Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Beberapa Minggu Kemudian
Tiga minggu sejak malam itu.
Dan Aruna belum benar-benar tidur nyenyak satu malam pun.
Kontrakan kecil mereka di gang sempit itu terasa semakin sesak. Bukan karena ukuran ruangan, tapi karena pikirannya sendiri.
Mira duduk di lantai dengan kaki bersila, membungkus pesanan kue kering yang belum sempat dikirim ke warung dekat kampus. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih menyimpan rasa bersalah yang belum hilang.
“Lo masih mual?” tanya Mira pelan tanpa menatap Aruna.
Aruna yang sedang berdiri di depan wastafel hanya mengangguk kecil. Tangannya mencengkeram pinggiran meja sampai buku-buku jarinya memutih.
Sudah dua minggu ini tubuhnya aneh.
Terlambat datang bulan.
Mual pagi hari.
Dan perasaan takut yang tak bisa ia jelaskan.
“Ra…” suara Mira melembut, “kita beli test pack sore ini ya.”
Aruna diam lama.
Lalu berbisik, “Kalau iya gimana?”
Mira menelan ludah. “Ya… kita hadapi.”
“Kita?” Aruna tersenyum hambar. “Ini badan gue, Mir.”
“Dan gue nggak akan ninggalin lo.”
Jawaban itu sederhana. Tapi cukup membuat mata Aruna memanas.
Mereka memang tak punya siapa-siapa. Yatim piatu sejak remaja. Hidup dari kerja serabutan. Saling menguatkan. Saling bertahan.
Dan sekarang badai baru datang.
Sore itu, dengan tangan gemetar, Aruna melihat dua garis merah muncul perlahan.
Sunyi.
Tak ada teriakan.
Tak ada tangisan dramatis.
Hanya napas yang terasa berat.
Mira yang berdiri di belakangnya langsung memeluk Aruna dari samping.
“Ra…”
Aruna menutup mata.
“Dia nggak tahu,” bisiknya lirih. “Dan nggak perlu tahu.”
Mira tahu siapa “dia”.
Pria dingin yang bahkan namanya saja terasa terlalu besar untuk kehidupan kecil mereka.
“Lo yakin?” tanya Mira pelan.
Aruna mengangguk. “Gue nggak mau hidup gue dan anak gue nanti cuma jadi bagian dari penyesalan orang kaya.”
Kalimat itu tegas.
Tidak ada kebencian dalam suaranya.
Hanya harga diri.
Beberapa hari setelahnya, Aruna mengambil keputusan.
Ia berhenti dari hotel tanpa banyak penjelasan. Surat pengunduran diri ditulis singkat dan rapi.
Tidak ada yang perlu dibahas.
Ia juga mengganti nomor ponsel.
“Lo serius mau pindah kota?” Mira masih terdengar ragu saat mereka mulai mengemas barang-barang sederhana mereka ke dalam kardus bekas.
Aruna mengangguk.
“Kita mulai lagi. Dari nol. Kita buka usaha sendiri.”
“Dengan uang tabungan segini?”
Aruna tersenyum kecil. “Kita pernah lebih susah dari ini.”
Mira tertawa pelan, meski matanya berkaca-kaca. “Iya sih.”
Malam terakhir di kontrakan itu terasa ganjil.
Dinding yang dulu jadi saksi tawa mereka, pertengkaran kecil, mimpi-mimpi besar tentang punya toko kue sendiri—semuanya akan ditinggalkan.
Aruna duduk di kasur tipis yang belum dibongkar.
Tangannya otomatis menyentuh perutnya yang masih rata.
“Maafin Ibu ya,” bisiknya pelan. “Kita pergi bukan karena lari. Tapi karena Ibu mau kamu tumbuh tanpa bayang-bayang siapa pun.”
Di luar, Mira sedang menutup kardus terakhir.
“Ra,” panggilnya, “mobil travel udah datang.”
Aruna berdiri.
Ia tidak menoleh lagi ke kamar itu.
Tidak ke masa lalu.
Tidak ke malam yang mengubah hidupnya.
Di waktu yang hampir bersamaan, di gedung tinggi pusat kota—
Arka berdiri di depan jendela kantornya.
“Alamatnya kosong, Pak,” lapor Dimas dengan wajah tegang. “Kontrakannya sudah tidak dihuni. Tetangga bilang mereka pindah beberapa hari lalu.”
Arka tidak langsung menjawab.
Tatapannya lurus ke jalanan di bawah sana, ribuan orang berlalu lalang tanpa tahu hidup siapa yang sedang berubah drastis hari ini.
“Nomor teleponnya?”
“Tidak aktif.”
Sunyi.
Dimas jarang melihat atasannya seperti ini. Tidak marah. Tidak meledak.
Justru terlalu tenang.
“Baik,” akhirnya Arka berkata.
“Pak… mau kami cari lebih dalam?”
Arka terdiam beberapa detik.
Ia bisa saja menggunakan semua koneksinya. Semua kekuasaannya.
Tapi ia teringat satu hal—
Ia pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memberi tekanan.
Dan mungkin… ini caranya Aluna melindungi dirinya.
“Tidak,” jawab Arka pelan. “Untuk sekarang… tidak.”
Dimas mengangguk.
Setelah asistennya keluar, Arka membuka laci meja kerjanya.
Di dalamnya masih ada kartu staf hotel dengan nama itu.
Aluna Pradipta.
Ia menatap nama itu lama.
“Kemana kamu pergi…” gumamnya lirih.
Tanpa ia tahu—
Perempuan itu sedang duduk di kursi travel menuju kota kecil di pinggiran Jawa, menggenggam tangan sahabatnya, dan membawa kehidupan baru dalam rahimnya.
Malam itu—
Dua orang terpisah oleh jarak.
Satu pergi untuk melindungi.
Satu tertinggal dengan penyesalan yang belum selesai.
Dan takdir… baru saja mulai memainkan perannya.