NovelToon NovelToon
SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Trauma masa lalu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.

Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MELUPAKANMU DI KUTOARJO

Goncangan kereta yang tadinya terasa ritmis perlahan berubah menjadi siksaan bagi Arka. Setiap kali roda besi menghantam sambungan rel, kepalanya seolah dipukul oleh palu godam. Pandangannya mulai mengabur, warna-warna di dalam gerbong meleleh menjadi satu, dan rasa mual yang hebat merayap naik ke pangkal tenggorokan.

Arka mencoba bangkit, bermaksud menuju toilet, namun dunianya mendadak miring.

Huekk!

Ia tak sempat sampai ke tujuan. Cairan bening keluar dari mulutnya, membasahi lantai gerbong. Tubuhnya merosot, bersandar pada dinding kereta dengan napas yang terputus-putus. Keringat dingin membanjiri keningnya.

Pramugari: (Bergegas menghampiri dengan wajah cemas) "Astaga! Mas? Mas tidak apa-apa? Mari, Mas, pegangan pada saya."

Pramugari itu segera memberi kode kepada petugas keamanan (Polpolsuska) yang berada di ujung gerbong. Satpam kereta itu berlari mendekat, merangkul bahu Arka yang sudah lemas tak bertenaga.

Satpam Kereta: "Tahan, Mas. Mari saya bantu duduk di kursi kru dulu. Tarik napas pelan-pelan."

Mereka membimbing Arka ke area yang lebih luas. Namun, Arka kembali membungkuk, mencengkeram kepalanya sendiri seolah ingin menghalau rasa sakit yang menusuk hingga ke saraf.

Pramugari: (Menyodorkan tisu dan air hangat) "Mas makan apa tadi sebelumnya? Apa Mas punya riwayat sakit lambung atau vertigo?"

Arka: (Bicara terputus-putus di sela muntahnya) "Saya... saya belum makan apa-apa dari pagi. Tapi kepala saya sakit sekali... rasanya seperti... seperti mau pecah."

Petugas keamanan itu saling berpandangan dengan raut serius. Pucat di wajah Arka bukanlah pucat biasa; bibirnya membiru dan sorot matanya tampak kosong.

Satpam Kereta: "Kondisi Mas terlalu berisiko kalau dipaksa sampai Jogja. Kita akan sampai di stasiun terdekat dalam lima menit. Saya akan koordinasi agar Mas diturunkan di sana untuk penanganan medis darurat."

Arka: (Mencoba menahan lengan satpam itu dengan sisa tenaganya) "Jangan... jangan turunkan saya. Saya harus ke Jogja... dia... dia sedang menunggu saya. Saya sudah janji nggak akan terlambat lagi..."

Pramugari: (Mengusap punggung Arka dengan lembut) "Mas, kalau Mas pingsan di atas kereta, malah akan lebih sulit. Kita turun di stasiun terdekat ya? Ambulans akan langsung menjemput di peron."

Arka ingin memprotes, ingin meneriakkan nama Arunika, namun lidahnya mendadak kelu. Kegelapan mulai merayap dari sudut matanya, menutup perlahan bayangan gerbong kereta yang membawanya pergi. Hal terakhir yang ia dengar adalah suara peluit kereta yang melengking panjang, meratapi pria yang sekali lagi dicegat takdir di tengah perjalanannya.

Suasana di dalam gerbong eksekutif itu mendadak mencekam. Arka yang tadi merintih kesakitan, tiba-tiba terduduk tegak dengan sorot mata yang kosong dan bingung. Rasa mualnya hilang, namun digantikan oleh raut wajah yang seolah-olah ia baru saja dilemparkan ke sebuah tempat asing tanpa peta.

Semua orang di sekelilingnya saling pandang, merasakan perubahan aura yang drastis pada pria itu.

Arka: (Suaranya datar, namun penuh ketakutan) "Mba... saya di mana? Kenapa saya ada di sini?"

Pramugari dan satpam kereta itu tertegun. Mereka baru saja melihat pria ini muntah hebat karena kesakitan, tapi sekarang ia tampak seperti anak kecil yang tersesat.

Satpam: "Mas di kereta, Mas. Ini dalam perjalanan menuju Jogja. Mas tadi sakit kepala hebat, kami mau turunkan Mas di stasiun terdekat."

Arka: (Mengernyit, memegang keningnya) "Jogja? Kenapa saya ke Jogja? Boleh... boleh saya minta handphone saya?"

Pramugari itu dengan cepat menyerahkan ponsel Arka. Dengan tangan gemetar, Arka menggeser layar. Matanya membelalak saat melihat jam di sudut layar menunjukkan pukul satu dini hari. Ingatannya terasa seperti benang kusut yang putus di tengah-tengah. Ia mencari nama 'Rio' di daftar kontak dan langsung menekan tombol panggil.

Arka: "Halo, Io? Tolong gue... Gue nggak tahu gue lagi di mana sekarang. Tiba-tiba gue di kereta, terus petugas bilang gue mau diturunin di Stasiun Kutoarjo. Kepala gue sakit banget, Io. Gue bingung..."

Di ujung telepon, Rio yang sedang tertidur lelap langsung tersentak bangun. Jantungnya berpacu kencang mendengarkan suara Arka yang bergetar hebat. Rio teringat peringatan dokter saat Arka baru bangun dari koma sebulan lalu: benturan di kepalanya terlalu parah, jika dia terlalu stres atau kelelahan, sarafnya bisa mengalami malfungsi, bahkan memicu amnesia pasca-trauma.

Rio: (Suaranya panik) "Ka! Lo tenang dulu! Jangan banyak gerak! Kasih handphone lo ke siapa pun yang ada di sekitar lo sekarang! Cepat!"

Arka menyerahkan ponselnya kepada pria berseragam di depannya dengan tangan yang lemas.

Wahyu: "Halo, saya Wahyu, konduktor kereta ini, Pak."

Rio: "Pak Wahyu, saya Rio, teman dekat pria itu. Tolong, Pak, saya mohon dengan sangat... langsung bawa teman saya ke rumah sakit begitu sampai di Kutoarjo. Jangan biarkan dia sendirian. Dia baru sadar dari koma sebulan yang lalu. Saya takut ini efek traumanya kambuh dan dia bisa hilang ingatan lagi. Tolong jaga dia sampai saya sampai di sana!"

Pak Wahyu menatap Arka dengan tatapan yang kini penuh simpati dan kewaspadaan. Ia melihat Arka kembali memejamkan mata, memegang kepalanya seolah sedang mencoba menahan fragmen-fragmen ingatan yang mulai rontok satu per satu.

Wahyu: "Baik, Pak Rio. Saya akan pastikan ambulans sudah menunggu di peron Kutoarjo. Kami akan kawal teman Bapak sampai ke tangan medis."

Arka menyandarkan kepalanya ke kursi. Di sisa kesadarannya yang mulai memudar, ia menggumamkan sebuah nama yang ia sendiri mulai lupa mengapa nama itu terasa sangat menyakitkan.

Arka: (Lirih) "Nika... siapa Arunika..."

Langkah kaki Rio bergema di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi. Di belakangnya, Ayah dan Ibu Arka mengikuti dengan napas tersengal dan wajah yang pucat pasi. Begitu melihat sosok pria berseragam konduktor yang berdiri gelisah di depan pintu IGD, Rio langsung mempercepat langkahnya.

"Pak Wahyu!" seru Rio parau.

Pria itu menoleh, wajahnya menunjukkan kelegaan sekaligus kecemasan yang mendalam. Ia segera menghampiri Rio dan kedua orang tua Arka yang baru saja menempuh perjalanan panjang dari Bandung.

"Mas Rio... Mas Arka sudah di dalam," ucap Pak Wahyu dengan suara rendah yang berat. "Tadi kondisinya menurun drastis saat turun dari kereta di peron Kutoarjo. Dia sempat tidak sadarkan diri tepat di depan kami. Dokter bilang ada tekanan hebat di saraf kepalanya, mungkin akibat kelelahan yang luar biasa."

Ibu Arka hampir limbung mendengar penjelasan itu. Beruntung, sang suami dengan sigap merangkul bahunya, meski raut wajahnya sendiri menyimpan ketakutan yang tak kalah besar. Mereka semua tahu, tubuh Arka belum sepenuhnya pulih dari tidur panjangnya selama tiga tahun.

Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari balik pintu geser IGD. Wajahnya tampak serius saat menatap satu per satu orang yang menunggu di sana.

"Keluarga Arka Wiratama?" tanya dokter itu.

"Saya Ayahnya, Dok. Bagaimana anak saya?" Ayah Arka menyahut dengan suara yang dipaksakan tegar.

Dokter itu menghela napas pendek. "Kondisi fisiknya sudah mulai stabil setelah kami berikan tindakan darurat. Namun, ada sesuatu yang harus saya sampaikan. Tekanan saraf yang terjadi sepertinya memicu mekanisme pertahanan di otaknya. Pasien mengalami kehilangan ingatan sementara atau amnesia disosiatif akibat trauma dan beban pikiran yang terlalu berat."

Rio merasakan dunianya seolah berhenti berputar. Ia tahu apa yang sedang diperjuangkan Arka dalam perjalanan ini. Ia tahu Arka sedang mengejar sisa-sisa mimpinya yang bernama Arunika.

"Maksud Dokter... dia lupa apa yang terjadi belakangan ini?" tanya Rio pelan, suaranya tercekat.

"Kemungkinan besar begitu," jawab dokter itu. "Saat dia terbangun nanti, dia mungkin akan menganggap dirinya baru saja sadar dari komanya sebulan yang lalu. Semua memori tentang kejadian beberapa hari terakhir... bisa jadi terhapus sepenuhnya."

Rio bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin. Ia menatap pintu IGD yang tertutup rapat, menyadari satu kenyataan pahit: Arka mungkin selamat secara fisik, namun ia baru saja kehilangan alasan utamanya datang ke tanah Jawa ini. Ia telah melupakan Arunika, tepat saat gadis itu mungkin sedang menunggunya di ujung kegelisahan.

Lampu neon di lorong Rumah Sakit Kutoarjo berkedip redup, menciptakan suasana mencekam yang seolah menelan harapan keluarga Arka. Kalimat Pak Wahyu bagai petir di siang bolong bagi Rio. Ia tertegun, menatap konduktor itu dengan mata membelalak, sementara Ibu Arka di sampingnya mulai terisak lebih kencang, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar.

"Mas Rio, maaf sebelumnya... sepertinya Mas Arka ini mau menemui kekasihnya," ucap Pak Wahyu dengan nada penuh simpati. "Tadi di kereta, sebelum kondisinya drop total, dia sempat meracau hebat. Dia bilang, 'Nika memutuskannya dan pergi'. Dia kelihatan sangat putus asa sampai sesak napas, Mas."

Rio memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau rasa sesak yang menghimpit dadanya. Bayangan Arka yang berlari di peron Stasiun Bandung kembali berputar di kepalanya. Ia bisa membayangkan betapa hancurnya Arka saat itu; fisik yang belum pulih, kepala yang berdenyut hebat, namun dipaksa bertarung dengan kenyataan bahwa wanita yang ia cintai memilih untuk menghilang.

"Jadi itu alasan lo pergi ke Jogja senekat ini, Ka? Sampai akhirnya lo kehilangan ingatan tentang dia lagi..." ucap Rio pelan, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi lorong rumah sakit.

Ibu Arka menatap Rio dengan mata sembap, menuntut penjelasan yang selama ini tersembunyi. "Rio, jadi... jadi Arunika pergi ninggalin Arka? Dia yang bikin Arka seperti ini?" tanya Ibu Arka dengan suara bergetar.

Rio menarik napas panjang, mencoba menenangkan wanita paruh baya itu. "Arka sudah tahu kalau perempuan yang mau dia temui di halte malam kecelakaan tiga tahun lalu itu adalah Arunika, Tante. Mungkin setelah tahu kenyataan itu, Arunika merasa sangat bersalah. Dia berpikir dialah penyebab Arka koma tiga tahun, makanya dia memilih pergi agar Arka tidak perlu terbebani lagi."

"Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini?" tangis Ibu Arka pecah.

"Ini nggak sepenuhnya salah Arunika, Tante. Dia wajar mikir gitu. Dia hanya nggak mau menjadi pengingat luka buat Arka," ucap Rio membela gadis yang kini entah berada di mana itu.

Tiba-tiba, Ayah Arka yang sejak tadi bersandar di dinding dengan wajah kaku mulai angkat bicara. Suaranya berat, penuh otoritas sekaligus kepedihan seorang ayah yang tidak ingin melihat putranya hancur untuk kedua kalinya.

"Tapi untuk sekarang, kita jangan bahas soal nama Arunika itu di depan Arka. Buat seakan semuanya membaik," ucap Ayah Arka tegas sambil menatap Rio dan istrinya bergantian. "Dokter bilang sama Ayah tadi, ingatannya ke-reset ke waktu sebelum kejadian kecelakaan di Bandung kemarin. Jadi, dia mungkin nggak akan ingat kalau dia pernah koma selama tiga tahun, apalagi ingat soal pengejaran ke Jogja ini."

Rio tertegun. "Maksud Om... kita harus pura-pura kalau kecelakaan tiga tahun lalu itu nggak pernah ada?"

"Bukan begitu, Rio. Tapi sarafnya sangat lemah saat ini. Jika kita paksa dia mengingat Arunika atau konflik yang membuatnya nekat naik kereta ini, otaknya bisa mengalami trauma yang lebih parah," ucap Ayah Arka dengan nada yang mulai melunak namun tetap serius. "Biarkan dia percaya kalau dia baru saja bangun dan semuanya baik-baik saja. Kita lindungi dia dari rasa sakit itu untuk sementara."

Rio mengangguk pelan, meski hatinya terasa sangat berat. Ia melihat ke arah pintu kamar perawatan tempat Arka terbaring. Di dalam sana, sahabatnya mungkin sedang memulai hidup baru dengan lembaran kosong, melupakan badai yang baru saja ia lalui demi seorang wanita bernama Arunika.

"Baik, Om. Kita ikuti apa kata dokter," ucap Rio lirih.

Namun, di dalam saku jaketnya, ponsel Arka yang ia pegang kembali bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari nomor yang sama.

Nika: "Arka, aku nggak tenang. Aku kembali ke Stasiun Tugu, aku mau nunggu kamu di sini kalau-kalau kamu beneran datang. Tolong jangan diamkan aku..."

Rio menatap layar ponsel itu dengan nanar. Ia berada di persimpangan yang menyakitkan: mematuhi permintaan keluarga Arka untuk menghapus nama Arunika demi kesehatan sahabatnya, atau memberitahu gadis itu bahwa pria yang ia tunggu telah melupakan namanya tepat di saat ia memutuskan untuk kembali.

1
Ira Indrayani
/Rose//Heart/
Dinaneka
Ceritanya bagus..
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya kak dina, siap meluncur
total 1 replies
Ros Ani
mampir lagi Thor karya barumu,semangat berkarya & sukses 💪
Dinna Wullan: terimakasih kak semoga suka, itunggu kritik dan sarannya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!