NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:59.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Tiba di pasar malam, Alvar mematikan mesin motor dan turun lebih dulu. Dia lalu meraih tangan Kiara, membantu istrinya turun dengan hati-hati. Lampu-lampu warna-warni menggantung di sepanjang gerbang, musik dangdut pelan bercampur tawa pengunjung.

Beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka.

Bisik-bisik kecil terdengar.

“Mas Alvar, ya?”

“Iya … itu istrinya?”

“Cantik juga.”

Sudah lama warga tak melihat Alvar sedekat itu dengan perempuan mana pun sejak perpisahannya dengan Hesti. Kini, melihatnya berdiri santai, bahunya sedikit condong ke arah Kiara, ekspresinya tenang, semua orang tahu satu hal, Alvar sudah benar-benar melangkah ke hidup yang baru.

Kiara merasakan tatapan itu, tapi ia tak mundur. Jemarinya justru mengerat di tangan Alvar.

“Pada lihat semua,” bisiknya pelan.

Alvar menoleh, senyum tipis terbit.

“Biarin, kamu istriku.”

Tak lama, mobil sederhana berhenti tak jauh dari mereka. Bu Sulastri turun lebih dulu, disusul Pak Yono. Wajah Sulastri langsung berbinar saat melihat Kiara dan Alvar.

“Nah, kalian sudah sampai duluan,” katanya hangat.

Kiara segera menghampiri dan menyalami mereka dengan sopan.

“Iya, Bu. Pasarnya ramai.”

Mereka lalu berjalan masuk bersama ke ruang pembukaan pasar malam. Di sana, sudah tampak Pak Bahrul bersama anaknya, Supradi, berdiri dekat panggung kecil yang dihias janur dan umbul-umbul.

“Eh, Var,” sapa Bahrul ramah. “Akhirnya kelihatan lagi.”

Alvar mengangguk singkat, tetap sopan.

“Pak.”

Supradi melirik Kiara sekilas, lalu tersenyum canggung.

“Istrinya, ya?”

“Iya,” jawab Alvar singkat namun tegas.

Di sudut lain ruangan, Hesti berdiri bersama beberapa tamu. Gaunnya rapi, wajahnya tenang tetapi matanya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Alvar.

Namun, Alvar sama sekali tak menoleh ke arahnya. Fokusnya hanya pada Kiara yang berdiri di sisinya, pada Bu Sulastri yang menggandeng lengan Kiara dengan bangga, pada suasana desa yang hidup dan hangat.

Acara pembukaan pasar malam dimulai, dan di tengah riuh tepuk tangan itu, Kiara berdiri di samping Alvar, bukan sebagai bayangan siapa pun, melainkan sebagai istri yang kini berjalan sejajar dengannya.

Sepanjang acara pembukaan pasar malam, Hesti nyaris tak berkedip. Pandangannya terus saja tertarik ke satu arah yaitu ke arah Alvar.

Pria itu berdiri santai di samping Kiara. Sesekali menunduk mendengarkan istrinya bicara, sesekali tersenyum kecil. Gestur yang dulu begitu akrab bagi Hesti, kini dilakukan Alvar untuk perempuan lain.

Hesti mencoba mengalihkan perhatian, berpura-pura menyimak sambutan, ikut bertepuk tangan saat peresmian diumumkan. Namun, matanya tetap saja kembali ke sana.

Di sisi lain, Supradi memperhatikan semuanya dengan rahang mengeras. Ia melihat jelas bagaimana Hesti tak bisa menyembunyikan tatapan itu.

Selesai acara pembukaan, lampu-lampu pasar malam semakin menyala. Musik terdengar lebih riuh. Warga mulai menyebar, tertawa, berbelanja, mencoba wahana.

Alvar menoleh pada Kiara.

“Mau keliling?”

Mata Kiara langsung berbinar.

“Mau! Banyak banget mainannya.”

Mereka berjalan berdampingan. Kiara seperti lupa usia, matanya berbinar melihat balon, stan makanan, dan deretan wahana sederhana. Ia berhenti di depan komedi putar yang berputar pelan, lampunya berkelip warna-warni.

“Mas Alvar,” katanya sambil menarik lengan Alvar, “ayo naik itu.”

Alvar melirik wahana itu, lalu menghela napas kecil.

“Kamu serius?”

Kiara tertawa,

“sekali aja, masa kalah sama anak-anak?”

Alvar mendecak pelan, tapi akhirnya mengangguk.

“Ya sudah, sekali.”

Wajah Kiara langsung berseri. Ia berlari kecil membeli tiket, lalu naik lebih dulu. Alvar menyusul, duduk kaku di atas kuda komedi putar yang terasa terlalu kecil untuk tubuhnya.

Saat musik diputar dan wahana mulai berputar, Kiara tertawa lepas. Rambutnya tertiup angin, wajahnya benar-benar bahagia.

Alvar menoleh, menatap istrinya, dan tanpa sadar senyum tipis muncul di wajahnya.

Momen itu tak luput dari perhatian seseorang. Dari kejauhan, sepasang mata memandang dengan kebencian yang tak lagi disembunyikan.

Tangannya mengepal lebih kuat saat melihat Alvar, pria yang menurutnya tak pantas terlihat sebahagia itu. Apalagi bersama Kiara, apalagi dengan tatapan penuh perlindungan.

Di belakangnya, Hesti masih berdiri terpaku, matanya basah, menatap komedi putar yang terus berputar.

Di antara lampu-lampu pasar malam dan tawa orang-orang, perasaan lama, cemburu, dan dendam bercampur menjadi satu.

Setelah puas berkeliling, langkah Kiara mulai melambat. Napasnya sedikit tersengal, tapi senyumnya masih tersisa.

“Capek?” tanya Alvar, menatapnya.

Kiara mengangguk kecil.

“Dikit … tapi senang.”

Alvar menunjuk ke arah bangku dekat wahana.

“Tunggu di situ. Aku beliin minum.”

Kiara menurut, duduk sambil mengamati lampu-lampu pasar malam yang berkilau. Alvar berjalan menuju deretan pedagang minuman. Namun, baru beberapa langkah, langkahnya tertahan.

Di sudut yang agak sepi, ia melihat Supradi.

Pria itu sedang menarik pergelangan tangan Hesti dengan kasar. Wajah Hesti terlihat tegang, matanya jelas menolak. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi Supradi justru semakin mendekat, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Kenangan lama tentang sikap kasar Supradi terlintas begitu saja. Alvar tahu betul, pria itu tak segan-segan main tangan. Ia membeli minum secepat mungkin, tapi matanya tak lepas dari arah mereka.

Begitu selesai, Alvar langsung melangkah mendekat, saat itu, suara Hesti meninggi.

“Lepasin aku, Prad!”

Supradi membalas dengan emosi, tangannya terangkat, siap menampar. Namun, tamparan itu tak pernah mendarat. Alvar menangkap pergelangan tangan Supradi di udara dengan genggaman kuat.

“Cukup,” ucapnya dingin, suaranya rendah tapi mengancam.

Supradi terkejut, menoleh tajam.

“Ngapain Kamu ikut campur, Var?!”

Alvar tak melepas tangannya, tatapannya tajam, rahangnya mengeras.

“Lepasin dia, sekarang!”

Hesti berdiri kaku di samping mereka, napasnya gemetar. Untuk sesaat, pandangannya bertemu dengan Alvar, ada campuran kaget, lega, dan sesuatu yang belum sempat ia sembunyikan.

Kerumunan mulai melirik. Beberapa orang berhenti berjalan, suasana yang tadinya riuh perlahan terasa tegang. Alvar mencondongkan tubuh sedikit ke arah Supradi.

“Aku nggak mau bikin keributan. Tapi kalau kamu sentuh dia lagi…” Dia menghentikan ucapannya, menekan genggamannya sedikit lebih kuat.

"Kamu tahu akibatnya.”

Supradi mendengus, emosinya bergejolak. Perlahan, ia menarik tangannya saat Alvar akhirnya melepas, namun tatapannya penuh dendam.

Di kejauhan, Kiara masih menunggu, tak tahu bahwa di balik lampu warna-warni pasar malam, sesuatu yang gelap hampir saja terjadi.

Ia terisak, kedua tangannya menutup wajah, bahunya bergetar hebat.

“Aku … aku minta maaf, Var,” suaranya pecah. “Untuk semua yang dulu. Untuk apa yang aku lakukan di belakangmu. Aku tahu aku salah. Aku benar-benar menyesal…”

Alvar terdiam, tangannya mengepal longgar di sisi tubuhnya, napasnya berat namun terkendali.

“Itu sudah lewat,” katanya akhirnya, suaranya tenang namun dingin. “Masa lalu tidak bisa diubah.”

Hesti menurunkan tangannya, matanya merah.

“Lalu aku?” tanyanya lirih. “Aku juga bagian dari masa lalumu.”

Alvar menatapnya, lalu menggeleng pelan.

“Sekarang aku punya masa depan,” ujarnya tegas. “Dan masa depanku adalah Kiara, dia istriku.”

Wajah Hesti berubah seketika. Amarah menyambar, menyingkirkan air mata.

“Kenapa?” bentaknya.

“Kenapa kamu selalu menyebut nama dia? Setiap kali bicara denganku, selalu dia, dia, dan dia!”

Alvar tersentak, dia memandang Hesti lebih lama kali ini dan baru benar-benar menyadari perubahannya. Wanita lembut yang dulu ia kenal kini digantikan oleh sosok penuh amarah dan luka yang tak terurus.

“Hesti…” Alvar menarik napas. “Kamu sudah berubah.”

“Kamu juga!” balas Hesti tajam.

“Kamu berubah sejak ada dia!”

Di sisi lain pasar malam, Kiara mulai gelisah. Ia menoleh berkali-kali, menyadari Alvar terlalu lama. Akhirnya ia berdiri dan melangkah menyusuri keramaian.

“Mas Alvar?” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban, tetapi dari kejauhan, Kiara melihat siluet punggung suaminya, dia mempercepat langkah.

Di saat yang sama, Hesti menyadari keberadaan Kiara, matanya menyipit, bibirnya bergetar.

“Jawab aku, Var,” ucapnya mendesak, mendekat satu langkah.

“Jujur saja, di hatimu … apa masih ada aku? Sedikit saja, sekecil apa pun, apa masih ada tempat untukku?” Pertanyaan itu menggantung di udara, Alvar tak langsung menjawab. Namun, tatapannya tak lagi tertuju pada Hesti.

Bayangannya melayang, pada Kiara di kebun pagi tadi, pada senyum sederhana istrinya, pada caranya merapikan rumah, pada kesabaran dan kehangatan yang perlahan menenangkan hidupnya.

Hesti melihat perubahan itu, melihat arah pandang Alvar yang melewati dirinya. Dalam satu gerakan tiba-tiba, Hesti meraih wajah Alvar dan mencium pria itu.

Saat tiba juga Kiara tiba di depannya dan melihat hal itu dari arah belakang.

1
hasatsk
setelah di simak,, seru juga ceritanya
Ni'mah azzahrah Zahrah
Kiara yg enak, aku yg tegang thor
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!