Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Penafsiran
Ci Lung tidak pernah berniat mengajari seseorang, doa cuma hidup dan hanya ingin menjalani hari harinya seperti seorang pengangguran.
Pada pagi hari, ia duduk di beranda bangunan kayunya yang setengah miring seperti gubuk reyot, dirinya mengamati kabut lembah yang turun perlahan. Bocah itu duduk di tangga, dua langkah di bawahnya. Diam. Dia tidak mengganggu. Tidak juga bertanya.
“kamu gak capek apa diem terus?” tanya Ci Lung.
“Aku lagi dengerin sesuatu,” jawab bocah itu jujur.
“Dengerin apaan kamu?”
“Suara lembah.”
Ci Lung mendengus pelan. “Itu cuma angin.”
“Ohhhhh.”
Bocah itu mengangguk, lalu duduk lebih santai. Bahunya turun. Napasnya pelan.
Qi di sekitarnya… berubah lagi.
Ci Lung gak sadar.
Fakta bahwa dunia kultivasi itu sederhana dan kejam.
Anak umur sepuluh tahun tidak bisa naik kultivasi.
Titik.
Bahkan jenius langka sekalipun, paling mentok:
Cuma bisa memperkuat tulang, menjernihkan darah
Itu pun kalau mereka anak orang kaya, mereka bisa pakai elixir mahal, bukan bakat murni seperti murid ci lung.
Murid Ci Lung?
Dia nggak perlu makan elixir.
Dia juga nggak minum ramuan juga.
Serta dirinya nggak tahu apa itu jalur meridian.
Ia cuma:
Bangun pagi pagi
Bernapas dengan benar seperti ajaran Ci Lung
Makan tanpa rakus tapi kenyang
Bergerak tanpa memaksa tubuh
Dan… itu saja sudah cukup.
Siang hari.
Ci Lung lagi mancing. Umpannya jelek. Kailnya juga bengkok.
“Guru...guruuu,” kata bocah itu ragu, “kenapa nunggu lama?”
“Ikan tuh dateng sendiri bocah,” jawab Ci Lung malas. “Kalo kamu maksa, ikannya malah kabur.”
“Ohhhhhh…”
Lalu bocah itu duduk, meniru posisi Ci Lung. Santai. Dia tidak tegang.
Air sungai beriak pelan.
Seekor ikan muncul… lalu dua… lalu berkumpul.
Ci Lung mengangkat kailnya. Ia mendapatkan satu ikan.
“Liat kan? Kebetulan aja.”
Bocah itu pun menatap air.
Di dalam tubuhnya, lapisan pertama pondasi tubuh runtuh dengan sempurna.
Tubuhnya seolah berbeda tapi bukan rusak.
Melainkan seperti sudah selesai.
Lapisan kedua terbentuk.
Tanpa suara apa pun.
Tanpa cahaya.
Tanpa fenomena yang mencolok.
Sistem mulai mencatat pelan.
[Murid: Fondasi Tubuh — Layer Kedua]
Malam hari, Ci Lung mulai memperbaiki kursi yang kakinya goyang.
“Pegangin nih,” katanya.
Bocah itu pegang. Terlalu kuat.
“Kendur dikit nggak usah kuat kuat,” ujar Ci Lung.
Bocah itu menurut.
Keseimbangan tubuhnya… sempurna.
Qi berhenti bocor.
Ci Lung ngelirik sekilas. “kamu cepet nangkep.”
“Karena Guru bilang jangan maksa.”
Ci Lung nyengir kecil. “Itu cuma buat kursi.”
Sistem: [Stabilitas Jalur Murid +12%]
Ci Lung tidak melihat.
Ada momen singkat.
Ci Lung menatap bocah itu saat ia tertidur di tikar tipis. Napasnya tenang. Wajahnya damai.
“Anak umur segini harusnya masih ribut,” gumamnya.
Ia bersandar.
Dalam hatinya, untuk pertama kali sejak lama, muncul sesuatu yang nyaris seperti… harapan.
“Kalau bocah ini beneran jenius langka,” pikirnya, setengah bercanda,
“bayangin aja bakal jadi apaan dia di masa depan.”
Ia terkekeh pelan.
“Mungkin malah ngelampauin aku sebagai gurunya.”
Ia tidak tahu.
Bahwa bocah itu sudah melanggar hukum dunia.
Bahwa apa yang terjadi padanya bukan kebetulan.
Bahwa diamnya Ci Lung… adalah bentuk ajaran paling berbahaya.
Dan didunia luar?
Mereka masih mengira bahwa lembah itu kosong.
Mereka juga masih mengira zona hitam itu tidur.
Padahal, sesuatu sedang tumbuh didalamnya.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠