Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantar Kembali
"Kamu pikirin deh, Diti. Baru terapi sehari aja kemajuannya Kavi bagus. Apalagi kalau tiap hari." Sagara memutar setir ke arah kanan.
"Kayaknya nggak boleh gitu juga deh Pak. Setau saya..." Aditi mengerutkan dahi. Berusaha menggali teori yang sudah ia dapat.
"Besok saya ke kantor. Nanya ama Baskara, sama si Suci juga," kata Sagara.
"Tanya lewat telpon aja sih, Pak." Aditi menengok ke belakang untuk mengecek Kavi. "Lagian emang Bapak nggak kerja?"
Sagara tersenyum. "Suka-suka saya lah Diti, mau nanya kayak gimana. Saya orangnya lebih suka ketemu langsung.
Trus saya kerja apa nggak? Kamu lupa kata Baskara, saya apa? Saya bos, Diti. Nggak perlu masuk tiap hari. Emang kamu?"
Aditi mencebik. Terus aja sombong, hina gue, si akar rumput.
"Kok diem?" tanya Sagara.
"Mau joget, boleh?" Aditi bertanya balik dengan malas.
Sagara terkekeh. "Kamu itu kenapa sih masih jutek aja sama saya? Saya ini klien eksklusif kamu lho.
Kalau jadi kita bisa ketemu tiap hari. Nggak cape manyun terus?" Sagara melirik Aditi.
"Nggak, cetakan mulut saya rada monyong emang." Aditi masih merengut.
Sagara kembali terkekeh. "Apa sih alesannya merengut gitu mulu? Masih nggak terima, saya laki-laki pertama yang nyaris liat kamu pelorotin rok?"
"Bapak! Ya Allah, ampe kiamat bakal dibahas mulu ya?! Malu sih saya, Pak." Aditi bersedekap dan memalingkan wajahnya ke arah jendela samping.
Sagara kembali tersenyum. "Abisnya kamu kayak sensi banget kalau deket saya. Sama Kavi keibuan banget. Sama saya kebapakan."
Bibir Aditi berkedut mendengar ucapan Sagara. "Nggak jelas," gumam Aditi.
"Wah, berani banget ngatain klien sendiri. Saya laporin Suci ah. Nggak terima saya dikatain." Sagara menggelengkan kepala.
Aditi menoleh. "Ya, Bapak aneh. Maksa nganter saya pulang. Alesannya biar bonding ama Kavi. Eh, saya malah disuruh di depan.
Bagian mana bonding sama Kavi? Ini sih bonding sama Bapak, namanya."
Sagara tersenyum miring. "Emang nggak mau bonding sama saya?"
"Nggak mau! Tukang intip, wle." Aditi menjulurkan lidahnya.
Sagara tergelak. "Nggak mau diungkit tapi kamu yang bahas sendiri lagi."
Aditi mengulum senyumnya. Ia tetap melihat ke jendela samping.
"Tapi, bener kan Diti, saya laki-laki pertama yang adegan dewasa kayak gitu sama kamu?" Sagara menoleh sambil tersenyum menggoda.
Aditi menoleh cepat. "Bapak, ihh bener-bener ya! Saya turun nih."
Sagara terbahak. "Jangan dong. Nanti Pak Januar marah sama saya. Becanda Diti. Lumayan kan bikin kamu dari manyun jadi tereak-tereak."
Aditi tambah merengut. Ia kembali melihat ke jendela samping.
"Lain kali hati-hati ya. Jangan sampe kejadian kayak gitu lagi. Bahaya lho itu kalau kejadian sama cowok nggak bener." Sagara kembali melirik ke arah Aditi.
"Iya, Bapak kan udah ngomong tempo hari. Mas Bas juga udah ngingetin."
Sagara menipiskan bibir mendengar nama Baskara terucap. "Kalian itu deket banget ya?"
"Hah?" Aditi menoleh ke arah Sagara.
"Kamu sama Baskara," ujar Sagara.
"Hhmm, ya karna Mas Bas sahabat Mas Adit, kakak saya. Bapak nggak sempet kenalan ya?
Eh tapi emang waktu jaman Bapak ke rumah Mas Bas, Mas Adit ngekos di Bogor sih. Kan kuliahnya di IPB."
"Oh, kakak kamu kuliahnya di Bogor. Kok kamu nggak ngikutin? Malah di UNJ?" Sagara menoleh sambil menginjak rem, lampu merah.
"Ya, karena minat saya nggak ke arah jurusan yang di IPB. Ya, ke sastra Inggris. Trus ama Ayah juga nggak boleh jauh-jauh."
Aditi menunduk kemudian menoleh sekilas. Ia langsung membuang muka karena Sagara menatapnya intens.
"Tapi, kalau kamu nggak kuliah Sastra Inggris nggak akan juga ya, nemu ritme yang bikin Kavi respon.
Udah harus gitu jalannya, jodohnya." Sagara kembali menginjak gas karena sudah lampu hijau.
"Jodoh? Takdir kali. Jodoh, emang pasangan." Aditi mencebik.
"Ihh, siapa tau kita jodoh, Diti. Emang kamu nggak mau jadi ibu bos?" Sagara kembali menoleh. Ia mengulum senyum.
"Au ah Pak. Mau magrib, pamali ngimpi." Aditi mencibir. Ia kembali mengecek Kavi. Anak itu terlihat menatap ke jalan raya. Headphonenya terpasang dengan aman.
"Pak, nggak khawatir Kavi bakal meltdown lagi, kalo nganter-nganter saya? Dia udah dari pagi lho."
"Insyaa Allah nggak Diti, kan dia udah tidur lama, terus udah kenyang juga. Tenang juga dari tadi sama kamu.
Sama udah dipastiin headphonenya aman. Tuh, kamu yang dari tadi mastiin. Iya kan? Terima kasih ya." Sagara menoleh sambil tersenyum.
Bibir Aditi kembali berkedut, ia menahan senyumnya. Ternyata Sagara memperhatikan perilakunya.
"Kok, Bapak yakin saya nengok-nengok buat mastiin headphone Kavi? Kan bisa aja saya nengok sekilas doang."
"Yakin lah, ama partner, mesti yakin." Sagara tersenyum sambil menaikkan alisnya ke arah Aditi. Aditi mengerutkan dahi.
"Lho, kamu kok kayak nggak terima saya bilang kalau kita partner. Bener kan kalo kita partner. Orang tua dan terapis itu partner lho.
Atau kamu maunya kita partner yang laen juga? Boleh lah dicoba Diti." Sagara menaik-turunkan alisnya.
Ya Allah, pengen gue jambak si somse. Ngomongnya kenapa jadi modus sih? Nggak cocok banget ama tampang tengilnya.
"Bisa maen badminton? Ntar kita jadi partner badminton," ketus Aditi.
Sagara tergelak sambil menggelengkan kepala. Aditi mengulum tawanya.
"Jangan ketawa, Pak. Saya juara badminton kalo 17-an. Bisa lah nyemes-nyemes dikit.
Coba aja ada raket, saya semes Bapak deh. Ketawa gaje mulu dari tadi." Aditi memiringkan bibirnya.
"Saya punyanya raket tenis, Diti. Kamu bisa nggak?"
Ih, malah bahas olahraga. Dasar somse gaje.
"Nggak bisa dan nggak pernah maininnya. Rakyat jelata kan saya mah. Bukan bos!" cetus Aditi.
"Calon ibu bos," goda Sagara. Aditi mencebik.
Mobil Sagara akhirnya tiba di rumah Aditi. Terparkir dengan gagahnya di depan pagar, menjelang waktu Magrib.
"Pak, langsung pulang kan?"
"Kok kayak ngusir saya sih Diti, saya belum izin lho sama ayah kamu. Nanti beliau nanya lagi, kenapa pulangnya sama saya." Sagara membuka sabuk pengamannya.
"Ih Pak, Kavi gimana?" Aditi juga membuka sabuk pengamannya.
"Nanti kamu peluk dulu sebelum saya pulang, OK. Bentar kita buka dulu jendela Kavi." Sagara membuka jendela di samping Kavi.
Sagara membuka pintu depan lalu membuka pintu belakang di samping Kavi. Ia membuka kunci seat belt sambil mengatakan pada Kavi bahwa mereka akan mengantar Aditi.
Sagara gendong Kavi dengan erat. Memberi kenyamanan pada putranya itu. Bertiga mereka berjalan ke arah rumah Aditi.
Januar yang mendengar suara mobil bergegas keluar. Ia cukup terkejut melihat kedatangan Sagara, dan Kavi.
"Assalammu'alaikum Pak Januar." Sagara menjabat tangan Januar. Aditi mencium tangan ayahnya.
"Wa'alaikumsalam. Sehat nak Gara?" tanya Januar.
"Sehat, Pak. Bapak gimana?"
"Ya, alhamdulillah." Januar memandang Kavi yang terlihat tenang, bersandar di bahu ayahnya.
"Pak Januar, saya mohon izin antar Diti pulang hari ini. Tadi ada terapi intensif lagi untuk Kavi. Bapak berkenan kan?" Sagara menatap Januar.
Januar menatap Aditi yang menunduk. "Iya, nak Gara. Nggak apa-apa."
Sagara menghembuskan napas lega. Bersyukur karena Januar suportif terhadap terapi Kavi. Terdengar azan Magrib berkumandang.
"Nak Gara mau ikut solat dulu, ke mesjid?" tanya Januar. Ia terdiam sesaat. "Eh, Kavi aman kan?"
"Aman, Pak. Insyaa Allah. Nanti Kavi sama Diti." Sagara menoleh pada Aditi. Aditi mengangsurkan tangannya pada Kavi.
Gayung bersambut. Kavi langsung berpindah tangan ke Aditi. Januar dan Sagara melangkah bersama ke arah masjid. Januar telah menggunakan pakaian salat saat menyambut mereka.
Aditi memeluk erat Kavi. Ia cium dahi dan hidung anak itu sambil duduk di sofa ruang tamu. Kavi menatap Aditi lama.
Kavi menekan hidung Aditi. Aditi tergelak karenanya.
"Ka-vi... su-ka... sa-ma... i-dung... Kak-Ti?
Aditi menirukan mimik bebek di depan Kavi. Ia memajukan bibir sambil memaju-mundurkan kepalanya. Sang anak terus menatap terapisnya itu.
Aditi menggendong Kavi ke arah kamarnya. Ia melihat ada pisang di atas meja makan. Ia berbelok arah menjadi ke meja makan.
"Ka-vi... ma-u... ma-kan... pi-sang... sa-yang?
Kavi menatap pisang. Aditi mengupas pisang itu. Ia suapi Kavi, yang langsung menggigit kecil buah kuning itu.
Aditi terus menyuapi hingga di pertengahan, ia genggam tangan Kavi untuk mememegang pisang itu. Awalnya hampir terlepas.
Aditi kembali menggenggam tangan Kavi. Tangan mereka saling bertumpuk untuk memegang pisang.
Kavi akhirnya memegang pisang itu dengan bantuan Aditi. Aditi bersorak memuji Kavi.
Sagara yang baru datang, terpaku melihat adegan itu. Ia tersenyum lebar. Januar melipat bibir. Kembali ia dibuat kaget dengan ketelatenan putrinya.
"Diti, kamu mau solat? Biar saya yang jagain Kavi," ujar Sagara. Aditi menoleh dan mengangguk. Ia serahkan sisa pisang pada Sagara.
Indri datang memakai mukena dari arah dapur. Membawa kopi untuk Sagara. "Silakan Gara."
"Oh iya, terima kasih Bu." Sagara mengangguk dan kembali menyuapi Kavi.
Setelah Aditi selesai salat, ia dan Sagara plus Kavi tentunya, terduduk di teras. Sagara meneguk kopi buatan Indri.
"Alhamdulillah, dapet pahala kamu, Diti. Bikin saya jadi solat berjamaah di mesjid," seloroh Sagara. Aditi tersenyum.
"Udah Pak, pulang. Nanti kemaleman. Kasian Kavi."
Sagara mengangguk. Dengan berat hati ia harus pulang, demi menghindari Kavi mengalami stimulasi berlebih. Ia berpamitan pada Januar dan Indri.
Setelah memasangkan kunci car seat dan headphone, Sagara berpamitan pada Aditi. Senyum terkembang di wajah tampannya.
"Terima kasih Diti, buat semua yang udah kamu lakuin hari ini, buat Kavi."
Aditi mengangguk sambil menunduk. Sagara gemas melihat mode malu-malu Aditi seperti ini.
"Sampai ketemu besok, calon ibu bos."
Aditi mengangkat wajahnya dan mendelikkan mata ke arah Sagara. Sagara tergelak.