Di pesta 1 tahun pernikahan, Reta tewas dalam kecelakaan mobil yang diatur suami dan sahabatnya sendiri.
Beruntung Tuhan memberi Reta kesempatan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan merebut semua yang pernah menjadi miliknya.
Berencana menghubungi satu-satunya keluarga yang dipercaya, malah berakhir dalam kesalahpahaman.
"Kubeli tubuhmu seharga 3M." tegas Max menatap gadis bersetelan bikini di depannya,
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
Begitu banyak remah camilan berserakan di atas meja, dengan gelas anggur yang tak dibiarkan kosong.
Mengenakan kostum tipis, 5 pelayan itu siap berdiri melayani para pria yang tampak asik bersenda gurau.
Di sisi lain Ryan duduk santai mengawasi, tangannya tiba-tiba merogoh ke dalam saku, mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening.
Matanya melirik ke depan, memastikan tak ada yang menyadari sebelum dituangkannya ke dalam gelas.
"Ehem!" Ryan berdehem sambil memutar gelas,
Diam-diam menunduk maju, menukarnya dengan gelas lain.
Setelah itu tubuhnya bersandar kembali, bersikap santai dan melihat bagaimana gelas tadi diteguk habis oleh pria berjas di depannya.
"...?" Syla mengernyit,
Dari belakang dia mengawasi aksi tersebut.
Waktu berlalu, dan perubahan mulai terjadi. Pr9a tadi menunjukkan reaksi aneh,
Padahal mereka tengah duduk di ruang berAC, namun tubuhnya bereaksi kepanasan. Jemari kekar itu sigap membuka kancing jas, berulang kali menarik kerah tanda tak nyaman.
"Smirk..." Ryan menyeringai licik,
Telunjuknya mengarah pada salah satu pelayan.
Perintahnya langsung dipatuhi, pelayan itu berjalan menarik pria yang tampak kehilangan kontrol. Menjauhkannya dari 3 direktur yang sudah lama mabuk,
"Apa yang kamu tambahkan dalam minumannya?" amuk Syla menarik lengan Ryan dengan kasar,
"Hh, cuma sedikit bumbu perangsang..." sahut Ryan tersenyum tengil,
"Apa kamu gila? Ini tidak ada dalam rencana." tegur Syla sambil melotot,
"Suruh siapa bersikap sok pahlawan. Dia sudah merebut mainanku, jadi terima akibatnya!"
"Sialan, kamu sendiri yang bilang tidak akan menyentuh Max!"
Dicengkramnya kuat kerah baju Ryan. Giginya menggertak, menatap marah seakan tak terima.
"Dasar konyol. Apa kamu sebenci itu melihat kakakmu disentuh wanita lain?" ketus Ryan tak menyesal,
"..." Syla nampak geram.
"Kenapa diam---ga bisa jawab?!"
"Sudah pergi sana, bantu dia. Itupun kalau kamu bisa..."
Imbuhnya tertawa licik, semakin menantang amukan Syla.
Tangannya sigap menepis, langsung duduk kembali membenahi kerah yang sedikit kusut. Sekilas melirik punggung Syla telah berlari menyusul seseorang,
"Ck, panas sekali..." gerutu Max nampak risih,
Dia berdiri dengan tubuh berkeringat, berusaha melepas jas tebalnya.
"Biar saya bantu," bisik pelayan dengan lembut.
Tubuhnya mendekat, menghimpit dengan satu kaki terangkat, meraba paha Max. Tangannya membelai tubuh kekar itu dan mengusap pundak sembari melepas jas milik Max.
Perlahan mendongak nyaris mengecup leher, namun berhasil dihentikan.
BRUK!
Lengan kekar itu menepisnya jatuh, hingga terhentak ke atas lantai. Belum sempat berdiri, sudah dikejutkan oleh Max yang berjalan pergi dengan tubuh sempoyongan.
"Apa yang kamu lakukan?" tegur Syla menuruni tangga,
Mendapati pelayan yang membawa Max, matanya menoleh tak mendapati siapapun.
Sekilas melirik sinis sebelum pergi meninggalkan gadis tadi begitu saja. Syla melangkah tergesa-gesa, melewati lorong dan mencari di setiap ruang.
Di kolam, halaman, dapur bahkan toilet namun belum ditemukan. Sontak matanya menoleh ke arah lain, menghampiri para kamar tamu.
CEKLEK!
"..." Syla tertegun di depan pintu, beruntung tak terkunci.
Nafasnya terengah-engah, sedikit lega melihat ranjang single size yang telah terisi.
Dia pun masuk, menghampiri dan berdiri di belakang ranjang. Merasakan hawa dingin mengisi kamar, tangannya terulur menarik selimut tebal itu.
"Hh?!" Terbelalak, malah menemukan seorang gadis yang terlelap.
"Ng...?" Ana mengernyit,
Terusik cahaya silau, dia pun terbangun dan membuka mata. Menatap polos Syla yang berdiri di depannya,
"Kenapa kamu di sini?"
"Lho, bukannya ini kamarku?" Ana menjawab lirih,
Perlahan bangkit, menggaruk tengkuk sambil memasang wajah bingung.
"Apa kamu bodoh? Ini kamar Tuan Max!" bentak Syla dengan kesal,
"Hah! Benarkah? Maaf, maaf aku tidak tahu kalau salah kamar."
Ana panik segera menuruni ranjang. "Kalau begitu dimana kamarku?"
"Tadi aku melihat pelayan memasukkan koperku ke sini, jadi aku pikir ini kamarku."
"Dasar ga becus. Kenapa Tuan Max memperkerjakan gadis sepertimu?!"
"Ayo, cepat! Ikut aku mencarinya." imbuh Syla berbalik,
Berpikir jika Max masih berkeliaran di luar, tanpa rasa curiga bahkan tak sadar jika hanya ada 1 koper di kamar, itupun bukan koper milik Ana.
"Lho, bukannya dia bersama kalian---apa terjadi sesuatu?" gumam Ana sambil mengucek mata,
"Tidak usah banyak tanya. Cari saja sampai ketemu,"
"Baiklah!"
Ana berlari mengikuti kemana punggung itu berjalan, mengecek setiap sudut demi mencari Max.
Raut cemas di wajah Syla mulai membuatnya bingung. Seperti induk kucing yang kehilangan anaknya,
"Aneh, kalau Syla yang menjebaknya---buat apa menyuruhku?"
"Apa jangan-jangan, bukan dia?" batin Ana mengernyitkan alis.
"Kupikir Syla mau mengambil kesempatan buat meniduri pria yang dia cintai. Tapi, kayaknya tidak."
"Terus siapa pelakunya?"
"Berhenti mengikutiku!" tegas Syla berbalik menghadang jalan,
DUK!
Tubuh mereka saling menabrak sebab Ana yang terlambat menghindar. Pikirannya terhanyut dalam lamunan,
"Gimana mau ketemu, kalau kamu cuma jalan di belakang?!"
"Terus harus gimana?" jawab Ana dengan polos,
"Ya, cari di tempat lain!"
...----------------...
...Di tempat lain,...
...----------------...
Bunyi rintik air memenuhi ruang, aroma wangi semerbak serta genangan yang membasahi kaki.
Di bawah shower Max terdiam, berdiri menunduk dengan mata terpejam. Membiarkan tubuhnya tersiram air dingin,
Entah sudah berapa lama dilakukan? Yang jelas itu belum mampu memadamkan api birahi dalam dirinya.
"Sial!" hardik Max,
Dengan lekat menatap tetesan air yang membasahi lantai, ditemani ingatan-ingatan lain.
Pengaruh obat membuatnya terbayang wajah polos Ana. Gadis yang dianggap tak menarik justru berhasil menggodanya,
Perlahan ditatap telapak yang tadi merangkul pinggang ramping Ana. Membelai dada bidangnya yang tak sengaja menghimpit benda kenyal,
Serta menyentuh bibir tebalnya yang sempat meraup, merasakan kelembutan manis seseorang. Tanpa sadar semua itu menerbitkan senyum kecil di wajah Max,
"Argh, sial! Kapan penderitaan ini berakhir?"
Giginya menggertak kesal, langsung mematikan shower dan berjalan ke sisi lain.
Max berdiri di depan kaca, menatap wajahnya sendiri.
"...?" Tangannya tak sengaja menyandung wastafel yang dipenuhi air. Melihat benda pink yang membuat penasaran,
"Apa ini?" gumamnya mengangkat.
Tercengang melihat bikini yang terendam di sana,
DOK!
DOK!
DOK!
"Apa dia sedang mandi?" pikir Ana memastikan,
Setelah mencari begitu lama akhirnya Syla menyerah dan berpikir jika Max telah menyelamatkan diri.
Dia pun membiarkan Ana pergi setelah menunjukkan kamar yang benar,
"Kenapa lama sekali?" Mengernyit cemas, menatap pintu yang tak kunjung terbuka.
DOK!
DOK!
DOK!
Sekali lagi diketuknya dengan lebih keras, namun tetap tak ada sahutan.
Ana panik langsung meraih knop pintu, tak mampu membuka sebab dikunci dari dalam. Telinganya langsung mendekat berusaha menguping, tak mendengar suara apapun.
"Lho! Dia ga mungkin pingsan, kan?"
jangan lupa mampir juga di novel saya judul nya"Dialah sang pewaris" di tunggu yah kaka semua