"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Eksperimen dan Penemuan
Malam itu, Suyin tidak langsung tidur. Ia duduk di meja makan dengan laptop terbuka, buku catatan di samping, dan pulpen di tangan—mode serius penuh. Di layar laptop, puluhan tab terbuka: artikel tentang bertani organik, harga sayuran di pasaran, cara menjual produk pertanian, bahkan forum diskusi petani urban.
"Oke, Suyin. Berpikir jernih," gumamnya sambil mengetuk-ketuk pulpen ke bibir. "Kamu punya ruang ajaib yang bisa mempercepat waktu sepuluh kali lipat. Kamu sudah buktikan tomat bisa tumbuh sempurna. Sekarang, apa langkah selanjutnya?"
Ia mulai menulis di buku catatan:
RENCANA BISNIS SAYURAN ORGANIK:
Diversifikasi tanaman
Jangan cuma tomat
Coba sayuran lain: sawi, kangkung, bayam, selada
Coba cabai, terong, timun
Nanti kalau sudah stabil, coba buah-buahan
Riset pasar
Cari tahu sayuran apa yang paling laku
Cek harga pasaran—jangan jual terlalu murah atau terlalu mahal
Cari target market: ibu rumah tangga, restoran, kafe organik?
Cover story
HARUS punya alasan logis dari mana sayuran ini
Bilang sewa lahan di desa? Tapi kalau ada yang mau liat gimana?
Bilang kerjasama sama petani? Risky juga...
Bilang punya supplier rahasia? Terlalu mencurigakan...
Suyin menggigit ujung pulpen, berpikir keras. Masalah cover story ini tricky. Kalau ia tiba-tiba jual sayuran organik dalam jumlah banyak dengan kualitas super premium, orang pasti curiga.
"Mulai kecil-kecilan dulu aja," putusnya akhirnya. "Jual ke tetangga, teman kantor, orang-orang terdekat. Bilangnya hobi nanem di balkon. Kalau sudah ada demand baru mikir scaling up."
Ia menutup laptop, menatap sisa tujuh belas tomat di meja. Besok ia harus beli benih sayuran lain untuk eksperimen.
Tapi sebelum itu...
Suyin melirik jam—pukul sepuluh malam. Di dalam ruang dimensi, berarti sudah puluhan jam berlalu sejak terakhir kali ia masuk. Tanaman tomat yang masih ada di sana pasti sudah berbuah lagi.
Tanpa pikir panjang, Suyin fokus dan masuk ke ruang dimensi.
WUSH!
Ia mendarat dengan mulus—akhirnya mulai terbiasa dengan sensasi tersedot itu. Begitu berdiri, matanya langsung tertuju ke lima batang tomat.
"Bingo!"
Puluhan buah tomat baru sudah matang sempurna, menggantung berat di setiap batang. Merah mengkilap, ukuran seragam, tidak ada yang cacat.
Suyin memetik semuanya satu per satu dengan hati-hati—total empat puluh dua buah! Jauh lebih banyak dari panen pertama. Tanaman ini semakin produktif.
Tapi kemudian ia menyadari masalah baru: tidak ada tempat penyimpanan di dalam ruang dimensi. Tidak ada keranjang, tidak ada rak, tidak ada lemari. Hanya tanah, rumput, mata air, dan bebatuan.
"Harus bawa masuk barang-barang dari luar," gumam Suyin.
Ide muncul. Bagaimana kalau ia coba bawa sesuatu masuk ke ruang dimensi? Apakah bisa?
Suyin fokus keluar, membayangkan apartemen—
Dan muncul kembali di ruang tamu dengan tomat-tomat tadi berserakan di lantai karena tidak ada yang membawa. Untung tidak ada yang pecah.
Ia mengambil kardus bekas di sudut apartemen—sisa pindahan dulu—lalu memegang kardus itu erat-erat. Fokus. Bayangkan ruang dimensi...
WUSH!
Kali ini saat mendarat di rumput, kardus masih ada di tangannya!
"YES!" Suyin melompat girang. Jadi memang bisa bawa barang masuk!
Ia meletakkan kardus di dekat mata air, lalu keluar lagi untuk mengambil tomat-tomat yang jatuh tadi. Beberapa kali keluar masuk—untung waktu di luar hampir tidak berjalan saat ia di dalam ruang—sampai semua tomat terkumpul rapi di dalam kardus.
Suyin duduk di rumput, menyeka keringat meski sebenarnya tidak capek—efek air ajaib yang diminumnya setiap masuk. Ia menatap sekeliling ruang dimensi yang masih luas dan kosong.
"Kalau bisa bawa kardus, berarti bisa bawa apa aja, dong?"
Eksperimen baru dimulai.
Suyin keluar, mengambil beberapa barang dari apartemen: ember plastik, sekop kecil, botol air mineral kosong, handuk bekas, bahkan kursi lipat. Satu per satu ia bawa masuk ke ruang dimensi.
Semuanya berhasil!
"Oke, ini makin seru," ucapnya sambil tersenyum lebar. Ia meletakkan kursi lipat di dekat mata air, duduk di sana seperti sedang piknik. "Besok harus beli alat berkebun yang beneran. Sekop, cangkul, selang air, pot..."
Tapi tunggu—kalau bisa bawa barang masuk, berarti bisa bawa benih dalam jumlah banyak dan langsung tanam di sini tanpa perlu bolak-balik!
Suyin bangkit, bersemangat lagi. Ia berjalan ke area tanah kosong yang masih luas. Dua hektar itu banyak banget. Kalau ditanami semua dengan sayuran yang panen cepat...
"Sebentar, jangan serakah dulu," Suyin mengingatkan diri sendiri. "Eksperimen dulu. Pastikan semua jenis tanaman bisa tumbuh sehat di sini."
Ia memutuskan besok akan beli benih berbagai macam sayuran untuk uji coba.
Keesokan harinya, Sabtu pagi. Suyin bangun lebih pagi dari biasanya—jam enam sudah segar bugar meskipun tidur cuma lima jam. Efek minum air ajaib setiap hari, kayaknya.
Setelah mandi dan sarapan roti isi telur seadanya, ia berkendara ke toko pertanian terdekat di pinggiran kota.
Toko "Berkah Tani" cukup besar, menjual segala macam keperluan berkebun. Suyin masuk dengan daftar belanja di ponsel, mata berbinar melihat deretan rak penuh benih.
"Selamat pagi! Ada yang bisa dibantu?" sapa seorang mbak-mbak penjaga toko.
"Pagi! Aku mau beli benih sayuran, Mbak. Yang organik kalau ada."
"Oh, ada! Sini, sini."
Mbak penjaga itu membawa Suyin ke rak khusus benih organik bersertifikat. Suyin membaca satu per satu: sawi hijau, kangkung, bayam, selada keriting, tomat cherry, cabai rawit, terong ungu, timun jepang, wortel...
"Aku ambil satu-satu aja deh, Mbak. Mau coba-coba dulu." Suyin memasukkan sepuluh jenis benih ke keranjang belanja.
"Wah, mau mulai berkebun ya, Mbak? Bagus! Sekarang lagi trend urban farming," kata mbak penjaga ramah.
"Iya, hobi baru," jawab Suyin sambil tersenyum.
Selain benih, ia juga membeli sekop tangan, cangkul kecil, selang air tiga meter, gembor, sarung tangan berkebun, dan beberapa pot plastik ukuran sedang—untuk jaga-jaga kalau mau tanam di pot juga.
Total belanja: Rp 450.000. Lumayan mahal, tapi ini investasi.
Di kasir, mbak penjaga memberikan brosur. "Ini ada tips berkebun organik, Mbak. Gratis."
"Makasih banyak!"
Suyin pulang ke apartemen dengan semangat menggebu. Begitu sampai, ia langsung membuka semua plastik belanjaan, menyusun barang-barang di lantai ruang tamu.
Sepuluh bungkus benih berbeda. Alat-alat berkebun. Ini seperti Natal lebih awal.
Tanpa buang waktu, Suyin mulai membawa semuanya masuk ke ruang dimensi satu per satu. Untung ukuran barang tidak terlalu besar, jadi bisa dibawa sendiri—walau harus bolak-balik beberapa kali.
Setelah semua alat tersusun rapi di dekat mata air, Suyin menggulung lengan baju. "Oke, waktunya bertani beneran!"
Ia membuka bungkus benih sawi hijau. Biji-biji kecil berwarna cokelat tua berhamburan di telapak tangan. Menurut instruksi di bungkus, benih ini bisa panen 30-40 hari setelah tanam.
"Kalau di sini... berarti cuma 3-4 hari!" Suyin tersenyum lebar.
Dengan cangkul kecil, ia mulai menggemburkan tanah di area kosong, membuat bedengan sederhana. Tanah di ruang dimensi ini luar biasa gembur—tidak perlu tenaga banyak untuk mencangkul. Seperti sudah disiapkan khusus untuk ditanami.
Suyin membuat lima bedengan, masing-masing untuk satu jenis sayuran: sawi, kangkung, bayam, selada, dan cabai rawit.
Menanam benih satu per satu dengan jarak yang cukup—mengikuti petunjuk di bungkus—lalu menyiraminya dengan air dari mata air menggunakan gembor.
Prosesnya memakan waktu... Suyin tidak tahu pasti karena tidak bawa jam tangan. Tapi rasanya sekitar dua-tiga jam. Saat selesai, ia sudah berkeringat—meski langsung segar lagi setelah minum air ajaib.
Lima bedengan sayuran sudah siap. Rapi, tersusun bagus. Suyin berdiri, memandang hasil kerjanya dengan bangga.
"Nenek, lihat! Aku jadi petani beneran!" serunya sambil tertawa.
Gelang giok di tangannya bersinar lembut—seolah nenek ikut tersenyum.
Suyin memutuskan keluar dulu, istirahat sebentar di apartemen. Begitu mendarat di ruang tamu, ia langsung merebahkan diri di sofa.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Berarti ia di dalam ruang dimensi sekitar... lima belas menit waktu nyata? Tapi rasanya kerja tiga jam!
"Enak banget sih ini," gumamnya sambil menutup mata. "Kerja lama tapi waktu nyata nggak kemakan banyak."
Tapi perutnya mulai keroncongan. Suyin bangkit, masak mie instan—menu andalannya—sambil sesekali melirik ke arah gelang.
Ia penasaran. Seberapa cepat sayuran-sayuran itu tumbuh?
Setelah makan dan istirahat sebentar, Suyin masuk lagi ke ruang dimensi.
Dan membeku.
"Apa... apaan..."
Lima bedengan yang tadi baru ditanami—sekarang sudah penuh kecambah hijau!
Sawi, kangkung, bayam, selada—semuanya sudah tumbuh tunas setinggi jari kelingking. Daun-daun mungil berwarna hijau segar mulai terbuka.
"Baru sejam di luar... di sini udah sepuluh jam... dan udah tumbuh secepat ini?!"
Suyin berlutut di samping bedengan sawi, menyentuh tunas-tunas kecil dengan hati-hati. Lembut. Hidup. Nyata.
Air matanya tiba-tiba mengalir.
Ia tidak tahu kenapa menangis. Mungkin karena terharu. Mungkin karena takjub. Mungkin karena setelah sekian lama hidup dalam rutinitas hambar—kehilangan orangtua, dikhianati tunangan, hidup sendirian tanpa tujuan—akhirnya ia punya sesuatu.
Sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang membuat hidup terasa berharga lagi.
"Terima kasih, Nenek," bisiknya sambil mengusap air mata. "Terima kasih sudah kasih aku kesempatan kedua."
Suyin duduk di rumput, menatap kelima bedengan sayuran yang mulai tumbuh. Tanaman tomat di pojok sudah mulai berbunga lagi—siklus panen berikutnya.
Pikirannya melayang jauh. Dengan ruang dimensi ini, ia bisa menanam apa saja. Bisa panen berkali-kali dalam waktu singkat. Bisa menghasilkan sayuran organik berkualitas tinggi yang pasti laku di pasaran.
Tapi lebih dari itu...
Ia merasa punya tujuan hidup lagi. Punya harapan. Punya sesuatu untuk diperjuangkan.
"Aku nggak akan sia-siakan ini," tekad Suyin. "Aku akan jadikan ruang ini sesuatu yang berguna. Bukan cuma buat aku, tapi buat orang lain juga."
Ia belum tahu bagaimana caranya. Belum tahu seberapa besar bisnis yang bisa dibangun. Tapi satu hal yang pasti—hidupnya baru saja berubah total.
Dan perubahan itu baru saja dimulai.
Sore harinya, Suyin sedang santai di apartemen—nonton drama Korea sambil ngemil tomat hasil panen sendiri (kebiasaan baru yang aneh tapi enak)—ketika pintu apartemen diketuk.
TOK TOK TOK!
"Suyin! Kamu di rumah?"
Suara Bibi Wang lagi. Suyin membuka pintu, disambut wajah tetangganya yang bersemangat—lagi.
"Ada apa, Bi?"
"Tomatmu itu!" Bibi Wang masuk tanpa diundang, duduk di sofa. "Tadi siang aku bikin salad tomat buat arisan ibu-ibu komplek. Mereka semua pada tanya, ini beli tomat di mana? Katanya enak banget! Beda dari tomat biasa!"
Hati Suyin berdebar. "Oh... iya?"
"Iya! Terus aku bilang, ini tomat tetangga aku yang nanem sendiri. Langsung pada mau beli!" Bibi Wang mengeluarkan ponselnya, menunjukkan grup WhatsApp arisan yang isinya ibu-ibu pada nanya-nanya soal tomat.
Suyin membaca chat-chat itu dengan mata melebar.
Ibu Rita: "Bi Wang, tomatnya bisa pesan nggak? Aku mau 2 kilo!"
Ibu Santi: "Aku juga mau! Anakku yang biasanya nggak suka tomat kemarin lahap banget!"
Ibu Dina: "Organik kan ya? Aku lagi diet, butuh sayuran organik bagus. Mau pesen juga!"
"Gimana, Suyin? Kamu bisa supplai?" tanya Bibi Wang penuh harap.
Suyin berpikir cepat. Ini kesempatan bagus. Tapi ia harus hati-hati.
"Bisa sih, Bi. Tapi aku nggak bisa jamin kontinyu ya, karena kan nanem sendiri. Kadang panen banyak, kadang dikit."
"Nggak apa-apa! Yang penting kalau ada, kasih tau aku. Nanti aku info ke ibu-ibu arisan."
"Oke deh. Kebetulan aku lagi panen lagi nih. Sebentar ya."
Suyin masuk ke kamar, mengambil kardus berisi tomat hasil panen tadi pagi—masih ada tiga puluh buah. Ia kembali ke ruang tamu, menunjukkan ke Bibi Wang.
"Wah, banyak banget!" seru Bibi Wang. "Ini semua bisa dijual!"
"Aku kasih ke Bibi aja deh. Nanti Bibi yang jual ke ibu-ibu arisan. Bagi hasil gimana?"
Bibi Wang menggeleng. "Nggak usah bagi hasil. Ini kan tomat kamu. Aku cuma bantu jualin aja. Tapi aku mau beli lima buah buat rumah ya!"
Akhirnya mereka sepakat. Bibi Wang akan menjualkan tomat ke ibu-ibu arisan dengan harga Rp 12.000 per buah—naik sedikit dari harga sebelumnya karena demand tinggi. Suyin memberikan dua puluh lima buah tomat, sisanya disimpan buat stok pribadi.
Setelah Bibi Wang pergi dengan kardus penuh tomat, Suyin menutup pintu dan bersandar di sana, tersenyum lebar.
Bisnis sayuran organiknya... baru saja resmi dimulai.