Desa ujung pandang kembali di hebohkan dengan mayat yang hilang dari dalam kuburan, namun sebagian orang menyangkal bahwa itu karena sudah lama di kuburkan sehingga jasad mereka sudah habis di makan tanah.
Namun sebagian lagi mengatakan bahwa itu memang di curi orang, semua ini berawal karena secara tidak sengaja seekor anjing menggali kuburan dan mereka melihat bahwa di dalam itu sudah tidak ada lagi mayat nya.
Kemana kah mayat itu pergi?
mungkin kah mayat itu memang di curi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Mendatangi Purnama
"Tapi yang baru meninggal itu tidak di gali oleh orang kan?" Arya menatap para pria yang sedang berbicara dengan tiga hari ini.
"Semoga jangan sampai ikut terbongkar karena itu nanti justru akan menjadi kesedihan mendalam untuk Yose." Ahmad menjawab cepat karena dia sudah tahu perasaan Yose.
"Kuburan baru itu harus kalian jaga dan jangan sampai lengah!" Purnama kebetulan lewat dan dia memberikan wejangan kepada mereka.
"Mbak Pur maaf kalau memang ini lancang tapi boleh tidak aku berprasangka bahwa yang menggali kuburan ini adalah Zahra." Davin menata Purnama yang kebetulan ada di sana.
"Heh!" Lutfi takut sekali kalau mendadak saja kena banting nanti.
Sebab pandangan mata Purnama langsung berubah ketika mendengar ucapan Davin barusan menyebut nama Zahra, bukan tanpa sebab karena itu tidak sesuai dengan yang ada karena sekarang Zara memang sudah tidak ada lagi di dunia ini alias telah musnah untuk sepenuh nya sehingga tidak mungkin bisa membuat ulah lagi seperti sekarang ini.
Jadi tentu saja Purnama merasa keberatan dan dia tidak marah sebenarnya ketika Davin mengatakan hal itu tapi dia hanya merasa Davin telah salah sangka kepada orang yang salah, mungkin bila Zahra memang belum musnah maka pasti dia juga akan mengira itu adalah hal yang sama karena menggali kuburan dan memakan jeroan adalah salah satu favorit dari siluman ular.
Purnama juga adalah salah satu siluman ular yang seperti itu sehingga sejak dulu dia sangat suka memakan jeroan manusia namun perataan itu perlahan mulai pudar karena tekad yang begitu kuat, jadi dia memang sudah tidak pernah memakan jeroan manusia lagi.
Ini sekarang malah mendadak saja Davin mengatakan bahwa itu bisa saja ulah Zahra, mungkin karena sebelumnya dia mendengar kabar bahwa Zahra sempat membongkar kuburan milik Zahira lalu membunuh juru kunci makam di desa pandan Arum sehingga wajar saja bila Davin berprasangka demikian setelah ada masalah di sebelum kejadian ini.
Yang lain sudah cemas bukan main ketika melihat tatapan Purnama yang terlihat begitu marah dan juga menatap Davin sama sekali tidak berkedip, Davin merasa tidak enak hati karena dia tadi langsung berbicara demikian setelah terlintas begitu saja di dalam otak nama Zahra yang menjadi tersangka utama dalam masalah kali ini.
"Maksud ku kan sebelumnya ada kejadian seperti itu jadi aku cuma mengira saja." Davin cepat menjelaskan sebelum ada hal yang lebih buruk.
"Tidak, dia sudah tidak ada lagi alias sudah musnah sehingga tidak mungkin membongkar kuburan." Purnama menjawab sambil menarik nafas panjang.
"Oh maaf aku kira dia masih ada." Davin berkata sedikit tersenyum agar suasana tidak canggung.
"Kalau kasus seperti ini mungkin saja ada seseorang yang sedang menuntut ilmu hitam." Arya sangat yakin dengan hal itu.
"Bisa juga untuk pesugihan karena memang kadang salah satu syarat terlihat begitu tidak masuk akal." sanggah Purnama karena mereka memang mengetahui tentang hal gaib ini secara pasti.
Arya mengangguk juga sebab syarat untuk mendapatkan sesuatu secara instan pastilah tidak mudah, kadang mereka bukan hanya membutuhkan satu atau dua saja tapi membutuhkan sekitar puluhan mayat yang sudah tertanam di dalam tanah dan mereka rela menggali begitu saja untuk mendapatkan keinginan yang sudah di sebutkan kepada sang dukun.
"Ini bila sampai di gali orang maka itu jelas untuk di jadikan pesugihan." Purnama akhirnya ikut duduk bersama dengan mereka.
"Sintia ini, Mbak?" Andi bertanya untuk memastikan.
"Ya, padahal kalau untuk pesugihan maka mereka hanya perlu mengambil jari kelingking bayi itu saja." angguk Purnama Karena dia sudah mengetahui tentang hal itu.
"Berarti bila hanya membutuhkan jari kelingking saja maka mereka akan membelah perut Sintia?!" Lutfi kaget sekali mendengar ucapan Purnama tadi.
"Terserah mau dibelah atau dibuat apa karena mereka hanya peduli bagaimana cara mengambil jari bayi itu saja." ujar Purnama tanpa ekspresi sama sekali seolah dia tidak merasa ngeri.
Sedangkan tamunya yang mendengar hal itu menjadi merinding tidak karuan dan mereka tidak sanggup membayangkan bila terjadi kepada keluarga dekat mereka sendiri, Yose adalah orang yang paling berduka bila itu sampai terjadi dan kemudian akan ada masalah lain yang lebih serius karena mereka harus berjuang untuk menemukan pelaku tersebut.
Ini mereka memang harus bekerja keras agar jangan sampai kehilangan mayat Sintia yang di kubur baru kemarin, kasihan juga bila sampai diculik oleh orang lain karena meninggal saja dia sudah tragis seperti itu dan ketika sudah masuk ke dalam tanah masih di incar dengan para pencuri mayat sehingga jelas nanti akan ada duka yang sangat besar.
"Kami datang sebenarnya sekalian ingin meminta tolong agar Mbak Pur mau membantu mencari tahu siapa yang sudah mencuri mayat itu." Ahmad mengatakan keinginan dia datang ke sini.
"Tapi aku masih ada sedikit urusan jadi belum bisa membantu kalian, dan lagi ini masih satu kuburan saja sehingga belum jelas apa itu manusia atau ada yang lain." Purnama sedikit menolak karena dia memang memiliki urusan.
"Nanti malam aku yang akan datang ke sana untuk ikut kalian berjaga juga." Arya langsung mengajukan diri karena dia tidak ingin orang lain ikut sengsara.
"Nah Arya bisa jadi nanti malam dia akan datang untuk membantu kalian." ujar Purnama.
"Aku juga akan membantu bila begitu." Nolan datang untuk menawarkan diri kepada mereka.
"Alhamdulillah bila memang ada yang membantu sehingga kami tidak merasa takut ada di kuburan itu." Davin sangat tenang karena dia memang tadi malam masih merasa merinding.
"Urus dengan benar apa yang terjadi di sana Dan bila ada yang aneh maka segera laporkan kepada aku." Purnama memberi pesan kepada Arya.
Arya mengangguk karena itu sudah pasti sebab Dia tidak bisa mengurus seorang diri tentang permasalahan itu, kalau tidak membantu secara langsung namun setidaknya Purnama memberikan masukan agar dia tidak kalah jalan atau salah langkah ketika membantu para warga yang ada di sana.
Purnama sebenarnya bukan tidak mau membantu mereka tapi kadang dia juga merasa agak kesal dengan tanggapan beberapa warga desa, sebab tidak semua warga bisa menerima kedatangan dia di sana dengan sangat baik sehingga itu yang membuat Purnama merasa kesal.
Jadi biar saja Arya dan Nolan yang turun tangan untuk melihat dulu keadaan yang ada di sana, tidak ternyata memang cukup parah maka Purnama pasti tidak akan tinggal diam untuk membiarkan orang tersebut mendapat kemenangan dengan cara mencuri beberapa mayat, sebab itu pasti untuk tujuan yang tidak bagus bila sudah sampai menggali kuburan.
Selamat sore besti, jangan lupa like dan komen kalian ya.
musuh licik tp purnama bisa lebih licik👻
takut bgt aku klo musuhnya adalah orang yg di kenal ky Nino dulu🙁