Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WANITA BAR-BAR.
Suasana di balai desa pagi itu terasa sangat berbeda dari biasanya. Ratusan warga berkumpul dengan wajah penuh harap. Haris berdiri di depan mereka, didampingi Pak Kades yang tampak jauh lebih berani setelah mendapat jaminan keamanan. Satu per satu, Haris menyerahkan bantuan berupa alat-alat pertanian modern dan bibit unggul yang sengaja ia datangkan dari mitra bisnisnya.
"Bapak dan Ibu sekalian, mulai hari ini, Anda tidak perlu lagi merasa terikat pada satu tengkulak saja. Saya sudah berkoordinasi dengan jaringan distribusi pasar induk di kota. Mereka akan menampung hasil panen Anda dengan harga yang jauh lebih layak dan manusiawi," ujar Haris dengan suara lantang yang disambut sorak-sorai riuh para warga.
Beberapa petani bahkan meneteskan air mata haru. Selama ini, mereka hidup dalam jeratan utang yang diciptakan oleh Juragan Darwis. Haris benar-benar datang sebagai pembuka jalan menuju kebebasan ekonomi bagi desa tersebut. Namun, di sudut kerumunan, beberapa pasang mata menatap dengan penuh kebencian. Mereka adalah kaki tangan Darwis yang segera bergegas pergi untuk melaporkan pemandangan itu kepada tuannya.
Di kediamannya yang mewah namun suram, Juragan Darwis melempar asbak kristalnya ke lantai saat mendengar laporan anak buahnya. Wajahnya merah padam, menahan amarah yang hampir meledakkan dadanya.
"Anak ingusan itu benar-benar ingin menantangku! Kumpulkan semua orang nanti malam. Kita hancurkan perkebunan warga yang berani menerima bantuan itu. Biar mereka tahu bahwa orang kota itu tidak akan bisa melindungi mereka selamanya!" perintah Darwis dengan nada rendah yang sangat berbahaya.
Darwis merasa jumawa dengan kekuatannya, namun ia tidak menyadari bahwa Farel telah menempatkan tim keamanan profesional di titik-titik strategis wilayah perkebunan warga. Strategi Haris tidak hanya soal membangun fisik, tapi juga pertahanan yang tak terlihat.
Setelah menyelesaikan urusan di balai desa, Haris kembali ke vila dengan perasaan puas. Ia mendapati Haniyah dan Ratih masih asyik mengobrol di teras depan. Haris berjalan mendekat dan segera duduk di samping istrinya.
"Sepertinya arisannya seru sekali sampai tidak sadar matahari sudah mulai tinggi. Sayang, kamu harus istirahat sekarang. Ingat pesan bidan, jangan terlalu lelah," ucap Haris sambil mengusap lembut kepala Haniyah.
Ratih mencibir ke arah Haris. "Duh, Bapak Direktur ini posesif sekali. Kami baru saja mulai membicarakan hal seru, kamu sudah datang merusak suasana."
Haris terkekeh, lalu matanya melirik Farel yang sedang berdiri siaga di dekat pilar vila. "Ratih, daripada kamu mengganggu waktuku dengan Haniyah, lebih baik kamu lakukan pendekatan dengan Farel. Biar kalian saling kenal lebih dalam."
Haris menoleh ke arah asistennya. "Farel, aku tugaskan kamu untuk menemani Ratih siang ini. Jangan sampai dia kesepian atau malah mengganggu kami di dalam."
Farel yang biasanya tampak tenang dan tanpa ekspresi, seketika tersentak. Matanya membelalak menatap bosnya. "Maaf Bos, menemani Nona Ratih? Saya tidak tahu caranya melakukan tugas seperti itu. Lebih baik saya ditugaskan menghadapi seribu musuh daripada harus melakukan ini."
Ratih yang memang memiliki kepribadian berani, langsung berdiri dan menyambar lengan Farel sebelum pria itu sempat berkelit. "Ayo, Farel! Bosmu sudah memberi perintah, jangan jadi pengecut. Kita bicara di gubuk nenek."
Ratih menarik tangan Farel dengan kuat, sementara Farel tampak sangat canggung dan kaku. Wajahnya yang dingin kini berubah menjadi sangat kikuk. Sesampainya di gubuk nenek Ratih yang jaraknya hanya beberapa meter dari vila, Farel segera menarik tangannya perlahan.
"Maaf, Nona. Bisakah Anda melepaskan tangan saya? Saya tidak terbiasa dengan ini," ujar Farel dengan suara yang sedikit gemetar karena gugup.
Ratih segera memasang wajah sedih, ia membuang muka seolah-olah hatinya sangat terluka. "Mungkin memang nasibku yang malang. Semua laki-laki selalu menganggapku sebagai gangguan. Mungkin aku memang ditakdirkan hanya untuk dipermainkan."
Melihat mata Ratih yang mulai berkaca-kaca, pertahanan Farel runtuh. Ia merasa sangat bersalah. "Bukan begitu, Nona. Saya tidak bermaksud meremehkan Anda. Hanya saja, seumur hidup saya, saya belum pernah berinteraksi secara pribadi dengan wanita. Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana."
Ratih menoleh cepat, matanya membelalak heran. "Tunggu, pria setampan kamu tidak pernah berpacaran? Sama sekali?"
Farel menggeleng pelan. "Waktu saya habis untuk latihan militer dan mengurus pekerjaan Bos Haris. Saya tidak sempat memikirkan hal semacam itu."
Ratih tersenyum jahil, rasa penasarannya mulai memuncak. "Berarti, bibirmu ini belum pernah merasakan yang namanya ciuman?"
Pertanyaan frontal itu membuat Farel benar-benar terkejut. "Tentu saja tidak! Dalam keyakinan saya, pacaran itu haram, Nona. Saya menjaga diri saya."
"Kalau begitu, ayo kita menikah sekarang juga. Biar semuanya jadi halal dan tidak haram lagi!" tantang Ratih dengan nada bar-bar yang membuat Farel hampir kehilangan napas.
Farel menatap Ratih dengan pandangan tak percaya. Ia merasa sedang berhadapan dengan wanita paling nekad yang pernah ia temui. "Nona, sebaiknya Anda berpikir jernih. Pernikahan itu ibadah yang sangat sakral, bukan hal yang bisa dijadikan bahan bercandaan seperti ini."
Farel merasa sangat risih dan panas dingin di sekujur tubuhnya. Tanpa menunggu balasan Ratih, ia langsung bangkit dan berjalan cepat meninggalkan gubuk itu. Ratih hanya memperhatikannya dari kejauhan dengan senyum penuh kemenangan.
"Pergilah dulu, Farel. Tapi ketahuilah, malam ini aku akan memintamu langsung pada Pemilik Hatimu. Aku pastikan suatu saat nanti kau akan menerimaku," bisik Ratih dengan keyakinan baru.
Langkah kaki Farel yang tergesa-gesa langsung terhenti ketika salah satu anak buahnya berlari menghampiri dengan wajah panik. Informasi yang masuk benar-benar mendesak.
"Komandan, sekelompok orang bersenjata mulai bergerak menuju perkebunan warga bagian selatan. Mereka membawa jerigen bensin dan senjata tajam. Sepertinya instruksi Darwis sudah dimulai," lapor anak buah tersebut.
Seketika, raut wajah Farel yang tadinya kaku karena Ratih kembali berubah menjadi dingin dan mematikan. Aura kepemimpinannya terpancar kuat. Ia mengambil radio panggilnya dan memberikan komando singkat.
"Semua tim, aktifkan posisi tempur. Jangan biarkan satu batang pohon pun rusak. Kita berikan kejutan bagi mereka di perbatasan perkebunan. Saya akan segera menyusul ke lokasi!" tegas Farel.
Farel melirik sebentar ke arah vila Haris, memastikan keamanan di sana tetap terjaga sebelum ia melesat pergi menuju medan pertempuran. Baginya, tugas melindungi aset bosnya dan warga desa adalah prioritas utama, meskipun hatinya kini mulai terusik oleh bayangan wanita bar-bar yang baru saja mengajaknya menikah secara tiba-tiba.
Pertarungan di perkebunan sudah di depan mata. Darwis mengira rencananya akan berjalan mulus, tanpa mengetahui bahwa ia sedang berjalan lurus menuju jebakan yang telah disiapkan oleh tangan kanan Haris yang paling setia.
lanjut kak semangat 💪💪
🤣🤣
lanjut kak tetap semangat 💪💪