NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / CEO / Orang Disabilitas / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:5.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kinara, seorang gadis berusia 24 tahun, baru saja kehilangan segalanya, rumah, keluarga, dan masa depan yang ia impikan. Diusir ibu tiri setelah ayahnya meninggal, Kinara terpaksa tinggal di panti asuhan sampai akhirnya ia harus pergi karena usia. Tanpa tempat tujuan dan tanpa keluarga, ia hanya berharap bisa menemukan kontrakan kecil untuk memulai hidup baru. Namun takdir memberinya kejutan paling tak terduga.

Di sebuah perumahan elit, Kinara tanpa sengaja menolong seorang bocah yang sedang dibully. Bocah itu menangis histeris, tiba-tiba memanggilnya “Mommy”, dan menuduhnya hendak membuangnya, hingga warga sekitar salah paham dan menekan Kinara untuk mengakui sang anak. Terpojok, Kinara terpaksa menyetujui permintaan bocah itu, Aska, putra satu-satunya dari seorang CEO muda ternama, Arman Pramudya.

Akankah, Kinara setuju dengan permainan Aksa menjadikannya ibu tiri atau Kinara akan menolak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Malam turun pelan di rumah besar itu. Lampu-lampu temaram menerangi lorong panjang ketika Kinara selesai memastikan Aksa sudah mandi dan mengenakan piyama bergambar dinosaurus kesukaannya. Bocah itu tampak mengantuk, tapi matanya justru berbinar aneh, seperti sedang menyimpan rencana rahasia.

“Ayo tidur,” ujar Kinara lembut sambil menggandeng tangan Aksa menuju kamarnya. Namun, langkah Aksa berhenti mendadak. Ia menoleh ke arah kamar Arman.

“Mommy,” katanya pelan tapi tegas, “Aksa mau tidur sama Daddy.”

Kinara membeku. “Hah?”

Aksa mengangguk cepat. “Sama Mommy juga.”

Kinara langsung menggeleng. “Nggak bisa. Aksa tidur di kamar Aksa. Mommy di kamar Mommy. Daddy di kamar Daddy.”

Aksa langsung manyun. “Tapi Aksa takut.”

“Kemarin kamu berani tidur sendiri,” Kinara mencoba membujuk.

“Itu kemarin,” sahut Aksa cepat. “Sekarang Aksa pengen sama Daddy.”

Kinara menarik napas. “Aksa, Mommy sama Daddy...” ia berhenti sejenak, menahan kata-kata, “punya perjanjian, dan kami tidur terpisah.”

Aksa menatapnya lama. Lalu bibirnya bergetar.

“Daddy marah lagi ya sama Aksa?” tanyanya lirih.

Kinara tercekat.

“Bukan begitu...”

Pintu ruang kerja Arman terbuka.

Arman keluar dengan kursi rodanya, seolah sudah mendengar percakapan mereka dari kejauhan. Tatapannya tertuju pada Aksa yang berdiri kecil di lorong, wajahnya sendu.

“Ada apa?” tanya Arman singkat.

Aksa langsung berlari mendekat. “Daddy … Aksa mau tidur sama Daddy.”

Kinara refleks menyela, “Pak Arman, kita sudah sepakat...”

“Aku tahu,” potong Arman datar.

Namun kemudian ia menunduk menatap Aksa.

“Kamu kenapa mau tidur di kamar Daddy?”

Aksa menunduk, tangannya memelintir ujung bajunya.

“Aksa nggak mau Daddy sendirian.”

Kalimat itu sederhana. Tapi menghantam tepat di dada Arman dan pria itu terdiam lama. Kinara bisa melihat rahang pria itu mengeras bukan karena marah, melainkan menahan sesuatu yang tak biasa ia izinkan keluar.

“Kalau Mommy nggak ikut, Aksa nggak mau,” lanjut Aksa cepat, menatap Kinara penuh harap.

Kinara menggeleng tegas. “Tidak, Mommy tidak bisa.”

Aksa menoleh ke Arman, matanya membesar dan penuh harap. Arman menarik napas dalam. Lalu, ia berkata bukan sebagai CEO, bukan sebagai pria dingin.

“Kinara,” ucapnya pelan, “satu malam.”

Kinara menatapnya tak percaya.

“Demi Aksa,” lanjut Arman. “Tidak lebih.”

Sunyi menyelimuti lorong itu. Kinara menghela napas panjang, menyerah. “Satu malam, dan tetap ada batas.”

Aksa bersorak kecil. “Yey!”

Arman mengangguk. “Tidur di sisi Mommy.”

Malam itu, kamar Arman yang biasanya dingin dan sepi terasa berbeda. Aksa tidur di tengah, memeluk satu tangan Kinara, sementara tangan kecilnya yang lain menggenggam jari Arman. Napasnya teratur, wajahnya damai.

Kinara berbaring kaku di sisi tempat tidur, menatap langit-langit. Arman menatap putranya, dan sejak kecelakaan itu kamar ini tidak terasa kosong.

Malam ini, Arman membiarkan dirinya percaya bahwa mungkin keluarga bukan lagi sekadar kata dalam kontrak.

Keesokan paginya.

Cahaya pagi menyusup pelan melalui celah tirai kamar Arman. Pria itu terbangun lebih dulu. Kesadaran pertamanya bukan suara alarm, bukan ingatan tentang jadwal kerja melainkan rasa kebas di lengan kanannya.

Arman mengerutkan kening. Ia mencoba menggerakkan tangannya tetapi tidak bisa. Pelan-pelan, matanya menoleh ke samping. Dan di situlah ia melihatnya, Kinara wanita itu tertidur pulas dengan kepala bersandar tepat di atas lengannya. Rambut panjangnya terurai, sebagian menutupi wajahnya. Satu tangan Kinara mencengkeram ujung kaus Arman, seolah takut terlepas dan sementara satu kakinya bertumpu di atas kaki Arman, hangat, tanpa jarak.

Arman membeku, jantungnya berdetak aneh. Ia menelan ludah, lalu dengan hati-hati bahkan sangat hati-hati berusaha menggerakkan tubuhnya sedikit, mencoba menarik lengannya perlahan dari bawah kepala Kinara.

Kinara bergeser, alisnya mengernyit dan lalu matanya terbuka, di saat itu juga dunia terasa berhenti.

Wajah Kinara hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Arman. Napas mereka saling bertabrakan. Mata mereka terkunci, tajam, terkejut, terlalu dekat untuk disebut wajar.

“P– Pak Arman?” Kinara berbisik refleks.

Arman tak menjawab. Rahangnya mengeras, tatapannya turun sepersekian detik ke bibir Kinara, lalu kembali ke matanya. Belum sempat siapa pun menjauh,

“Daddy!”

Pintu kamar terbuka lebar. Kinara tersentak kaget dan langsung bangun setengah duduk.

“Aksa!” serunya panik.

Dalam kepanikannya, kaki Kinara menyenggol sesuatu yang jelas bukan bantal.

Arman memelototkan mata, tubuhnya menegang total. Kinara ikut membeku dan merasa jika kakinya mungkin telah menyentuh benda lain, diam memejamkan matanya.

'Aku ingat, kata pelayan Pak Arman kan impoten nggak mungkin bangun,' bisiknya dalam hati sembari mengelus dadanya.

Beberapa detik terasa seperti keabadian.

Wajah Kinara memerah hebat. “A...aku ... aku nggak sengaja!”

Arman berdehem keras, memalingkan wajah, suaranya rendah dan kaku.

“Pergi dan bawa Aksa mandi, sekarang!”

Aksa sudah naik ke atas tempat tidur, menatap mereka berdua dengan mata berbinar.

“Daddy sama Mommy tidur bareng, kan?!” serunya senang.

Kinara hampir pingsan.

“Tidak,” bantah Kinara cepat. “Itu karena kamu!”

Arman menutup mata sejenak, lalu membuka kembali dengan ekspresi datar dan bahkan terlalu datar.

“Turun,” perintahnya ke Aksa.

Aksa tertawa kecil lalu turun, masih tersenyum puas. Kinara bangkit dengan gerakan canggung, menghindari tatapan Arman.

“Aku … aku mau ke kamar sendiri." Ia melangkah cepat dan keluar dari kamar Arman. Begitu pintu tertutup, Arman menghela napas panjang. Dadanya naik turun tidak biasa. Ia menatap lengannya yang masih terasa hangat.

Pagi ini, Arman menyadari satu hal yang mengganggunya lebih dari rasa kebas itu, kedekatan itu tidak sepenuhnya ingin ia hindari.

"Cieee, Daddy..." goda Aksa, sembari tersenyum.

"Ini rencana kamu, kan? Jangan kira Daddy tidak tahu!" tatapan dingin itu membuat Aksa langsung turun dari ranjang.

"Daddy, Aksa pergi mandi dulu!" bocah itu segera turun dan berlari keluar dari kamar ayahnya. Arman menatap kakinya dan melihat sesuatu yang lain mungkin berdiri di sana. Wajah Arman bersemu merah.

"Aku harus ke kamar mandi," katanya pelan.

1
Kardi Kardi
WELL DONEEEE
Fierda
yeeeeeaaa kinara hamil 🥰
tengku Ambarita
sebuah cerita yg banyak menyajikan pengalaman hidup yg tdk mudah utk dilalui cobaan,godaan,dn banyak hal sulit yg dialami...sehingga kita yg bacapun jd ikut terbawa emosi...tp akhirnya happy ending ya ..
tengku Ambarita
ada ada saja ya mslhnya...
Siti Aisyah
cerita anak.anak nya kinara dan arman yaa...waah kayak nya seru nich...mereka kembar 3 kann yaa...ok nanti mampir
Siti Aisyah
hadeuuh thor...gak habis.habis konflik nya...skrg ada ulat keket baru..
Siti Aisyah
penyakit hati yg akan membawa petaka pd orang nya...krn merasa tidak puas dgn apa yg dirasakannya
Siti Aisyah
iiihh takut jg dgn segala pemikirannya bkn nya sadar malah kian menjadi..otak nya sdh rusak tuh emak.emak teh..bkn nya insyaf menyadari kesalahan...eeh malah smkn dendam...ujung nya hancur tauu
Siti Aisyah
kasih sayang yg salah yg diberikan pd amira selaku keponakan nya...betul amira orang nya gak pernah bersyukur makanya gak akan merasa puas sampai kapan pun maka nya ujung.ujung nya hancur..
Siti Aisyah
selamat kembar tiga...masya Allah..bersyukur sekali...💝😇
euleuuh eta si amira teu kapok.kapok nya..fitnah dan menuduh kinara..skrg gak tau punya rencana apalagi..
Siti Aisyah
aku agak pusing ini, ada tiga wanita...mimi, yutika,amira dan ratna...???
Siti Aisyah
karina hrs nya sdh peka...tadi suami nya menyuruh berhenti kerja dan skrg di tempat kerja ada kejadian yg tdk mengenakan..peneguran dan pemecatan sepihak
Siti Aisyah
baru jg mau dimulai...sdh datang aja ulat keket sebangsa nya pelakor yg mau menggagu rmh tangga nya arman dan kirana..
Siti Aisyah
apaan kirana dipanggil hanya amira kakak sepupu rome ingin ketemu...hadeuuh asa berlebihan..sampai arman sang suami ditinggalkan ...kayak yg gak ada lg waktu mengganggu hari libur nya jg
Enny Suhartini
wah banyak banget orang siriknya🤭
Siti Aisyah
kayak nya itu si amara...ex wife nya arman..
Siti Aisyah
waah...pria dimasa lalu nya pd muncul..rayyan dan rome...mereka sama.sama.orang.orang yg pernah dekat dgn karina..entah bagaimana kerja sekantor dgn mereka..
Siti Aisyah
eeh...kirain mau diapakan kinara...uji nyali 🤣🤣🤣
Siti Aisyah
apa ceo melupakan nafkah utk istri nya..??meskipun kontrak tetep aja ada biaya yg hrs dikeluarkan...
Siti Aisyah
suami gak peka...tadi nya perayaan kecil.kecilan dgn uang disaku kirana..eeh malah pesan yg mahal.mahal...gaj menghargain banget😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!