalau aku mau buat pesta ulang tahun untuk Mas Zavi, tapi Mama dan Papa harus datang ... dan bantuin aku untuk membuat kejutan," ungkapnya dengan membara.

"Ohh ... begitu. Siap, sayang. Nanti Mama bantuin. Mau di hotel mana acaranya?" tanya wanita sosialita itu.

"Makasih, Ma. Acaranya di rumah saja, biar lebih intim," jawab Zhea.

"Iya, sayang. Tunggu Mama pulang, ya. Kita buat pesta yang spesial untuk suamimu." Suara Rindu terdengar penuh semangat.

Zhea mengangguk mantap sambil menyeringai lebar. "Iya, Mama. Makasih. Happy holiday, ya, Ma, Pa ..."

Panggilan itu pun berakhir. "Perfect!" Zhea bertepuk tangan. "Tinggal menyusun kejutannya," lanjutnya menggebu. Tapi sakit itu kian terasa.

Ponselnya masih ia genggam. Luka di hatinya terasa makin menganga. Zhea menarik napas panjang.

Ia menyalakan ponsel lagi, mencari kontak 'My Mother'. Jempolnya sempat ragu satu detik, tapi akhirnya ia tetap menekan tombol panggil.

Suara sang ibu langsung menyambut rungu. "Halo, Zhea ... ada apa, Nak? Tumben jam segini nelepon Mama?"

"Halo, Ma ... aku lagi kangen aja sama Mama." Suara Zhea terdengar pelan.

"Zhea, kenapa suara kamu terdengar seperti habis menangis, ada apa, Nak?" Suara sang ibunda terdengar khawatir.

Zhea menatap ke arah jendela, hujan di luar semakin deras. "Aku nggak habis nangis, kok, Ma. Aku cuma agak nggak enak badan. Mama lagi ngapain?"

Helaan napas terdengar dari ujung sana, sebelum suara kembali terdengar. "Mama masih di Kafe. Mau pulang, kejebak hujan. Soalnya Mama nggak bawa mobil. Minta dijemput Rafly, dia lembur di pabrik. Kalau nggak enak badan, buruan minum obat, sayang. Ingat, ada Zheza yang butuh kamu selalu sehat."

Zhea menggigit bibir. Perhatian dari sang ibu tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Ia sebenarnya ingin bercerita tentang rumah tangganya, tapi tidak tahu mau mulai dari mana. Ia tidak ingin membuat mamanya cemas. "Iya, Ma. Nanti aku minum obat. Mama kenapa nggak pesen gocar aja?"

"Iya, nanti pesen. Tapi nunggu hujannya reda dulu. Mama takut ada guntur. Ngeri. Oh, ya ... cucu Mama lagi ngapain?"

Zhea tersenyum hangat, meski tidak mungkin dilihat oleh mamanya. "Zheza lagi tidur, Ma."

Zahrani: mama Zhea bergumam panjang.

"Ma, udah dulu ya. Aku mau ke kamar mandi. Mama hati-hati. Salam buat Rafly. Aku sayang Mama," kata Zhea mengakhiri percakapan di balik telepon itu.

"Iya, sayang. Nanti Mama bilangin ke adikmu. Mama juga sayang banget sama kamu dan Zheza."

Setelah telepon ditutup, Zhea beranjak turun dari ranjang untuk menutup tirai jendela. Lalu ia kembali ke samping putri kecilnya yang masih tertidur pulas. Napasnya naik turun lembut, damai sekali.

Zhea naik lagi ke kasur secara perlahan, takut membangunkannya.

Ia berbaring di samping putrinya, menghadap wajah mungil itu.

Tangannya mengusap lembut rambut tipis sang putri. "Zheza ... doakan Mama ya, sayang. Doakan Mama supaya kuat menghadapi semua cobaan ini."

Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya menetes. Tapi ia usap cepat-cepat, agar tidak jatuh ke pipi anaknya.

Zhea memandang wajah putrinya lebih lama. Melihat kedamaian Zheza tidur seolah menenangkan hatinya yang penuh badai. "Kalau bukan karena kamu," Zhea bergumam sangat pelan, "Mama mungkin udah nggak kuat. Mama udah putus asa." Ia menempelkan keningnya ke kening Zheza yang hangat.

Dan di detik itu, Zhea berusaha menenangkan diri.

Setelah melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan, Zhea beranjak duduk di sofa. Membuka laptop dan buku catatan.

Dan di sana ... Ia mulai menyusun rencana pesta ulang tahun suaminya.

Tapi kali ini ... pesta itu bukan hanya sekadar perayaan. Ini akan jadi panggung kebenaran.

Besok lusa ... tepat saat mama dan papa mertuanya pulang dari Belanda ... semuanya akan ia bongkar.

"Wanita murahan itu harus hadir. Supaya aku bisa mempermalukannya di depan Mama Rindu dan Papa Soni, juga di hadapan Arin." Zhea menyusun semuanya di laptop itu. Memandang layar laptop itu dengan pandangan nanar. Tangannya sedikit gemetar ... tapi sorot matanya tajam.

Zhea memejamkan mata sejenak.

Lima tahun ia berusaha menjadi istri yang baik. Selalu percaya, setia dan menuruti semua perintah suaminya. Bahkan ia rela menjadi ibu rumah tangga demi baktinya pada sang suami. Namun Zavier ... malah menghancurkan segalanya. Dia bukan hanya menyakiti fisik Zhea, tapi psikisnya juga terkoyak.

Besok lusa ... semuanya akan dibuka.

Dan kedua mertuanya ... yang selalu baik padanya, berhak melihat kebenaran itu dengan mata kepala sendiri.

Zhea menutup laptop pelan.

Tangannya menahan napas di dada. "Ini bukan pemberontakan seorang istri, tapi ini adalah pembongkaran kebejatan yang selama ini seorang suami tutupi."

Suara rengekan Zheza membuyarkan semua konsentrasi wanita berpiyama merah marun itu. Ia segera beranjak dari sofa, menghampiri putrinya yang terlihat kehausan. "Aduh ... anak Mama pengen susu ya?" ucapnya penuh kasih seraya merebah, tidur menyamping dan mulai menyusui sang buah hati.

Dalam suasana intim itu, tiba-tiba bayangan indah saat pertama Zheza lahir ke dunia kembali hadir memenuhi ingatan.

Di mana Zavier sering membantunya menjaga Zheza. Lelaki itu rela bergadang.

Kata-kata romantis itu terngiang-ngiang di telinga Zhea.

"Sayang, siniin Zheza-nya. Kamu tidur, gih. Nanti, kalau Zheza lapar ... aku akan membangunkanmu."

Dulu, perkataan itu terdengar romantis, manis dan membuatnya menangis haru. Namun sekarang ... perkataan itu seperti panah yang menembus jantungnya. Menyakitkan.

"Sejak kapan kamu menduakan cintaku, Zavier? Apakah sejak aku jarang melayanimu?" Zhea menahan untuk tak menangis lagi. Dia harus bisa mengontrol emosi karena sedang menyusui sang putri. "Cukup, Zhea. Jangan mengingat-ingat semua itu. Percuma juga kamu terus bertanya-tanya. Itu semua sudah tidak penting dan tak berarti. Fokuskan saja konsentrasimu pada pesta kejutan itu. Buat Zavier dan simpanannya tak punya muka dan menyesal sudah menyakiti dan mengkhianatimu. "Keep it up, Zhea! You can do it!" Zhea mengepalkan tangannya, semangatnya membara.

_____

Tepat jam sepuluh malam, Zavier sampai di rumah. Ia menaiki tangga perlahan sambil membayangkan pergulatan panasnya dengan Elara barusan. Dia dan Elara melakukan penyatuan itu dari sehabis magrib sampai setengah sembilan malam. "Ela ... kamu selalu membuatku ketagihan," kekehnya kagum.

Zavier membuka pintu kamarnya, ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap wajah Zhea yang tertidur pulas di bawah cahaya temaram lampu kamar.

Aroma minyak telon dan parfum bayi memenuhi udara ... aroma khas rumah yang dulu selalu membuatnya tenang, kini justru terasa membosankan.

Ia menatap lekat wajah istrinya itu. Masih sama lembutnya, masih sama tenangnya. Tapi bagi Zavier, semua tampak berbeda.

Dengan tangan dingin, ia mengusap pipi Zhea perlahan. "Zhea ..." bisiknya lirih, bibirnya membentuk senyum miris. "Kamu itu masih tetap cantik seperti dulu." Tangannya berhenti di ujung dagu, menatap tubuh Zhea yang tertutup selimut. "Tapi sayangnya, tubuhmu tak seindah dulu. Kamu terlalu gemuk sekarang. Jarang dandan ... dan selalu sibuk mengurus Zheza tanpa peduli kalau aku juga punya kebutuhan lain yang harus kamu penuhi."

Ia tertawa kecil ... pahit, nyaris tanpa suara. "Maka jangan salahkan aku kalau akhirnya aku mencari yang lain. Elara tahu bagaimana membuatku merasa diinginkan, Zhea. Bukan seperti kamu, yang selalu menolak dengan alasan lelah, jahitan masih basah dan harus menyusui." Zavier memejamkan mata sebentar, menahan rasa bersalah yang entah benar-benar ada atau hanya sisa kemanusiaan yang menolak mati.

Ia menoleh ke arah boks bayi, melihat Zheza yang tidur dengan tenang ... buah cintanya dengan Zhea, cinta yang kini terasa hambar. "Maaf ..." gumamnya nyaris tak terdengar. "Tapi aku tidak menyesal."

Ia lalu menjauhkan badan, berjalan masuk ke kamar mandi sambil kembali membayangkan Elara.

"Kamu benar-benar jahat, Zavier." Tanpa lelaki itu ketahui, Zhea mendengarkan semuanya. Air mata menetes tanpa suara, namun hatinya benar-benar terluka. "Tuhan ... dukunglah keinginanku untuk berpisah dengan lelaki laknat itu."

1
Ragil Saputri
penyesalan emang selalu terlambat datangnya, moga zavier bener" berubah, setelah kehilangan semua yg dia sayangi.. itulah cerita kehidupan seorang zavier
growtopia agamen cool
tapi suka ceritanya
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
growtopia agamen cool
serem ya pembalasannya, nggak tega, walau elara jahat
Ama Apr: iya kk🥲
total 1 replies
Asyatun 1
lanjut
Ama Apr: siapl
total 1 replies
Yuningsih Nining
si elara keluar dari prodeo ketemu singa maung yang lebih mengerikan
Ama Apr: hooh kk🥲
total 1 replies
Yuningsih Nining
2-2 nya sama² punya misi pembalasan dendam, yng sangat Ngeri nya Elena jadi korban yampun revan jahat nya gak ktulungan ini
Ama Apr: kk nya tuh yg jahat🥲
total 1 replies
Les Tary
Revan dibikin kena karma juga Thor dia ga pandang bulu wanita baik baik juga dijual sampai tragis
Ama Apr: iya kk, nanti pasti ada hukumannya
total 1 replies
Yuningsih Nining
terNyata si Revan dgn segala niat terselubungbbuat si elara Ngeriii adek si elara Elena dia korbanin
Revan psikopat
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
nunik rahyuni
mala klo org luar ni banyak yg g sunat ...byuhhhhhhh tropett nya berliku liku ela🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, emang bener berliku2 kk? 🤭
total 1 replies
nunik rahyuni
melihat org nya model spt itu.bagaimana terus trompet nya thoooooor
modyar kowe ela entek sesak jebol dpt nya model galon air/Toasted/
nunik rahyuni: jgn di bayangkan made in afrika bikin hanccur gua besarang..klo made in indonesia sdh sesuai ukuranya🤣🤣🤣
total 2 replies
zahrahaifa
so' nolak lu lacur... waktu msh dipenjara bukannye lu udeh gatel pengen barang elu dimasukin karna ga puas pke tangan... iye kan.... skrng udeh ada yg super big malah takut
Ama Apr: munafik dia🥲
total 1 replies
Endang Mulyawati
Alhamdulillah taro hamil
Ama Apr: iya🫰 kk
total 1 replies
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
sukurin, jangan ad yg menolong, itu balasan unt elara yg sdh merusak smua kebahagiaan anak kecil yg msh butuh kasih sayang ayahnya, siksa lebih lagi van, bikin cerita yg lbh psiko lg thor unt perempuan licik, jahat, bengis dan tak tau dr spt elara it thor, hrsnya ibuknya jg dijadikan placur
Ama Apr: hehe, ditunggu sj kk, ada kejutan lagi kok🤭
total 1 replies
Eka Novariani
setuju
Ama Apr: sipp🫰🫰
total 1 replies
nunik rahyuni
mudah mudahan lekas taubat dan ada yg menolong entahnorg afrika itu kah yg mau membeli dan memelihara untuk pribadi..itu lebih baik dr pd di tangan revan
Ama Apr: aduh kk, ngakak wae komennya. jalan kali ah berliku🤣
total 5 replies
Eka Novariani
sedih banget masa lalu Revan... sekarang terima lah nasibmu Elara hanya Tuhan yang bisa menolongmu..
Ama Apr: huhu iya
total 1 replies
Lee Mbaa Young
elara blm nyadar ya pdhl karma nya smp adiknya jd korban.
Ama Apr: iya, biasalah mantan lakor satu ini agak2 nggak nyadar diri
total 1 replies
Les Tary
Revan bener" kejam sakit hatinya sama elara...elena ga tahu apa" ikut dijual
Ama Apr: begitulah kk🥲
total 1 replies
Lisna Saris
mending elena di matikan saja deh Thor bukan benci tapa nda tega anak gadis baik baik yg berjuang menyelamatkan hidupnya dari kerakusan orang tuanya malah menderita menerima Karama yg bukan dari dosa yg dia lakukan,dan maga Revan dapat karma yg lebih pedih karena telah menghancurkan banyak anak gadis orang,
growtopia agamen cool: iy jgn sadis sama elena thor
total 6 replies
Queenfans Angelfans
malas baca kalo soal ttg elara sama si revan ini
Queenfans Angelfans: bacanya ada rasa gk teganya aku Thor meski sejahat apapun org itu
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!