NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Mata Naga Biru

Legenda Pendekar Mata Naga Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Cerita mengikuti Chen Wei, seorang pemuda dari keluarga Cina yang menjadi penerus kekuatan Mata Naga Biru – salah satu dari tiga artefak kuno yang mampu membangkitkan atau mengalahkan Kaisar Naga, makhluk yang pernah hampir menghancurkan dunia. Setelah kampung halamannya dihancurkan oleh Sekte Darah Naga yang mencari ketiga mata naga untuk menguasai dunia, Chen Wei memulai perjalanan panjang untuk melindungi artefak tersisa, belajar mengendalikan kekuatan naga dalam dirinya, dan mengumpulkan sekelompok sahabat yang setia.

Melalui ujian yang penuh bahaya, pertempuran dengan musuh yang kuat, dan pengungkapan rahasia sejarah keluarga serta hubungan dengan musuhnya, Chen Wei harus memilih antara menggunakan kekuatan untuk membalas dendam atau untuk melindungi keseimbangan alam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 2: Air Terjun Bercerita

Debu dan salju mencampur di udara saat Chen Wei keluar dari celah kecil yang menjadi jalan keluar tersembunyi dari gua. Mata kanannya yang berwarna biru kebiruan kini sudah bisa dia kendalikan – bisa kembali ke warna hitam biasa jika dia mau, meskipun dia merasakan kekuatan yang terus mengalir di dalamnya seperti sungai yang tidak pernah kering.

Tubuhnya masih terasa sakit akibat kesatuan dengan roh Naga Biru, tapi setiap langkah yang dia tempuh semakin kokoh. Dia mengenakan baju laki-laki tua yang ditemukannya di dalam gua – kain tebal yang bertuliskan pola sisik naga biru yang hanya muncul saat terkena sinar matahari. Di pinggangnya tergantung pedang kecil leluhurnya yang tidak bisa dibawa oleh Zhang Hu saat pembantaian kampung.

“Seharusnya aku bisa mencapai Desa Baihe sebelum senja,” gumamnya sambil melihat peta yang masih jelas tercetak di benaknya. Desa itu adalah tempat tinggal guru yang disebutkan oleh roh Naga Biru – seorang pendekar yang pernah bersekolah dengan kakeknya.

Setelah berjalan selama beberapa jam melalui hutan yang tertutup salju, suara gemuruh air terdengar semakin jelas. Di depan ada sebuah lembah dengan air terjun tinggi yang jatuh dari tebing batu, membentuk danau kecil di bagian bawah. Di tepi danau berdiri sebuah rumah bambu sederhana dengan kebun sayuran yang terlindungi dari salju oleh pagar kayu.

Chen Wei mendekat dengan hati-hati. Saat dia akan mengetuk pintu, sebuah sosok berpakaian putih muncul dari balik rumah. Wanita itu tampak berusia sekitar lima puluh tahun, dengan rambut putih yang diikat rapi dan mata yang tajam seperti elang. Dia memegang tongkat kayu yang ujungnya berbentuk kepala naga.

“Ahli waris Chen,” ucapnya dengan suara yang tenang tapi pasti. “Saya telah menunggu kedatanganmu selama bertahun-tahun. Nama saya Mei Hua, murid dari kakekmu, Chen Feng.”

Chen Wei terkejut. Dia tidak menyangka orang ini sudah tahu tentang dirinya. “Ibu Mei Hua… bagaimana Anda bisa mengenali saya?”

Wanita itu menunjuk ke arah mata kanannya yang kini secara tidak sengaja kembali berwarna biru. “Hanya penerus Mata Naga Biru yang memiliki cahaya seperti itu di matanya. Selain itu, saya merasakan getaran kekuatan naga yang sama seperti yang pernah saya rasakan dari guruku.”

Dia membuka pintu rumah dengan ramah. “Masuklah, bocah muda. Kamu pasti lapar setelah perjalanan panjang. Kita punya banyak hal yang harus kita bicarakan.”

Di dalam rumah, ruangan kecil tapi nyaman dengan tungku yang menyala hangat. Mei Hua menyajikan sup jamur dan roti jagung hangat. Sementara makan, Chen Wei menceritakan seluruh peristiwa yang terjadi – pembantaian kampung, pencarian Zhang Hu untuk Mata Naga Biru, dan pertemuan dengan roh naga di dalam gua.

Setelah dia selesai bercerita, Mei Hua menghela nafas panjang. “Saya sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Sekte Darah Naga telah aktif kembali setelah hilang selama lima puluh tahun. Mereka mencari ketiga mata naga untuk membangkitkan Kaisar Naga – sesuatu yang sudah kita cegah bersama dengan gurumu lima dekade yang lalu.”

“Kakek saya pernah bertempur melawan mereka?” tanya Chen Wei dengan mata penuh rasa ingin tahu.

“Lebih dari itu,” jawab Mei Hua sambil berdiri dan mengambil sebuah kotak kayu dari rak dinding. Dia membukanya dan mengeluarkan selembar kain sutra tua dengan gambar tiga naga berwarna biru, merah, dan kuning. “Gurumu adalah salah satu dari tiga pendekar yang menjaga mata naga. Dia menjaga Mata Naga Biru, sementara dua pendekar lainnya menjaga yang merah dan kuning. Tapi salah satu dari mereka – Zhang Tian, ayah dari Zhang Hu – telah terbujuk oleh godaan kekuasaan dan mendirikan Sekte Darah Naga.”

Chen Wei menatap gambar di kain sutra. “Jadi Zhang Hu dan aku punya hubungan sejarah yang dalam.”

“Ya,” lanjut Mei Hua. “Dan sekarang kamu harus siap menghadapi masa depan yang penuh bahaya. Kekuatan Mata Naga Biru yang kamu miliki belum sepenuhnya terbangun. Dalam waktu tiga bulan, Sekte Darah Naga akan melakukan upacara untuk membangkitkan sebagian kekuatan Kaisar Naga di Gunung Yin yang terkutuk. Kita harus siap menghadapinya sebelum mereka mendapatkan kekuatan lebih banyak.”

“Bagaimana saya bisa mengendalikan kekuatan ini, Ibu Mei Hua?” tanya Chen Wei dengan wajah serius. “Saat ini saya hanya bisa merasakannya mengalir di dalam tubuh, tapi saya tidak tahu bagaimana cara menggunakannya dengan benar.”

Mei Hua tersenyum lembut. “Kekuatan naga tidak bisa dikuasai dengan kekerasan atau keinginan semata. Kamu harus belajar untuk menyatu dengan alam sekitarmu – udara, tanah, air, dan api. Hanya dengan menghargai keseimbangan alam, kamu bisa mengendalikan kekuatan yang ada di dalam dirimu.”

“Mulai dari besok pagi,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah air terjun. “Kamu akan belajar dasar-dasar seni bela diri naga dan pengendalian energi. Air terjun itu akan mengajarmu tentang kelincahan dan fleksibilitas – sifat-sifat yang dimiliki oleh Naga Biru.”

Malam itu, Chen Wei tidur di kamar kecil di bagian belakang rumah. Saat dia tertidur, dia bermimpi tentang sebuah dunia yang berbeda – dunia di mana naga terbang bebas di langit dan manusia hidup berdampingan dengan mereka. Dalam mimpinya, dia melihat dirinya dewasa, berdiri bersama dengan dua orang lain – seorang pria dengan mata merah dan seorang wanita dengan mata kuning – sedang melawan makhluk besar yang menyala dengan nyala api hitam.

Ketika matahari mulai muncul di ufuk timur, Chen Wei terbangun dengan rasa tujuan yang lebih kuat dari sebelumnya. Dia tahu bahwa perjalanan yang akan dia tempuh bukan hanya untuk membalas dendam atau melindungi kekuatan naga – tapi untuk menyelamatkan seluruh dunia dari kehancuran yang akan datang.

Di luar, Mei Hua sudah menunggu di tepi air terjun. Dia mengangkat tongkatnya ke arah aliran air yang deras. “Siapakah kamu, bocah muda?” tanyanya dengan suara yang keras dan jelas.

Chen Wei berdiri tegak dengan wajah penuh tekad. “Saya Chen Wei, ahli waris keluarga Chen, penerus kekuatan Naga Biru Tianlong! Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk menguasai kekuatan ini, dan saya akan menghentikan Sekte Darah Naga sebelum mereka bisa membangkitkan Kaisar Naga!”

Air terjun seolah merespon kata-katanya, dengan alirannya yang semakin deras dan suara gemuruhnya yang semakin keras. Pelajaran pertama untuk Pendekar Mata Naga Biru telah dimulai – pelajaran yang akan membawanya melalui jalan panjang menuju pertemuan terakhir.

1
roso
luar biasa
roso
gaskan lanjutt
roso
🔥🔥🔥
asil
🔥🔥
asil
🔥🔥🔥
koco
niceee
koco
mantap👍
amon
lanjut👍
amon
👍👍
Tomiyama Choji
🔥🔥
suo
uraaa🔥
suo
uraa🔥
suo
🔥🔥🔥
agus
👍👍
agus
luar biasa
bagas
njut🔥🔥
bagas
menyala🔥🔥
adul
gaskan alnjur🔥
adul
okeee
zaka
okee👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!