Kisah dari seorang pemuda yang di hina karena gaya kungfunya yang unik. Apakah dia bisa menjadi legenda di masa depan, atau justru menjadi aib . Mari masuk ke novel ku yuk.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon djase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6; "BABAK PEREMPAT FINAL YANG MENANTANG"
Hari kedua turnamen dimulai dengan suasana yang lebih ketegangannya. Babak perempat final akan menentukan siapa saja yang layak melaju ke babak semifinal. Daftar lawan sudah dipastikan – Zhao Tian akan melawan peserta dari Klan Singa Kuning, Chen Hao menghadapi peserta dari Klan Angsa Putih, dan Luan akan bertarung dengan peserta terbaik dari Klan Naga Emas bernama Long Fei.
"Long Fei itu sangat kuat Luan. Dia sudah memenangkan turnamen tingkat daerah tiga kali berturut-turut!" cerita Chen Hao saat mereka sedang sarapan pagi bersama.
"Aku sudah siap menghadapinya kak. Yang penting aku berikan yang terbaik saja." jawab Luan dengan suara tenang tapi penuh keyakinan. Lin Mei sedang memberi dia ramuan khusus yang bisa membantu meningkatkan konsentrasi.
"Minum ini dulu ya Luan. Jangan terlalu terpaksa ya kalau bertanding nanti." ujar Lin Mei dengan tatapan penuh perhatian. Luan hanya bisa mengangguk dan tersenyum karena hatinya sudah mulai berdebar kencang melihat wajahnya.
Pertandingan pertama hari itu adalah Zhao Tian melawan Hu Jin dari Klan Singa Kuning. Hu Jin memiliki tubuh yang sangat besar dan gaya kungfu yang penuh kekerasan seperti singa yang marah. Setiap serangannya membuat tanah arena bergoyang sedikit.
Zhao Tian menggunakan kecepatannya untuk menghindari serangan ganas Hu Jin. Dia bergerak seperti kilat di sekitar lawannya, mencari kesempatan untuk menyerang. Setelah beberapa kali mencoba, dia berhasil memberikan serangan tepat di titik lemah Hu Jin dan memenangkan pertandingan dengan impresif.
"Pemenang – Zhao Tian dari Akademi Qinglong!" teriak pengumum membuat penonton bersorak riuh.
Selanjutnya adalah Chen Hao melawan Bai Xue dari Klan Angsa Putih. Bai Xue adalah wanita muda cantik dengan gaya kungfu yang sangat elegan dan lembut seperti angsa yang terbang, tapi memiliki kekuatan tersembunyi yang besar. Pertandingan mereka sangat indah untuk dilihat – gerakan mereka seperti tarian yang penuh dengan kekuatan dan keindahan.
Setelah bertarung cukup lama, Chen Hao berhasil mengalahkan Bai Xue dengan teknik kombinasi yang cerdik. Keduanya saling berjabat tangan dengan penuh rasa hormat setelahnya.
"Pemenang – Chen Hao dari Akademi Qinglong!" teriak pengumum membuat seluruh akademi bangga karena dua siswanya sudah lolos ke semifinal.
Sekarang giliran Luan melawan Long Fei. Saat mereka naik ke arena, semua mata terpaku pada mereka berdua. Long Fei tampak sangat percaya diri dengan baju berwarna emas yang bersinar di bawah sinar matahari.
"Aku sudah menunggu untuk bertarung denganmu Zhao Luan. Aku ingin membuktikan bahwa gaya kungfu Klan Naga Emas adalah yang terkuat!" ujar Long Fei dengan suara tegas.
"Semoga kita bisa bertarung dengan baik dan saling belajar dari satu sama lain." jawab Luan dengan senyum ramah.
Pertandingan dimulai dengan lonceng yang berbunyi. Long Fei langsung mengeluarkan gaya kungfu terbaiknya – "Serangan Naga Emas Melintang!" Tubuhnya bergerak seperti naga yang sedang melata dengan kecepatan luar biasa, tinjunya bersinar dengan warna emas yang mencolok.
Luan menghindar dengan gerakan Wu Wei Shen Quan nya, tapi kali ini tidak sesederhana sebelumnya. Long Fei sangat cepat dan bisa mengubah arah serangan dengan sangat cepat. Beberapa kali serangannya hampir menyentuh tubuh Luan.
Setelah beberapa menit bertarung, Luan mulai merasa kesulitan. Dia mencoba menyerap kekuatan serangan Long Fei tapi lawannya sudah mengetahui cara menghadapinya – setiap kali akan tersentuh, Long Fei langsung menarik kekuatannya kembali dan menyerang dengan gaya yang berbeda.
"Kamu tidak akan bisa mengalahkan ku dengan gaya yang lembut seperti itu!" teriak Long Fei saat memberikan serangan yang semakin kuat.
Luan merasa tubuhnya mulai lelah. Dia melihat ke arah tribun dan menemukan Lin Mei yang sedang melihatnya dengan tatapan penuh harapan. Dia juga melihat Master Qing Long yang sedang memberikan isyarat dengan kepalanya – seolah mengatakan untuk mengingat teknik baru yang dia pelajari dari buku kuno.
Luan mengambil napas dalam-dalam dan mulai menggunakan teknik lanjutan dari Wu Wei Shen Quan. Dia tidak hanya menyerap kekuatan lawannya, tapi juga mulai menyatu dengan energi alam di sekitar arena. Tubuhnya mulai bersinar dengan cahaya keemasan yang lembut tapi kuat.
"Ini apa...?" bisik Long Fei dengan mata membulat lebar saat merasakan kekuatan yang luar biasa dari tubuh Luan.
Luan bergerak dengan kecepatan yang tidak terbayangkan, mengelilingi Long Fei dengan gerakan yang indah seperti aliran sungai. Saat dia memberikan sentuhan lembut pada dada Long Fei, seluruh kekuatan yang terkumpul keluar dengan lembut namun pasti – membuat Long Fei terpental mundur tapi tidak terluka.
"Aku... aku kalah!" ujar Long Fei dengan suara penuh kagum. Dia berdiri dan mengeluarkan tangan untuk berjabat tangan dengan Luan. "Kamu benar-benar kuat. Gaya kungfu mu sungguh luar biasa!"
"Pemenang – Zhao Luan dari Akademi Qinglong!" teriak pengumum membuat seluruh arena bergemuruh dengan sorak sorai yang sangat keras.
Lin Mei langsung berlari ke atas arena dan memeluk Luan dengan penuh kegembiraan sebelum menyadari bahwa mereka sedang berada di depan banyak orang – membuat keduanya langsung tersipu dan melepaskan pelukan dengan cepat.
"Kamu hebat banget Luan! Aku selalu tahu kamu bisa menang!" ujar Lin Mei dengan wajah cerah yang membuat hati Luan berdebar lebih kencang.
Saat mereka turun dari arena, Zhao Tian dan Chen Hao datang dengan senyum lebar untuk memberi selamat. "Kita semua lolos ke semifinal nih! Besok akan jadi hari yang lebih seru lagi!" ujar Zhao Tian dengan penuh semangat.
Di malam hari, para pemimpin klan berkumpul untuk membahas pertandingan hari itu. "Gaya Wu Wei Shen Quan yang dikuasai Zhao Luan sungguh luar biasa. Dia bisa menjadi pemimpin yang hebat untuk dunia kungfu di masa depan." ujar pemimpin Klan Naga Emas dengan penuh hormat.
Master Qing Long tersenyum puas. "Dia memang memiliki potensi yang besar. Tapi dia masih perlu belajar banyak hal lagi. Semoga dia bisa tetap menjaga hati yang baik dan menggunakan kekuatannya untuk kebaikan."
Di kamar Luan, dia sedang membaca buku kuno yang diberikan Master Qing Long sambil minum ramuan yang dibuat Lin Mei. Dia merasa bahwa ada banyak hal lagi yang perlu dia pelajari dari gaya kungfu nya. Dan dia juga merasa bahwa ada sesuatu yang tumbuh di hatinya untuk Lin Mei – sesuatu yang membuat hatinya terasa hangat setiap kali melihatnya.
..."SEMIFINAL DAN MOMEN YANG TAK TERLUPAKAN"...
Hari semifinal tiba dengan suasana yang sangat meriah. Arena sudah dipenuhi penonton bahkan jauh sebelum waktu pertandingan dimulai. Hari ini akan ada dua pertandingan semifinal – Zhao Tian melawan peserta dari Klan Harimau Putih bernama Wang Hu, dan Luan akan bertanding dengan Chen Hao.
"Kita harus bertarung satu sama lain ya Luan?" ujar Chen Hao dengan sedikit sedih tapi tetap penuh semangat saat mereka sedang berbicara di belakang arena.
"Aku juga tidak menyangka kak. Tapi kita harus memberikan yang terbaik ya, untuk menghormati satu sama lain." jawab Luan dengan suara tenang tapi penuh tekad.
Lin Mei datang membawa handuk dan air untuk mereka berdua. "Kalian berdua sudah hebat kok. Tidak peduli siapa yang menang, aku akan bangga pada kalian berdua." ujarnya dengan senyum hangat yang membuat kedua pemuda tersebut tersipu.
Pertandingan pertama adalah Zhao Tian melawan Wang Hu. Wang Hu memiliki gaya kungfu yang sangat ganas dan tidak kenal ampun – setiap serangannya penuh dengan niat untuk mengalahkan lawannya dengan cepat. Zhao Tian bekerja ekstra keras untuk menghadapinya.
Mereka bertarung dengan sangat sengit selama lebih dari sepuluh menit. Zhao Tian menggunakan semua teknik yang dia pelajari selama latihan khusus, sementara Wang Hu terus menyerang dengan kekuatan penuhnya. Akhirnya Zhao Tian berhasil menemukan celah dan memberikan serangan akhir yang membuat Wang Hu terpaksa menyerah.
"Pemenang semifinal pertama – Zhao Tian dari Akademi Qinglong!" teriak pengumum membuat seluruh akademi bersorak riuh. Zhao Tian dan Wang Hu saling berpelukan dengan penuh rasa hormat setelahnya.
Sekarang giliran Luan dan Chen Hao. Saat mereka naik ke arena bersama-sama, penonton memberikan tepuk tangan yang sangat hangat untuk kedua teman baik ini.
"Aku tidak akan menyalahkanmu kalau kamu tidak memberikan yang terbaik ya Chen Hao." ujar Luan dengan senyum lembut.
"Begitu juga denganmu Luan! Mari kita tunjukkan pertandingan terbaik kita!" jawab Chen Hao dengan senyum lebar.
Pertandingan dimulai dengan lonceng yang berbunyi. Chen Hao langsung menyerang dengan gaya kungfu naga nya yang lincah dan kuat – "Ular Naga Menggigit!" Serangannya cepat dan akurat, membuat Luan harus bekerja keras untuk menghindarinya.
Luan menggunakan gaya Wu Wei Shen Quan nya dengan maksimal. Dia menghindari setiap serangan Chen Hao dengan gerakan yang mengalir seperti air, terkadang juga menyerap kekuatan serangan lawannya dan mengembalikannya dengan lembut. Pertandingan mereka terlihat lebih seperti tarian kungfu yang indah ketimbang duel yang keras.
Setelah beberapa menit bertarung, mereka mulai merasa lelah tapi tetap tidak mau menyerah. Chen Hao menggunakan teknik terakhirnya – "Naga Terbang ke Langit!" Dia melayang di udara dan menyerang dengan kekuatan penuhnya ke arah Luan.
Luan tidak bisa menghindar lagi, jadi dia berdiri dengan tenang dan menggunakan teknik penyembuhan dari buku kuno nya. Saat tangan Chen Hao menyentuh dadanya, kekuatan yang keluar tidak membuatnya terluka – malah membuat kedua mereka merasa penuh dengan energi positif.
"Aku menyerah, Luan!" ujar Chen Hao dengan senyum puas saat menyentuh tanah dengan aman. "Kamu sudah lebih kuat dariku sekarang. Kamu layak untuk maju ke final!"
"Pemenang semifinal kedua – Zhao Luan dari Akademi Qinglong!" teriak pengumum. Luan langsung membantunya berdiri dan mereka berdua berpelukan erat di tengah arena, membuat penonton memberikan tepuk tangan yang meriah.
Setelah pertandingan selesai, mereka semua berkumpul di kamar istirahat. Zhao Tian sangat senang karena akan bertanding dengan teman baiknya di final. "Besok kita akan bertarung dengan adil ya Luan! Jangan karena kita teman kamu mengurangi kekuatanmu ya!"
"Tentu saja kakak Tian! Aku akan memberikan yang terbaik untuk kamu juga!" jawab Luan dengan penuh semangat.
Di malam hari, Luan keluar ke taman bunga belakang akademi untuk berlatih sedikit dan menyegarkan pikiran. Tidak lama kemudian, Lin Mei datang menemukannya dengan membawa permen manis dan ramuan hangat.
"Kamu sudah cukup berlatih ya Luan. Besok kamu butuh energi yang banyak untuk final." ujar Lin Mei sambil memberikan permen manis kepada Luan.
"Terima kasih kak Lin Mei. Tanpa kamu aku tidak akan sampai sejauh ini." jawab Luan dengan suara pelan. Dia melihat wajah Lin Mei yang sedang diterangi oleh cahaya bulan, dan merasa keberanian untuk berkata sesuatu yang sudah lama ada di hatinya. "Kak Lin Mei... aku... aku sangat berterima kasih karena selalu ada untukku. Kamu membuatku ingin menjadi lebih kuat setiap hari. Dan aku..."
Sebelum Luan bisa menyelesaikan kalimatnya, suara lonceng akademi berbunyi tiba-tiba, membuat mereka kaget. Lin Mei langsung tersipu dan berdiri dengan cepat. "Kita harus pulang ya Luan. Besok ada pertandingan penting." ujarnya dengan suara sedikit gemetar sebelum berlari pergi meninggalkan Luan sendirian di taman.
Luan menatap背影nya yang semakin jauh dengan hati yang sedikit bingung tapi juga merasa hangat. Dia menyimpan sisa permen manis di saku nya dan berbisik sendiri: "Besok setelah pertandingan selesai, aku akan memberitahumu apa yang aku rasakan, kak Lin Mei."
Di atas menara pengawas, Master Qing Long sedang menyaksikan mereka berdua dengan senyum lembut. "Cinta dan persahabatan adalah kekuatan terbesar yang bisa dimiliki seorang ahli kungfu. Semoga mereka bisa menemukan jalan yang benar untuk diri mereka sendiri." bisiknya sebelum kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan acara besar hari esok.