(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penempaan Esensi Pertama
Angin di Reruntuhan Kuil Hening berhembus membawa butiran kristal mikro yang berpendar. Setiap butiran itu adalah pecahan Hukum Alam yang belum matang, namun cukup tajam untuk mengiris kain jubah yang tidak memiliki perlindungan energi. Chen Kai duduk bersila tepat di tengah altar, membiarkan tubuhnya menjadi titik pusat gravitasi yang sunyi.
Kristal Penyeimbang yang diberikan oleh Tetua Bayangan telah ia telan, dan kini ia bisa merasakan hawa dingin yang stabil menyelimuti paru-parunya. Tekanan udara yang tadinya terasa seperti bara api yang merobek meridian, kini berubah menjadi beban dingin yang bisa ia kendalikan.
"Nak, perhatikan setiap tarikan napasmu," suara Kaisar Yao bergema di dalam lapisan terdalam kesadarannya, seolah bicara dari balik dinding tebal. "Dunia bawah memberimu samudera Qi, tapi di sini, samudera itu hanyalah uap air yang tipis. Jika kau mencoba menyerang sekarang, Qi-mu akan hancur bahkan sebelum keluar dari telapak tanganmu."
"Lalu, apa yang harus kulakukan, Guru?" Chen Kai membatin.
"Kompresi. Kau harus mengubah uap menjadi kristal. Gunakan Mutiara Hitam sebagai palu tempa, dan gunakan meridianmu sebagai landasannya."
Chen Kai memejamkan mata. Ia mulai menarik Qi Naga yang meluap di dalam Dantiannya. Di Benua Tengah, energi ini sanggup meruntuhkan kota, namun di sini, ia terasa ringan dan tidak berbobot. Ia mengarahkan arus Qi tersebut masuk ke pusaran Mutiara Hitam yang mulai berputar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
KRAAAK!
Chen Kai mengerang. Rasa sakitnya luar biasa. Ia merasa seolah-olah sumsum tulangnya sedang diaduk oleh besi panas. Qi lamanya yang melimpah dipaksa untuk memadat, diperas hingga ribuan kali lipat. Dari satu samudera energi, hanya tersisa setetes cairan berwarna ungu keemasan yang sangat berat.
Itulah Esensi Dewa.
Satu tetes esensi itu kemudian dialirkan keluar dari Mutiara Hitam, merembes masuk ke dalam jaringan otot dan tulangnya. Seketika, Chen Kai merasa lengan kanannya bergetar hebat. Kulitnya yang tadi transparan mulai memadat kembali, memancarkan kilauan logam yang samar di bawah cahaya matahari perak.
"Bagus! Jangan berhenti!" Yao menyemangati dengan nada tegang. "Sembilan Surga tidak hanya menuntut kekuatan, tapi juga kemurnian. Buang sisa-sisa energi fana yang tidak bisa dikompresi melalui pori-porimu!"
Uap hitam kelabu mulai keluar dari tubuh Chen Kai, berbau amis dan kotor. Itu adalah residu dari energi dunia bawah yang tidak mampu selaras dengan hukum Sembilan Surga. Saat uap itu menyentuh lantai marmer reruntuhan, marmer itu mendesis seolah terkena asam.
Namun, ketenangan meditasi itu terganggu.
Di ujung, di antara pilar-pilar yang runtuh, suara gesekan sisik di atas batu terdengar. Sesosok makhluk merayap keluar dari bayang-bayang. Bentuknya menyerupai kadal raksasa, namun kulitnya terbuat dari lempengan kristal hitam dan matanya memancarkan cahaya ungu yang lapar.
Binatang Hampa: Penelan Sisa.
Makhluk ini adalah pemulung di Sembilan Surga, yang tertarik pada aroma "energi fana" yang baru saja dikeluarkan dari tubuh Chen Kai. Baginya, uap hitam yang dibuang Chen Kai adalah santapan yang lezat.
Lidah kadal itu menjulur, panjang dan berujung tajam, mencambuk udara ke arah Chen Kai.
Chen Kai tidak membuka matanya. Ia masih berada di tengah proses kompresi yang kritis. Namun, indra spasialnya—yang kini telah selaras sedikit dengan dimensi ini—menangkap pergerakan tersebut.
Saat lidah kadal itu hampir menyentuh pundaknya, Chen Kai hanya menggerakkan bahunya satu inci ke samping.
BAM!
Lidah kristal itu menghantam altar batu, menghancurkannya menjadi debu. Kekuatan fisik binatang di Sembilan Surga berada di level yang berbeda.
Chen Kai mengangkat tangan kanannya, tangan yang baru saja dialiri setetes Esensi Dewa. Ia tidak menggunakan teknik pedang. Ia hanya melakukan satu jentikan jari ke arah udara kosong di depan kepala kadal tersebut.
"Gravitasi: Pemadatan."
WUNG!
Meskipun ia hanya menggunakan sedikit energi, namun karena energi itu telah dikompresi menjadi Esensi Dewa, dampaknya seketika mengubah koordinat ruang di depan moncong kadal tersebut menjadi titik dengan berat tak terhingga.
Kepala kadal raksasa itu tiba-tiba tersentak jatuh, menghantam lantai marmer dengan sangat keras hingga lehernya patah. Binatang itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara sebelum tubuhnya hancur oleh berat kepalanya sendiri.
Chen Kai menghela napas panjang. Napasnya kini membawa aura putih yang jernih.
"Kekuatanku menyusut... tapi daya hancurnya menjadi lebih tajam," batin Chen Kai, menatap tangannya yang sedikit gemetar.
"Itulah jalannya, Nak," Yao terkekeh. "Di dunia ini, satu tetes embun bisa membunuh seorang raja jika kau tahu cara memampatkannya. Teruskan meditasimu. Matahari perak hampir tenggelam, dan saat malam tiba di Surga Hampa, predator yang sebenarnya akan keluar untuk berburu."
Chen Kai mengangguk. Ia tidak lagi merasa seperti sampah yang terbuang. Di tengah reruntuhan yang sunyi ini, Sang Raja Hitam sedang menempa ulang mahkotanya.
Perjalanan menuju Kota Awan Putih masih jauh, namun pondasi untuk menaklukkan surga baru saja diletakkan di atas darah dan keringat penempaan pertama.
terimakasih Thor 🙏🙏🙏
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪