Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI LUAR BATAS
Setiap anak tangga yang dipijak Vhirel terasa seperti beban yang kian memberat. Bunyi sepatu di lantai yang biasanya ia abaikan, kini terdengar seperti detak jantung yang memburu di telinganya. Kakinya bergerak pelan, membawa tubuhnya naik menuju lantai dua, namun jiwanya masih tertinggal di ruang bawah—terpaku pada kata-kata yang baru saja ia dengar.
Pikirannya melayang, mencoba merajut kepingan informasi yang baru saja ia dapatkan tuk menjadi sebuah logika yang perlahan masuk akal. Namun, semakin ia mencerna, semakin sesak dadanya. Informasi itu bukan sekadar berita, itu adalah sebuah kunci yang membuka kotak pandora yang selama ini mereka jaga rapat-rapat darinya.
"Mas!"
Vhirel menahan napas sejenak. Matanya menyapu penampilan Dea yang tiba-tiba muncul dari ujung lorong dan perlahan mendekatinya.
Dea, malam ini tampak sangat berbeda dari biasanya, atau karena ini adalah kali pertama ia melihat gadis itu mengenakan piyama satin berwarna biru dongker yang kontras dengan kulit putihnya.
Atasannya merupakan kemeja berlengan pendek dengan kancing yang terbuka satu di bagian atas, sementara celana pendeknya yang sebatas paha memberikan kesan santai namun tetap manis. Bahan satin itu jatuh dengan lembut, mengikuti lekuk tubuhnya yang dewasa, memantulkan sedikit cahaya lampu teras yang temaram. Sementara, rambutnya yang biasa diikat rapi kini dibiarkan terurai berantakan setengah basah, membingkai wajahnya yang tampak merajuk.
Cantik. Batin Vhirel.
Mana mungkin Kakak beradik bisa saling jatuh cinta?
Ya bisa lah, Pa! Jelas-jelas mereka itu bukan saudara kandung, Pa!
"Kamu udah pulang..." Ucap Dea mengejutkan.
"Kamu belum tidur?" Balas Vhirel. Kini, wanita itu telah berada cukup dekat dihadapannya.
Dea menggeleng. "Aku kebetulan baru mandi." katanya pelan. "Dan nunggu Mas pulang. Udah anterin tuan putrinya sampai rumah?"
Vhirel mendesis. Ia menatap Dea dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa sayang yang mendalam, namun terselip rasa iba. Fakta bahwa Dea adalah ternyata anak angkat yang dibawa orang tuanya ke rumah ini puluhan tahun lalu seolah menjadi pembenaran sekaligus beban. Pantas saja perasaan ini muncul tanpa diminta. Hadir tanpa permisi, melewati batas persaudaraan yang seharusnya ada. Batinnya sesak.
"Mas?" Dea mengejutkan lamunannya lagi, wajahnya mendekat dengan rasa ingin tahu.
Vhirel tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Kamu... mau aku temani tidurnya?" godanya dengan kerlingan nakal.
"Mas!" Dea mencubit perut bidang kakaknya itu dengan gemas. "Apaan sih! Jangan ngaco, deh!"
Vhirel tertawa kecil, meski jauh di dalam lubuk hatinya, debaran itu makin kencang. Ia mengacak rambut Dea pelan, sebuah kebiasaan lama yang kini terasa jauh lebih dalam.
“Aku serius,” ujar Vhirel dengan tatapan yang tak main-main. Bahkan, tawanya kini benar-benar tak ada. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras, seolah setiap kata yang keluar telah ditimbang dengan hati-hati.
Suasana seketika berubah drastis. Candaan yang tadinya mencairkan kekakuan kini justru menguap, meninggalkan ketegangan yang lebih pekat dan berat di udara. Dea tertegun, tangannya yang masih berada di lengan Vhirel perlahan melonggar. Ia mencari sisa-sisa binar jahil di mata kakaknya, namun yang ia temukan hanyalah intensitas yang mengintimidasi.
"Ma-Mas Vhirel..."
Kita yang memutuskan untuk mengadopsinya, Pa... kita yang memilih jadi orang tuanya. Bukan sekadar memberi rumah, tapi juga batas.
Batas?
Batas macam apa yang datang terlambat. Persetan dengan semua itu. Batin Vhirel.
Tanpa menunggu jawaban, ia meraih lengan Dea dan menariknya menuju kamar. Gerakannya cepat, bukan kasar—lebih tepatnya tergesa, seperti seseorang yang takut pikirannya sendiri keburu runtuh.
Dea sendiri justru tak menolak. Ia mengikuti langkah Vhirel tanpa perlawanan, seolah hatinya sudah lebih dulu tahu ke mana arah semua ini akan berujung. Jemarinya sedikit menegang saat dituntun, hingga akhirnya
mereka telah berhasil masuk ke dalam kamar.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,