Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Emosi yang Terpendam
Bayu memutuskan segera melangkah keluar dari gudang tua itu. Ia butuh udara segar untuk membasuh rasa sesak yang kian menghimpit dada. Sambil melewati tumpukan kayu yang berserakan, langkah kakinya terasa berat. Suhu malam di luar panti asuhan menusuk hingga ke balik tulang.
Perlahan, ia berjalan menuju area sumur tua di sisi kiri bangunan utama. Tanah di bawah kakinya terasa lembap akibat siraman hujan tadi. Bayu berdiri mematung di depan lingkaran beton berlumut, lalu meraih tali timba yang terasa kasar di telapak tangan.
Suara gesekan kerek kayu terdengar nyaring membelah kesunyian malam. Ember plastik itu terjun bebas menuju dasar sumur yang gelap gulita. Dengan gerakan bertenaga, ia menarik kembali tali tersebut sampai air jernih memenuhi ember dan meluap ke permukaan semen.
Berkali-kali Bayu membasuh muka untuk memadamkan panas yang membakar hati. Cairan dingin itu meresap ke pori-pori kulit wajah yang terasa kaku. Ia berharap rasa perih di dalam dadanya ikut luruh bersama tetesan air.
Sambil menatap tajam ke arah ember plastik, ia memperhatikan permukaan air yang bergoyang menciptakan riak tidak beraturan. Di sana, ia melihat bayangan wajahnya sendiri yang kuyu dan penuh penyesalan. Mata Bayu terlihat kosong, seolah kehilangan seluruh semangat hidup.
"Kenapa wajah gue jadi menyedihkan begini," gumamnya sambil menyeka sisa air di dagu dengan kasar.
Dari kejauhan, siluet dua orang di dalam gudang masih terlihat jelas. Cahaya neon redup memperlihatkan bayangan Fahmi dan Nayla yang tampak sangat dekat. Suara tawa mereka terdengar samar terbawa embusan angin malam. Bayu mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kuku jarinya memutih.
Seketika, sebuah dentuman keras seolah menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Ia segera membuang pandangan ke arah pohon nangka yang berdiri tegak, mencoba mengatur napas yang mendadak terasa putus-putus. Ia tidak ingin emosi ini menguasai akal sehatnya lebih jauh lagi.
Tiba-tiba, kaki kanannya menendang batu kecil ke arah tembok bangunan panti. Bunyi benturan itu terdengar keras di tengah keheningan halaman. Bayu merasa kesal pada diri sendiri yang selalu datang terlambat. Ia menyadari bahwa egonya di masa lalu telah menghancurkan segala peluang.
"Gue emang beneran pengecut," bisiknya pada kegelapan malam yang kian pekat.
Perasaannya terhadap Nayla sejak kecil ternyata tidak pernah benar-benar mati. Rasa itu hanya terkubur dalam di bawah tumpukan ambisi dunia. Kini, ia melihat wanita itu tampak bahagia di samping Fahmi, kebahagiaan yang terasa nyata dan tidak mungkin bisa ia ganggu.
Sambil menyeka wajah yang basah dengan lengan kemeja kotor, Bayu merasa seperti orang asing yang tidak punya tempat lagi di sini. Langit malam kelabu membentang luas tanpa satu pun bintang. Dinginnya udara kian mencekam, membuat tubuhnya mulai menggigil tidak terkendali.
Ia menyandarkan punggung pada tembok sumur yang kasar. Matanya menatap ke arah pintu gudang yang masih memancarkan pendar cahaya kuning redup.
"Kenapa gue harus balik sekarang," suara Bayu terdengar parau tertiup angin. Ia menarik napas panjang untuk mencoba menenangkan gejolak di dada. Ia tidak ingin Nayla melihatnya dalam kondisi berantakan seperti ini.
Tak lama kemudian, siluet Nayla muncul dari balik pintu gudang yang terbuka. Ia berjalan perlahan menghampiri Bayu yang masih berdiri di dekat sumur. Seketika, Bayu menegakkan tubuh agar tidak terlihat sedang meratapi nasib. Ia berpura-pura sibuk memeriksa tali timba sumur yang sudah tua.
Nayla menghentikan langkah tepat di samping Bayu yang masih terdiam. Ia mengulurkan tangan kanan, menyodorkan sebuah senter kecil.
"Ini senter kamu, tadi ketinggalan di atas meja." Suara Nayla terdengar lembut, membelah kesunyian malam.
Sambil menerima lampu tersebut, gerakan jari Bayu terasa kaku. Ia tidak berani menatap mata Nayla secara langsung saat serah terima terjadi. "Makasih udah bawain ini," jawab Bayu singkat sembari memasukkan senter ke saku celana.
Nayla tetap berdiri di sana, tanpa tanda-tanda akan segera pergi. Ia menatap permukaan air sumur yang perlahan mulai tenang. "Kamu terlalu keras sama diri sendiri sejak datang ke sini."
Kata-kata itu membuat Bayu hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasakan dadanya makin sesak mendengar penilaian jujur Nayla. Bayu tetap membisu, takut suaranya pecah jika nekat bicara.
Tak lama berselang, Fahmi menyusul dari arah gudang dengan langkah mantap. Ia berdiri tepat di antara mereka berdua di bawah cahaya rembulan, lalu merangkul bahu Bayu dengan tangan kiri yang terasa kokoh. Fahmi memberikan senyum tulus pada Nayla di sebelah kanannya.
Mereka bertiga berdiri membisu menghadap gedung panti yang sudah tua. Bangunan itu tampak rapuh, namun menyimpan ribuan memori masa kecil. Bayu merasakan beban tangan Fahmi di bahunya terasa sangat berat, beban yang bukan berasal dari fisik, melainkan dari gejolak batinnya sendiri.
Rasa bersalah dan cemburu bercampur aduk di dalam dada. Ia merasa tidak layak berdiri sejajar dengan ketulusan Fahmi.
"Panti ini akan kembali kuat selama kita bertiga tetap bersama," ucap Fahmi sambil menepuk bahu Bayu dengan mantap.
Bayu hanya menatap kosong ke arah tembok panti yang catnya sudah mengelupas. Ia menyadari betapa banyak waktu terbuang demi mengejar kesuksesan semu.
"Bulan Ramadan tahun ini rasanya beda banget buat aku," gumam Nayla sembari merapatkan jaket kulit di tubuhnya.
Bayu tetap memilih diam. Setiap kata terasa seperti duri di tenggorokan. Ia melihat Fahmi menoleh ke arah Nayla dengan binar mata penuh kasih, pemandangan yang membuat Bayu ingin segera lari sekencang mungkin. Namun, kakinya seolah tertanam kuat pada tanah halaman yang becek, terikat oleh janji penebusan dosa yang ia ucapkan sendiri.
"Gue akan pastikan atap itu segera beres besok pagi," Bayu akhirnya bersuara untuk memutus kecanggungan yang mulai membelit.
Fahmi tertawa kecil mendengar ambisi sahabat lamanya itu. "Jangan terlalu bernafsu sampai lupa jaga kesehatan badan sendiri."
Bayu tidak menanggapi candaan itu. Pikirannya sudah terbang ke atap; ia ingin melupakan rasa sakit melalui setiap peluh yang menetes nanti. Nayla menatap Bayu dengan pandangan yang sulit diartikan, seolah ingin mengatakan sesuatu namun tertahan oleh keberadaan Fahmi.
"Gue balik duluan, besok harus bangun sebelum fajar," Bayu melepas rangkulan tangan Fahmi dengan halus.
"Hati-hati di jalan desa yang gelap dan licin itu," pesan Fahmi dengan senyum berwibawa.
Bayu berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Ia merasakan setiap langkah membawa sisa-sisa harapan yang kian menipis. Sesampainya di gerbang, ia berhenti sejenak untuk menatap ke belakang. Di sana, siluet Fahmi dan Nayla berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
Pemandangan itu mengunci rapat pintu hatinya. Bayu melangkah masuk ke kegelapan jalanan desa yang sunyi. Sambil menyusuri jalan setapak dengan pikiran berkecamuk, setiap bayangan pohon di pinggir jalan tampak seperti hantu masa lalu.
Ia merogoh senter di saku, namun enggan menyalakannya. Bayu merasa lebih nyaman berjalan di dalam kegelapan pekat. "Gue emang udah terlambat buat semuanya," bisiknya, lalu suara itu hilang tertelan serangga malam yang bersahutan nyaring.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰