NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Cairo Kingdom

Gerbang Utama Istana Araluen

Terompet kekaisaran menggema panjang.

Bendera berwarna biru tua dengan lambang matahari emas bermahkota berkibar pelan—simbol Kerajaan Kairo, negeri dagang terkuat di selatan.

Rombongan besar berhenti tepat di depan gerbang.

Kereta utama berhias ukiran emas halus. Tidak berlebihan, namun jelas: mereka datang sebagai pihak yang setara, bukan tamu kecil.

“Kerajaan Kairo…” gumam para bangsawan.

Nama itu membawa bobot.

Kekayaan. Armada dagang. Aliansi lama.

Dan kini—sebuah lamaran.

Ruang Penerimaan Istana

Kaisar duduk di singgasananya, wajah tenang namun sorot matanya waspada. Permaisuri di sisinya mempertahankan senyum formal.

Di sisi kanan aula, para bangsawan tinggi berdiri berurutan.

Di sisi kiri—keluarga kekaisaran.

William Whiston berdiri tegak, mengenakan seragam resmi panglima. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi.

Namun rahangnya mengeras saat pintu besar terbuka.

“Utusan Kerajaan Kairo telah tiba.”

Langkah kaki teratur menggema di aula marmer.

Di barisan depan berjalan seorang pria paruh baya berjubah putih-biru—Duta Besar Karim al-Rashid, tangan kanannya memegang gulungan bersegel emas.

Di belakangnya—

Seorang gadis melangkah anggun.

Rambut hitam legam tergerai rapi, mata cokelat keemasan menatap lurus ke depan. Gaunnya sederhana, namun potongannya jelas buatan terbaik.

Sophia Karin Kairo.

Putri sulung Raja Kairo.

Aula menjadi senyap.

Tatapan yang Berbeda

Sophia berhenti di posisi yang ditentukan, lalu membungkuk anggun.

“Atas nama Kerajaan Kairo, kami menyampaikan salam hormat kepada Kekaisaran Araluen.”

Suaranya lembut, terlatih—namun tidak kosong.

Ia mengangkat wajahnya.

Matanya bertemu dengan William.

Tidak ada rasa malu.

Tidak ada kegugupan.

Hanya penilaian tenang—seperti pedagang menilai mitra setara.

William menunduk sopan, ekspresinya terkendali.

Namun dalam hatinya, satu hal jelas:

Ia berbeda.

Di balik aula — Anthenia

Anthenia berdiri di balik tirai samping bersama para bangsawan wanita. Ia tidak seharusnya berada di sana—namun posisinya sebagai Duke Blackwood memberinya kelonggaran.

Saat melihat Sophia, dadanya terasa mengencang.

Bukan cemburu yang meledak.

Melainkan kesadaran.

Inilah kenyataan yang harus kuhadapi.

Sophia Karin Kairo bukan pion.

Ia adalah jawaban politik yang sempurna.

Anthenia mengepalkan jarinya pelan.

“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri.

“Kau sudah memilih untuk berdiri.”

Pernyataan resmi

Duta Besar Karim melangkah maju dan membuka gulungan.

“Kerajaan Kairo dengan ini secara resmi menyampaikan niat untuk menyatukan dua kekuatan besar melalui pernikahan antara Putri Sophia Karin Kairo dan Yang Mulia Putra Mahkota William Whiston.”

Bisik-bisik kembali terdengar.

Kaisar mengangguk pelan.

“Kami telah menerima niat tersebut dan akan mempertimbangkannya sesuai adat dan kepentingan kekaisaran.”

Kalimat diplomatis. Aman.

Namun semua orang tahu—

Keputusan tidak sepenuhnya ada di tangan Kaisar.

Saat audiensi berakhir, Sophia melangkah pergi.

Namun tepat sebelum keluar aula—

Ia berhenti sejenak.

Pandangan matanya melayang, melewati bangsawan satu per satu…

dan berhenti tepat pada Anthenia di balik tirai.

Tatapan singkat.

Tenang. Tajam. Tidak bermusuhan.

Seolah berkata:

Aku tahu kau ada di sini.

Anthenia tidak menghindar.

Ia membalas tatapan itu—diam, tegak.

Dua wanita.

Dua pilihan.

Satu takdir yang mulai saling berpotongan.

Dan di tengahnya—

William Whiston.

Taman Dalam Istana Araluen — sore hari

Angin sore berhembus pelan di antara pepohonan cemara. Air mancur di tengah taman memantulkan cahaya matahari yang mulai condong.

Sophia Karin Kairo berjalan di sisi Duta Besar Karim. Langkahnya ringan, namun pikirannya jelas bekerja.

“Kau melihatnya?” tanya Karim pelan.

Sophia mengangguk.

“Putra Mahkota William Whiston. Seorang prajurit, bukan hanya pewaris takhta.”

“Dan wanita itu?” Karim melirik ke arah paviliun samping, tempat para bangsawan wanita tadi berdiri.

Sophia tersenyum tipis.

“Anthenia Blackwood.”

Karim terkejut.

“Kau sudah tahu namanya?”

“Aku tahu lebih dari itu,” jawab Sophia tenang.

“Dia bukan wanita yang akan tunduk hanya karena status. Dan… dia penting bagi William.”

Karim terdiam. Itu bukan analisis sembarangan—itu pengamatan tajam.

Ruang latihan tertutup — senja

William berdiri sendiri. Pedang latihannya terhunus, namun ia tidak mengayunkannya. Hanya menatap pantulan wajahnya di bilah baja.

Lamaran Kairo…

Ia menarik napas dalam.

Langkah kaki terdengar mendekat.

“Yang Mulia.”

William menoleh.

Sophia berdiri beberapa langkah darinya, tanpa pengawal.

“Kita belum diperkenalkan secara resmi,” katanya. “Namun aku ingin bicara sebagai manusia, bukan simbol.”

William menegakkan tubuh.

“Silakan, Putri Sophia.”

Sophia menatapnya lurus.

“Aku tidak datang untuk memaksamu. Kerajaan Kairo menginginkan aliansi. Aku… menginginkan kejelasan.”

William terdiam sejenak.

“Dan jika kejelasan itu bukan jawaban yang kau harapkan?”

Sophia tersenyum kecil.

“Maka aku akan menghormatinya. Aku tidak ingin menjadi pengikat bagi seseorang yang hatinya tertambat di tempat lain.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari ancaman politik mana pun.

William mengepalkan tangannya.

“Putri Kairo… kau terlalu jujur.”

“Kejujuran menghemat banyak luka,” balas Sophia lembut.

Koridor sayap timur — malam menjelang

Anthenia berjalan sendirian. Gaunnya sederhana, langkahnya cepat—seolah ingin menjauh dari hiruk pikuk istana.

Namun bayangan Sophia terus muncul di benaknya.

Tenang. Dewasa. Tidak rapuh.

Ia berhenti.

“Kenapa aku gelisah?” gumamnya.

“Bukankah ini yang seharusnya terjadi?”

Jawaban itu tak kunjung datang.

Yang muncul justru wajah William—diam, keras kepala, dan selalu berdiri di garis depan.

Anthenia menekan dadanya.

Jika ini jalan yang ia pilih… aku harus siap menerima.

Namun untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini—

keputusan itu terasa menyakitkan.

Di sayap istana yang berbeda, tiga orang memikirkan satu hal yang sama.

William—diapit kewajiban dan perasaan.

Sophia—datang sebagai aliansi, namun menolak menjadi korban.

Anthenia—berdiri di persimpangan antara logika dan hati.

Kerajaan Kairo telah melangkah masuk.

Dan sejak saat itu,

tak ada satu pun pilihan yang akan mudah.

Ruang audiensi kecil — malam hari

Cahaya lampu kristal memantul lembut di dinding marmer. Kaisar Whiston duduk di kursi utama, sementara Permaisuri Lunara berdiri di dekat jendela, tangannya terlipat gelisah.

“Putri Kairo bukan gadis biasa,” ucap Lunara akhirnya.

“Tatapannya… tenang, tapi penuh perhitungan.”

Kaisar mengangguk pelan.

“Kerajaan Kairo tidak akan mengirim seseorang yang lemah.”

Pintu terbuka.

Archduke Cedric Aurelius masuk dengan langkah mantap. Usianya tak lagi muda, namun auranya masih seperti dewa perang yang tak tergoyahkan.

“Dia cocok,” katanya tanpa basa-basi.

Kaisar menegang.

“Cedric—”

“Aku tidak bicara sebagai ayah permaisuri,” lanjut Archduke dingin.

“Aku bicara sebagai orang yang ingin Araluen tetap berdiri puluhan tahun ke depan.”

Permaisuri Lunara berbalik cepat.

“Bagaimana dengan perasaan Liam?”

Archduke menatap lurus ke depan.

“Seorang calon kaisar belajar menempatkan perasaan di belakang.”

Kata-kata itu berat. Terlalu berat.

Sayap tamu — kamar Anthenia

Anthenia duduk di tepi ranjang, jari-jarinya mencengkeram kain gaun.

Putri Sophia Karin Kairo…

Wanita itu tidak arogan. Tidak menantang. Justru terlalu tenang.

“Itu yang paling berbahaya,” gumam Anthenia pelan.

Ia bangkit, berjalan mondar-mandir.

Dalam novel… lamaran Kairo memang ada.

Tapi reaksiku tidak sekuat ini.

Dadanya terasa sesak.

“Kenapa aku merasa seperti… akan kehilangan sesuatu?”

suara itu keluar lirih, hampir bergetar.

Ia terdiam lama.

Tanpa sadar, ia berbisik:

“William…”

Nama itu jatuh begitu saja—jujur, tanpa topeng.

Anthenia terkejut dengan dirinya sendiri.

Lorong batu luar — larut malam

William berdiri di balkon panjang istana Araluen. Angin malam menerpa mantel militernya.

Langkah kaki mendekat.

“Yang Mulia,” suara Sophia terdengar lembut.

William menoleh.

“Putri Kairo.”

Sophia berdiri di sampingnya, menjaga jarak sopan.

“Aku ingin kau tahu satu hal,” katanya.

“Jika kau menerima lamaran ini, aku akan berdiri sebagai permaisuri yang layak.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan:

“Namun jika hatimu menolak… jangan gunakan aku sebagai pelarian.”

William menutup mata sejenak.

Itu bukan permintaan.

Itu peringatan yang elegan.

“Aku akan jujur,” ucap William akhirnya.

“Ada seseorang yang… membuat keputusanku tidak lagi sederhana.”

Sophia tersenyum kecil.

“Maka aku benar.”

Ia menatap ke arah taman istana—tempat cahaya lampu redup menyinari jalan setapak.

“Wanita Blackwood,” katanya pelan.

William tidak membantah.

Di balik dinding istana Araluen,

aliansi besar sedang disusun.

Namun di antara dokumen, stempel, dan gelar,

ada satu hal yang tak bisa dikendalikan—

hati.

Dan semakin ditekan,

semakin keras ia melawan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!