"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 9: TAJAMNYA PISAU BEDAH
Dua hari sebelum operasi.
Udara di rumah sakit terasa berbeda lebih tegang, lebih bermuatan. Seperti atmosfer sebelum badai besar. Setiap detik terasa berharga. Setiap tatapan penuh makna.
Arka sudah dipindah ke kamar isolasi pra-operasi. Ruangan putih steril itu hanya berisi tempat tidur, monitor, dan kursi tunggu. Tidak ada lagi puzzle, tidak ada lagi buku cerita. Hanya persiapan untuk pertarungan terbesar dalam hidupnya.
Dokter-dokter datang silih berganti. Ahli ginjal. Ahli anestesi. Ahli gizi. Ahli rehabilitasi. Masing-masing menjelaskan prosedur, risiko, dan harapan. Aisha mencatat setiap kata dengan tangan gemetar di buku catatan kecil yang sudah penuh coretan.
"Besok pagi, jam 6, Arka mulai puasa," kata perawat. "Jam 8 kita mulai infus pra-anestesi. Operasi jam 10."
"Berapa lama?" tanya Aisha, suara hampir tak terdengar.
"Untuk penerima, 4-6 jam. Untuk pendonor, 2-3 jam. Tapi mereka akan operasi di ruangan berbeda, dengan tim bedah berbeda."
Rafa dan Arka akan dipisahkan oleh dinding ruang operasi. Tapi ginjal dari satu akan berpindah ke tubuh yang lain. Metafora yang aneh terpisah tapi menyatu.
---
Rafa datang dengan wajah yang lebih tenang dari sebelumnya.
Laras belum sepenuhnya berdamai, tapi setidaknya dia tidak lagi mengancam pergi. Nadia mulai bicara padanya lagi, meski masih sedikit canggung. Itu kemajuan. Kecil, tapi berarti.
"Semua tes sudah selesai," kata Rafa pada Aisha. "Dokter bilang aku sehat sempurna. Siap donor."
Aisha mengangguk, tidak bisa berkata-kata. Ini benar-benar terjadi. Ginjal Rafa akan diambil besok. Dan diberikan pada Arka.
Arka memandangi mereka berdua dari tempat tidurnya. "Ayah, Bunda... Arka mau bicara."
Mereka mendekat, duduk di kedua sisi tempat tidur.
"Kalau besok..." Arka berhenti, mencari kata. "Kalau besok Arka tidak bangun, tolong jangan sedih ya. Arka udah senang ketemu Ayah. Udah senang lihat Bunda tersenyum lagi."
"JANGAN BICARA BEGITU!" Aisha memotong, suara pecah. "Kamu akan bangun! Kamu akan sembuh!"
"Tapi siapa tahu, Bun," kata Arka dengan kebijaksanaan yang mengerikan untuk anak delapan tahun. "Dokter bilang ada risiko. Arka cuma mau bilang... terima kasih. Terima kasih udah berjuang buat Arka. Terima kasih udah sayang Arka."
Rafa menggenggam tangan Arka. "Ayah janji, besok malam kita akan bicara lagi di sini. Ayah akan cerita tentang operasi. Dan kamu akan cerita tentang mimpi indahmu waktu dibius."
"Janji?"
"Janji."
Tapi di balik janji itu, ketakutan mengintai. 0,03% risiko kematian untuk donor. 1-2% risiko kematian untuk penerima. Angka kecil di atas kertas. Tapi jika itu terjadi pada mereka, angkanya menjadi 100% tragedi.
---
Sore hari, tamu tak terduga datang.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang mirip Rafa, berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. Ibu Rafa. Sosok yang hanya Aisha kenal dari foto delapan tahun lalu.
"Bu... Ibu Hani?" Aisha terkesiap.
Ibu Rafa mengangguk, matanya langsung mencari Arka. "Ini... cucuku?"
Rafa berdiri, kaget. "Ibu? Ibu kenapa di sini? Katanya ibu di luar kota."
"Laras yang telepon. Cerita semuanya." Ibu Rafa mendekat, tangannya gemetar ingin menyentuh Arka. "Oh, Tuhan... dia benar-benar mirip kamu waktu kecil, Raf."
Arka membelalak. "Ini... nenek?"
Ibu Rafa menangis, mendekap Arka pelan-pelan. "Iya, sayang. Nenek. Nenek yang selama ini tidak tahu kamu ada. Maafkan nenek."
Rafa melihat ibunya, lalu Aisha. Laras. Laras yang menghubungi ibunya. Itu artinya... Laras mencoba. Mencoba menerima. Dengan caranya sendiri.
"Ibu, kenapa tidak bilang mau datang?" tanya Rafa.
"Karena aku tidak ingin kamu berdebat. Aku tahu kamu sedang stres." Ibu Rafa menatap Aisha. "Dan aku ingin ketemu ibu Arka. Ingin bilang... terima kasih sudah membesarkan cucuku. Dan maaf, untuk semua yang keluarga kami lakukan atau tidak lakukan delapan tahun lalu."
Aisha terisak. Pengakuan. Pengakuan dari keluarga Rafa. Sesuatu yang tidak pernah ia harapkan.
"Nenek," bisik Arka. "Nenek doain Arka ya besok. Biar kuat."
"Tentu, sayang. Nenek akan di sini. Dari awal sampai akhir."
---
Malam sebelum operasi, Aisha tidak bisa tidur.
Dia duduk di kursi di sebelah tempat tidur Arka, memperhatikan naik turunnya dada anaknya yang kecil. Ini mungkin malam terakhir dengan Arka seperti ini. Besok, setelah operasi, akan ada Arka yang baru dengan ginjal baru, dengan harapan baru. Atau... tidak ada Arka sama sekali.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rafa, yang juga tidak tidur di kamar hotel rumah sakit untuk pendonor:
"Aku takut."
Hanya dua kata. Tapi itu cukup. Aisha membalas:
"Aku juga. Tapi kita harus percaya."
"Apa kau menyesal? Menyesal menghubungiku?"
Aisha memandang Arka yang tertidur. Menyesal? Karena sekarang Rafa harus melalui ini? Karena Laras dan Nadia terluka? Iya. Tapi juga tidak. Karena tanpa ini, Arka pasti mati.
"Aku menyesal untuk rasa sakit yang kubicarakan. Tapi tidak untuk kesempatan Arka hidup."
"Aku juga. Besok, kita berperang bersama."
Berperang bersama. Kata-kata itu menghibur. Akhirnya, setelah delapan tahun, mereka bersama lagi. Dalam keadaan yang paling tidak mungkin.
---
Pukul 04.30 pagi.
Perawat masuk untuk persiapan akhir. Arka dibangunkan, dimandikan dengan antiseptik, dipasang monitor tambahan. Wajahnya pucat, tapi dia tersenyum pada Aisha.
"Bunda, jangan nangis. Arka ga takut."
Tapi Aisha melihat genggaman tangan Arka yang kencang pada selimut. Dia takut. Tapi dia berusaha kuat untuk mereka.
Pukul 05.30, Rafa masuk sudah mengenakan baju rumah sakit. Wajahnya dicukur bersih, matanya merah tapi tegas.
"Ayah!" sapa Arka, senang.
Rafa mendekat, mencium kening Arka. "Siap, pahlawan?"
"Siap. Ayah juga?"
"Siap." Rafa melihat Aisha. "Kamu... kuat ya di sini."
Aisha mengangguk, tidak percaya diri.
Ibu Rafa datang pukul 06.00 tepat, membawa air zam-zam dan doa yang dibacakan pelan. Ruangan kecil itu dipenuhi oleh kekuatan spiritual yang nyaris teraba.
---
Pukul 07.45.
Kereta dorong datang untuk menjemput Arka. Saat tubuhnya yang kecil dipindahkan, Aisha merasa seperti jantungnya ikut terbaring di atas kereta itu.
"Bunda, peluk dulu," pinta Arka.
Aisha memeluknya erat, menciumi seluruh wajahnya, menghafal detak jantungnya. Kalau ini pelukan terakhir... Tapi tidak, dia tidak boleh berpikir begitu.
"Ayah," Arka merentangkan tangan pada Rafa.
Rafa memeluknya, berbisik di telinganya: "Kamu kuat, Nak. Ayah percaya padamu. Dan Ayah akan menunggu di sebelah."
Kereta dorong mulai bergerak. Arka melambai kecil, tersenyum. Sampai di pintu, dia berteriak pelan: "Aku sayang kalian!"
Dan kemudian dia hilang dari pandangan, dibawa ke lorong putih menuju ruang operasi.
Aisha jatuh berlutut, tidak bisa menahan tangis lagi. Ibu Rafa memeluknya. "Dia kuat. Seperti ibunya."
---
Pukul 08.30.
Giliran Rafa. Laras tiba-tiba muncul di pintu, dengan Nadia di gendongan. Wajahnya tegang, tapi dia mendekat.
"Rafa..." suaranya serak.
"Kamu datang," bisik Rafa, terharu.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri." Laras memegang tangannya. "Aku masih marah. Masih takut. Tapi... aku di sini."
Nadia meraih leher Rafa. "Ayah, cepet sembuh ya."
Ini lebih dari yang Rafa harapkan. Rekonsiliasi kecil. Cukup untuk memberinya kekuatan.
Saat kereta dorongnya bergerak, Rafa melihat sekeliling: Aisha yang menangis di pelukan ibunya, Laras yang berusaha tegar menggendong Nadia, dan di ujung lorong... ruang operasi tempat Arka sudah menunggu.
Dua ruang operasi. Satu ginjal. Dua nyawa yang terhubung selamanya.
---
Pukul 10.00 tepat.
Lampu "SEDANG OPERASI" menyala di dua pintu bersebelahan di lantai empat rumah sakit. Di ruang tunggu keluarga, tiga wanita duduk bersama: Aisha, Laras, dan Ibu Rafa. Nadia tertidur di pangkuan Laras.
Tidak ada yang bicara. Doa-doa diucapkan dalam hati. Jam berdetak pelan.
Pukul 10.47.
Seorang perawat keluar dari ruang operasi Rafa. "Pendonor sudah dibius. Proses pengambilan ginjal akan segera dimulai."
Pukul 11.12.
Perawat lain dari ruang operasi Arka: "Penerima sudah dibius. Proses preparasi penerimaan ginjal berjalan."
Aisha menggenggam tangan Ibu Rafa. Laras memandangi lantai, bibirnya komat-kamit berdoa.
---
Pukul 12.30.
Dr. Arman keluar dengan seragam operasi masih lengkap. "Ginjal pendonor sudah berhasil diambil. Dalam kondisi sangat baik. Sekarang sedang dibawa ke ruang penerima untuk transplantasi."
"Rafa?" tanya Laras tegang.
"Stabil. Dalam pemulihan anestesi."
Laras menangis lega. Tapi pertarungan belum selesai. Ginjal sudah diambil. Tapi belum dipasang.
---
Pukul 13.45.
Lampu ruang operasi Arka masih menyala. Aisha mulai berjalan mondar-mandir. Terlalu lama. Semuanya terlalu lama.
Ibu Rafa menarik tangannya. "Duduk, sayang. Percaya pada dokter."
Tapi kepercayaan itu sulit ketika nyawa anakmu di ujung pisau bedah.
---
Pukul 15.20 lima jam dua puluh menit sejak operasi Arka dimulai.
Dr. Arman keluar lagi. Kali ini, wajahnya berkeringat, tapi ada senyum kecil.
"Transplantasi selesai. Ginjal sudah terpasang. Dan..." dia berhenti, membuat jantung mereka semua berhenti. "DAN GINJAL ITU SUDAH MEMPRODUKSI URINE DI MEJA OPERASI!"
Aisha tidak mengerti istilah medisnya. Tapi ekspresi dr. Arman menjelaskan segalanya. Itu tanda bagus. Tanda bahwa ginjal baru itu bekerja.
"Arka?" tanya Aisha, suara bergetar.
"Masih kritis. Tapi ini awal yang sangat baik. Ginjalnya hidup di tubuh baru."
Aisha jatuh pingsan.
---
Ketika ia siuman, dia sudah di kursi ruang tunggu dengan selimut di bahu. Laras memberinya air.
"Arka hidup," bisik Aisha, seperti tidak percaya.
"Ya. Dan Rafa juga sudah sadar di ruang pemulihan," tambah Laras. "Dia tadi minta kabar Arka."
Keduanya hidup. Pertarungan pertama dimenangkan.
---
Malam itu, Aisha diizinkan melihat Arka di ICU. Anaknya terbaring dengan selang dan monitor di mana-mana, tapi dadanya naik turun teratur. Di dekat tempat tidurnya, sebuah monitor menunjukkan grafik fungsi ginjal yang mulai aktif.
"Kerjanya bagus," bisik perawat. "Ginjal baru itu bekerja lebih cepat dari perkiraan."
Aisha menciumi tangan Arka yang dingin. "Terima kasih, Nak. Sudah bertahan."
Di ruang sebelah, Rafa sudah sadar penuh, mengeluh sakit di pinggangnya—lokasi pengambilan ginjal. Laras ada di sampingnya, memegangi tangannya.
"Arka?" itu kata pertama Rafa.
"Berhasil. Ginjalmu sudah bekerja di tubuhnya."
Rafa menutup mata, air mata mengalir. "Alhamdulillah."
---
Tapi malam itu juga, ketika Aisha akhirnya keluar ICU untuk istirahat sebentar, dia melihat seseorang duduk sendirian di ruang tunggu yang sudah sepi. Laras.
Mereka saling pandang. Lalu Laras berkata:
"Kita berdua... kita berdua mencintai orang yang sama. Dengan cara berbeda."
Aisha mengangguk. "Aku tidak ingin merebutnya. Aku hanya ingin Arka hidup."
"Aku tahu." Laras berdiri. "Besok, aku dan Nadia akan pulang. Rafa butuh waktu untuk pulih. Dan... mungkin kamu butuh waktu untuk merawat Arka."
"Laras, aku..."
"Jangan janji apa-apa," potong Laras. "Hidup sudah terlalu rumit untuk janji. Tapi ketahuilah... aku tidak memaafkanmu. Tapi aku menghargai pengorbananmu untuk Arka. Dan aku berterima kasih kamu memberitahu tentang dia meski terlambat delapan tahun."
Itu lebih dari yang Aisha harapkan. Bukan persahabatan. Bukan pengampunan. Tapi penghargaan. Itu cukup.
Laras pergi, meninggalkan Aisha sendirian di ruang tunggu yang diterangi lampu neon redup.
Dia melihat ke dua arah: ke kiri, ruang pemulihan tempat Rafa terbaring. Ke kanan, ICU tempat Arka berjuang. Dia di tengah. Seperti selalu.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, dia tidak sendiri. Ada ginjal Rafa yang sekarang berdetak di tubuh Arka. Ada ikatan yang tidak bisa diputuskan lagi.
Operasi selesai. Tapi perjalanan baru saja dimulai.
---
(Di ICU, Arka bergerak-gerak dalam tidurnya. Tangannya meraih sesuatu di udara, seperti memegang tangan ayahnya yang tidak ada di sana. Dan monitor ginjalnya terus menunjukkan garis hijau yang stabil.)