Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Sesampainya di rumah, suasana hening karena orang tua mereka belum pulang. Arsen hampir saja menggendong Araluna dari parkiran kalau saja gadis itu tidak menolak karena malu dilihat tetangga. Meski kram perutnya sebenarnya sudah mulai mereda berkat sandaran hangat di punggung Arsen sepanjang jalan tadi, jiwa "cegil" Araluna tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Luna berjalan tertatih-tatih sambil memegangi perutnya, wajahnya dibuat semenderita mungkin. Arsen, dengan wajah kakunya yang tetap terlihat cemas, terus menjaganya dari belakang.
"Masuk kamar, ganti baju, terus rebahan. Gue ambilin air anget," perintah Arsen pendek begitu mereka sampai di depan kamar Luna.
Luna masuk ke kamar, mengganti one set Korea-nya yang ternoda dengan kaos kebesaran dan celana kain yang nyaman. Tak lama kemudian, Arsen masuk membawa segelas air hangat dan botol berisi air panas yang dibalut handuk kecil.
"Nih, tempelin di perut," ucap Arsen sambil menyodorkan botol itu. Setelah memastikan Luna menerimanya, Arsen berbalik hendak keluar. "Gue di depan ya, kalau butuh apa-apa teriak aja."
"KAK!" teriak Luna seketika, padahal Arsen baru melangkah dua senti.
Arsen menoleh cepat. "Apa? Sakit lagi?"
Luna meringis, tangannya terjulur menarik ujung kaos Arsen dengan kuat. "Jangan pergi... temenin gue di sini. Sakit banget, Kak. Rasanya perut gue kayak lagi diremes-remes, kayak orang mau lahiran demi apapun!"
Arsen melongo. "Lahiran gimana? Ngaco lo. Lo itu cuma dapet, Araluna."
"Ya kan gue mengibaratkan! Pokoknya sakit banget, gue takut kalau pingsan nggak ada yang tau," rengek Luna. Ia menggeser tubuhnya, menyisakan ruang di ranjangnya yang empuk. "Sini, duduk di sini. Elusin perut gue kek, atau apa gitu."
Arsen terdiam. Sifat kakunya berperang hebat dengan rasa kasihan—dan mungkin rasa sayangnya yang tersembunyi . Ia menghela napas panjang, lalu perlahan duduk di pinggir ranjang, membelakangi Luna.
"Tiduran yang bener. Jangan banyak tingkah," gumam Arsen.
Luna tersenyum penuh kemenangan di belakang punggung Arsen. Ia tidak hanya tiduran, tapi malah menarik lengan Arsen agar cowok itu ikut berbaring di sampingnya. Arsen sempat memberontak kecil, tapi melihat wajah pucat Luna (yang sebagian besar adalah akting), ia akhirnya menyerah.
Kini mereka berbaring berdampingan. Arsen tampak sangat tegang, tubuhnya kaku seperti papan kayu, sementara Luna dengan santainya menjadikan lengan Arsen sebagai bantal.
"Kak, elusin..." pinta Luna manja, mengarahkan tangan bebas Arsen ke atas botol hangat di perutnya.
Arsen mendengus, tapi tangannya mulai bergerak mengusap pelan di atas handuk itu. Gerakannya kaku pada awalnya, namun lama-kelamaan menjadi ritme yang menenangkan. Ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar suara detak jantung yang entah milik siapa—mungkin milik keduanya yang sedang berpacu.
"Lo itu bener-bener ya, Lun," bisik Arsen tiba-tiba, suaranya sangat rendah. "Cegil, manja, tukang bohong, hobi bikin repot..."
"Tapi sayang kan?" potong Luna sambil mendongak, menatap dagu tegas Arsen dari bawah.
Arsen tidak menjawab. Ia malah menekan pelan hidung Luna dengan jarinya. "Diem. Katanya sakit, mending tidur."
Luna tidak membalas lagi. Ia memejamkan mata, menikmati kehangatan dari tangan Arsen yang masih mengusap perutnya. Di dalam hatinya, Luna bersorak. Sakit perut ini ternyata membawa berkah yang luar biasa. Baginya, tidak ada obat yang lebih ampuh daripada keberadaan Arsen Sergio di sisinya.
Beberapa menit berlalu, napas Luna mulai teratur. Arsen menoleh, melihat gadis yang selalu merepotkannya itu sudah terlelap dengan raut wajah yang damai. Arsen menghentikan usapannya, tapi ia tidak beranjak. Ia justru merapikan anak rambut yang menutupi dahi Luna dengan gerakan yang sangat lembut—gerakan yang tidak akan pernah ia tunjukkan jika Luna sedang terbangun.
"Dasar bocil gila," bisik Arsen pelan, kali ini dengan senyum tipis yang tulus menghiasi bibirnya.
Duh, Arsen kalau sudah luluh begini bikin meleleh ya, Kak!