Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Istana Welas tidak dibangun dengan semen dan batu belaka, melainkan dengan tumpukan tradisi yang kaku dan tata krama yang mencekik. Setiap langkah di atas lantai marmernya harus memiliki irama, dan setiap embusan napas di koridornya harus menunjukkan martabat. Bagi Kaisar Welas, putra mahkota yang garis rahangnya setegas hukum kerajaan, rumah ini tak lebih dari sebuah sangkar emas yang dipoles setiap pagi.
Sore itu, Kaisar sedang berada di ruang pribadinya. Berbeda dengan bagian istana lain yang penuh ornamen emas, kamarnya lebih dominan dengan kayu jati gelap dan aroma maskulin dari sandalwood. Ia baru saja melepas kancing jas formalnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang menonjol saat ia menuang air ke dalam gelas kristal.
Lalu, ketenangan itu pecah.
Bukan oleh ketukan pelan pelayan atau deham sopan pengawal, melainkan oleh suara pintu yang dibuka dengan kasar—seolah sang tamu sedang dikejar setan atau memang tidak punya urusan dengan sopan santun.
"Aduh, sumpah, ini istana atau labirin sih? Mana nggak ada papan petunjuknya lagi!"
Kaisar mematung. Gelas kristalnya masih menggantung di udara. Ia menoleh perlahan, matanya yang tajam dan dingin bertemu dengan sesosok gadis yang tampak sangat... salah untuk berada di sana.
Gadis itu mengenakan jaket kulit hitam yang kebesaran, kaos band grunge yang agak pudar, dan celana jeans robek di bagian lutut. Rambutnya dicat highlight pirang berantakan, dan ada sebuah tindikan kecil di cuping telinganya yang berkilat terkena cahaya lampu gantung.
Dia adalah Freya Aurelia. Mahasiswi semester tiga jurusan Seni Budaya yang eksistensinya adalah antitesis dari segala sesuatu yang dijunjung tinggi oleh keluarga Welas.
"Lo..." Freya menghentikan omelannya. Ia mengerjapkan mata, menatap Kaisar dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Eh, sori. Gue kayaknya salah masuk. Gue nyari Bu Larasati, katanya dia di ruang sayap timur, tapi gue malah nyasar ke... kamar cowok?"
Kaisar meletakkan gelasnya ke meja dengan denting yang sengaja dibuat keras. Ia berdiri tegak, memancarkan aura otoritas yang biasanya membuat nyali orang ciut. "Ini memang sayap timur. Dan ini adalah area privat yang tidak seharusnya dimasuki oleh sembarang orang, apalagi dengan cara... seperti itu."
Freya tidak tampak takut. Ia justru maju selangkah, menatap dekorasi kamar Kaisar dengan dahi berkerut. "Privat? Ya mana gue tahu. Pintunya nggak dikunci, lagian gue panik. Ibu gue tadi bilang nunggu di sini buat urusan katering acara besok, tapi gue malah muter-muter kayak gasing."
"Siapa namamu?" suara Kaisar berat, dingin, dan menuntut.
"Freya. Freya Aurelia. Dan lo pasti si 'Pangeran Sempurna' yang sering diomongin orang-orang itu, kan?" Freya menyeringai tipis, sebuah ekspresi rebel yang tampak sangat manis namun provokatif di wajahnya yang tirus. "Ternyata aslinya lebih kaku dari foto di koran ya. Lo nggak capek apa, kancing baju sampe atas gitu terus?"
Kaisar mengernyit. Belum pernah ada orang yang berani mengomentari penampilannya, apalagi dengan gaya bahasa 'lo-gue' yang dianggap kasar di lingkungan kerajaan ini. "Jaga bicaramu, Nona Freya. Kamu berada di kediaman keluarga Welas. Adab adalah hal pertama yang harus kamu pelajari sebelum melangkah masuk ke sini."
"Adab nggak bikin gue nemuin nyokap gue lebih cepet, Kak," balas Freya santai. Ia justru berjalan mendekat ke arah balkon kamar Kaisar, mengagumi pemandangan taman istana tanpa izin. "Tapi oke, gue minta maaf udah ganggu waktu 'berwibawa' lo. Gue cabut sekarang."
Namun, tepat saat Freya berbalik untuk menuju pintu, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar dari lorong luar. Suara itu disertai dengan gumaman rendah beberapa pengawal.
"Kaisar, apakah kamu di dalam? Ayah ingin bicara soal agenda jamuan besok."
Wajah Kaisar yang tadinya tenang seketika berubah tegang. Itu suara sang Raja. Ayahnya adalah pria yang menjunjung tinggi kehormatan di atas segalanya. Jika beliau melihat seorang gadis dengan penampilan serampangan berada di dalam kamar pribadi putranya pada jam seperti ini, tanpa pendampingan, maka skandal besar akan meledak.
"Jangan bergerak," bisik Kaisar tajam.
"Hah? Kenapa? Gue mau keluar kok," Freya bingung.
Kaisar dengan cepat melangkah mendekat, mencengkeram lengan Freya—bukan dengan kasar, tapi dengan urgensi yang nyata—dan menariknya ke balik pilar besar yang menyangga tirai tempat tidur mewahnya.
"Eh, apa-apaan nih?! Main tarik-tarik aja!" Freya memprotes, suaranya naik satu oktav.
"Diam!" Kaisar menekan suaranya sedalam mungkin, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Freya. Aroma parfum mahal Kaisar yang dingin bercampur dengan aroma tubuh Freya yang segar seperti bunga liar. "Ayahku ada di depan pintu. Jika dia melihatmu di sini, dengan penampilanmu yang... seperti ini, situasinya akan menjadi sangat rumit bagi kita berdua."
Freya mendongak, menatap mata Kaisar yang biasanya terlihat tak tersentuh, kini memancarkan kilat kecemasan. Untuk pertama kalinya, Freya melihat sisi manusiawi dari sang calon penguasa.
Cklek.
Pintu terbuka. Raja Welas melangkah masuk dengan jubah kebesarannya yang tersampir di bahu. Matanya yang bijak namun tajam menyapu ruangan.
"Kaisar?"
Kaisar keluar dari balik pilar dengan langkah setenang mungkin, seolah-olah dia baru saja selesai membaca buku di sana. Ia membungkuk hormat. "Iya, Ayah. Ada apa?"
Di balik pilar, Freya menahan napas. Ia bisa melihat bayangan Raja dari sela-sela kain tirai. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada sang Raja, tapi karena posisi ini—bersembunyi di kamar seorang pria yang baru ditemuinya, yang tangannya masih terasa hangat di lengannya tadi—terasa sangat tidak masuk akal bagi seorang gadis pemberontak seperti dirinya.
Raja menyipitkan mata, menatap ke arah tempat tidur, lalu ke arah balkon yang pintunya sedikit terbuka. "Mengapa suasana di sini terasa berbeda? Dan... bau apa ini? Seperti parfum perempuan?"
Kaisar tetap bergeming, wajahnya sedatar papan tulis. "Mungkin sisa dari pelayan yang tadi membersihkan ruangan, Ayah. Ada yang bisa saya bantu?"
Situasi di kamar itu mendadak menjadi sangat panas bagi Freya. Ia terjebak di antara aturan kuno yang kaku dan insting liarnya untuk lari. Namun, saat ia melirik ke arah Kaisar yang sedang berbohong demi melindunginya (atau melindungi nama baik istana), Freya sadar bahwa pertemuan salah alamat ini baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar mencari ibunya.
Ini adalah awal dari tabrakan dua dunia yang tidak seharusnya bersatu.