"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
03 Januari 2017 — Tujuh Tahun Lalu.
-
Duar!!
Ledakan itu mengguncang dinding rumah, disusul suara dentuman keras yang merobek keheningan. Meira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, spontan menutup telinga dengan bahu gemetar. Di luar sana, langit berubah jingga, bukan karena senja, melainkan kobaran api yang mulai menjilat hingga ke kusen jendela.
"Pa, Papa di mana? Meira takut!" teriaknya dengan suara parau.
"Meira!"
"Mama!" Meira menghambur ke pelukan ibunya yang baru saja muncul dari balik asap. Tubuh wanita itu dingin dan gemetar hebat, kontras dengan udara ruangan yang mulai memanas.
"Ini ada apa, Ma? Papa mana?"
Meira merasakan firasat buruk yang menusuk tulang rusuknya. Melalui celah pintu yang terbuka, ia melihat kerumunan orang berlarian dalam kepanikan. Namun, matanya terkunci pada satu pemandangan di ujung balkon. Papanya diseret paksa oleh dua pria asing.
"Papa!" Meira menyentak pegangan Mamanya. Ia berlari sekuat tenaga meski paru-parunya mulai perih menghirup asap.
"Papa mau ke mana? Jangan tinggalin Mei!"
"Meira! Berhenti! Bahaya, Nak!" teriakan Mama tertelan suara kayu yang berderak terbakar.
Meira tidak peduli. Langkah mungilnya membawanya tepat di depan para pria itu.
"Lari!" bentak Papanya, matanya menyiratkan luka yang lebih dalam dari luka fisik. "Lari Meira, selamatkan dirimu sekarang!"
"Mei mau sama Papa!"
"Tidak, jangan. Pergi, Meira. Cepat!" Pria itu mendorong Meira menjauh dengan sisa tenaganya. "Lari, Sayang. Tolong, lari..."
Salah satu pria asing itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda hitam yang berkilat dingin. Sebuah pistol. Meira tertegun, ia mengenali benda itu dari film-film yang pernah ia intip di laptop Papanya.
Namun, ini bukan film. Ini nyata.
"Tolong jangan sakiti Papa..." bisik Meira lirih, air matanya jatuh tanpa henti.
Lalu, suara itu memecah segalanya.
Dorr!!
Dunia seolah melambat. Meira terpaku melihat tubuh Papanya tumbang. Di belakangnya, jeritan Mama terdengar menyayat langit-langit yang runtuh.
"PAPA!!"
Meira merangkak mendekat, melihat noda merah yang mulai melebar di kemeja putih sang Papa. Sebuah peluru tepat bersarang di sana.
"Lari, Meira..." bisik Papanya dengan suara yang nyaris hilang, napasnya tersengal. "Bawa Mama pergi... lari."
Itu adalah kalimat terakhirnya sebelum sepasang mata itu tertutup rapat untuk selamanya.
...\~\~\~...
Desember 2023 — Bogor.
-
"Aku mau nyoba balik ke Lampung." kata Meira tiba-tiba.
Ia meletakkan ponselnya dengan sembarang di atas meja. Setelah membaca sebuah pesan yang baru saja diterimanya.
Ayara yang sedang menyindukkan es krim vanilla mendadak beralih fokus pada Meira.
"Loh, kenapa?"
"Pesan dari orang misterius itu terus masuk, Ra." Meira membuang napasnya sambil mengaduk-aduk jus mangga miliknya tanpa minat.
"Terus apa hubungannya sama lo balik ke sana?"
Cewek itu menjauhkan gelas jusnya, lalu bersidekap ke arah Ayara. "Ya, aku cuma mau cari tahu aja. Mungkin dengan aku kembali ke kota kelahiranku, aku bisa dapat jawaban dari pesan misterius itu. Orang itu seolah kasih aku petunjuk lewat pesan-pesan yang dia kirim."
"Iya gue tahu, tapi di sana lo mau tinggal sama siapa?"
"Masalah itu sih aku bisa kost. Rencananya aku juga mau pindah sekolah kesana semester depan."
"Berarti lo ninggalin gue, dong?"
Meira berdecak menatap sebal ke arah Ayara. "Kamu kan masih punya Om Jay, temenmu juga masih banyak, bukan cuma aku doang."
"Yang klop banget cuman lo doang masalahnya."
Meira memutar bola matanya malas. "Yaelah, aku di sana juga gak akan tinggal selamanya. Lebay amat."
Ayara membuang napasnya. Ia menyimpan sendok diatas gelas es krim yang sisa setengah. Memandang Meira tajam. Meira, gadis cantik berkulit putih bersih dengan sepasang lesung pipi yang menambah kemanisan di wajahnya. Ia dan Ayara sudah bersahabat sejak mereka berumur duabelas tahun, lebih tepatnya saat mereka SMP. Awalnya Meira adalah murid baru di sekolahnya, ia selalu menyendiri, tidak punya teman. Sampai akhirnya, Ayara lah yang selalu menemaninya sampai pada saat sekarang ini.
"Lo serius?"
"Kapan aku pernah gak serius, sih?" Meira terkekeh pelan. "Aku nggak mau sia-siain waktu lagi, Ra. Ini menyangkut orangtuaku."
Meira tersenyum kecut. Teringat pada insiden tujuh tahun lalu, dimana Papanya meninggal dengan sangat mengenaskan di depan mata kepalanya sendiri. Dan Mama yang meninggalkannya begitu saja di rumah pembantunya di kota Bogor. Wanita itu bilang akan kembali ke Lampung untuk membereskan urusan penting dan berjanji segera kembali. Namun, sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda kedatangannya sama sekali.
"Gue bakal ikut sama lo."
Meira melotot terkejut. "Apaan sih, Ra. Jangan ngada-ngada deh."
"Pokoknya gue ikut. Gue mau jaga lo!"
"Ayara, dengar ya—"
"Enggak ada penolakan, gue ikut!" Ayara menyela ucapan Meira cepat. "Tunggu, tunggu." sedetik kemudian gadis itu mengerutkan keningnya. "Lo bilang kemana tadi? Lampung?" ia bertanya ulang, seperti mengingat sesuatu.
Meira mengangguk pelan. "Iya."
"Ide bagus!" Ayara menjentikkan jarinya keras. Seolah-olah ada bara api semangat yang menyambarnya.
"Apanya yang bagus?"
Ayara tak menjawab, cewek itu hanya menampilkan senyuman tengilnya.
...***...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰