Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan dalam Keheningan
Malam setelah kunjungan dari rumah Ibu Sofia, rumah megah itu kembali ke setelan pabrik, sunyi, dingin, dan asing. Begitu pintu depan tertutup, sandiwara Fikar sebagai suami idaman menguap begitu saja. Ia menyampirkan jasnya ke sofa dengan gerakan asal, lalu melangkah lebar menuju ruang kerja tanpa sepatah kata pun.
Kiki hanya bisa berdiri mematung di tengah ruang tamu yang luas. Menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu jati yang tertutup rapat, ia merasa tak lebih dari sekedar properti panggung. Saat pertunjukan selesai, ia dikembalikan ke sudut gelap, tak lagi punya fungsi, apalagi arti.
Keesokan paginya, Kiki memilih menyibukkan diri. Ia tidak ingin otaknya terus-menerus memutar ulang kejadian di balkon kemarin, penolakan Fikar yang dingin. Ia memutuskan membereskan perpustakaan pribadi di lantai dua. Ruangan itu penuh debu, jarang sekali disentuh kecuali Fikar butuh dokumen lama yang membosankan.
Kiki mencoba meraih sebuah buku tua bersampul kulit yang terselip di rak paling atas. Ia memanjat tangga lipat besi, berjinjit dengan hati-hati. Namun, ia tidak menyadari posisi kaki tangga itu tidak menapak sempurna di atas lantai kayu yang licin.
"Ah!"
Jeritannya tertahan saat tangga itu bergeser tiba-tiba. Dalam hitungan detik, dunia seolah berputar. Tubuh Kiki jatuh menghantam lantai, dan sialnya, beban tangga besi yang berat itu mendarat tepat di pergelangan kaki kanannya.
Rasa nyeri yang panas dan tajam langsung menjalar, menusuk hingga ke tulang belakang. Kiki meringis, mencoba menggerakkan kakinya, tapi rasa sakitnya justru meledak berkali-kali lipat. Ia terduduk lemas, air matanya mulai luruh. Bukan hanya karena sakit secara fisik, tapi karena rasa sepi yang mendadak terasa mencekik. Di rumah sebesar ini, ia merasa jika ia pingsan atau mati sekalipun, mungkin tidak akan ada yang tahu sampai jam makan malam tiba.
Namun, dentum keras tangga tadi rupanya sampai ke telinga Fikar yang sedang mengambil ponsel di kamar sebelah. Pintu perpustakaan terbuka dengan sentakan keras. Fikar berdiri di sana dengan napas sedikit memburu. Ada guratan cemas di wajahnya, meski ia berusaha keras menutupinya dengan kernyitan dahi yang dalam.
"Kiki! Apa-apaan? Kenapa bisa seceroboh ini?" Fikar menghampirinya dengan langkah besar-besar. Ia langsung berlutut di samping Kiki, matanya menatap pergelangan kaki Kiki yang mulai membiru dan bengkak.
"Aku cuma mau beresin buku, Mas... aku nggak tahu tangganya licin," jawab Kiki sesenggukan. Ia refleks menarik kakinya sedikit saat tangan Fikar terjulur. Ia takut. Takut jika perhatian pria itu hanya karena ia dianggap merepotkan.
"Jangan banyak gerak. Diam," potong Fikar tegas, tapi nada bicaranya tidak sedingin biasanya.
Tangan Fikar yang besar dan hangat menyentuh kulit kaki Kiki dengan sangat hati-hati. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pernikahan mereka, Kiki merasakan sentuhan yang bukan bagian dari akting di depan orang tua. Sentuhan ini terasa nyata, penuh kehati-hatian yang canggung.
Tanpa aba-aba, Fikar menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Kiki. Dengan satu gerakan kuat, ia mengangkat tubuh istrinya. Kiki tersentak, secara refleks mengalungkan lengannya di leher Fikar agar tidak terjatuh. Wajah mereka begitu dekat. Kiki bisa mencium aroma sandalwood yang maskulin dari kerah kemeja Fikar. Jantungnya berdegup liar, kali ini bukan karena takut.
"Kita ke rumah sakit. Sepertinya ini retak, bukan cuma terkilir," ucap Fikar tanpa berani menatap mata Kiki. Ia membawa Kiki menuruni tangga dengan langkah stabil, sangat menjaga agar tidak ada guncangan.
Di dalam mobil, keheningan kembali tercipta, tapi suasananya terasa berbeda. Tidak lagi menyesakkan. Kiki mencuri pandang ke arah Fikar yang fokus menyetir. Tangan pria itu sesekali mengetuk setir dengan gelisah. Dia tidak setenang yang terlihat.
"Mas..." panggil Kiki lirih.
"Diam dulu, Kiki. Simpan tenagamu sampai kita sampai," potong Fikar cepat, tapi Kiki melihat genggaman tangan suaminya pada kemudi mengeras hingga buku jarinya memutih.
Kiki menyandarkan kepala, menutup matanya rapat-rapat. Di tengah rasa nyeri yang menyiksa, ada setitik harapan kecil yang keras kepala muncul di hatinya. Pernikahan ini memang dimulai sebagai transaksi, tapi mungkinkah di balik tembok ego Fikar yang tinggi itu, masih ada ruang untuk sesuatu yang tulus?
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.