Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Jantung Almira berdentum keras, suaranya seolah beradu dengan derap langkah kaki mereka yang menggema di lantai marmer stasiun yang licin. Risky tidak melepaskan cengkeramannya pada lengan Almira, menariknya lincah melewati celah-celah kerumunan penumpang yang baru turun dari kereta komuter.
"Jangan menoleh ke belakang," desis Risky. Suaranya rendah tapi penuh otoritas.
Almira mencoba mengatur napasnya yang mulai terasa panas di tenggorokan. "Mereka... mereka siapa, Risky?"
"Orang-orang yang disewa untuk memastikan kau tetap diam," jawab Risky pendek. Ia tiba-tiba berbelok ke arah deretan loker penyimpanan, lalu masuk ke sebuah lorong sempit menuju area parkir motor yang padat dan pengap.
Di belakang mereka, kedua pria tegap itu tidak lagi berusaha menyamar. Mereka menerjang kerumunan, menabrak beberapa orang hingga menimbulkan makian, namun mata mereka tetap terkunci pada punggung Almira. Salah satu dari mereka merogoh sesuatu di balik pinggangnya, sebuah gerakan yang membuat darah Almira membeku.
Risky berhenti di depan sebuah motor trail tua yang tampak berdebu namun terawat. Ia melemparkan sebuah helm cadangan kepada Almira. "Pakai!"
"Kita mau ke mana?" tanya Almira panik sambil mencoba mengaitkan tali helmnya dengan tangan gemetar.
"Tempat di mana mereka tidak bisa melihat kita dari satelit," Risky menyalakan mesin motornya yang menderu kasar.
Begitu Almira naik, Risky langsung memutar gas dalam-dalam. Motor itu melesat keluar dari parkiran, menyalip angkot yang sedang ngetem, dan masuk ke labirin gang-gang kecil di daerah Tambora. Almira terpaksa memeluk pinggang Risky erat-erat, memejamkan mata saat motor mereka miring tajam melewati tikungan sempit yang hanya menyisakan jarak beberapa senti dari dinding rumah warga.
Setelah hampir dua puluh menit melakukan manuver yang memacu adrenalin, Risky akhirnya memperlambat laju motornya di depan sebuah bengkel las yang tampak sepi. Ia mematikan mesin, namun tetap waspada memantau spion.
"Kita aman untuk sementara," ucap Risky. Ia membuka helmnya, peluh membasahi keningnya yang berkerut.
Almira turun dengan kaki yang terasa seperti jeli. Ia melepas helm dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Kau gila! Kita bisa mati tadi!"
"Kau akan lebih cepat mati kalau tertangkap mereka," balas Risky dingin. Ia menyandarkan motornya, lalu duduk di sebuah kursi plastik panjang yang sudah butut. "Mereka bukan polisi. Mereka kelompok paramiliter bayaran. Kalau mereka sampai turun tangan, artinya informasi yang kau bawa—atau yang mereka kira kau bawa—sangat berbahaya bagi atasan mereka."
Almira menyeka keringat di lehernya. "Informasi apa? Aku tidak tahu apa-apa!"
"Koper itu, Almira. Kau bilang pamanmu, Hermawan, yang menitipkannya. Tapi kau tahu tidak? Hermawan hanyalah kurir antar-jemput di kementerian. Dia tidak punya kuasa untuk mengatur protokol diplomatik tanpa tanda tangan atasannya." Risky mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto digital dari dokumen yang ia dapatkan sebelumnya. "Lihat paraf di pojok kanan bawah manifes ini."
Almira menyipitkan mata. Paraf itu berbentuk spiral kecil yang sangat spesifik. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Itu... itu paraf Pak Wirayuda? Atasan langsung Ayah?"
Risky mengangguk. "Direktur Jenderal Urusan Luar Negeri. Orang yang selama ini disebut-sebut sebagai calon kuat menteri berikutnya. Jika Ayahmu jatuh karena kasus narkoba, Wirayuda bersih. Tapi jika koper itu lolos, Wirayuda punya dana tambahan untuk kampanye politiknya. Dan jika tertangkap, seperti sekarang, dia butuh kambing hitam. Ayahmu adalah orang yang terlalu sempurna untuk peran itu."
"Tapi kenapa Hermawan mau membantu dia?"
"Uang judi, hutang, atau mungkin nyawa keluarganya yang dipertaruhkan. Manusia bisa melakukan hal paling menjijikkan saat mereka terpojok."
Almira terduduk lemas di samping Risky. Kenyataan ini jauh lebih besar dan lebih kotor dari yang ia bayangkan. Ini bukan sekadar tentang narkoba, ini tentang konspirasi politik yang melibatkan orang-orang paling berkuasa di negeri ini.
"Debo," bisik Almira tiba-tiba. "Risky, adikku sendirian di motel!"
"Tenang. Aku sudah menyuruh temanku untuk memantau motel itu dari jauh sejak kalian sampai semalam. Dia aman selama dia tidak keluar," Risky menatap Almira dengan pandangan yang sedikit melunak. "Tapi kita tidak bisa kembali ke sana sekarang. Kita harus menemukan Hermawan sebelum mereka melakukannya."
"Tapi kau bilang dia menghilang?"
"Dia tidak menghilang ke luar negeri. Dia bersembunyi di Jakarta. Dia menunggu sisa bayarannya dari Wirayuda. Dan aku tahu di mana tempat orang seperti dia mencari perlindungan."
Risky berdiri, kembali mengenakan helmnya. "Ayo. Kita punya satu alamat di Jakarta Utara. Sebuah gudang di pinggir pelabuhan Sunda Kelapa. Itu tempat terakhir sinyal ponselnya terlacak sebelum dia membuang kartunya."
Almira berdiri, keberanian mulai tumbuh dari rasa benci yang mendalam. Ia teringat wajah Ayahnya yang lesu di bandara. Jika ia harus masuk ke sarang serigala untuk menyelamatkan Ayahnya, maka ia akan melakukannya.
"Tunggu, Risky," Almira menahan lengan pria itu. "Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk kami? Kau bilang kau tidak butuh uang kami."
Risky terdiam cukup lama, matanya menatap kejauhan, ke arah deretan gedung pencakar langit Jakarta yang tampak megah namun penuh rahasia.
"Karena sepuluh tahun lalu, ayahku ada di posisi yang sama dengan ayahmu," suara Risky terdengar parau dan penuh luka lama. "Dan saat itu, tidak ada satu pun orang yang percaya padanya sampai dia mengakhiri hidupnya di dalam sel. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Tidak pada Pak Baskoro. Tidak selama aku masih bernapas."
Almira tertegun. Ia melihat sisi lain dari pria dingin di depannya ini. Mereka bukan lagi sekadar pengacara dan klien. Mereka adalah dua orang yang sama-sama terluka oleh sistem, mencoba mencari jawaban di tengah labirin kebohongan.
...****************...