NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemuda asing itu?

Di sebuah ruangan luas dalam gedung megah itu, Arka akhirnya menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran miliknya. Punggungnya bersandar, kepalanya sedikit mendongak. Penat. Rapat panjang bersama para staf benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba mengatur napas, sampai ketukan pelan di pintu membuatnya membuka mata.

“Masuk,” ucapnya singkat.

Pintu terbuka, Sintia melangkah masuk sambil membawa sebuah map tebal. Senyum termanis terlukis di wajahnya—senyum yang selalu ia persiapkan khusus setiap kali bertemu Arka. Ia berharap, meski hanya sekali, pria itu akan membalasnya dengan sedikit perhatian.

Namun seperti biasa, Arka tetap Arka. Sosok pria yang dingin. Fokusnya hanya tertuju pada berkas di tangannya.

Sintia tidak benar-benar kecewa. Baginya, bisa berada di dekat Arka setiap hari saja sudah cukup. Ia percaya, lambat laun pasti ada celah.

“Pak Arka,” ujar Sintia lembut, “hari ini ada meeting di luar. Di Hotel Grand.”

Arka mengangguk singkat. “Oke saya akan siap dalam lima menit.”

Sintia tersenyum dan segera keluar. Arka pun berdiri, meraih jasnya, lalu melangkah pergi. Tak lama kemudian, mobilnya melaju membelah jalanan kota. Saat itulah, tanpa alasan yang jelas, pikirannya melayang pada satu hal.

Rutenya… akan melewati kampus Lara.

Sementara itu, di kampus, jam terakhir akhirnya berakhir. Lara keluar dari kelas dengan langkah malas. Bahunya sedikit turun, kepalanya menunduk—capek, tapi bukan lelah yang menyebalkan. Lebih ke lelah yang ingin segera ditukar dengan hal menyenangkan.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Axel.

"Aku di depan gerbang kampus. Kalau kamu belum pulang, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat."

Mata Lara langsung berbinar. Tanpa berpikir panjang, jarinya mengetik balasan setuju. Hatinya terasa ringan, langkahnya otomatis jadi lebih cepat.

Sesampainya di depan gerbang kampus, Axel sudah menunggu. Ia berdiri santai di samping motornya, senyum khasnya langsung merekah saat melihat Lara mendekat.

“Lama ya?” tanya Lara

“Enggak kok,” jawab Axel sambil tersenyum.

Axel mengambil helm, lalu dengan gerakan refleks memakaikannya ke kepala Lara. Tangannya sedikit berhati-hati, jarak mereka mendekat tanpa sadar. Lara hanya diam, membiarkannya, wajahnya tersenyum kecil.

Di saat yang sama, sebuah mobil hitam melintas perlahan di depan kampus.Mobil yang dikendarai Arka.

Matanya tanpa sengaja menangkap pemandangan itu. Seorang pria muda berdiri sangat dekat dengan Lara. Terlalu dekat. Gerakan mereka terlihat akrab—alami—seolah sudah terbiasa. Dan ketika pemuda itu memakaikan helm ke kepala Lara, dada Arka terasa mengeras.

Mobil tetap melaju, tapi pandangan Arka masih tertinggal di sana.

Jadi… itu dia? Pemuda bernama Axel itu?

Arka mengepalkan rahangnya, perasaannya berkecamuk antara marah, tidak terima, dan sesuatu yang bahkan tidak ingin ia akui.

Tangannya mencengkeram setir lebih kuat.

Dan untuk pertama kalinya, nama Axel terpatri jelas di kepalanya—bukan sekadar nama, tapi sebagai ancaman yang nyata.

Mobil Arka melaju menjauh dari gerbang kampus, tapi matanya masih sempat menangkap bayangan itu dari kaca spion. Lara. Tertawa kecil. Axel berdiri terlalu dekat. Dan helm yang dipasangkan dengan gestur yang—entah kenapa—terlihat begitu familiar.

Ada satu momen singkat. Sangat singkat. Saat kaki Arka refleks menginjak rem.

Mobil berhenti di tepi jalan.

Arka menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Dalam kepalanya, bayangan absurd berkelebat begitu saja—dirinya turun dari mobil, melangkah cepat, menarik tangan Lara tanpa peduli siapa pun yang melihat, lalu menyeretnya masuk ke dalam mobil. Membawanya pergi. Menjauhkannya dari pemuda itu.

Konyol.

Arka mendengus pelan. Tangannya mengepal di atas setir.

Apa haknya?

Lara bukan anak kecil lagi. Dan ia bukan… siapa-siapa. Bukan ayahnya. Bahkan bukan sosok yang selama ini hadir dalam hidup Lara. Ia terlambat menyadari itu. Terlalu terlambat.

Jika ia melakukan hal bodoh barusan, bukan tidak mungkin Lara akan benar-benar membencinya.

Akhirnya, Arka kembali menginjak pedal gas. Mobil melaju lebih cepat dari sebelumnya, seolah ia sedang berusaha meninggalkan sesuatu—atau seseorang—yang tiba-tiba terasa terlalu dekat dengan hatinya.

Sementara itu, di sisi lain kota, Axel dan Lara sudah meluncur menuju mall.

Angin sore menyusup di sela perjalanan, membawa suasana ringan yang membuat Lara tanpa sadar ikut bersenandung kecil. Setibanya di mall, langkah Lara langsung mengarah ke satu tempat yang sudah lama memanggil namanya sejak tadi.

“Tunggu sebentar ya,” katanya sambil menunjuk sebuah toko es krim. “Aku kepengen banget.”

Axel tertawa kecil. “Silakan, Nona Es Krim.”

Di toko es krim itu, Lara akhirnya menoleh pada Axel dengan tatapan penasaran yang sejak tadi menggelitik kepalanya.

“Ngomong-ngomong,” ucap Lara sambil mengaduk es krimnya pelan, “kenapa hari ini kamu nggak masuk kampus? Dari tadi aku kepikiran.”

Axel tersenyum kecil, seolah pertanyaan itu sudah ia duga.

“Hari ini aku ke bandara,” jawabnya santai. “jemput kakak sama ponakanku. Mereka baru sampai pagi tadi.”

“Oh…” Lara mengangguk pelan. “Terus?”

“Setelah nganter mereka pulang ke rumah, baru aku kepikiran buat jemput kamu,” lanjut Axel jujur. “Sekalian mau beli hadiah kecil buat ponakanku. Dia pertama kali ke Jakarta, soalnya.”

Lara terdiam sesaat, mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Entah kenapa, penjelasan sederhana itu terasa hangat. Tidak dibuat-buat. Tidak berlebihan. Hanya cerita biasa—namun cukup untuk membuatnya nyaman.

“Ponakanmu pasti senang,” kata Lara akhirnya. “Dapet oleh-oleh dari om yang perhatian.”

Axel terkekeh pelan. “Semoga. Kalau nggak, ya aku yang dimarahin.”

Lara ikut tertawa, tapi di sela tawa itu pikirannya mendadak melayang.

Bandara. Menjemput keluarga. Datang tepat waktu.

Kata-kata Axel barusan tanpa sengaja membuka kenangan lama yang selama ini ia simpan rapi—tentang seseorang yang dulu pernah berjanji akan pulang, namun tak pernah benar-benar datang..

Lara menunduk, menatap es krimnya yang mulai mencair.

Ia tidak sedih. Tidak juga marah. Hanya merasa… asing.

Dulu ia selalu menunggu. Sekarang, ia tidak lagi berdiri di tempat yang sama.

Di tempat lain, Arka sudah berada sejak tadi di sebuah ruangan eksklusif di hotel grand. Meja panjang dipenuhi para petinggi perusahaan yang tengah membahas detail proyek kerja sama bernilai fantastis. Presentasi berjalan lancar, grafik demi grafik terpampang di layar besar, suara diskusi terdengar bergantian.

Arka duduk tegak di kursinya, ekspresinya tenang, tatapannya fokus ke depan.

Setidaknya, dari luar terlihat begitu. Padahal pikirannya sama sekali tidak berada di ruangan itu.

Bayangan Lara dengan pemuda asing di depan gerbang kampus terus muncul tanpa izin. Cara pemuda itu tersenyum. Cara ia berdiri terlalu dekat. Cara ia dengan santainya memakaikan helm di kepala Lara—terlalu akrab untuk sekadar teman biasa.

Arka mengepalkan jemarinya di atas meja.

“Tenang,” gumamnya dalam hati.

“Tidak ada hak baginya untuk ikut campur.”

Awalnya ia berusaha acuh. Memaksa dirinya kembali pada pembahasan proyek. Memaksa logikanya bekerja lebih keras dari perasaannya. Namun semakin ia mencoba mengabaikan, semakin kegelisahan itu menekan dadanya.

Akhirnya, tekadnya runtuh.

Dengan gerakan nyaris tak terlihat, Arka meraih ponselnya dari saku jas. Ia menunduk sedikit, mengetik sebuah pesan singkat.

Lara, kamu di mana? Pesan itu terkirim.

Arka menatap layar ponselnya, menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Tidak ada balasan.

Rahangnya mengeras. Ia mencoba menenangkan diri—meyakinkan bahwa Lara mungkin sedang sibuk, atau ponselnya tidak berada di genggaman. Namun setelah lima belas menit berlalu tanpa tanda-tanda kehidupan dari layar ponselnya, kesabarannya benar-benar habis.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri.

“Permisi,” ucapnya singkat pada para petinggi. “Saya ke toilet sebentar.”

Tanpa menunggu tanggapan, Arka melangkah keluar ruangan. Begitu pintu tertutup, ia langsung mengeluarkan ponselnya lagi dan menekan satu nama yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

Nada sambung terdengar.

Sementara itu, di tempat yang sama sekali berbeda, orang yang sedang ditelepon tampak sama sekali tidak menyadari badai kecil yang tengah terjadi.

Lara sedang berdiri di salah satu toko pernak-pernik di mall, matanya berbinar melihat deretan barang lucu di hadapannya. Axel berdiri di sampingnya, sesekali mengomentari pilihan Lara dengan nada bercanda.

“Yang ini lucu nggak?” tanya Lara sambil mengangkat gantungan kunci berbentuk boneka kecil.

“Lucu,” jawab Axel tanpa ragu. “Mirip kamu.”

“Hah? Aku segitu imutnya?” Lara mendengus, lalu tertawa sendiri.

Axel ikut tertawa, menikmati momen itu tanpa beban. Mereka terlalu asyik memilih dan bercanda sampai Lara sama sekali tidak sadar ponselnya di dalam tas sedang bergetar pelan—berulang kali—tanpa suara. (Mode silent).

Dan di sisi lain kota, Arka menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras saat panggilannya belum juga diangkat.

Perasaan yang sama sekali tidak ia kenali mulai merayap perlahan:

cemas, kesal… dan takut.

Takut jika dunia Lara benar-benar mulai diisi orang lain.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!