NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit 2

Gerhana Sembilan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur / Transmigrasi
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)

Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.

Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Kesombongan

Kegelapan menelan mereka.

Bukan kegelapan biasa, melainkan kekosongan yang padat, dipenuhi oleh sisa-sisa aura naga purba yang menekan paru-paru hingga rasanya ingin pecah.

Han Luo meluncur jatuh ke dalam jurang Reruntuhan Keempat. Angin menderu di telinganya. Di bawah sana, tidak ada dasar yang terlihat, hanya kedalaman berbatu yang berpendar merah redup.

"Tuan!" teriak Long Tian yang jatuh tidak jauh di bawahnya.

Su Qingxue berada di sisi lain, menggunakan jubahnya sebagai parasut sementara, wajahnya tegang.

Tiba-tiba, tekanan spiritual yang ribuan kali lebih berat dari gravitasi jurang ini menghantam mereka dari atas.

"Kau pikir kau bisa menjebakku di lubang ini, Tikus?!"

Suara Jenderal Wu menggelegar mengalahkan suara angin.

Han Luo mendongak. Di udara, menukik turun dengan kecepatan meteor, adalah Jenderal Wu. Pria raksasa itu tidak terlihat panik sedikitpun. Sebaliknya, matanya menyala dengan kegilaan murni. Zirah hitamnya memancarkan Qi Jiwa Baru Lahir yang membakar udara di sekitarnya.

Di tangan kanannya, Jenderal Wu memegang Bilah Tengah Pedang Darah.

"Mati!"

Jenderal Wu mengayunkan pedangnya dari jarak lima puluh meter di atas Han Luo.

Bukan tebasan fisik, melainkan gelombang Qi berbentuk bulan sabit merah darah selebar sepuluh meter. Udara di jalur tebasan itu retak, menciptakan ruang hampa sesaat.

Han Luo menyipitkan mata. Cepat. Terlalu cepat.

Dia segera menarik pedangnya dari cincinnya dan menggabungkannya dengan Benang Sutra Es-Api.

"Domain Nol Mutlak! Perisai Teratai!"

Han Luo memompa Qi Inti Emas-nya. Sebuah perisai teratai es raksasa yang dilapisi api bumi terbentuk di atasnya. Ini adalah pertahanan terkuat yang pernah dia buat, cukup untuk menahan serangan kekuatan penuh dari puluhan ahli Inti Emas sekaligus.

Tapi Jenderal Wu bukan Inti Emas.

KRAK... PRANG!

Tebasan darah Jenderal Wu menghantam perisai es Han Luo. Tidak ada penahanan. Tidak ada adu kekuatan yang dramatis. Perisai yang dibanggakan Han Luo hancur berkeping-keping dalam seperseribu detik, seolah terbuat dari kaca tipis yang dipukul godam baja.

"Apa?!" Mata Han Luo membelalak di balik topengnya.

Di hadapan kekuatan absolut Jiwa Baru Lahir, kelicikan dan teknik hanyalah lelucon yang menyedihkan.

Tebasan merah itu menembus sisa pertahanan Han Luo tanpa ampun.

Han Luo mencoba memutar tubuhnya di udara, menggunakan Langkah Hantu secara paksa. Namun, tekanan aura Jenderal Wu telah mengunci ruang di sekitarnya, memperlambat gerakannya sebesar hitungan milidetik.

Dan di pertarungan level ini, satu milidetik adalah batas antara hidup dan mati.

SRAAAKKK!

"ARGHHH!"

Darah segar menyembur di udara yang gelap.

Tebasan itu tidak mengenai jantung Han Luo, tapi menghantam keras bahu dan lengan kirinya. Lengan kiri Han Luo, dari bahu hingga ujung jari, terpotong bersih. Pertahanan tubuhnya robek seperti kertas basah.

Rasa sakit yang membutakan meledak di otak Han Luo. Topeng emasnya retak di bagian kiri, menampakkan salah satu matanya yang kini membelalak menahan penderitaan luar biasa.

"Tuan Mo!" Long Tian meraung ngeri dari bawah.

Lengan kiri Han Luo jatuh ke dalam kegelapan. Darah membanjiri udara.

"Hanya kehilangan lengan? Kau beruntung, Tikus," Jenderal Wu menyeringai buas dari atas, bersiap mengayunkan pedangnya untuk kedua kalinya. "Sekarang, berikan nyawamu dan gagang pedang itu!"

Han Luo menggertakkan giginya hingga berdarah. Kepalanya pusing karena kehilangan banyak darah dalam sekejap.

Aku terlalu sombong, batin Han Luo, kenyataan pahit menghantamnya lebih keras dari pedang Jenderal Wu. Aku pikir aku pembaca yang mengendalikan plot. Tapi ini bukan novel lagi. Monster ini nyata.

Tebasan kedua meluncur turun. Lebih besar. Lebih mematikan.

Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam melesat ke atas, menempatkan dirinya di antara Han Luo dan tebasan mematikan itu.

Long Tian.

Pemuda itu mengaktifkan Tubuh Naga Iblis tahap maksimal. Seluruh kulitnya berubah menjadi sisik naga biru gelap. Dia mengangkat pedang Pemecah Ombak-nya dengan kedua tangan, menyilangkan di atas dada.

BAMMMM!

Tebasan Jenderal Wu menghantam Long Tian.

"UARGH!" Long Tian memuntahkan darah hitam. Pedang Tingkat Bumi yang baru saja dia dapatkan retak parah, dan suara tulang rusuknya yang patah terdengar nyaring. Tubuh besar Long Tian terpental ke bawah seperti boneka rusak, menabrak Han Luo.

Keduanya kini meluncur jatuh tak terkendali.

"Bodoh. Mengorbankan diri demi sampah?" Jenderal Wu mendengus meremehkan, menambah kecepatannya untuk mengejar.

Di sisi lain, Su Qingxue melihat tragedi itu.

Otaknya berputar cepat. Jika Tuan Mo dan anak buahnya mati, dia tidak akan selamat sendirian menghadapi Jenderal Wu di Reruntuhan yang belum dipetakan ini. Dia butuh Tuan Mo sebagai tumbal atau pemecah teka-teki.

"Sialan kalian semua yang menyusahkan!" umpat Su Qingxue.

Dia menggigit ujung jarinya hingga berdarah, lalu menggambar segel di udara menggunakan darah iblis murninya.

Seni Terlarang Iblis Langit: Tirai Ilusi Berdarah!

Kabut merah pekat tiba-tiba meledak dari segel itu, menutupi seluruh jurang dengan ilusi visual dan sensorik yang sangat ekstrem. Ratusan bayangan Su Qingxue, Han Luo, dan Long Tian palsu bermunculan, jatuh ke segala arah.

Jenderal Wu menerjang masuk ke dalam kabut merah itu, menebas membabi buta.

"Trik ilusi rendahan! Kau pikir ini bisa membodohiku?!" Jenderal Wu meraung, melepaskan gelombang kejut Jiwa Baru Lahir yang mulai menghancurkan bayangan-bayangan itu satu per satu.

Tapi ilusi itu tidak dimaksudkan untuk mengalahkannya, hanya untuk membeli waktu lima detik.

Di dalam kabut merah, Su Qingxue melesat menangkap kerah baju Han Luo dan Long Tian. Dia melemparkan sebuah Paku Pembobol Ruang ke dinding tebing jurang di sebelah kanan mereka.

KRAK!

Sebuah lubang gua kecil terbuka di dinding tebing.

Su Qingxue menyeret kedua pria yang terluka parah itu masuk ke dalam gua, tepat sebelum ilusi di luar hancur sepenuhnya oleh amukan Jenderal Wu.

BRUK.

Mereka bertiga terguling di atas lantai batu yang dingin dan lembap di dalam gua.

Di luar, mereka bisa mendengar raungan Jenderal Wu yang semakin menjauh ke dasar jurang, menyadari mangsanya telah menyelinap ke celah dinding.

"AKU AKAN MENEMUKAN KALIAN, TIKUS KOTOR! KALIAN TIDAK BISA SEMBUNYI DI RERUNTUHAN INI!" Gema suara Jenderal Wu membuat dinding gua bergetar.

Di dalam gua yang remang-remang, suasananya suram dan penuh bau darah.

Long Tian terbaring pingsan. Napasnya dangkal. Zirah Besi Tulang Naga-nya hancur di bagian dada, dan darah merembes dari retakan sisiknya.

Su Qingxue bersandar di dinding, terengah-engah. Menggunakan Seni Terlarang membuat auranya melemah drastis. Dia menatap Han Luo dengan tatapan dingin.

"Kau berjanji kita akan mempermainkannya," desis Su Qingxue tajam. "Tapi kau hampir membuat kita semua terbunuh. Kekuatannya jauh di luar prediksi gilamu."

Han Luo tidak menjawab.

Dia duduk bersandar di dinding batu. Tangan kanannya gemetar hebat, memegang sisa pangkal bahu kirinya yang kini hanya berupa daging dan tulang yang terpotong rapi. Darah masih mengalir deras, menggenangi lantai batu.

Napas Han Luo putus-putus. Keringat dingin membasahi wajahnya di balik topeng yang kini setengah hancur. Mata kanannya menatap ngeri pada kekosongan di sisi kirinya.

Lengannya hilang.

Bukan ilusi. Bukan trik. Dia benar-benar cacat.

Han Luo mengangkat tangan kanannya yang bergetar. Dia memusatkan sisa Qi Es-nya ke bahu kirinya yang hancur.

Cesss...

Lapisan es tebal terbentuk di atas luka menganga itu, menghentikan pendarahan secara paksa. Rasa perih dari pembekuan jaringan dagingnya membuat Han Luo mengerang tertahan, menggigit bibirnya hingga robek.

Setelah pendarahan berhenti, Han Luo membiarkan kepalanya tersandar lemas ke dinding.

Dia tertawa. Tawa yang serak, pahit, dan penuh ejekan pada diri sendiri.

"Kau benar, Nona Suci," bisik Han Luo, suaranya lemah namun dipenuhi kebencian yang baru mekar. "Aku terlalu meremehkan dunia ini. Aku pikir aku memegang semua kartu."

Han Luo menatap sisa-sisa es di bahunya, lalu menatap Gagang Pedang Darah Iblis yang tergeletak di sampingnya.

Rasa sakit yang mendenyut di tubuhnya seolah membangunkan sesuatu yang gelap di dasar jiwanya. Bukan lagi mentalitas seorang 'Pedagang' atau 'Pemain Catur' yang bermain aman dari balik layar.

Ini adalah mentalitas seseorang yang baru saja merasakan kematian.

"Dia mengambil lenganku," Han Luo mendongak, matanya yang tersisa memancarkan cahaya dingin yang lebih mengerikan dari sebelumnya. "Di Reruntuhan ini... aku akan memastikan dia membayar lenganku dengan jantungnya."

Han Luo (Tuan Mo) telah jatuh.

Dan dari kejatuhan itu, monster yang sebenarnya baru saja lahir.

1
Dianrp
pantas masuk 10 besar harusnya. karyanya cakep
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Dpt budak pertama 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Ceritanya muantebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🌽🔥
Irman
mantap banget
Irman
kasih bonus besok Thor... 🙏🙏🙏
alexander
bagus ceritanya rekomen untuk di baca
Budi Wahyono
jahat juga han luo...
tpi gw demen....
Budi Wahyono
good
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
Dianrp
secangkir kopi nikmat
Budi Wahyono
vote minggu ini untuk tabib qiu
izar
mntpp
Mamat Stone
tetap semangat dan terus berkarya
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!