NovelToon NovelToon
Sistem Dua Kekasih

Sistem Dua Kekasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Teen School/College / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yapari

Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.

Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.

Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?

Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.

Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — Penyamar Peringkat —

Layar hologram muncul di hadapanku. Harusnya Miyazaki melihatnya juga, tapi karena wajahnya terbenam di dadaku, dia tidak bisa melihat apa-apa.

[Misi Baru Pasangan, Selesai!]

[Salah Satu Syarat Terpenuhi!]

[Sinkronisasi Pasangan: 10%]

[Pintu Kamar Nomor 25, Terbuka!]

[Hadiah: 500 Poin Pasangan]

Tunggu, kenapa misinya selesai?

Ah, ini lebih gawat lagi.

Rencana awalku benar-benar berantakan, andai saja aku tidak bertanya aneh-aneh pada Miyazaki tadi. Kalau begini, misinya bisa dikatakan berhasil, tapi juga bisa dikatakan gagal.

Apa pun itu, tidak ada gunanya membingungkan ini lebih lanjut.

Kami masih dalam posisi berpelukan. Dan entah kenapa lingkaran tangannya begitu erat di punggungku, seolah dia tidak ingin melepaskannya sekarang.

Aku juga ingin momen ini berlangsung selamanya, tapi apa boleh buat, kami harus melepaskan pelukannya. Agak disayangkan memang.

Seandainya kami berada di tempat yang tepat... tidak di keramaian, maka kami bisa lebih lama lagi berbagi kehangatan.

"Miyazaki-san, entah bagaimana misinya berhasil. Pintu kamar kita bisa terbuka."

Miyazaki melepaskan lingkaran tangannya, kemudian menatapku lekat-lekat. Wajahnya terlihat tenang seperti permukaan danau, tapi matanya berkedip cepat. Pipinya juga memerah.

Bahkan setelah apa yang terjadi, sulit untuk meruntuhkan temboknya. Dia masih mempertahankan segalanya.

Kupikir aku harus memanjatnya perlahan ketimbang merobohkannya. Satu langkah jelas tidak cukup, jadi akan kujalani pelan-pelan.

Selama dia menunjukkan perubahan, tidak peduli sekecil apa pun... maka itu sudah cukup.

"Takashi-kun, biarkan aku sendiri."

Mulutnya terbuka untuk mengatakan itu, nadanya begitu pelan dan lirih. Kemudian, dia berbalik dariku dan melangkahkan kaki mendekati Kamar Nomor 25.

Aku tidak bisa merespons apa-apa karena banyaknya tatapan di sekitar lorong lantai dua. Tanpa kusadari, ternyata orang yang berkumpul di sini semakin bertambah.

Apa ini karena teriakanku tadi?

Entahlah, aku tidak peduli dengan mereka. Tapi jika itu membebani Miyazaki, aku harus mengatasi mereka semua.

Biar kujelaskan sedikit tentang apa yang akan terjadi sekarang.

Singkatnya, para murid baru datang bersama pasangannya ke asrama kelas satu untuk membuka pintu kamar mereka. Itu adalah perintah dari sistem.

Untuk saat ini, tidak ada yang bisa membuka pintu kamar masing-masing. Lalu karena aku tidak tahu situasi di lantai bawah, lumayan gawat jika Miyazaki masuk begitu saja ke Kamar Nomor 25.

Kami akan menjadi satu-satunya pasangan yang telah berhasil membuka pintu kamar asrama, setidaknya di lantai dua.

Awalnya, aku berniat menggunakan pola dari sistem... yang tampaknya sudah disiapkan jauh sebelum para murid baru tiba di asrama.

Namun, siapa sangka pelukanku tadi bisa membuat pintunya terbuka.

Kalau sudah begini, tidak ada jalan keluar lagi.

Aku memutuskan untuk membiarkan Miyazaki masuk ke dalam, sementara aku hanya akan berjaga di luar.

Dia bilang ingin menyendiri untuk sementara waktu, jadi aku tidak boleh mengganggu sama sekali.

Perhatian mereka terpecah menjadi dua pandangan, ada yang ke arahku dan juga ke Miyazaki.

Dia sudah dekat dengan Kamar Nomor 25. Begitu jam tangannya bersentuhan dengan gagang pintu, aku yakin mereka akan terkejut ketika pintu kamarnya terbuka.

CEKRAK!

Suara pintu terbuka merangsang telinga, membuat semua pandangan sepenuhnya teralihkan ke sumber suara itu.

"Loh? Dia bisa membuka pintunya?"

"Bagaimana mungkin?"

"Padahal dia hanya sendirian, sementara kami sudah tertahan satu jam lebih!"

Suara bisik-bisik heboh para murid baru bercampur dengan suasana lorong di lantai dua yang seharusnya tenang.

Begitu pintunya terbuka, Miyazaki langsung masuk ke dalam dan menutupnya lagi. Baguslah jika dia tidak memperdulikan mereka.

Keadaan jadi hening karena hal itu. Sementara mereka bertanya-tanya bagaimana pintunya bisa terbuka, pandangan mereka kini teralihkan padaku.

Aku sudah menduga ini.

Mereka yang frustasi tidak hanya memandang, tapi mendekat. Benar-benar mendekat seolah ingin memaksaku buka mulut.

Baiklah, aku siap menghadapi mereka semua.

Pertama-tama... sebelum mereka benar-benar mendekat, aku menyalakan jam tanganku untuk menampilkan statusku.

[Nama: Naruse Takashi]

[Nomor Registrasi: 094-A]

[Poin Pribadi: 150 Poin]

[Poin Pasangan: 500 Poin]

[Status: Berpasangan]

[Nama Pasangan: Elena Miyazaki]

[Sinkronisasi Pasangan: 10%]

[Peringkat Individu: S]

[Peringkat Pasangan: D]

[Menu:

Aturan

Belanja Teknis

Misi

Peta

Terkunci.]

Begitu langkah mereka semakin dekat, aku melakukan taruhan. Ini memang cukup berisiko, dan aku tidak punya pilihan lain.

Aku pun melepaskan jam tanganku perlahan, sembari berharap kalau layar hologramnya masih tertampil di hadapanku.

Kemudian, aku menutup mata sekejap... mendengarkan suara-suara asing yang memanggil.

"Hei, kau!"

"Kau pasangan gadis itu, kan?"

"Kalian tadi sempat bertengkar, lalu berpelukan di hadapan kami semua."

Ketika mataku terbuka, ternyata tampilan layarnya masih ada. Dengan cepat, aku menyimpan jam tangannya ke dalam genggamanku sendiri.

Aku melakukan ini karena akan sangat merepotkan jika mereka menyentuh jam tanganku. Statusku akan terlihat jelas, dan Miyazaki pasti tidak suka kalau ada orang lain yang tahu peringkatku.

"Hei, bagaimana caranya?"

"Cepat katakan!"

"Jangan buat kami menunggu!"

"Itu benar, kami sudah tertahan sangat lama!"

Kini aku berhadapan dengan mereka semua. Banyak murid baru mengerumuniku seolah meminta petunjuk.

Hawanya jadi panas, membuat dahiku mulai berkeringat.

"Maaf, sebenarnya aku sendiri tidak tahu."

"Hah?! Jangan bercanda!"

"Sialan kau, cepat bicara!"

Jawabanku memang tidak memuaskan, tapi yang penting jariku mulai bergerak menekan Peringkat Individu.

[Peringkat Individu:

- Akademik: S

- Atletik: S

- Keseluruhan: S]

[Penyamar Peringkat:

- Aturan Khusus: Hanya bisa dipakai untuk menurunkan peringkat.

- Peringkat Tersedia: E / D / C / B / A

- Instruksi: Tekan peringkat yang tersedia untuk mengaktifkan!]

"Yang benar saja kau!"

"Dasar pelit!"

Mengabaikan kerusuhan yang sudah kubuat sendiri, jariku lanjut menekan Peringkat C.

[Samarkan Peringkat Individu ke C?]

[Ya / Tidak]

Aku memilih Ya tanpa pikir panjang.

[Peringkat Individu telah Tersamarkan ke C!]

Akhirnya selesai juga.

Semuanya sesuai rencana, jadi aku memasang kembali jam tanganku. Tidak akan ada hukuman karena aku melepasnya tidak lebih dari sepuluh menit.

"Ini peringatan terakhir dariku!"

Ah, sesak. Tanpa kusadari, kerah seragamku sudah terangkat.

Pelakunya adalah seorang siswa bertubuh besar yang lumayan kekar. Dia menariknya begitu kuat sampai leherku terangkat. Aku jadi sulit bernapas karenanya.

Mereka ini sama sekali tidak punya kesabaran. Untungnya, mereka tidak menyadari apa yang sedang kulakukan tadi.

"Su-sudah kubilang, a-aku tidak tahu... a-aku hanya... be-beruntung."

Rasanya sulit untuk bicara karena napasku sesak, tapi aku tetap berhasil mengatakan sesuatu.

"Hei, cukup!"

Di tengah keadaan yang tak mengenakkan ini, suara seorang gadis terdengar. Dan anehnya, itu cukup untuk melepaskanku dari cengkraman orang ini.

Tak lama kemudian, gadis itu mendekat. Bisa kutebak bahwa mereka adalah pasangan.

Dari tampilannya, mereka sama-sama kasar. Hanya saja dengan gaya rambut ekor kudanya, gadis ini terlihat lebih sok suci.

Keadaan membaik sementara, sebelum akhirnya dia menyentuh jam tanganku. Lalu, jam tangan kami pun bersentuhan.

[Nama: Sera Nanashi]

[Peringkat Individu: A]

Ternyata namanya Sera Nanashi. Peringkatnya lumayan juga, sama dengan Miyazaki.

"Kalian semua, orang ini memang tidak tahu apa-apa. Peringkat Individunya C. Kurasa mereka kebetulan bertengkar lalu saling memaafkan dengan pelukan, itu yang membuat pintunya bisa terbuka."

Gadis ini mengatakan hasil analisisnya dengan lantang.

Aku tidak tahu apakah dia sedang mengejekku atau tidak. Tapi yang penting, aku selamat dari situasi ini.

Beberapa orang mulai kehilangan minat terhadapku, bahkan lucunya... ada yang mulai ikut berpelukan karena kata-katanya itu.

Rencanaku berjalan lancar, sampai-sampai aku merinding karena saking lancarnya. Tapi, aku lelah. Tubuhku lemas.

Sebelum merasa ingin tumbang lagi, tanpa peduli dengan mereka, aku memaksakan diri menuju Kamar Nomor 25.

1
Ftomic
rill 3 season ga ni?
Yapari Napa: semoga/Bye-Bye/
total 1 replies
Apa Cuba
makan nih jejak
🦊 Ara Aurora 🦊
Eh nggak jadi deh mau jam tangan kek gitu /Frown/ ribet menurutku aturan jam tangan nya terlalu banyak aturannya /Sob//Sob/
🦊 Ara Aurora 🦊
Jam tangan yg unik itu thor gue juga mau jam tangan kek gitu donc thor❓😭 /Grievance/thor balik mampir di ceritaku yg berjudul: Lampu Ajaib & Cinta Albino 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊
kok seperti ribet itu yah... Masa di tempatkan Zona Transisi tdk ada tempat tidur pribadi... suhu di kontrol pada 16°C ... Pencahayaan tdk dimatikan penuh... Total Kapasitas 150 murid dalam satu ruangan gitu maksudnya? 🤔 aish ribetnya terdengar sulit 🙃😭
🦊 Ara Aurora 🦊: Waduh... wkwkwk 😂😂
total 3 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Mmm.. Aish belum ada sih bisa di koment bagian ini thor... Gue udah mampir yah thor 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊: Sama2 kak 😊
total 2 replies
Ftomic
Very interesting. Sistemnya di dunia nyata dan realistis, trus premisnya oke. Keep it up bro!
Yapari Napa: wah makasih ya reviewnya/Smirk/
total 1 replies
Apa Cuba
alurnya kek classroom of the elite ni cuma versi tinggal bareng cewek
Ftomic: mana pacingnya sama lagi agak lambat
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!