NovelToon NovelToon
Di Ulang Tahun Ke-35

Di Ulang Tahun Ke-35

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Di malam ulang tahun suaminya yang ke tiga puluh lima, Zhea datang ke kantor Zavier untuk memberikan kejutan.

Kue di tangan. Senyum di bibir. Cinta memenuhi dadanya.

Tapi saat pintu ruangan itu terbuka perlahan, semua runtuh dalam sekejap mata.

Suaminya ... lelaki yang ia percaya dan ia cintai selama ini, sedang meniduri sekretarisnya sendiri di atas meja kerja.

Kue itu jatuh. Hati Zhea porak-poranda.

Malam itu, Zhea tak hanya kehilangan suami. Tapi kehilangan separuh dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Zhea masih duduk di atas ranjang, di sebelah Zheza sambil memegang ponselnya. Ia menekan nomor ibu mertuanya: Rindu Dinata.

Panggilan tersambung dan langsung diangkat. Jantung Zhea berdebar hebat. "Halo, Ma ..."

Suara mama mertuanya terdengar hangat dari seberang sana. Ada sedikit suara angin dan riuh suara orang, mungkin mereka sedang jalan-jalan ... tebak Zhea.

"Halo, sayang. Kebetulan kamu nelepon. Mama pengen video call, kangen Zheza."

Zhea menyahuti dengan cepat. "Zheza-nya lagi tidur, Ma. Oh ya, Mama dan Papa lagi apa? Kapan kalian pulang ke Indonesia?" tanyanya memulai rencana.

Rindu membalas dari seberang sana. "Oh tidur ya. Mama dan Papa lagi mau nyari makan siang. Besok lusa, sayang ... kenapa, kamu mau minta dibeliin apa? Bilang aja, nggak usah sungkan."

Zhea terkekeh pelan. "Nggak, Ma. Aku nggak mau dibeliin apa-apa. Aku cuma mau bilang ... kalau aku mau buat pesta ulang tahun untuk Mas Zavi, tapi Mama dan Papa harus datang ... dan bantuin aku untuk membuat kejutan," ungkapnya dengan membara.

"Ohh ... begitu. Siap, sayang. Nanti Mama bantuin. Mau di hotel mana acaranya?" tanya wanita sosialita itu.

"Makasih, Ma. Acaranya di rumah saja, biar lebih intim," jawab Zhea.

"Iya, sayang. Tunggu Mama pulang, ya. Kita buat pesta yang spesial untuk suamimu." Suara Rindu terdengar penuh semangat.

Zhea mengangguk mantap sambil menyeringai lebar. "Iya, Mama. Makasih. Happy holiday, ya, Ma, Pa ..."

Panggilan itu pun berakhir. "Perfect!" Zhea bertepuk tangan. "Tinggal menyusun kejutannya," lanjutnya menggebu. Tapi sakit itu kian terasa.

Ponselnya masih ia genggam. Luka di hatinya terasa makin menganga. Zhea menarik napas panjang.

Ia menyalakan ponsel lagi, mencari kontak 'My Mother'. Jempolnya sempat ragu satu detik, tapi akhirnya ia tetap menekan tombol panggil.

Suara sang ibu langsung menyambut rungu. "Halo, Zhea ... ada apa, Nak? Tumben jam segini nelepon Mama?"

"Halo, Ma ... aku lagi kangen aja sama Mama." Suara Zhea terdengar pelan.

"Zhea, kenapa suara kamu terdengar seperti habis menangis, ada apa, Nak?" Suara sang ibunda terdengar khawatir.

Zhea menatap ke arah jendela, hujan di luar semakin deras. "Aku nggak habis nangis, kok, Ma. Aku cuma agak nggak enak badan. Mama lagi ngapain?"

Helaan napas terdengar dari ujung sana, sebelum suara kembali terdengar. "Mama masih di Kafe. Mau pulang, kejebak hujan. Soalnya Mama nggak bawa mobil. Minta dijemput Rafly, dia lembur di pabrik. Kalau nggak enak badan, buruan minum obat, sayang. Ingat, ada Zheza yang butuh kamu selalu sehat."

Zhea menggigit bibir. Perhatian dari sang ibu tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Ia sebenarnya ingin bercerita tentang rumah tangganya, tapi tidak tahu mau mulai dari mana. Ia tidak ingin membuat mamanya cemas. "Iya, Ma. Nanti aku minum obat. Mama kenapa nggak pesen gocar aja?"

"Iya, nanti pesen. Tapi nunggu hujannya reda dulu. Mama takut ada guntur. Ngeri. Oh, ya ... cucu Mama lagi ngapain?"

Zhea tersenyum hangat, meski tidak mungkin dilihat oleh mamanya. "Zheza lagi tidur, Ma."

Zahrani: mama Zhea bergumam panjang.

"Ma, udah dulu ya. Aku mau ke kamar mandi. Mama hati-hati. Salam buat Rafly. Aku sayang Mama," kata Zhea mengakhiri percakapan di balik telepon itu.

"Iya, sayang. Nanti Mama bilangin ke adikmu. Mama juga sayang banget sama kamu dan Zheza."

Setelah telepon ditutup, Zhea beranjak turun dari ranjang untuk menutup tirai jendela. Lalu ia kembali ke samping putri kecilnya yang masih tertidur pulas. Napasnya naik turun lembut, damai sekali.

Zhea naik lagi ke kasur secara perlahan, takut membangunkannya.

Ia berbaring di samping putrinya, menghadap wajah mungil itu.

Tangannya mengusap lembut rambut tipis sang putri. "Zheza ... doakan Mama ya, sayang. Doakan Mama supaya kuat menghadapi semua cobaan ini."

Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya menetes. Tapi ia usap cepat-cepat, agar tidak jatuh ke pipi anaknya.

Zhea memandang wajah putrinya lebih lama. Melihat kedamaian Zheza tidur seolah menenangkan hatinya yang penuh badai. "Kalau bukan karena kamu," Zhea bergumam sangat pelan, "Mama mungkin udah nggak kuat. Mama udah putus asa." Ia menempelkan keningnya ke kening Zheza yang hangat.

Dan di detik itu, Zhea berusaha menenangkan diri.

Setelah melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan, Zhea beranjak duduk di sofa. Membuka laptop dan buku catatan.

Dan di sana ... Ia mulai menyusun rencana pesta ulang tahun suaminya.

Tapi kali ini ... pesta itu bukan hanya sekadar perayaan. Ini akan jadi panggung kebenaran.

Besok lusa ... tepat saat mama dan papa mertuanya pulang dari Belanda ... semuanya akan ia bongkar.

"Wanita murahan itu harus hadir. Supaya aku bisa mempermalukannya di depan Mama Rindu dan Papa Soni, juga di hadapan Arin." Zhea menyusun semuanya di laptop itu. Memandang layar laptop itu dengan pandangan nanar. Tangannya sedikit gemetar ... tapi sorot matanya tajam.

Zhea memejamkan mata sejenak.

Lima tahun ia berusaha menjadi istri yang baik. Selalu percaya, setia dan menuruti semua perintah suaminya. Bahkan ia rela menjadi ibu rumah tangga demi baktinya pada sang suami. Namun Zavier ... malah menghancurkan segalanya. Dia bukan hanya menyakiti fisik Zhea, tapi psikisnya juga terkoyak.

Besok lusa ... semuanya akan dibuka.

Dan kedua mertuanya ... yang selalu baik padanya, berhak melihat kebenaran itu dengan mata kepala sendiri.

Zhea menutup laptop pelan.

Tangannya menahan napas di dada. "Ini bukan pemberontakan seorang istri, tapi ini adalah pembongkaran kebejatan yang selama ini seorang suami tutupi."

Suara rengekan Zheza membuyarkan semua konsentrasi wanita berpiyama merah marun itu. Ia segera beranjak dari sofa, menghampiri putrinya yang terlihat kehausan. "Aduh ... anak Mama pengen susu ya?" ucapnya penuh kasih seraya merebah, tidur menyamping dan mulai menyusui sang buah hati.

Dalam suasana intim itu, tiba-tiba bayangan indah saat pertama Zheza lahir ke dunia kembali hadir memenuhi ingatan.

Di mana Zavier sering membantunya menjaga Zheza. Lelaki itu rela bergadang.

Kata-kata romantis itu terngiang-ngiang di telinga Zhea.

"Sayang, siniin Zheza-nya. Kamu tidur, gih. Nanti, kalau Zheza lapar ... aku akan membangunkanmu."

Dulu, perkataan itu terdengar romantis, manis dan membuatnya menangis haru. Namun sekarang ... perkataan itu seperti panah yang menembus jantungnya. Menyakitkan.

"Sejak kapan kamu menduakan cintaku, Zavier? Apakah sejak aku jarang melayanimu?" Zhea menahan untuk tak menangis lagi. Dia harus bisa mengontrol emosi karena sedang menyusui sang putri. "Cukup, Zhea. Jangan mengingat-ingat semua itu. Percuma juga kamu terus bertanya-tanya. Itu semua sudah tidak penting dan tak berarti. Fokuskan saja konsentrasimu pada pesta kejutan itu. Buat Zavier dan simpanannya tak punya muka dan menyesal sudah menyakiti dan mengkhianatimu. "Keep it up, Zhea! You can do it!" Zhea mengepalkan tangannya, semangatnya membara.

_____

Tepat jam sepuluh malam, Zavier sampai di rumah. Ia menaiki tangga perlahan sambil membayangkan pergulatan panasnya dengan Elara barusan. Dia dan Elara melakukan penyatuan itu dari sehabis magrib sampai setengah sembilan malam. "Ela ... kamu selalu membuatku ketagihan," kekehnya kagum.

Zavier membuka pintu kamarnya, ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap wajah Zhea yang tertidur pulas di bawah cahaya temaram lampu kamar.

Aroma minyak telon dan parfum bayi memenuhi udara ... aroma khas rumah yang dulu selalu membuatnya tenang, kini justru terasa membosankan.

Ia menatap lekat wajah istrinya itu. Masih sama lembutnya, masih sama tenangnya. Tapi bagi Zavier, semua tampak berbeda.

Dengan tangan dingin, ia mengusap pipi Zhea perlahan. "Zhea ..." bisiknya lirih, bibirnya membentuk senyum miris. "Kamu itu masih tetap cantik seperti dulu." Tangannya berhenti di ujung dagu, menatap tubuh Zhea yang tertutup selimut. "Tapi sayangnya, tubuhmu tak seindah dulu. Kamu terlalu gemuk sekarang. Jarang dandan ... dan selalu sibuk mengurus Zheza tanpa peduli kalau aku juga punya kebutuhan lain yang harus kamu penuhi."

Ia tertawa kecil ... pahit, nyaris tanpa suara. "Maka jangan salahkan aku kalau akhirnya aku mencari yang lain. Elara tahu bagaimana membuatku merasa diinginkan, Zhea. Bukan seperti kamu, yang selalu menolak dengan alasan lelah, jahitan masih basah dan harus menyusui." Zavier memejamkan mata sebentar, menahan rasa bersalah yang entah benar-benar ada atau hanya sisa kemanusiaan yang menolak mati.

Ia menoleh ke arah boks bayi, melihat Zheza yang tidur dengan tenang ... buah cintanya dengan Zhea, cinta yang kini terasa hambar. "Maaf ..." gumamnya nyaris tak terdengar. "Tapi aku tidak menyesal."

Ia lalu menjauhkan badan, berjalan masuk ke kamar mandi sambil kembali membayangkan Elara.

"Kamu benar-benar jahat, Zavier." Tanpa lelaki itu ketahui, Zhea mendengarkan semuanya. Air mata menetes tanpa suara, namun hatinya benar-benar terluka. "Tuhan ... dukunglah keinginanku untuk berpisah dengan lelaki laknat itu."

1
Yulay Yuli
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Ama Apr: sedih ya, tp itu akibat perbuatannya sendiri
total 1 replies
Yulay Yuli
😢😢😢😢
Ama Apr: Zavier mode memprihatinkan
total 1 replies
Yulay Yuli
mantab
Ama Apr: sippp🫰
total 1 replies
Nia Avianty
cerita nya bagus walau kadang ikut sedih rasanya...
Ama Apr: Terima kasih kk🫶🥹
total 1 replies
Asyatun 1
lanjut
Ama Apr: siap, makasihkk🫶🥹
total 1 replies
awesome moment
😭😭😭
Ama Apr: kk🫶🫶🫶🥹
total 1 replies
@Mita🥰
thor .. please deh jangan buat si istri Bram ...mau menyediakan uang tebusan nya ...biar saja
Ama Apr: Itu bukan uang tebusan kk🤭 uang buat byr pengacara tp tenang, mereka tk akan bebas kok🤣
total 1 replies
MayaDhama mamanya Firhand
gak seru kalo Zavier metong duluan..terlalu enak kalo gak mau jalanin hukuman..
belum ketemu teman bareng di hotel prodeo udah ngilang😂🤣
Ama Apr: lanjut kk🤣
total 1 replies
MayaDhama mamanya Firhand
harusnya di selnya Zavier sama Elara tuh ada kawan2 senasib pasti di jamin seru 😂🤣😂🤣
Ama Apr: nanti ada kk🤭
total 1 replies
MayaDhama mamanya Firhand
kirain mobil impian Elara yang sangat dia banggakan tuh sekelas mobil eropa yang mentereng gitu.
ternyata mobil sejuta umat juga🤣🤭
Ama Apr: hha, zavier tdk sekaya itu
total 1 replies
Friskila Tamin
sudah q duga pasti Rafly yg nolongin
Ama Apr: hihi iya
total 1 replies
MayaDhama mamanya Firhand
rata2 para suami yang selingkuh trus dipengaruhi bahkan ada yg sampe di pelet para gundik kelakuan tuh laki banyak yang jadi kayak setannn..penuh emosi banyak bohong..dan itu nyata
Ama Apr: iya amit2 🥹
total 1 replies
MayaDhama mamanya Firhand
bagus.. menarik ceritanya 🥰
Ama Apr: terima kasih kk🫶
total 1 replies
Leniii Daryati
puas banget biasa nya peran utama perempuan ny menye menye
Ama Apr: Yang ini badas kk🤭
total 1 replies
Roynaldi Ananda
pria yang mau dijodohkan oleh adiknya Zhea
Ama Apr: hihi🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
kalau orang Tionghoa, panggil kakak lelaki koko, kalau perempuan cece.
Ama Apr: Iya kk🤭
total 1 replies
Friskila Tamin
ahhh Sambas ini ganggu saja
Ama Apr: hehe🤭🤭
total 1 replies
Lisna Saris
lipstik ala orang panas dalam itu seperti apa????🤔🤔🤔🤔 maklum emak emak jadul
Ama Apr: itu kk yg diombre🤣
total 1 replies
Eka Novariani
ya Zhea...kamu pasti bisa 🌹
Ama Apr: sipp🫰
total 1 replies
Eka Novariani
syukurlah kau menyesal Zavier...
Ama Apr: huhuhu🥹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!