___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 32
Senin pagi yang seharusnya tenang mendadak berubah menjadi tegang. Kabar mengenai kedatangan tim basket SMA Andromeda untuk melakukan survei lapangan dan teknis kualifikasi sudah menyebar ke seluruh sekolah, SMA Andromeda bukan sekadar sekolah biasa mereka adalah rival abadi SMA Garuda Bangsa. Mainnya terkenal kasar, mulutnya sampah, dan mentalnya provokator.
Aiden sudah berdiri di lobi sekolah dengan seragam OSIS yang sangat rapi, didampingi Bagas dan Arga. Wajahnya datar, namun sorot matanya tajam seolah siap menerkam siapa pun yang mencari masalah.
Di sisi lain, Vanya dan Elsa baru saja hendak menuju kantin untuk membeli sarapan ketika sebuah bus mewah berwarna hitam legam dengan logo bintang biru berhenti tepat di depan gerbang.
"Itu mereka, Van Anak-anak Andromeda," bisik Elsa sambil menarik lengan Vanya untuk menepi.
Turunlah sekitar sepuluh cowok bertubuh bongsor dengan jaket tim berwarna biru tua. Di barisan paling depan, ada seorang cowok dengan rambut yang dicukur undercut dan tato kecil di belakang telinganya. Dia Raka, kapten tim Andromeda sekaligus musuh bebuyutan Aiden.
Raka berjalan masuk dengan gaya angkuh, melewati barisan murid Garuda Bangsa yang menatap mereka dengan benci. Namun, langkah Raka mendadak berhenti tepat di depan Vanya.
"Wah, wah... ada pemandangan cantik di sekolah tua ini," ucap Raka dengan nada meremehkan.
Matanya menatap Vanya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Gue kira Garuda Bangsa isinya cuma cowok-cowok kaku, ternyata ada bidadari juga."
Vanya mundur selangkah, merasa risih. "Permisi, aku mau lewat."
Raka justru sengaja menghalangi jalan Vanya, meletakkan tangannya di tembok koridor tepat di samping kepala Vanya.
"Buru-buru banget, Cantik Kenalin, gue Raka. Kapten tim yang bakal bikin sekolah lo ini nangis minggu depan. Gimana kalau lo pindah dukungan ke gue...? Gue bakal kasih lo tiket VVIP ke Amerika."
"Minggir, atau gue teriak!" ancam Vanya dengan logat manjanya yang mulai bercampur emosi.
"Teriak aja, sayang. Paling yang mau nolongin takut sama gue.."
"Tangan lo... lepasin dari dia."
Sebuah suara dingin dan berat memecah suasana. Aiden sudah berdiri tepat di belakang Raka. Suasana mendadak menjadi sangat dingin, bahkan murid-murid lain yang menonton langsung menahan napas. Bagas dan Arga sudah memasang posisi siaga di belakang Aiden.
Raka berbalik perlahan, lalu menyeringai lebar.
"Oh, Aiden Raditya. Apa kabar...? Masih suka di Dunia basket itu keras, Sama kayak cewek ini, kayaknya butuh sentuhan yang... sedikit kasar."
BUAK!
Aiden mencengkeram kerah jaket Raka dan menyentakkannya ke dinding dengan tenaga yang luar biasa.
"Gue nggak peduli lo mau provokasi tim gue kayak gimana. Tapi sekali lagi lo sentuh atau lo godain cewek ini, gue pastiin lo pulang ke sekolah lo tanpa kaki buat main basket lagi."
"Wih, santai...Jangan emosi gitu dong," Raka tertawa, sama sekali tidak terlihat takut meski kerah bajunya dicekik.
"Apa hubungan lo sama dia Pacar...? Atau cuma... simpanan.?"
Mendengar kata simpanan, amarah Aiden benar-benar mencapai puncaknya. Tangannya sudah mengepal, siap mendaratkan tinju ke wajah Raka. Namun, Vanya dengan cepat memegang lengan Aiden.
"Kak...! Udah...Jangan ribut di sini, nanti Kakak kena sanksi!" rengek Vanya dengan suara bergetar. Dia takut Aiden kehilangan kendali dan merusak jabatannya sebagai Ketua OSIS, apalagi kualifikasi tinggal sebentar lagi.
Aiden menatap mata Vanya yang berkaca-kaca, perlahan dia melepaskan cengkeramannya pada Raka. Aiden menarik Vanya ke belakang punggungnya, melindunginya sepenuhnya.
"Urus urusan survei lo, terus pergi dari sini sebelum gue berubah pikiran," ucap Aiden dengan nada yang sangat rendah namun mematikan.
Raka merapikan jaketnya sambil tetap menyeringai licik. Dia melirik Vanya sekali lagi sebelum berjalan pergi bersama timnya.
"Sampai ketemu di lapangan,Dan buat lo, Cantik... jangan lupa tonton gue pas gue ngancurin pahlawan lo ini."
Sepanjang jam sekolah, Vanya bener-bener nggak tenang. Kejadian tadi pagi bener-bener bikin satu sekolah tegang. Elsa yang biasanya cerewet pun kali ini lebih banyak diem karena tau kalau Vanya lagi tertekan.
"Van, serius deh, si Raka itu emang beneran red flag banget. Lo mendingan jangan sendirian kalau jalan di koridor," saran Elsa pas mereka lagi di depan loker sebelum pulang.
"Gweh juga takut, Sa. Kak Aiden juga dari tadi nggak bales chat gweh. Pasti dia lagi latihan gila-gilaan di lapangan," keluh Vanya.
Nggak lama, Bagas dateng dengan muka yang bener-bener capek.
"Van, disuruh Aiden ke mobil sekarang. Dia nggak ikut latihan tambahan sore ini, katanya mau langsung balik. Mood-nya bener-bener ancur, mending lo tenangin deh."
Vanya mengangguk cepat. Dia langsung lari menuju parkiran belakang. Di sana, mobil sport Aiden sudah menyala. Begitu Vanya masuk, dia bisa merasakan aura gelap yang keluar dari tubuh suaminya.
Aiden hanya diam, mencengkeram setir dengan kencang sampai buku-buku jarinya memutih.
____
Selama perjalanan pulang ke apartemen, Aiden nggak ngomong sepatah kata pun. Vanya juga nggak berani buka suara. Dia tahu kalau Aiden lagi cemburu sekaligus marah besar.
Sampai di unit penthouse, Aiden langsung membanting tasnya ke sofa dan berjalan menuju balkon, menatap pemandangan kota dengan napas yang memburu.
Vanya mendekat perlahan, lalu memeluk Aiden dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya di punggung lebar Aiden yang masih terasa panas karena emosi.
"Kak... udah dong marahnya. Aku kan nggak kenapa-kenapa," bisik Vanya lembut.
Aiden berbalik dengan cepat, lalu memeluk Vanya sangat erat, seolah-olah takut kalau dia melepas sedikit saja, Vanya akan diambil orang.
"Gue benci, Vanya. Gue benci liat cara dia natap lo. Gue pengen banget tadi bilang ke seluruh dunia kalau lo itu punya gue, punya Aiden Raditya!"
Vanya mendongak, menatap mata suaminya yang merah.
"Aku tau, tapi kan kita udah janji buat rahasia dulu. Kakak jangan terpancing provokasi dia, itu yang dia mau, Kak. Dia mau mental Kakak rusak pas pertandingan nanti."
Aiden terdiam, mencoba menormalkan napasnya. "Gue nggak akan biarin dia menang, Van. Nggak akan pernah."
Aiden tiba-tiba menggendong Vanya secara mendadak menuju kamar utama. Dia merebahkan Vanya di atas ranjang dengan posisi yang sangat posesif.
"Malam ini, jangan harap gue bakal ngelepasin lo. Gue butuh lo lebih dari biasanya buat nenangin pikiran gue."
"Iya, iya, aku temenin. Tapi Kak Aiden jangan kasar-kasar ya," rengek Vanya manja, tangannya merangkul leher Aiden.
Di bawah lampu temaram, Aiden benar-benar menunjukkan sisi manjanya yang hanya diperlihatkan pada Vanya.
Dia menenggelamkan wajahnya di dada Vanya, mencari kenyamanan yang selama ini menjadi obat paling mujarab untuk stresnya. Vanya dengan sabar mengusap rambut hitam suaminya, sesekali memberikan kecupan lembut di kening Aiden.
"Kalau nanti kita ke Amerika, Kakak janji ya bakal fokus main basketnya? Jangan mikirin yang aneh-aneh terus," ucap Vanya pelan.
"Gue bakal menang buat lo, Vanya. Biar semua orang tau kalau lo itu pendamping sang juara," gumam Aiden dengan suara yang makin melemah karena rasa kantuk dan kenyamanan yang dia dapatkan.
Vanya tersenyum manis. Meski hidupnya penuh drama sejak menikah dengan Ketua OSIS ini, tapi dia nggak pernah menyesal. Baginya, melihat sisi rapuh Aiden yang cuma bisa dilihat olehnya adalah sebuah keistimewaan.
"Ya udah, sekarang bobo ya suamiku yang galak... besok kan harus latihan lagi," bisik Vanya sebelum akhirnya mereka berdua terlelap dalam pelukan yang sangat hangat, melupakan sejenak ancaman dari SMA Andromeda yang menanti di depan mata.
Pagi harinya, jam 5 tepat, Vanya sudah terbangun karena Aiden mulai mencari asupannya lagi yang nggak boleh terlewatkan, Vanya cuma bisa pasrah sambil merem-melek manja.
"Kak... bentar lagi mandi... nanti telat," rengek Vanya saat Aiden masih asyik dengan kegiatannya.
"Lima menit lagi," sahut Aiden tanpa melepas posisinya.
Vanya cuma bisa menghela napas pasrah, menatap langit-langit kamar sambil membayangkan bagaimana hebohnya pertandingan minggu depan.