Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Satu Langkah Tertinggal
Bayu mulai menyusun alat-alat pertukangan dari kotak merah ke atas meja kerja yang berdebu. Jemarinya bergerak dengan ketenangan yang dipaksakan guna memilah tumpukan logam kecil di sana secara teliti.
Ia memisahkan baut yang berkarat dengan baut yang masih bisa digunakan ke dalam dua wadah plastik bekas. Setiap sekrup diperiksa secara mendetail di bawah pendar lampu neon yang mulai berkedip redup di langit-langit.
Bayu mengambil batu asahan yang permukaannya sudah kasar akibat pemakaian lama di gudang. Ia mulai menajamkan mata gergaji secara perlahan dengan irama yang sangat konstan dan terdengar begitu tajam.
Suara gesekan logam terdengar berulang-ulang memenuhi kesunyian gudang yang pengap tersebut. Udara di dalam ruangan itu terasa berat oleh aroma besi dan serbuk kayu tua yang menyesakkan dada.
Ia memeriksa ketersediaan paku payung guna memperbaiki kabel yang nampak terkelupas esok hari. Bayu memastikan jumlahnya cukup agar ia tidak perlu repot bolak-balik ke pasar nantinya saat bekerja.
Pena di tangannya bergerak lincah mencatat kekurangan bahan seperti semen instan dan cat dasar. Ia menuliskan daftar itu di balik kertas tagihan panti yang nampak sudah lusuh dan sedikit kotor.
Daftar tersebut menjadi peta rencana bagi Bayu dalam melakukan penebusan dosanya lewat kerja fisik. Ia merapikan kembali tumpukan perkakas itu sebelum beranjak dari kursi kayu yang terasa sangat keras.
Bayu mematikan lampu neon gudang hingga kegelapan segera menelan seluruh isi ruangan tersebut secara total. Ia melangkah keluar sambil mengunci pintu kayu itu dengan penuh kehati-hatian agar tidak berisik.
Langkah kakinya membawa Bayu menyusuri jalan setapak desa yang mulai terasa hangat oleh sengatan terik matahari. Ia memutuskan pergi ke pasar menggunakan jasa tukang ojek guna menuju toko bahan bangunan di ujung pasar desa.
Motor bebek tua milik tukang ojek itu menderu pelan membelah udara pagi yang terasa kering. Bayu duduk di jok belakang sembari memegangi topi kusamnya erat-erat agar tidak terbang tertiup angin kencang di sepanjang jalan.
"Tumben banget Mas Bayu mau ke toko material hari gini?" Suara tukang ojek itu memecah kebisingan mesin motor di tengah jalan setapak yang mulai ramai.
Bayu sedikit mencondongkan badannya ke depan guna membalas ucapan pria paruh baya tersebut dengan jelas. "Mau beli semen sama cat buat benerin panti asuhan yang dindingnya sudah retak, Pak."
Tukang ojek itu mengangguk paham sembari tetap fokus menatap lubang-lubang di jalanan aspal yang rusak. "Bagus itu, Mas. Karena panti itu memang sudah lama nggak dapet sentuhan tangan ahli dari orang-orang desa."
Bayu hanya tersenyum hambar mendengar pujian yang justru terasa menyentil rasa bersalah di lubuk hatinya. "Saya baru sempet sekarang, Pak. Padahal harusnya dari dulu panti itu diperhatikan lebih baik lagi oleh saya."
"Nggak ada kata terlambat buat berbuat baik, Mas Bayu. Apalagi buat rumah anak-anak yatim," tukang ojek itu menjawab sembari mulai membelokkan setang motornya memasuki area pasar yang mulai padat.
Bayu terdiam mendengar kalimat sederhana yang meluncur dari mulut pria yang setiap hari menarik ojek tersebut. Kalimat tersebut seolah menjadi penguat bagi niat tulusnya dalam melakukan penebusan dosa lewat kerja fisik yang nyata.
Niatnya sudah bulat untuk menuntaskan perbaikan panti secepat mungkin sebelum datangnya musim hujan yang lebat nanti. Bayu memberhentikan ojek itu tepat di depan tumpukan pasir yang menggunung tinggi di pelataran toko material tersebut.
"Makasih banyak ya, Pak." Bayu menyerahkan selembar uang kertas sembari turun dari jok motor dengan gerakan tangan yang sangat hati-hati.
Tukang ojek itu menerima uangnya lalu memberikan jempol sembari mulai memutar balik arah motornya kembali pulang. "Sama-sama, Mas Bayu. Semoga semua urusan perbaikan pantinya lancar dan membawa berkah buat semua penghuni di sana."
Ia masuk ke dalam gedung toko yang berbau semen menyengat dan dipenuhi berbagai jenis material. Namun langkahnya mendadak terhenti saat melihat sosok pria yang sangat ia kenal berdiri di depan meja kasir.
Fahmi sedang sibuk memeriksa nota belanjaan yang nampak sangat panjang di tangan kanannya. Di sampingnya terdapat beberapa sak semen instan dan kaleng cat berukuran besar yang sudah siap untuk diangkut.
"Loh. Lo belanja material juga hari ini?" Bayu menyapa sembari mencoba menutupi rasa terkejutnya yang besar di hadapan sahabatnya itu.
Fahmi menoleh lalu memberikan senyum tenang yang selalu nampak berwibawa di mata siapa pun. Ia menepuk salah satu sak semen di depannya dengan gerakan tangan yang nampak santai dan sangat percaya diri.
Bayu awalnya mengira Fahmi membeli semua barang itu untuk merenovasi rumah pribadinya yang megah. Ia sempat merasa lega karena mengira daftar belanjanya akan menjadi kontribusi paling nyata pagi ini bagi panti.
"Gue baru mau beli cat dasar sama semen buat panti. Lo beli banyak banget buat renovasi rumah lo?" tanya Bayu sembari menunjukkan kertas tagihan di genggaman tangannya yang kasar.
Fahmi menggeleng pelan lalu merapikan letak dompet kulitnya ke dalam saku celana belakang. "Bukan buat rumah gue, Bay. Semua ini buat benerin atap sama dinding panti asuhan yang mulai retak."
Bayu tertegun mendengar jawaban jujur itu hingga lidahnya terasa kelu untuk sekadar menyahut. Harapannya untuk menjadi pahlawan pertama bagi panti asuhan seketika hancur berkeping-keping di depan mata kasir.
"Gue tadi lewat panti dan liat dinding depan makin parah kondisinya. Jadi gue langsung mampir ke sini buat ambil materialnya sekalian." Fahmi menjelaskan niatnya dengan nada suara yang alami tanpa maksud pamer.
Lagi-lagi Bayu merasa dirinya kalah satu langkah di belakang sahabat lamanya tersebut. Perhatian Fahmi terhadap panti asuhan ternyata jauh lebih cepat dan sigap daripada rencana yang baru ia susun semalam.
Ia menatap tumpukan semen milik Fahmi dengan perasaan yang mendadak hambar. Bayu menyadari bahwa kepulangannya ke desa belum memberikan dampak sebesar yang ia bayangkan semula dalam benaknya sendiri.
Ego Bayu sebagai mantan arsitek Jakarta terasa sedikit tergores melihat efisiensi kerja yang ditunjukkan Fahmi. Ia merasa seperti seorang amatir yang baru belajar merangkak di tengah medan tempur yang sesungguhnya.
"Gue udah pesen pick-up buat anter barang ini ke panti sekarang juga. Lo mau bareng atau bawa motor sendiri?" Fahmi menawarkan bantuan sembari melihat ke arah motor tua Bayu di luar sana.
Bayu menggeleng pelan sembari mencoba mengatur raut wajahnya agar tetap terlihat normal dan tenang. "Gue naik ojek tadi. Lo duluan aja, gue masih harus cari paku payung yang ukurannya spesifik di dalem."
Ia membiarkan Fahmi berjalan keluar menuju truk pengangkut yang sudah menunggu di depan pintu masuk. Bayu berdiri mematung di tengah lorong toko bangunan sembari meremas kertas catatannya dengan cengkeraman kuat.
Rasa minder kembali merayap masuk ke dalam sanubarinya tanpa bisa ia cegah sedikit pun saat ini. Ia merasa setiap tindakannya selalu tertinggal oleh ketulusan yang sudah lama dipupuk oleh Fahmi di panti.
Bayu menarik napas panjang guna menenangkan degup jantungnya yang mulai terasa tidak beraturan lagi. Ia sadar bahwa kompetisi ini sebenarnya hanya ada di dalam pikirannya yang penuh dengan rasa bersalah yang akut.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰