NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Sabtu pagi yang cerah seharusnya menjadi waktu bagi Freya untuk bergelung di bawah selimut, memimpikan palet warna atau konser band indie yang ingin ia tonton. Namun, realita berkata lain. Suara gemerincing panci dan aroma bumbu dapur dari lantai bawah membangunkannya lebih awal dari alarm mana pun.

"Aduh, Ibu... Anak cantik Ibu ini capek banget, tahu nggak? Kenapa harus sekarang sih? Nggak ada hari lain apa?" keluh Freya sambil menyeret langkahnya ke dapur. Matanya masih setengah terpejam, kontras dengan ibunya yang sudah rapi dan sigap.

"Hari ini ada jamuan minum teh mendadak untuk tamu dari luar kota, Frey. Staf katering Ibu ada yang izin sakit dua orang. Kamu harus bantu, ini masalah profesionalisme," ujar Bu Larasati tanpa menoleh, sibuk menata kue hantaran ke dalam wadah.

Freya mendengus, namun ia tidak tega melihat ibunya kewalahan. Ia naik kembali ke kamar, mengganti kaos tidurnya dengan dress Korea bermotif bunga-bunya kecil yang manis, dipadukan dengan cardigan ungu pastel yang lembut. Rambutnya ia ikat asal namun tetap terlihat chic. Tanpa make-up berlebih, hanya polesan lip balm, Freya tampak seperti musim semi yang berjalan.

Sesampainya di istana, Freya langsung dikaryakan. Ia memindahkan kotak-kotak kecil berisi kudapan manis ke area dapur istana. Namun, seorang pelayan senior tiba-tiba menghampirinya dengan wajah cemas.

"Nona Freya, syukurlah Anda di sini. Ini... ada pesanan khusus camilan sehat dan teh hijau yang harus diantar ke kamar Pangeran Kaisar. Beliau sedang bekerja dan tidak ingin diganggu di ruang makan umum."

Freya melongo. "Ha? Dianter ke kamar pangeran robot itu lagi? Bu, mending jangan aku deh. Males banget lihat muka kaisar itu. Nanti yang ada gue malah pengen nyoret-nyoret wajahnya pakai spidol!"

"Freya!" tegur ibunya dengan nada peringatan yang tajam.

"Iya, iya! Ibu sama bawelnya sama orang-orang di sini, tahu nggak!" gerutu Freya. Ia menyambar nampan perak itu dengan gerakan sedikit kasar, meski tetap hati-hati agar cangkir porselennya tidak pecah.

Ia melintasi koridor-koridor yang kini terasa sedikit lebih akrab. Begitu sampai di depan pintu jati besar itu, ia tidak mengetuk secara formal. Ia menggunakan sikunya untuk mengetuk pintu dengan bunyi dug-dug-dug yang tidak beraturan.

"Masuk," suara berat itu terdengar dari dalam.

Freya menendang pintu hingga terbuka sedikit, lalu masuk. Kaisar sedang duduk di balik meja kerja besarnya, dikelilingi tumpukan dokumen. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung.

"Teh lo datang, Tuan Pangeran," ujar Freya santai, meletakkan nampan itu di meja dengan bunyi klang yang cukup keras.

Kaisar mendongak. Ia sempat tertegun sesaat melihat penampilan Freya yang berbeda—lebih lembut, lebih... feminin dengan warna pastel itu. "Kamu lagi? Aku pikir mereka akan mengirim pelayan profesional."

"Gue emang profesional! Profesional dalam hal dipaksa nyokap," balas Freya sambil berkacak pinggang. "Udah ya, gue mau cabut. Jangan panggil-panggil gue lagi kalau cuma urusan teh."

Kaisar hanya menatapnya dengan datar. "Aku tidak memanggilmu. Kamu yang masuk ke kamarku."

"Terserah!" Freya berbalik, namun tepat saat ia menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka dari luar.

Seorang ajudan senior berdiri di sana dengan sikap hormat. "Nona Freya, Yang Mulia Buyut meminta Anda untuk segera menghadap di paviliun belakang. Beliau... merindukan Anda."

Freya dan Kaisar saling lirik. Kaisar mengerutkan kening. "Buyut?"

"Iya, Pangeran. Beliau juga meminta Pangeran Kaisar untuk mendampingi Nona Freya."

Di paviliun belakang yang asri, dikelilingi kolam teratai yang tenang, Buyut Kaisar duduk di kursi goyangnya, menikmati semilir angin. Saat melihat Freya datang, wajah sepuhnya langsung cerah.

"Nona kecil! Sini, duduk di dekatku," panggil Buyut dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.

Freya duduk di kursi kayu di samping Buyut, sementara Kaisar berdiri tegak di belakang mereka.

"Kamu tahu, Freya? Semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan riasanmu yang aneh tapi cantik itu," ujar Buyut sambil terkekeh. "Istana ini terlalu abu-abu. Terlalu sunyi. Dan saat kamu datang tempo hari, suasananya jadi... berwarna."

"Ah, Buyut bisa aja. Itu cuma karena saya nggak bisa diam aja, Yang Mulia," sahut Freya jujur.

Buyut kemudian menoleh ke arah Kaisar, lalu kembali ke Freya. Beliau meraih tangan Freya dan menggenggamnya. "Kaisar adalah anak yang baik, tapi dia terlalu kaku. Dia butuh seseorang yang bisa membuatnya 'bernyawa'. Dan kamu, Freya... kamu punya keberanian yang tidak dimiliki gadis-gadis bangsawan yang selama ini dijodohkan dengannya."

Jantung Freya mulai berdegup tidak nyaman. Ia punya firasat buruk.

"Maksud Buyut?" tanya Kaisar, suaranya terdengar waspada.

Buyut tersenyum misterius. "Aku sudah bicara dengan Ayahmu dan Kakekmu. Kami sepakat. Untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, kami berencana menjodohkan kalian berdua. Freya akan menjadi calon tunangan Kaisar."

"APA?!"

Suara Freya dan Kaisar meledak secara bersamaan, memecah ketenangan kolam teratai.

"Buyut, ini tidak masuk akal!" protes Kaisar, langkahnya maju satu tindak. "Kami bahkan tidak saling mengenal dengan baik. Dia... dia seorang mahasiswi seni yang... yang..."

"Yang rebel? Yang nggak punya adab?" potong Freya, berdiri dengan wajah merah padam. "Waduh, Buyut, makasih banget tawaran 'naik pangkat'-nya, tapi nggak makasih! Saya nggak mau nikah sama robot yang jadwal makannya aja diatur protokol! Saya mau jadi pelukis, bukan jadi pajangan istana!"

"Lihat, Buyut? Dia bahkan tidak menginginkannya," tambah Kaisar, meski ada sedikit nada tersinggung di suaranya saat disebut 'pajangan'.

Buyut tidak marah. Beliau justru tertawa kecil. "Reaksi kalian sama persis. Menarik. Keputusanku sudah bulat. Ini bukan sekadar perjodohan, ini adalah perintah keluarga. Kalian punya waktu satu bulan untuk saling mengenal sebelum pengumuman resmi."

Setelah keluar dari paviliun, suasana di antara Kaisar dan Freya jauh lebih dingin dari biasanya. Mereka berjalan di lorong menuju parkiran tanpa bicara, sampai Freya berhenti mendadak.

"Dengar ya, Pangeran Robot," Freya menunjuk dada Kaisar dengan jarinya. "Gue nggak tahu rencana apa yang ada di otak keluarga lo, tapi gue nggak bakal setuju. Gue nggak naksir lo, dan gue yakin lo juga ilfeel liat gue yang berantakan ini."

Kaisar menatap jari Freya yang menempel di kemejanya, lalu menatap mata gadis itu. "Untuk sekali ini, aku setuju denganmu. Kamu bukan tipeku. Aku suka keteraturan, dan kamu adalah definisi dari kekacauan."

"Bagus! Kalau gitu lo bilang sama Buyut lo, batalin semuanya!"

"Kamu pikir semudah itu menentang Buyut?" Kaisar mendekatkan wajahnya, membuat Freya sedikit mundur. "Jika aku membatalkannya sekarang tanpa alasan yang kuat, keluargamu—terutama bisnis ibumu—akan terkena imbasnya. Kau mau itu?"

Freya terdiam. Ia mengepalkan tangannya. "Ini pemerasan namanya!"

"Ini adalah politik istana, Freya. Selamat datang di duniaku yang membosankan," ujar Kaisar dingin, meski di dalam hatinya ia merasa ada tantangan baru yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.

Freya menggerutu sepanjang jalan menuju mobil ibunya. "Awas lo ya. Gue bakal bikin lo nyesel udah setuju sama perjodohan ini. Gue bakal jadi tunangan paling horor dalam sejarah kerajaan Welas!"

Kaisar hanya melihat mobil itu pergi, gumaman Freya masih terngiang di telinganya. Ia tidak cinta, tentu saja tidak. Baginya, Freya hanyalah masalah yang harus segera diselesaikan. Tapi entah kenapa, pikiran tentang 'tunangan paling horor' itu justru membuatnya sedikit... penasaran.

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!