Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berani-beraninya Dia Selingkuh!
“Lo enggak perlu nemenin gue belanja.” Stella melirik kantong-kantong yang dibawa Kayson keluar dari toko. “Maksud gue, gue tahu lo sibuk. Lo punya perusahaan yang harus diurusin. Dan gue udah gede. Gue biasa belanja sendiri!”
Tentu saja Kayson tahu Stella bisa belanja sendiri. Tapi dia ingin Stella aman. Dan menurutnya, aman berarti dekat dengannya.
Kayson menekan tombol di kunci mobilnya dan bagasi Benz langsung terbuka. Dia memasukkan kantong-kantong belanja itu ke dalam. Sebuah tas kecil berwarna merah muda dengan logo lingerie terlihat bergeser ke samping.
Sial, sial, sial.
Tatapan Kayson terpaku pada potongan renda putih kecil itu.
Stella buru-buru memasukkannya kembali ke dalam tas. “Dan lo jelas enggak perlu bayarin belanjaan gue. Gue punya uang sendiri. Gue jelas enggak butuh lo—”
“Kalau lo butuh, malah bagus.” Kata-kata itu terlanjur keluar.
Salah besar.
Stella mengerutkan kening, ekspresi kecil yang selalu dia tunjukkan kalau bingung. “Gue enggak ngerti.”
Kayson menutup bagasi, menggenggam tangannya, dan membawanya ke sisi penumpang. Dia tidak langsung membukakan pintu. Hanya berdiri di sana, menatap mata indah Stella. Warna emas selalu jadi favoritnya.
“Gue pingin lo butuh gue.”
Stella mendengar tarikan napasnya yang cepat. “Kayson .…”
Kali ini Kayson tersenyum. “Gue suka cara lo nyebut nama gue. Kalau lo gugup, nada suara lo naik. Kalau lo marah, lo hampir enggak napas. Dan kalau lo senang .…” Kayson menyibakkan sehelai rambut Stella ke belakang telinganya. “... Lo hampir mendesah waktu menyebutnya.”
Mata emas itu membelalak. “Enggak.”
Kayson mengangkat bahu. “Anggap aja baju-baju itu hadiah. Dan hadiah enggak boleh dibalas atau dikembaliin.”
Stella menatapnya lekat-lekat. “Terus kenapa lo masih di sini?”
“Karena lo butuh pengawal sampai kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Sementara itu, timnya sudah mulai melakukan pengecekan latar belakang semua orang yang dia sebutkan.
“Kalau ada yang mencurigakan muncul dari hasil penyelidikan, kita langsung dapat pemberitahuan.”
Stella menggigit bibirnya. Bibir yang selalu mengganggu Kayson.
“Gue yakin ada agen junior yang bisa jadi pengawal gue. Lo punya hal lain yang harus diurus. Gue enggak berharap lo kasih gue perlakuan istimewa atau semacamnya.”
Kayson mendekat, menaruh tangan di atap mobil dan menahan Stella dengan tubuhnya. “Gue jarang ambil kasus pengawalan, tapi lo bukan kasus biasa.”
Kayson seharusnya mundur. Berhenti untuk menghirup wangi manisnya dan berhenti memikirkan betapa menggoda perempuan itu. Seharian ini dia terus teringat es krim.
“Kayson?”
“Lo bilang mau ke galeri.”
Stella mengangguk singkat.
“Gue juga mau lihat tempatnya. Cek apa yang bisa ditambah buat keamanan.” Dan mungkin Kayson bisa sekalian lewat depan studio tato sialan itu. “Habis ini kita ke sana.”
“Baik banget.”
Klakson mobil terdengar di kejauhan dan Klayson menoleh. Mereka berada di dalam parkiran, dan sebuah SUV biru baru saja berbelok.
Mereka harus bergerak. Kayson mundur, membuka pintu, dan menunggu sampai Stella masuk. Beberapa saat kemudian, dia duduk di kursi pengemudi dan mulai injak gas.
“Gue rasa lo lagi di mode baik.” Suara Stella ragu. “Dan lo … beberapa kali selama ini juga pernah baik sama gue.”
Stella juga sering berkali-kali jadi brengsek.
Kayson menggenggam setir lebih erat. “Seharusnya gue selalu jadi yang terbaik buat lo.”
Aroma Stella kembali tercium saat Kayson mengemudi.
Apa dia tahu betapa Kayson menyukai wangi lavendernya?
“Gue harus bayar jasa lo.”
Kayson mengerem di lampu merah. “Apa?”
“Perlindungan lo. Gue harus bayar.”
Kayson meliriknya. Wajahnya tampak polos. “Lo enggak bakal bayar gue, Stella!”
“Oh, iya gue bakal bayar.”
“Enggak. Gue bantu lo karena keamanan itu urusan gue.”
“Tapi lo enggak jalanin badan amal! Udah cukup rugi buat lo enggak mau nerima bayaran waktu pasang sistem keamanan awal opening di galeri gue.”
Dan Kayson berharap saat itu dia juga yang memasang sistem di rumah Stella. Tapi hari itu mereka bertengkar di galeri. Karena Kayson cemburu seperti orang idiot.
Seorang seniman datang, memanggil Stella Sayang, terus bicara soal bagaimana Stella bisa menginspirasinya.
Kayson langsung menyuruh pria itu pergi dengan kata-kata kasar karena mereka sedang bekerja.
Stella jelas tidak terima dengan sikapnya. Begitu instalasi selesai, Stella mengusirnya. Kayson tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah itu.
Seniman bodoh itu.
Siapa namanya?
Koora?
Toora?
Dia harus mengecek lagi ke Joel untuk memastikan pria itu masuk dalam daftar investigasi.
Sebuah mobil membunyikan klakson di belakangnya. Kayson bahkan tidak tahu sudah berapa lama lampu berubah hijau. Dia menginjak pedal gas dan Benz pun melaju.
“Bantuin teman itu beda sama amal.”
“Jadi cuma teman, gue buat lo?”
Lampu merah lagi. Kayson mengerem dan menoleh padanya. “Emang Lo mau jadi apa?”
Mata emas itu begitu dalam.
“Itu pertanyaan sebenarnya, Stella. Lo maunya apa? Lo mau jadi teman gue? Kayak lo ke Riggs? Atau lo mau lebih?"
Lampu berubah hijau. Kayson langsung jalan tanpa menunggu klakson.
Stella belum menjawab. Sepanjang perjalanan ke galerinya, mereka diam.
Saat Kayson memarkir mobil tepat di depan gedung itu, Stella masih memikirkan apa yang seharusnya dia katakan.
Setelah mematikan mesin, Kayson menoleh padanya. Dia harusnya mengatakan sesuatu yang ringan. Sesuatu yang menenangkan. Tapi begitu dia membuka mulut ....
“Kenapa cuma empat selingkuhan?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Keningnya berkerut tipis. “Empat apa?”
“Selingkuhan. Lo cuma punya empat cowok. Kenapa?”
“Karena .…” Stella condong mendekat, untuk membisikkan sesuatu di telinganya, “Gue enggak biarin sembarang orang masuk ke vaqina gue.”
Stella tersenyum. Lalu tertawa.
“Heh. Muka lo tuh enggak ada harganya.” Tawa Kayson lembut dan ringan.
“Yang penting gue milih selingkuhan gue, Kayson. Dan gue milih dengan hati-hati. Gue harus ngerasain koneksi, intensitas yang panas, dan kalau itu enggak ada, gue enggak mau buang waktu gu—”
Kayson langsung memotong kalimat itu dengan menciumnya.
Karena senyumnya indah.
Karena tawanya adalah suara terbaik yang pernah Kayson dengar.
Karena yang Stella inginkan adalah dia, bukan es krim.
Begitu bibir mereka bersentuhan, ledakan itu pun muncul lagi.
Kayson berniat memberi ciuman lembut. Tapi dia malah mencium Stella dengan ganas, lalu mengangkat wajahnya hanya untuk kembali disikatnya.
Tangannya pun melayang dan masuk ke rambut-rambut Stella, Kayson menciumnya dengan liar.
Penuh gairah.
Stella mengerang pelan di tenggorokannya. Dan dia membalas ciuman itu dengan sama ganasnya.
Detak jantungnya pun berdentam di telinga Kayson.
“Ada enggak? Intensitas yang lo bilang tadi?" tanya Kayson.
Napas Stella pun habis. Matanya terpejam. “Ada.”
“Terus kita mau ngapain setelah itu?”