Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan keras
"Ini, kan?" sontak Ana tertegun menatap bangunan megah di depannya.
Puluhan anak tangga yang membawa ke sebuah villa besar dengan halaman luas. Tidak salah lagi, itu adalah villa yang Reta pilih sendiri sebagai tempat honeymoon dulu.
Ana ingat bagaimana polosnya dia saat menjadi Reta. Gadis tulus yang sangat mencintai suaminya,
Dia memilih villa luas di tepi pantai. Dulu villa itu hanya bangunan kosong, sampai Reta membelinya dan membuat banyak taman, menghias dengan puluhan tanaman bunga,
"Ayo, cepat." tegas Max menyenggol lengan gadis di sampingnya.
"...?" Ana tersadar dari lamunan, langsung kebingungan melihat pria yang baru saja merebut dua koper besar darinya.
"Tunggu saya..." seru Ana bergegas menyusul,
Cukup kesulitan memindahkan satu koper lain ke setiap anak tangga. Wajahnya mengerang, mulai merasa letih bahkan nafasnya tersenggal.
"Sial! Kemana semua pelayan di sini?" batin Ana mencari bantuan,
Ingat bahwa ada 5 pelayan pribadi yang selalu mengurus villa itu.
Kepalanya mendongak, mendapati beberapa orang yang tengah berenang. Sekilas melirik kembali punggung Max yang telah jauh menenteng dua koper,
"Kenapa dia diam saja? Jelas-jelas Ryan sengaja menyusahkannya." gerutu Ana,
Memasang muka masam, berusaha menyusul Max.
Sesampainya di atas, mereka di sambut pemandangan pesta. Dimana para tamu lain tengah menikmati kudapan dan hiburan berupa banyak wanita seksi yang Ryan sewa,
"Hhh...apa-apaan ini?" batin Ana menelan saliva sebab kelelahan,
Sedang mengatur nafas sembari memahami situasi.
Dia tahu kalau ada direktur perusahaan lain yang diundang, namun acara ini sangat jauh berbeda dari harapan.
Jelas sekali Ryan mengatakan ingin mengajak beberapa perusahaan untuk membangun proyek besar. Tapi, kenapa pertemuan ini lebih terlihat semacam pesta bujang?
Terlalu banyak alkohol, bahkan Ana mengernyit jijik, melihat para direktur yang sangat bangga memangku gadis berbikini.
"Hei. Anda Tuan Maxime, kan? Tidak kusangka kita akan bertemu di sini." celetuk salah satu pria buncit yang menghampiri mereka,
Wira direktur perusahaan K.
"Kenapa lama sekali sampainya? Apa ada gangguan di jalan?"
"Iya..." Max menyahuti singkat, wajahnya datar, pandangannya mencari orang lain.
"Wih, cantik juga asisten anda." Wira tersenyum genit menatap Ana.
"Permisi, anda menghalangi jalan."
Max menegur lirih, langsung melewati pergi ke dalam, meninggalkan Ana yang telah kehabisan daya.
"Pak, tunggu--"
"Eh! Mau kemana?" lugas Wira tak segan merangkul,
Kaki Ana terlalu letih, setelah menaiki anak tangga dengan barang bawaan yang begitu berat. Kakinya telat melangkah, seharusnya dia tadi langsung berlari mengikuti,
Namun apa daya? Max pergi begitu saja tak sadar jika asistennya dihadang pria hidung belang.
"Permisi...saya harus masuk," ujar Ana merasa risih.
Menepis lengan yang mulai memijat-mijat bahunya,
"Buat apa? Biarkan saja. Palingan bosmu lagi cari muka, wajar lah pengusaha baru..."
"Kamu tunggu di sini saja." Wira mulai melirik ke belakang,
"Kasian sekali. Pasti berat, sini biar aku bantu lepaskan."
Berdalih sambil meraba ke bawah pundak. Ana yang sadar langsung terjingkat mundur, segera melepaskan sendiri dan membiarkan tasnya begitu saja.
Tak cukup di situ.
Wira lanjut menarik lengan Ana masuk ke dalam gerombolan pria yang hanya memakai boxer ketat di pinggir kolam.
Memaksanya duduk di bangku yang telah basah. "Sudah tenang saja. Ga akan ada yang marah,"
"Lihat tuh...yang lainnya juga sama," Menunjuk pada wanita berbikini di depan.
"Sial. Dasar babi gendut!" umpak Ana mengernyit, terus-terusan menepis lengan yang ingin merangkul.
"Bisa-bisanya om Neil meninggalkanku di sini?!"
Ana mendongak, mencari sosok yang telah masuk mendahului.
Tampak Max tengah berbincang dengan Syla,
"Selamat datang di villa kami." sapa Syla tersenyum ramah,
Ditemani 1 pelayan pria, dipanggil guna membantu membereskan koper bawaan Max.
"Kami? Bukankah ini milik keluarga Sidney? Sejak kapan kamu menjadi bagian dari keluarga," ketus Max menatap sinis.
Membuat Syla tersenyum kikuk, tak bisa memberi penjelasan. "Mm...saya sudah dengar kalau supir yang harusnya menjemput anda malah terkena masalah."
"Maaf, seharusnya saya menyiapkan lebih banyak pelayan."
"Tapi kali ini, saya pastikan semuanya berjalan lancar. Pak Ryan juga sudah menunggu di dalam,"
Max tampak bosan, memalingkan muka ke sisi lain. "Berikan juga kopermu...?"
"Eh?" Max menoleh tak menemukan siapapun di belakangnya,
Sigap celingak-celinguk berjalan ke depan pintu lalu mendapati Ana di seberang, sedang duduk bersama pria lain.
"Sepertinya asisten anda sudah akrab dengan yang lain. Dia pasti gadis yang pintar menghibur banyak pria," gumam Syla menyeringai licik.
"Ck! Apa yang dia lakukan di sana?" sontak Max menggertak geram,
Kakinya hendak menyusul namun terhenti oleh keributan yang baru saja terjadi. Melihat Ana baru saja menampar salah satu direktur,
PLAK!
"Sudah kubilang, aku tidak mau!" tegur Ana berdiri sambil mengacungkan telunjuk,
Matanya membulat, menatap kesal Wira yang masih tertegun sambil memegangi pipi.
Tamparan tadi begitu keras, terasa panas meninggalkan bekas merah, bahkan suaranya sampai membuat semua orang menoleh.
"Beraninya kamu memukulku!"
"Iya, aku berani. Emangnya kenapa?!" lugas Ana meninggikan suara,
"Padahal cuma asisten. Lihat saja! Aku akan mengadukanmu biar kamu kehilangan pekerjaan," ancam Wira bangkit dari duduknya.
Berdiri menghalangi jalan gadis yang hendak pergi,
"Terserah. Tapi aku peringatkan, jangan coba-coba menyentuhku..."
"Aku datang sebagai asisten Tuan Max, bukan untuk menemani babi bau sepertimu!"
"...!" Para direktur lain tercengang, tak menyangka Ana seberani itu.
Salah satu dari mereka juga menertawakan hinaan yang Wira dapat. Semakin membuat Wira tersinggung sebab telah dipermalukan,
"Dasar cewek kurang ajar! Sok jual mahal. Aku yakin, kamu sudah sering dipakai bosmu!"
"Dia pasti ga akan masalah, meminjamkan asistennya buat ngehibur pria lain. Aku juga yakin, alasannya dia mengajakmu ke sini...pasti untuk merayu Pak Ryan!"
"Dasar babi gendut! Seenaknya nuduh orang sembarang." gertak Ana kehabisan sabar,
Tangannya mengepal kuat, diliputi amarah Ana mengangkat kaki kanannya, lalu menekan dan mendorong kuat perut buncit itu sampai jatuh ke belakang.
BUR!!
Cipratan air meluap ke segala arah. Tubuh Wira terjatuh ke dalam kolam yang cukup dalam,
Seluruh mata tercengang, melihat tangan Wira yang melambai ke atas guna mencari bantuan.
Syla yang berdiri di kejauhan langsung berlari mendekat, berusaha membantu salah satu klien penting bagi perusahaan Sidney.
"Apa yang kalian tunggu? Cepat bantu!" memekik memanggil pelayan.
Sedangkan Ana hanya berjalan melewati, tak menghiraukan keributan.
Lanjut mengenggam koper dan menggendong tasnya. Berjalan santai menyusul Max,
"Apa yang terjadi?" ujar Max penasaran,
Sejak tadi dia hanya melihat tingkah agresif Ana. Tanpa tahu pelecehan yang dia terima dan tak bisa mendengar percakapan mereka,
"Babi itu memaksa saya minum. Saat saya larang, dia malah berani meraba tubuh saya."
"Jadi saya menamparnya. Terus dia mengancam akan mengadu pada Bapak, mangkanya saya tendang!"
"Pft! Hahaha..." Max terkekeh,
Terlebih lagi melihat Ana yang bercerita dengan muka masam. Tak ada raut menyesal apalagi takut di wajahnya,
"Apanya yang lucu?" gumam Ana mengernyit, tak mendapat sahutan.
Pria itu masih sibuk tertawa sampai air matanya keluar.
"Apaan sih? Emangnya selucu itu?"