Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OPERASI SINGAPURA — MENGEJAR BAYANG-BAYANG
Malam di atas Selat Melaka tidak pernah benar-benar gelap; lampu-lampu kapal tanker yang mengapung di kejauhan tampak seperti butiran berlian yang berserakan di atas beludru hitam. Namun, di dalam kabin jet pribadi Alfarezel Group, atmosfernya terasa jauh lebih pekat dan dingin daripada udara di ketinggian tiga puluh ribu kaki. Suara dengung mesin jet yang konstan menciptakan vibrasi yang merambat melalui lantai kabin, seolah-olah pesawat itu sendiri sedang bergetar karena ketegangan yang dibawa oleh penumpangnya.
Vivien Aksara duduk terpaku di kursi kulit premiumnya, matanya menatap hampa ke arah jendela oval. Bayangan ibunya—Nyonya Aksara—yang terbaring lemah di sebuah rumah sakit elit di Orchard Road terus menghantui pikirannya. Foto dengan lingkaran merah yang dikirim oleh sindikat itu bukan sekadar ancaman; itu adalah pesan bahwa musuh memiliki akses ke tempat yang paling ia anggap suci.
Di seberangnya, Maximilian tidak lagi terlihat seperti pria yang baru saja pulih dari operasi besar. Meskipun kemeja hitamnya menyembunyikan balutan perban di perutnya, rahangnya yang terkatup rapat dan tatapan matanya yang setajam silet menunjukkan bahwa sang predator telah kembali. Di atas meja lipat di depannya, sebuah laptop dengan layar terenkripsi menampilkan aliran data yang terus bergerak.
"Minumlah, Vivien. Kau sudah tidak menyentuh apa pun sejak kita meninggalkan Menteng," ucap Maximilian, suaranya rendah namun memiliki nada otoritas yang tak terbantah. Ia menggeser segelas air mineral ke arah istrinya.
Vivien menoleh perlahan, wajahnya pucat pasi di bawah lampu kabin yang redup. "Bagaimana aku bisa tenang, Max? Mereka mengincar Ibu. Jika sesuatu terjadi padanya karena dosa-dosa masa lalu Ayah—atau karena obsesimu—aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Ataupun kau."
Maximilian menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam, sebuah tanda bahwa kesabarannya mulai menipis menghadapi situasi yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya. "Aku melakukan ini untuk mengakhirinya, bukan untuk menambah korban. Tim keamanan Gideon sudah berada di lokasi sejak satu jam yang lalu. Rumah sakit itu sekarang adalah benteng, bukan lagi sekadar pusat medis."
Mendarat di Tanah Singa
Begitu jet itu menyentuh landasan pacu Bandara Seletar—bandara yang lebih privat dan jauh dari hiruk-piruk Changi—operasi "Mengejar Bayang-Bayang" resmi dimulai. Singapura yang dikenal dengan keteraturannya yang kaku, malam ini terasa seperti labirin kaca yang menyimpan ribuan pasang mata.
Dua unit SUV hitam dengan kaca gelap sudah menunggu di pinggir landasan. Gideon turun dari mobil pertama, wajahnya yang kaku terlihat semakin tegang di bawah lampu sorot bandara.
"Tuan, Nyonya," Gideon memberi hormat singkat sembari membukakan pintu. "Lantai 15 rumah sakit sudah kami sterilisasi. Namun, ada laporan mengenai aktivitas mencurigakan di sistem pengawasan internal rumah sakit sepuluh menit yang lalu. Seseorang mencoba meretas akses ke log pengunjung bangsal VVIP."
"Siapkan unit taktis kedua," perintah Maximilian singkat saat ia membantu Vivien masuk ke dalam mobil. "Kita tidak akan lewat pintu utama."
Perjalanan menuju pusat kota Singapura berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Vivien melihat gedung-gedung pencakar langit Marina Bay yang berkilauan, namun keindahan itu terasa seperti fatamorgana yang mengejek. Ia merasa seolah-olah mereka sedang masuk ke dalam perangkap yang dirancang dengan sangat indah.
Labirin Klinis
Rumah sakit itu adalah menara kaca yang megah, simbol kemajuan medis Asia. Namun bagi Vivien, lorong-lorongnya yang berbau disinfektan dan diterangi lampu neon putih terasa seperti jalan menuju tiang gantungan. Mereka masuk melalui dermaga logistik di bawah tanah, melewati lift servis yang dijaga ketat oleh orang-orang Maximilian.
Di Lantai 15, suasana sangat sunyi—sunyi yang tidak alami. Para perawat yang bertugas tampak tegang, menyadari bahwa pasien di kamar 1502 bukan lagi sekadar orang kaya yang sedang sakit, melainkan pusat dari pusaran konspirasi internasional.
Vivien berlari menuju kamar ibunya. Melalui kaca transparan, ia melihat sosok wanita paruh baya yang paling ia cintai terbaring di sana, dikelilingi oleh mesin detak jantung yang berbunyi bip... bip... dengan ritme yang stabil.
"Ibu..." bisik Vivien, tangannya menyentuh kaca yang dingin. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Maximilian berdiri di belakangnya, memberikan jarak namun tetap waspada. Tiba-tiba, seorang pria berpakaian kasual namun dengan postur tubuh tegap mendekat. Itu adalah Bara, asisten setia ayah Vivien yang kini bekerja sebagai intelijen lapangan untuk Maximilian.
"Tuan, Nyonya, ada sesuatu yang harus Anda lihat," ucap Bara dengan nada mendesak.
Ia membawa mereka ke ruang pantau keamanan sementara yang didirikan di kamar sebelah. Di layar monitor, terlihat rekaman CCTV dari lima menit yang lalu di area tangga darurat. Seorang pria mengenakan seragam teknisi pemeliharaan gedung terlihat membawa tas perkakas, namun cara ia bergerak—sangat efisien dan waspada—menunjukkan bahwa ia bukan teknisi biasa.
"Dia bukan dari manajemen gedung," jelas Bara. "Dan lihat apa yang dia tinggalkan di panel sirkuit oksigen."
Bara memperbesar gambar. Sebuah perangkat elektronik kecil dengan lampu merah berkedip tertempel di sana. "Itu adalah pemutus aliran oksigen jarak jauh. Jika mereka menekan tombolnya, seluruh lantai ini akan kehilangan suplai udara dalam hitungan detik."
Vivien merasa lututnya lemas. "Mereka ingin membunuh semua orang di sini?"
"Bukan semua orang," sahut Maximilian, matanya berkilat berbahaya. "Hanya ibumu. Dan mereka ingin kita menontonnya saat itu terjadi. Ini adalah bentuk teror psikologis dari The Architect."
Mengejar Bayang-Bayang di Lantai 15
"Bara, amankan panel itu! Jangan sampai ada yang menyentuhnya!" perintah Maximilian. Ia kemudian beralih ke Gideon. "Ganti semua protokol komunikasi. Jangan gunakan radio. Gunakan jalur terenkripsi Project Crimson."
Maximilian meraih tangan Vivien, menariknya ke sudut ruangan yang lebih privat. "Kau tetap di sini bersama Bara. Jangan keluar dari ruangan ini apa pun yang terjadi."
"Lalu kau mau ke mana?" tanya Vivien panik.
"Aku akan mengejar bayang-bayang itu sebelum dia menghilang ke dalam gelap," jawab Maximilian. Ia menarik sebuah pistol kecil dari balik pinggangnya, sebuah tindakan yang membuat Vivien menyadari bahwa suaminya siap untuk kembali mengotori tangannya.
Maximilian keluar ke lorong yang remang. Pikirannya bekerja seperti komputer super. Ia tahu pria berseragam teknisi itu masih ada di lantai ini. Ia tidak menuju lift, karena lift terlalu mudah dijebak. Pria itu pasti menuju ke atap atau ke area pembuangan sampah.
Maximilian bergerak dengan langkah yang hampir tak terdengar, mengabaikan rasa perih di perutnya yang seolah-olah akan robek kembali. Ia mengikuti instingnya menuju area maintenance di ujung koridor.
Tiba-tiba, sebuah bayangan melintas di depannya.
SRAK!
Maximilian melepaskan tembakan peringatan, namun pria itu sangat lincah. Terjadi kejar-kejaran di lorong-lorong sempit di balik dinding rumah sakit. Suara napas yang memburu dan dentuman langkah kaki di atas lantai logam menciptakan simfoni ketakutan.
Di ujung lorong yang buntu, pria itu terpojok. Ia berbalik, memegang pisau komando yang berkilat.
"Siapa yang mengirimmu? Julian Vane?" tanya Maximilian dengan suara yang sangat dingin.
Pria itu hanya menyeringai, sebuah seringai yang penuh dengan kebencian murni. "Kau tidak akan pernah bisa menghentikan apa yang sudah dimulai, Alfarezel. Benang merah itu akan mencekik kalian semua."
Tanpa peringatan, pria itu menerjang. Terjadi perkelahian jarak dekat yang brutal. Maximilian, meski terluka, menggunakan teknik bela diri yang efisien untuk melumpuhkan lawannya. Ia membenturkan kepala pria itu ke dinding beton hingga pingsan, lalu dengan cepat menggeledah tubuhnya.
Di saku pria itu, Maximilian menemukan sebuah ponsel satelit dan sebuah kartu nama tua yang sudah sangat lusuh. Kartu nama itu milik Aksara Group, namun ada tulisan tangan di belakangnya dalam kode yang hanya diketahui oleh kalangan intelijen tingkat tinggi.
"Target sudah dipindahkan ke koordinat delta. Bersihkan sisa-sisanya."
Rahasia di Balik Bayangan
Maximilian kembali ke kamar VVIP dengan wajah yang dipenuhi luka gores dan napas yang masih belum teratur. Vivien segera menghampirinya, memeriksa wajah suaminya dengan cemas.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku menemukan ini," Maximilian memberikan kartu nama itu kepada Vivien.
Begitu melihat kartu nama itu, wajah Vivien berubah menjadi ekspresi horor yang baru. "Ini... ini kartu nama Ayah. Tapi tulisan tangan ini... ini bukan tulisan tangan Ayah."
"Itu tulisan tangan Julian Vane," sahut Bara yang baru saja selesai memeriksa ponsel satelit si penyusup. "Dan ada yang lebih buruk, Tuan. Pesan terakhir di ponsel ini menunjukkan bahwa serangan di rumah sakit ini hanyalah pengalihan isu."
"Pengalihan isu untuk apa?" tanya Maximilian.
"Untuk melenyapkan bukti terakhir Project Crimson yang ternyata disimpan di sebuah deposit box di Bank of Singapore, atas nama Nyonya Aksara," jelas Bara. "Mereka mencoba membunuh Nyonya Aksara bukan hanya untuk membalas dendam, tapi untuk mendapatkan sidik jari atau akses biometriknya jika dia masih hidup, atau untuk menghentikan ahli warisnya mendapatkan akses ke sana."
Vivien menatap ibunya yang masih tertidur lelap. Ia menyadari bahwa wanita lemah di depannya ini memegang kunci terakhir dari seluruh konspirasi yang menghancurkan keluarga mereka.
"Jadi, selama ini Ibu tahu?" bisik Vivien.
"Mungkin dia tidak tahu isinya, tapi dia tahu itu penting," kata Maximilian. Ia menatap Vivien dengan pandangan yang kini penuh dengan determinasi baru. "Operasi ini belum selesai, Vivien. Kita tidak hanya mengejar bayang-bayang di Singapura. Kita akan membongkar brankas itu besok pagi. Dan apa pun yang ada di dalamnya, kita akan menghadapinya bersama."
Di luar, fajar mulai menyingsing di atas cakrawala Singapura. Cahaya jingga mulai menyentuh kaca-kaca gedung Orchard Road, namun bagi Maximilian dan Vivien, perjalanan menuju kebenaran sejati baru saja memasuki babak yang paling berbahaya. Bayang-bayang yang mereka kejar mulai memiliki bentuk, dan bentuk itu jauh lebih mengerikan daripada yang pernah mereka bayangkan dalam mimpi buruk mereka yang paling gelap.