"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Akhir Skenario dan Perpisahan yang Tak Terduga
[Waktu: Minggu, 19 April, Pukul 08.00 AM]
[Lokasi: Alun-Alun Kota Suzhou (Era Republik)]
Matahari pagi di Suzhou seharusnya bersinar cerah, namun di dalam dunia naskah ini, langit tertutup awan abu-abu yang tebal. Angin dingin berhembus kencang, mengibarkan bendera-bendera militer yang terpasang di sekeliling alun-alun. Ribuan warga kota (karakter figuran dalam game) berdiri berdesakan, menyaksikan upacara militer yang dipimpin oleh Marsekal Gu Yan.
Lin Xia berdiri di panggung kehormatan, mengenakan cheongsam putih gading yang elegan dengan selendang bulu yang melingkari bahunya. Di sampingnya, Gu Jingshen berdiri tegak dalam seragam militer lengkapnya. Wajahnya terlihat tenang, namun tangan kanannya yang terbalut sarung tangan hitam menggenggam erat gagang pedangnya.
"Ingat rencana kita, Lin Xia," bisik Gu Jingshen tanpa menoleh sedikit pun. "Begitu tembakan pertama terdengar, kau harus segera lari menuju menara pengawas. Aku akan memancing si Penulis Bayangan keluar."
Lin Xia mengangguk kecil, jantungnya berdebar kencang. Ia memeluk tas kecilnya yang berisi laptop mini. "Berhati-hatilah. Jika naskah ini tidak bisa aku ubah tepat waktu, kau benar-benar dalam bahaya."
Tepat saat pidato dimulai, sebuah kilatan cahaya dari arah menara tinggi menyambar.
DOR!
Sebuah peluru melesat, tapi bukan ke arah Gu Jingshen. Peluru itu menghantam tiang bendera di belakang mereka. Kekacauan pecah seketika. Warga berlarian panik.
Lin Xia segera membuka laptopnya di tengah keriuhan itu. Tangannya gemetar saat melihat barisan kode di layarnya berubah menjadi warna merah darah. Sebuah pesan muncul di tengah layar:
[Skenario Paksa: Akhir Permainan Prematur. Menginisiasi Prosedur Pengusiran Pemain.]
"Apa?! Tidak! Belum sekarang!" teriak Lin Xia. Ia mencoba mengetik kode untuk menghentikan proses tersebut, tapi keyboard-nya tidak merespons. "Jingshen! Sesuatu yang buruk terjadi! Si Penulis Bayangan menarik kita keluar secara paksa!"
Di tengah alun-alun, udara mulai berputar seperti pusaran air. Ruang dan waktu di sekitar mereka tampak retak, seperti kaca yang pecah. Gu Jingshen berlari menghampiri Lin Xia, mencoba meraih tangannya di tengah badai digital yang mulai menelan realita kuno Suzhou.
"Lin Xia! Menyerahlah! Sistemnya sudah rusak!" teriak Gu Jingshen. Suaranya mulai terdengar jauh, terdistorsi oleh gangguan frekuensi.
"Tidak! Aku sudah berjanji padamu! Aku belum menemukan Yanran, adikmu!" Lin Xia berteriak balik dengan air mata yang mulai mengalir. Ia terus menekan tombol Enter dengan frustrasi, mencoba meretas masuk kembali ke inti data. "Aku tidak bisa membiarkanmu kehilangan dia lagi!"
"Lupakan Yanran untuk sekarang! Kau akan terjebak selamanya jika kau tidak keluar!" Gu Jingshen mencengkeram bahu Lin Xia, menatap matanya dengan tatapan yang sangat pedih. "Lin Xia, dengarkan aku! Berhenti! Ini perintah!"
"Aku tidak mau kehilanganmu!" jerit Lin Xia.
Namun, sudah terlambat. Langit di atas alun-alun Suzhou mendadak terbelah. Cahaya putih yang menyilaukan meledak dari segala arah. Lin Xia merasa tubuhnya ditarik oleh kekuatan gravitasi yang sangat besar. Sensasi terjatuh yang tak berujung membuatnya kehilangan kesadaran.
[Waktu: Sabtu, 18 April, Pukul 23.30 PM (Dunia Nyata)]
[Lokasi: Wahana "The Forgotten Chronicle", Gedung Tua Suzhou - Pintu Keluar Utama]
Suara bising mesin pendingin ruangan dan lampu neon yang terang menyambut kesadaran Gu Jingshen. Ia tersentak bangun di atas sebuah kursi sensorik yang canggih. Seorang staf medis segera menghampirinya, melepaskan helm VR dan kabel-kabel yang menempel di tubuhnya.
"Tuan Gu? Anda baik-baik saja? Sistem mengalami gangguan teknis mendadak, kami terpaksa melakukan penghentian darurat," kata staf itu dengan nada khawatir.
Gu Jingshen—atau di dunia ini adalah CEO Gu Jingshen—tidak menjawab. Napasnya masih memburu. Ia segera berdiri, mengabaikan pusing di kepalanya, dan menatap sekeliling. Ia berada di Ruang VIP Pintu Keluar Utama.
"Di mana wanita itu? Lin Xia?" tanyanya dengan suara serak.
Staf itu tampak bingung. "Siapa, Tuan? Anda bermain di sesi VVIP sendirian. Tidak ada pemain lain yang masuk dalam skenario yang sama dengan Anda secara resmi."
Gu Jingshen tertegun. Jantungnya terasa kosong. Semua kenangan tentang pelarian di kanal, pelukan di rumah aman, dan perjuangan Lin Xia terasa begitu nyata, tapi di sini... di dunia nyata yang dingin ini, semuanya seolah hanya bagian dari data yang rusak.
[Waktu: Sabtu, 18 April, Pukul 23.35 PM (Dunia Nyata)]
[Lokasi: Pintu Keluar Sisi Barat, Gedung Tua Suzhou]
Di sisi lain gedung yang luas itu, Lin Xia tersungkur saat melangkah keluar dari pintu kayu kecil yang bertuliskan "Pintu Keluar Umum". Kepalanya terasa sangat berat.
"Lin Xia! Ya ampun, kau tidak apa-apa?" Xiao Li berlari menghampirinya, membantu Lin Xia berdiri. "Tiba-tiba saja semua layar jadi gelap dan staf menyuruh kita keluar lewat pintu barat karena ada kerusakan sistem. Gila sekali, padahal aku sedang asyik berperan jadi pelayanmu!"
Lin Xia menatap tangannya yang masih gemetar. Ia mencari-cari laptopnya, yang ternyata masih ada di dalam tasnya—tapi saat ia membukanya, naskah itu kosong. Semua baris kalimat tentang Gu Jingshen telah hilang, kembali ke draf awal yang belum ia selesaikan.
"Xiao Li... di mana pria itu?" tanya Lin Xia dengan suara lemah.
"Pria mana? Marsekal itu?" Xiao Li tertawa kecil sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Aduh, Lin Xia, itu kan cuma AI tingkat tinggi atau aktor yang pakai modul suara. Mereka pasti sudah pulang lewat pintu staf. Kau ini terlalu menjiwai ya?"
Lin Xia terdiam. Ia melihat ke arah pintu keluar utama yang mewah di kejauhan. Di sana, ia melihat sesosok pria tinggi dengan setelan jas hitam yang sangat mahal sedang melangkah masuk ke dalam mobil Limousine hitam yang dikawal ketat.
Pria itu adalah Gu Jingshen.
Gu Jingshen sempat menoleh sebentar ke arah kerumunan di pintu barat, namun tatapannya datar dan kosong. Ia tidak mengenali Lin Xia yang berdiri di sana dengan pakaian biasa yang lusuh dan wajah sembab. Bagi sang CEO, Lin Xia hanyalah salah satu dari ratusan pengunjung yang datang malam itu.
Mobil hitam itu perlahan melaju pergi, meninggalkan Lin Xia yang terpaku di bawah rintik hujan kota Suzhou yang asli—bukan hujan buatan naskahnya.
"Dia tidak mengenalku..." bisik Lin Xia pada dirinya sendiri. Rasa sakit yang tajam menghujam dadanya, lebih sakit daripada peluru mana pun di dalam permainan. "Dia benar-benar tidak mengenalku."
Xiao Li merangkul bahu sahabatnya. "Ayo pulang, Lin Xia. Shenzhen masih jauh. Besok kau harus kembali bekerja di depan laptopmu. Lupakan naskah aneh ini."
Lin Xia berjalan lunglai mengikuti Xiao Li menuju stasiun kereta. Namun, di dalam saku jaketnya, jarinya menyentuh sesuatu yang keras. Ia merogohnya dan menarik keluar sebuah benda.
Itu adalah sapu tangan putih dengan noda darah yang digunakan Gu Jingshen untuk membalut lukanya di rumah aman.
Darah itu masih ada. Merah dan nyata.
Mata Lin Xia membelalak. Jika semuanya hanya permainan dan mereka tidak saling kenal, kenapa benda dari dunia naskah itu bisa terbawa ke dunia nyata?
Lin Xia menoleh kembali ke arah mobil yang sudah menghilang. Sebuah tekad baru muncul di matanya. Permainan ini belum berakhir, Gu Jingshen. Jika kau tidak mengenalku di dunia ini, maka aku yang akan membuatmu ingat siapa aku.
...****************...