NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: KAFETARIA PARA PEMBURU

Hujan di Manchester tidak pernah benar-benar mencuci bersih segalanya; ia hanya mengubah debu menjadi lumpur yang melekat. Pagi itu, saat Elara membuka sedikit gorden di loteng toko buku bekas mereka, ia tidak menemukan ketenangan Northern Quarter yang biasa. Di bawah sana, di trotoar yang basah, berdiri sekelompok orang yang membawa payung hitam dan kamera dengan lensa panjang yang menyerupai moncong senjata. Mereka tidak lagi mencari Marcus atau Sang Arsitek. Mereka mencari "Elara dan Arlo"—dua orang yang telah menjadi mitos hidup dalam waktu kurang dari sebulan.

"Mereka tidak pergi, Jamie," bisik Elara. Suaranya terdengar letih, seolah setiap kata yang ia ucapkan harus ditarik dari dasar sumur yang dalam.

Jamie, yang sedang duduk di lantai sambil mengutak-atik antena radio saku, mendongak. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. "Bukan cuma media, El. Ada 'The Resonance Seekers'—sekelompok penggemar fanatik dari forum internet yang percaya bahwa Arlo adalah nabi suara baru. Mereka berkemah di ujung jalan sejak pukul empat pagi. Mereka ingin Arlo melakukan 'penyembuhan' melalui frekuensi lagi."

Elara berbalik dan menatap Arlo. Pria itu sedang duduk di meja kayu kecil, memegang cangkir teh yang sudah mendingin. Sejak insiden di bunker Salford, Arlo menjadi lebih diam. Namun, itu bukan diam yang penuh trauma, melainkan diam yang penuh perlawanan. Ia menolak untuk menyentuh alat musik apa pun, bahkan sebuah peluit kayu kecil yang ada di toko buku itu pun membuatnya memalingkan muka.

"Kita terjebak lagi, Arlo," kata Elara, duduk di seberangnya. "Dulu kita terjebak dalam obsesi masing-masing. Sekarang kita terjebak dalam obsesi dunia."

Arlo menatap cairan teh yang gelap di cangkirnya. "Dunia selalu mencintai tragedi, El. Mereka menyukai ide tentang musisi gila yang hampir mati demi cintanya. Mereka tidak ingin kita sembuh; mereka ingin kita tetap hancur karena kehancuran itu indah untuk ditonton dari balik layar ponsel."

"Tapi kita bukan tontonan!" Elara menggebrak meja, membuat teh di cangkir Arlo sedikit tumpah. "Aku punya pekerjaan di London yang sekarang sudah hancur. Aku punya nama baik yang kini dikaitkan dengan kegilaan. Aku ingin hidup kita kembali, Arlo. Hidup yang membosankan. Hidup yang tanpa resonansi."

Pertengkaran itu terputus oleh suara ketukan keras di pintu bawah. Bukan ketukan ramah, melainkan ketukan yang menuntut jawaban. Jamie mengintip melalui lubang intip tangga.

"Itu polisi, tapi mereka didampingi oleh pengacara dari label rekaman pusat," Jamie memberi isyarat agar mereka mundur. "Sepertinya Marcus memang sudah jatuh, tapi perusahaan induknya tidak ingin kehilangan aset. Mereka ingin menuntut hak atas lagu-lagu Arlo yang disiarkan di Skotlandia."

Elara menyadari bahwa melarikan diri ke pulau atau menghancurkan laboratorium tidaklah cukup. Mereka sedang berhadapan dengan monster berkepala banyak bernama industri dan opini publik. Selama mereka tetap berada di Manchester, mereka akan terus dikuliti oleh rasa ingin tahu orang-orang.

---

Satu jam kemudian, melalui bantuan pintu belakang toko buku yang tersembunyi di balik tumpukan novel klasik, mereka berhasil menyelinap keluar. Elara mengenakan mantel hujan panjang milik pemilik toko dan Arlo memakai topi flat-cap tua untuk menutupi rambutnya yang mulai panjang. Mereka berjalan cepat menuju sebuah kafetaria kecil di pinggiran kota, tempat yang jarang dikunjungi oleh anak muda atau jurnalis.

Kafetaria itu berbau lemak bacon goreng dan deterjen murah. Suara denting sendok dan gumaman radio lokal yang memutar berita cuaca memberikan rasa normalitas yang sangat dirindukan Elara. Mereka duduk di sudut yang paling gelap, di belakang sebuah rak pajangan plastik yang berisi kue-kue kering yang sudah mengeras.

"Apa rencana kita sekarang, El?" tanya Arlo. Ia terlihat sangat kecil di balik mantel besarnya. "Kita tidak bisa terus berpindah dari satu loteng ke loteng lain."

Elara menatap ke luar jendela kafetaria, melihat orang-orang yang berjalan di bawah hujan tanpa beban rahasia di bahu mereka. "Kita harus menghilang secara permanen, Arlo. Tapi bukan menghilang dengan cara bersembunyi. Kita harus membuat diri kita tidak lagi menarik bagi mereka."

"Bagaimana caranya?"

"Dunia menginginkan 'About You'. Mereka menginginkan melodi yang sedih itu. Kita akan memberi mereka kebalikannya," Elara mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat dengan rencana baru. "Kita akan merilis pernyataan resmi bahwa semua lagu itu adalah sebuah *hoax* seni pertunjukan. Sebuah eksperimen sosial yang direncanakan sejak awal. Kita akan mengatakan bahwa semua drama di mercusuar, semua rekaman emosi itu... adalah akting yang dibuat dengan teknik suara tingkat tinggi."

Arlo mengerutkan kening. "Kau ingin kita berbohong tentang perasaan kita? Kau ingin aku mengatakan bahwa sepuluh tahun penderitaanku adalah sebuah lelucon?"

"Bukan lelucon, Arlo. Sebuah fiksi. Jika mereka percaya itu adalah fiksi, mereka akan berhenti memuja kita sebagai nabi atau korban. Mereka akan marah, mereka akan merasa tertipu, dan akhirnya... mereka akan meninggalkan kita karena kita bukan lagi 'tragedi murni'. Mereka akan menganggap kita sebagai penipu, dan itu adalah harga yang harus kita bayar untuk kebebasan."

Arlo terdiam cukup lama. Ia memikirkan semua malam yang ia habiskan di bawah tanah, semua air mata yang tumpah di atas mesin synthesizer. Mengatakan bahwa itu semua palsu terasa seperti mengkhianati dirinya sendiri. Namun, saat ia menatap wajah Elara—wanita yang rela melompat ke air laut yang beku demi dia—ia menyadari bahwa kebenaran di antara mereka jauh lebih penting daripada kebenaran di mata dunia.

"Jika itu yang bisa mengembalikan hidupmu, El... aku akan melakukannya," bisik Arlo.

Namun, sebelum mereka bisa menyelesaikan rencana itu, pintu kafetaria terbuka. Seorang pria paruh baya dengan kamera kecil di lehernya masuk, namun ia tidak terlihat seperti jurnalis. Ia terlihat seperti seseorang yang telah mengikuti mereka sejak dari toko buku. Pria itu tidak mendekat, ia hanya duduk dua meja di depan mereka dan meletakkan sebuah perekam suara di atas meja, menghadap ke arah mereka.

Elara merasa darahnya membeku. Pria itu tersenyum tipis—senyuman yang tidak memiliki kehangatan. Ia adalah salah satu dari "The Resonance Seekers".

"Kalian tidak bisa memalsukannya," pria itu berkata dengan suara yang tenang namun menyeramkan. "Aku mendengar suara kalian di Skotlandia. Frekuensi itu... itu bukan akting. Itu adalah satu-satunya hal nyata yang tersisa di dunia yang penuh kebohongan ini. Jika kalian mencoba menyangkalnya, kami akan membuktikannya. Kami memiliki sisa-sisa rekaman yang tidak kalian ketahui."

Arlo berdiri, tangannya mengepal. "Pergi dari sini. Kami bukan milikmu."

"Kalian milik sejarah suara sekarang," pria itu bangkit, mengambil kameranya, dan keluar dari kafetaria tanpa perlawanan, meninggalkan aura ancaman yang menggantung di udara.

Elara menyadari bahwa rencana "fiksi" mereka mungkin sudah terlambat. Penggemar fanatik itu bukan menginginkan uang; mereka menginginkan kepemilikan spiritual atas rasa sakit Arlo. Mereka telah menciptakan agama di sekitar lagu "About You", dan Elara adalah dewi yang tidak boleh turun dari altarnya.

Bab 20 ditutup dengan Elara dan Arlo yang kembali ke tengah hujan Manchester. Mereka menyadari bahwa dunia tidak akan membiarkan mereka menjadi normal. Tantangan berikutnya bukan lagi tentang menghancurkan mesin, tapi tentang bagaimana bertahan hidup di dunia di mana setiap bisikan mereka dianggap sebagai kitab suci oleh orang-orang yang haus akan emosi asli.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!