"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ujung Tanduk
Lampu teras rumah Salena yang berpendar kuning pucat menerangi wajah Zane yang tampak tegang saat ia baru saja mematikan mesin mobilnya.
Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar, ponsel di saku jaket kulitnya bergetar hebat. Nama Phoenix menyala di layar, dan Zane tahu ini bukan panggilan untuk sekadar bertanya kabar.
Zane menghela napas berat sebelum menekan tombol hijau. Baru saja ponsel itu menempel di telinganya, suara Phoenix meledak, penuh dengan nada pengkhianatan yang menyakitkan.
"Kau gila, Zane! Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu!" teriak Phoenix dari seberang sana. Suaranya terdengar pecah, seolah ia sedang berada di puncak kemarahannya.
Zane terdiam, tangannya mencengkeram kemudi mobil dengan sangat kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. "Nix, dengarkan aku dulu..."
"Dengarkan apa lagi?!" potong Phoenix dengan nada sinis. "Kau menganggap ku saudara, bukan? Kita tumbuh bersama, kita berbagi segalanya! Tapi kenapa kau masih menghina Kharel di depan semua orang di kampus tadi? Dia meneleponku sambil menangis histeris, Zane! Dia bilang kau mempermalukannya, mengejarnya dengan mobil balap mu seolah dia adalah binatang buruan!"
"Itu bohong, Phoenix! Kharel memutarbalikkan fakta!" gumam Zane dengan suara rendah yang tertahan, berusaha menahan emosinya agar tidak ikut meledak.
"Bohong? Jadi kau mau bilang dia mengarang cerita tentang kau dan gadis Islandia-mu itu yang menertawakannya di depan umum?" tanya Phoenix lagi, kali ini suaranya terdengar lebih dingin dan berbahaya. "Zane, aku sudah mencoba berdamai. Aku sudah memberikan restu padamu untuk bersama Salena. Tapi jika kau menggunakan kebahagiaanmu hanya untuk menginjak-injak harga diri Kharel, dan secara tidak langsung harga diriku, maka persaudaraan kita benar-benar tidak ada harganya bagimu."
Zane memejamkan mata rapat-rapat, dahinya bersandar pada kemudi. Kata-kata Phoenix terasa seperti belati yang menghujam jantungnya. Ia tahu Kharel adalah dalang di balik semua ini, menggunakan cinta buta Phoenix sebagai senjata untuk menghancurkannya.
"Phoenix, kau harus sadar... Kharel sedang memanipulasi mu lagi," ucap Zane dengan nada memohon. "Dia datang ke apartemenku malam-malam, dia mencoba meracuni pikiran Salena, dan sekarang dia berbohong padamu tentang apa yang terjadi di kampus."
"Cukup, Zane!" bentak Phoenix. "Aku tidak butuh ceramah mu tentang Kharel. Aku akan datang ke sana. Aku akan memastikan kau dan Salena tidak akan pernah berani lagi menyentuh milikku, baik dengan kata-kata maupun tindakan."
Klik. Sambungan terputus.
Zane melempar ponselnya ke kursi penumpang dengan geram. Ia keluar dari mobil dan mendapati Salena sudah berdiri di ambang pintu rumahnya dengan wajah cemas.
Salena telah mendengar sebagian dari percakapan itu karena keheningan malam yang membuat suara Phoenix terdengar sampai keluar.
"Dia akan ke sini, bukan?" tanya Salena dengan nada yang sangat tenang, meski matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam.
"Dia sudah di bawah pengaruhnya, Sal," gumam Zane sambil berjalan cepat menghampiri Salena dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Kharel tidak hanya ingin menghancurkan kita, dia ingin membuat Phoenix membenciku selamanya. Dan Phoenix... dia sudah kehilangan kewarasannya jika itu menyangkut wanita gila itu."
Salena membalas pelukan Zane, namun pikirannya bekerja cepat. Ia tahu bahwa konfrontasi fisik tidak akan menyelesaikan masalah ini. Phoenix datang dengan luka di hatinya, dan Kharel adalah garam yang terus-menerus ditaburkan di atasnya.
"Zane, biarkan dia datang," ucap Salena tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya dan menatap mata biru Zane.
"Tapi kita tidak akan melawannya dengan tinju. Aku punya sesuatu yang harus dia lihat. Foto yang dikirimkan Kharel padaku tadi... itu akan menjadi bukti betapa rendahnya cara Kharel bermain. Phoenix harus tahu bahwa wanita yang dia bela mati-matian adalah orang yang sama yang mencoba menghancurkan harga diri saudaranya dengan fitnah murahan."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰