Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Antara Janji dan Pintu yang Ditutup
Ayza menatap Reza lurus.
“Saat meminangku, kalian berkata kita belum saling mengenal lebih jauh. Dan itu benar.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalian juga berjanji, jika kelak kita saling cocok dan cinta, pernikahan ini akan kau resmikan secara negara. Dengan resepsi.”
Senyum pahit terselip di balik cadarnya.
“Tapi bagaimana kita bisa saling mengenal… jika sejak hari pertama menikah kau memilih pisah kamar?”
Ayza menarik napas pelan.
“Kau mengabaikanku.”
Sunyi sejenak.
“Tiga puluh dua jam,” lanjutnya lirih.
“Kau pergi sejak siang, baru pulang keesokan malam.”
Ia menunduk sedikit, lalu menatap kembali.
“Malam pertama pernikahan kita, aku tidur sendirian di rumah ini.”
Reza tertawa tanpa suara. "Lalu kau berharap aku tidur sekamar denganmu? Menghabiskan malam pertama denganmu?"
Ia tersenyum sinis. "Munafik. Kau bilang tak suka padaku tapi mengharapkan semua itu."
Ayza menggeleng pelan.
“Maaf, Tuan Reza Pratama yang terhormat. Aku hanya realistis.”
Suaranya tetap lembut. Terlalu lembut untuk sebuah tuduhan.
“Kalian meminangku dengan janji manis,” lanjutnya.
“Wajar jika aku memiliki harapan seperti itu.”
Ayza berhenti sejenak, lalu menatap Reza.
“Atau aku yang kurang cerdas memahami maksud kata-kata kalian?”
Senyum tipis terselip di balik cadarnya.
“Atau mungkin… kalian yang salah merangkai kata, hingga membuatku salah paham?”
"Kau--" Reza tak melanjutkan. Kata-kata itu membuat lidahnya kelu.
"Kenapa?" tanya Ayza. "Apa aku salah?"
Reza tak menjawab, ia memalingkan wajahnya. Tangannya terkepal di atas paha.
Ayza bersandar santai di kursinya.
“Begitu akad selesai, kau memperlakukan aku seperti sebuah kesepakatan.”
Ia menatap Reza lurus.
“Semua ini membuatku berpikir.”
Ayza menarik napas pelan sebelum melanjutkan, suaranya tetap datar.
“Kau menikahiku secara siri bukan untuk menjaga kehormatanku. Tapi agar aku tetap lajang di mata dunia jika kelak kita berpisah.”
Senyum tipis tersungging di balik cadarnya. Pahit.
“Tapi agar kau mudah menceraikanku.”
Ayza memiringkan kepala sedikit.
“Benar begitu?”
Reza akhirnya beranjak dari duduknya. "Sudah siang. Aku harus ke kantor," ucapnya datar lalu melangkah pergi.
Ayza memejamkan matanya sejenak lalu berkata tanpa menatap Reza. "Ceraikan aku jika kau memang tak pernah berniat hidup denganku."
Kalimat itu menggantung di udara.
Langkah Reza terhenti sepersekian detik di ambang pintu, cukup lama untuk mengkhianati bahwa ia mendengarnya.
“Kita bicara nanti,” ucap Reza tanpa menoleh.
"Tunggu," ucap Ayza.
"Aku bilang aku sudah terlambat," sahut Reza tanpa menghentikan langkahnya atau pun menoleh.
Ayza mengejarnya. "Aku hanya ingin menyalimimu."
"Tak perlu," ucap Reza datar, melangkah semakin cepat.
Pintu tertutup di belakangnya.
Ayza mengembuskan napas pendek.
“Pengecut,” gumamnya.
Ia menatap pintu itu sesaat, lalu berpaling.
“Aku tak menyangka akan menikah dengan pria seperti itu.”
***
Reza mengemudi dengan pikiran kacau.
Jalanan ramai, klakson bersahutan, tapi semuanya terasa jauh, seolah hanya dengung samar.
"Ceraikan aku jika kau memang tak pernah berniat hidup denganku."
Kalimat itu kembali menghantam. Berulang. Tanpa jeda.
Tangannya mencengkeram setir lebih kuat.
Di kantor, berkas menumpuk di meja. Layar komputer menyala, tapi pandangannya kosong.
Kata-kata Ayza terus berputar, seperti alarm yang tak bisa dimatikan.
BRAK!
Telapak tangannya menggebrak meja.
“Sial.”
Reza menyandarkan punggung ke kursi, memijat pelipisnya. Napasnya berat.
Suara ayahnya kembali menyeruak, jelas. Terlalu jelas.
“Kalau kau tak berniat melupakan Zahra dan menerima Ayza, kita tak perlu membicarakan ini lagi.”
“Kalau niatmu seperti itu, lebih baik jangan nikahi Ayza.”
“Jangan jadikan pernikahan ini tempat pelarianmu dari tanggung jawab.”
Reza mengusap wajahnya kasar. “Kenapa jadi begini…?” gumamnya lirih.
Ia terdiam.
Sejak awal, ia mengira Ayza akan mudah. Gadis desa. Pendiam. Bisa diatur.
Nyatanya, tidak.
Ayza berdiri dengan caranya sendiri, tenang, tegas, tak meninggikan suara, tapi tak pernah mundur. Lembut, namun tak rapuh.
Dan justru itu yang membuatnya goyah.
“Aku terjebak,” desisnya pelan. “Dalam permainan yang kubuat sendiri.”
Jika ia memenuhi janji pada Ayza, ia harus mengkhianati Zahra. Jika ia tetap pada Zahra, Ayza harus dilepaskan, dan orang tuanya akan kecewa.
Reza menarik napas panjang. Kepalanya penuh. Tak ada satu pun pilihan yang terasa benar.
***
Langit telah gelap saat kaki Reza menjejak halaman rumah. Ia menghela napas panjang. Berat. Lalu melangkah masuk.
Ayza menghampiri. Namun sebelum Reza benar-benar melangkah ke dalam, Ayza berkata,
“Mengucap salam sebelum masuk rumah adalah bentuk dzikir dan doa keselamatan. Untuk diri sendiri dan hamba Allah yang saleh, agar rumah terasa lebih berkah.”
Reza menghela napas pelan. “Assalamu’alaikum,” ucapnya akhirnya.
“Waalaikumsalam,” sahut Ayza, lalu meraih tangan Reza.
Namun sebelum ia mengecup punggung tangan itu, Reza buru-buru menariknya.
“Kau tak perlu menyalimiku saat aku berangkat atau pulang,” ujarnya datar.
“Kenapa?” Ayza mengangkat alis tipis.
“Aku bilang gak perlu, ya gak usah,” sahut Reza sambil memalingkan wajah.
Ayza mengulum senyum di balik cadarnya. "Akuntahu." Nadanya turun, seolah kalimat itu ditujukan pada dirinya sendiri.
Reza menoleh. “Tahu apa?”
Ayza maju satu langkah. Dekat. Reza menarik napas lebih dalam. Dadanya terasa sempit, tak jelas kenapa.
Ayza mendongak menatapnya. “Kau takut jatuh cinta padaku.”
“Hah? Haha… jatuh cinta? Sama kamu?” Reza tertawa, lalu menatap Ayza dari ujung kaki hingga kepala. “Apa menariknya kamu? Tubuh tersembunyi di balik gamis ini. Siapa tahu datar kayak triplek.”
Tatapannya naik ke wajah Ayza. “Dan wajah di balik cadar itu, siapa tahu jerawatan, bopeng, gigi gak rapi.”
Nada suara Ayza terdengar ringan, nyaris seperti tersenyum. “Bagaimana kalau kau justru jatuh cinta saat melihatku tanpa gamis dan cadar ini?” tanyanya tenang, lembut, tapi tegas.
Reza mengibaskan tangan. “Aku masih ingat pipi bulat dan gigimu waktu kecil. Kau sering diam di sudut rumah, curi pandang ke arahku.”
Ia mendengus. “SMP pun kau masih gendut, jerawatan. Aku bahkan mual mengingatnya.”
Reza menggeleng. “Model wajahmu gak bakal berubah jadi cantik. Kecuali operasi plastik.”
Ayza tertawa pendek. “Aku tak punya uang untuk itu. Kalaupun punya, aku tak akan melakukannya.”
Suaranya tetap tenang. “Keyakinanku melarang mengubah apa yang Allah anugerahkan, kecuali dalam kondisi tertentu.”
Reza berdecak. “Aku lelah. Gak usah ceramah.”
Ia melangkah pergi.
“Tunggu,” cegah Ayza. “Setelah kau membersihkan diri, kita bicara soal pernikahan kita. Kau seorang pria. Jangan menghindar.”
Tangan Reza mengepal. Rahangnya mengeras.
“Tenang saja,” ucapnya dingin. “Kita akan selesaikan pembicaraan ini. Malam ini juga.”
...🔸🔸🔸...
...“Aku tak menuntut dicintai....
...Aku hanya menuntut kejujuran dari janji yang kau ucapkan sendiri.”...
...“Ada pernikahan yang tak rusak oleh pengkhianatan,...
...melainkan oleh niat yang sejak awal tak pernah tinggal.”...
...“Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan,...
...melainkan dijadikan jalan keluar.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍