Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Rengganis merasakan jantungnya berdegup kencang karena emosi yang meluap.
Harga dirinya sebagai dokter spesialis yang terbiasa memegang kendali terasa diinjak-injak oleh seringai meremehkan pria di depannya.
Bagi Rengganis kata mundur berarti mengakui bahwa ia takut pada "anak ingusan" ini.
"Deal."
Satu kata itu meluncur dingin dari bibir Rengganis.
Ia menatap tajam ke mata Permadi, seolah sedang menandatangani surat operasi yang berisiko tinggi.
"Jangan menyesal kalau nanti kamu yang menangis minta pulang ke rumah mamamu, Permadi."
Tepat saat itu, kedua pasang orang tua mereka kembali ke meja dengan wajah penuh harap.
"Jadi, bagaimana?" tanya Papa sambil matanya melirik canggung ke arah Rengganis yang biasanya akan langsung meledak jika dijodohkan.
Rengganis menarik napas panjang, lalu berdiri dengan anggun namun tatapannya tetap menantang ke arah Permadi.
"Ganis setuju, Pa. Kami akan menikah."
Keheningan seketika menyelimuti meja tersebut. Mama Ira hampir menjatuhkan tas tangannya karena syok, sementara Om Rudy dan Tante Amora saling pandang dengan binar bahagia yang tak terbendung.
"Serius, Sayang? Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Mama Ira memastikan.
"Ganis serius, Ma. Tapi..."
"Tapi ada satu hal lagi," potong Permadi tiba-tiba, suaranya mantap dan penuh otoritas yang tak terduga.
Ia berdiri di samping Rengganis, tingginya yang menjulang membuat Rengganis merasa sedikit terintimidasi.
Permadi menoleh ke arah orang tua mereka dengan senyum tipis.
"Om, Tante, Papa, Mama. Karena jadwal praktik Rengganis sangat padat dan perusahaanku sedang dalam masa ekspansi besar. Aku pikir tidak perlu menunggu bulan depan. Kita lakukan pernikahan inisekarang."
"Apa?!" Rengganis memekik dengan matanya yang membelalak sempurna hingga hampir keluar dari kelopaknya.
"Permadi, jangan gila! Pernikahan itu butuh persiapan bulan—"
"Aku sudah menyiapkan semuanya, Rengganis. Penghulu, saksi, bahkan tim MUA sudah menunggu di ruang VIP sebelah. Semua administrasi di KUA sudah aku 'kondisikan' sejak minggu lalu karena aku tahu kalau kamu tidak suka membuang waktu." sela Permadi dengan nada tenang yang sangat menyebalkan.
Rengganis terpaku di tempatnya. Belum sempat ia melayangkan protes kedua, pintu geser ruang VIP terbuka.
Dua orang wanita membawa koper kosmetik besar dan beberapa asisten masuk dengan sigap.
Di belakang mereka, seorang pria berseragam resmi dengan map cokelat dan seorang penghulu tersenyum ramah ke arah mereka.
"Dokter Rengganis? Mari, kami hanya punya waktu tiga puluh menit untuk merias Anda sebelum akad dimulai," ucap salah satu perias dengan sopan.
Rengganis menoleh ke arah Permadi yang kini sedang merapikan lengan kemejanya dengan santai.
Pria itu mendekat ke telinga Rengganis, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Selamat datang di duniamu yang baru, Tante. Kamu bilang aku anak ingusan, tapi anak ingusan ini baru saja membuatmu masuk ke dalam jebakan yang paling manis."
Rengganis hanya bisa membeku saat para perias mulai menarik lengannya.
Ia adalah seorang dokter yang terbiasa menjahit luka, tapi kali ini, ia merasa dialah yang sedang "dijahit" masuk ke dalam sebuah takdir yang sama sekali tidak ia duga.
Tiga puluh menit berlalu seperti mimpi buruk yang sangat terorganisir.
Rengganis menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang VIP.
Kebaya putih brokat dengan potongan elegan membungkus tubuh matangnya dengan sempurna.
Riasannya tipis namun berkelas, menyamarkan kelelahan di bawah matanya, tapi tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang berkecamuk di dadanya.
Ia melangkah keluar dan mendapati kedua orang tuanya sudah mengenakan seragam keluarga yang senada.
Mama Ira tampak menyeka air mata bahagia, sementara Papa Baskoro menatapnya dengan bangga seolah baru saja memenangkan lotere terbesar dalam hidupnya.
"Ganis, kamu cantik sekali," bisik Mama Ira, merapikan sedikit tatanan rambut putrinya.
Rengganis hanya bisa diam membeku. Di tengah ruangan yang sudah disulap menjadi tempat akad nikah sederhana.
Permadi sudah duduk bersila di hadapan penghulu.
Jas hitamnya tampak sangat kontras dengan kemeja putih bersih di dalamnya.
Sorot matanya tajam, tidak ada lagi jejak 'anak ingusan' yang tadi ia olok-olok di sana.
Saat Rengganis dituntun untuk duduk di sebelah pria itu, Permadi sedikit memiringkan kepalanya.
Dengan gerakan yang sangat tipis namun sengaja, ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Rengganis. Sebuah gestur yang seolah mengatakan: Game over, Tante.
"Saudara Permadi, apakah Anda sudah siap?" tanya Penghulu.
"Siap, Pak," jawab Permadi dengan suara bariton tanpa ragu sedikit pun.
Papa Baskoro menjabat tangan Permadi. Genggaman itu terasa begitu kuat di mata Rengganis.
Jantungnya berdebar sangat kencang, lebih kencang daripada saat ia menghadapi pasien dengan pre-eklampsia berat.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Permadi Wijaya bin Rudy Wijaya, dengan putri kandung saya, Rengganis Leksananingtyas, dengan mas kawin uang sebesar seratus juta rupiah, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Rengganis Leksananingtyas binti Baskoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Permadi dengan satu tarikan nafasnya.
"Sah?"
"SAH!"
Gemuruh doa mulai terdengar. Rengganis merasa dunianya seolah berputar.
Hanya dalam hitungan jam, statusnya berubah dari seorang dokter spesialis yang skeptis terhadap cinta, menjadi istri sah dari seorang pria yang usianya terpaut lima belas tahun darinya.
Permadi menoleh ke arahnya, kini dengan senyum kemenangan yang paling tulus sekaligus menyebalkan yang pernah Rengganis lihat. Ia meraih tangan Rengganis.
"Selamat datang di hidupku, Istriku," bisik Permadi tepat di telinganya.
Rengganis merasakan jemari Permadi yang hangat saat ia meraih tangan pria itu.
Kemudian ia membungkuk dan menyentuhkan keningnya pada punggung tangan suaminya.
Aroma maskulin yang elegan kembali menyerbu indra penciumannya, mengingatkan Rengganis bahwa ini bukan lagi sekadar simulasi medis atau mimpi buruk akibat kurang tidur. Ini nyata.
Permadi menatap istrinya dengan binar kemenangan yang tidak disembunyikan.
Permadi berdiri dan menjabat tangan Papa Baskoro dengan penuh hormat namun tetap terlihat dominan.
"Papa, Mama. Karena akad sudah selesai Aku mohon izin untuk membawa Rengganis pulang ke rumahku malam ini juga. Sebagai suami, aku ingin kami memulai malam pertama kami di tempat kami sendiri."
Rengganis tersentak. Pulang? Malam ini juga? Ia bahkan belum sempat berpamitan dengan tumpukan jurnal medis di meja kerjanya.
"Tapi, barang-barangku, bajuku, semua masih di rumah," sela Rengganis.
Ia mencoba mencari celah untuk menunda kenyataan bahwa ia harus berduaan dengan pemuda ini.
Papa Baskoro terkekeh-kekeh, menepuk bahu Permadi dengan akrab seolah mereka sudah berteman selama puluhan tahun.
"Sudah, jangan khawatir soal itu, Ganis. Barang-barangmu Papa antar besok pagi ke rumah Permadi. Malam ini, bawa saja dirimu sendiri. Kamu sudah resmi jadi tanggung jawab suamimu."
Mama Ira menambahkan dengan senyum penuh arti, "Lagipula, Permadi bilang dia sudah menyiapkan 'keperluan mendesak' untukmu di sana, Sayang."
Rengganis menoleh ke arah Permadi, menuntut penjelasan lewat tatapan matanya. Namun, Permadi hanya membalas dengan senyum simpul yang misterius.
"Ayo, Dokter. Pasienmu yang paling rewel malam ini adalah aku," bisik Permadi tepat di samping telinga Rengganis.
Mereka pun melangkah keluar dari restoran. Di lobi, sebuah mobil sport mewah sudah menunggu.
Permadi membukakan pintu untuk Rengganis dengan gerakan yang sangat ksatria dimana tipe gerakan yang biasanya hanya dilihat Rengganis di drama Korea yang sering ditonton perawat-perawatnya di rumah sakit.
Begitu mesin mobil menderu dan meninggalkan area restoran, keheningan di dalam kabin terasa begitu pekat.
Rengganis menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berkelebat, sementara Permadi menyetir dengan satu tangan yang santai, sesekali melirik 'istri matangnya' itu.
"Kenapa diam saja, Tante? Takut ya, berduaan dengan anak ingusan?" ucap Permadi dengan tertawa kecil.