Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28
Aula Utama Puncak Asura - Pertemuan Perang.
Shen Yu duduk di Tahta Hitamnya, aura Transformasi Dewa nya menyelimuti ruangan seperti selimut berat. Di hadapannya, tiga jenderal kepercayaannya berlutut: Ye Qing, Feng Jiu, dan Cang Wu.
"Musuh kita kali ini bukan sekte lokal," suara Shen Yu bergema.
"Mereka adalah Aliansi Langit Suci yang dipimpin oleh Tian Fa, penguasa bayangan Benua Tengah. Mereka telah menyiapkan panggung di Lembah Penyegel Jiwa."
"Mereka mengira kita adalah tikus yang akan masuk perangkap."
Shen Yu berdiri, matanya menyala merah.
"Mereka salah. Kita bukan tikus. Kita adalah bencana alam yang akan meratakan lembah itu."
Shen Yu mengibaskan tangannya. Tiga sinar cahaya melesat dari Cincin Ruangnnya, melayang di hadapan ketiga jenderalnya. Ini adalah harta karun tingkat tinggi yang dia rampas dari Reruntuhan Bulan Kuno.
Untuk Ye Qing: Sebilah pedang yang tidak memiliki wujud padat, melainkan terbuat dari cahaya perak yang mengalir seperti air. [Pedang Cahaya Bulan (Moonlight Flowing Sword)]. Efek: Mengabaikan pertahanan fisik, serangan secepat cahaya, tak terlihat di malam hari.
Untuk Cang Wu: Setumpuk tulang rusuk raksasa berwarna kelabu yang memancarkan aura purba. [Zirah Tulang Titan (Titan Bone Armor)]. Efek: Meningkatkan pertahanan fisik, menyerap dampak getaran, dan bisa membesar mengikuti ukuran tubuh pengguna.
Untuk Feng Jiu: Sebuah bola kristal berisi api biru dingin. [Inti Api Bulan Beku (Frozen Moon Flame Core)]. Efek: Mengubah api menjadi es yang membakar (Cold Fire), sangat efektif melawan perisai energi.
"Ambil," perintah Shen Yu. "Hapus jejak pemilik lama, dan jadikan itu bagian dari jiwa kalian. Aku ingin kalian menguasainya dalam tiga hari."
Ye Qing menyentuh gagang pedang cahaya itu. Saat jarinya bersentuhan, pedang itu pudar menjadi sinar dan masuk ke dalam pori-porinya.
"Hebat..." mata Ye Qing berbinar gila. "Dengan ini, aku bisa memotong leher Nascent Soul Puncak sebelum dia sadar kepalanya putus."
Cang Wu memeluk zirah tulang itu. Tulang-tulang itu merayap naik ke tubuhnya, menyatu dengan Tulang Iblis nya, membentuk lapisan pelindung eksternal yang mengerikan seperti monster prasejarah.
"Kuat," geram Cang Wu. Dia merasa tak terkalahkan.
"Bagus," kata Shen Yu. "Siapkan pasukan. Tiga hari lagi, kita berangkat ke Lembah Penyegel Jiwa. Kita tidak akan bersembunyi. Kita akan datang dengan panji perang berkibar, menantang mereka secara terbuka."
"BUNUH! BUNUH! BUNUH!" teriak para jenderal, semangat tempur mereka membakar langit-langit aula.
Di sudut ruangan, Su Ling berdiri diam memperhatikan mereka. Wajahnya tenang, memberikan senyum dukungan pada Shen Yu. Namun, di balik lengan bajunya, tangannya menggenggam erat Cermin Bulan yang dingin.
Malam Hari - Kamar Pribadi Su Ling.
Suasana pesta perang di luar sangat kontras dengan kesunyian di kamar ini.
Su Ling duduk sendirian di depan meja rias. Cermin Bulan Kuno tergeletak di depannya.
Dia menatap cermin itu. Bukan untuk meredakan sakit matanya, tapi untuk melihat Masa Depan.
Bayangan di cermin itu semakin jelas dari hari ke hari.
Di dalam cermin, dia melihat Lembah Penyegel Jiwa yang dipenuhi formasi merah darah. Dia melihat Shen Yu yang terikat rantai cahaya, meraung kesakitan saat Jantung Iblisnya ditarik paksa. Dia melihat Ye Qing dan Feng Jiu terkapar tak berdaya.
Dan dia melihat dirinya sendiri... berdiri di tengah mata formasi, tubuhnya bersinar terang, lalu meledak menjadi serpihan cahaya yang indah namun mematikan.
"Tidak ada jalan lain," batin Su Ling.
"Formasi Pembunuh Iblis Sembilan Surga tidak bisa dihancurkan dari luar. Hanya bisa dihancurkan dari dalam... dengan meledakkan sumber energi yang setara."
"Dan satu-satunya energi yang setara dengan Jantung Iblis Shen Yu... adalah Mata Iblis Surgawi milikku."
Air mata menetes di pipi Su Ling. Dia tidak takut mati. Dia hanya sedih karena harus meninggalkan Shen Yu sendirian di dunia yang kejam ini.
"Maafkan aku, Shen Yu," bisiknya. "Aku tidak bisa menepati janji untuk menemanimu selamanya."
Su Ling mengambil selembar kertas kulit roh. Dia mulai menulis.
[Surat Untuk Raja Iblisku]
"Shen Yu, saat kau membaca ini, aku mungkin sudah menjadi angin." "Jangan menangis. Jangan marah pada dunia. Ini adalah pilihanku." "Kau adalah Rajaku, dan aku adalah perisaimu. Adalah kehormatan bagiku untuk hancur demi melindungimu." "Cinta tidak harus memiliki. Cinta adalah memastikan orang yang kau cintai tetap bernapas." "Berjanjilah padaku satu hal: Jangan biarkan hatimu mati bersamaku. Temukan kebahagiaan, walau tanpaku." "Aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan di keabadian." —Su Ling.
Su Ling melipat surat itu. Dia tidak meninggalkannya di meja.
Dia mengambil sebuah Jimat Giok Pelindung yang sering dipakai Shen Yu (yang Shen Yu berikan padanya untuk diperbaiki energinya).
Su Ling menggigit ujung jarinya. Dengan darah dan teknik rahasia klan kuno, dia menyegel surat itu di dalam dimensi kecil jimat tersebut.
Lalu, dia melakukan sesuatu yang lebih ekstrem.
Dia memejamkan mata. Seberkas cahaya ungu (sebagian kecil dari kesadaran jiwanya) keluar dari dahinya dan masuk ke dalam jimat itu.
"Aku menanamkan sisa kesadaranku di sini. Jika nanti dia kehilangan kendali... mungkin suara terakhirku bisa mencegahnya menghancurkan dirinya sendiri."
Wajah Su Ling menjadi sangat pucat setelah ritual itu. Kultivasinya turun sedikit, tapi dia tidak peduli.
TOK. TOK.
Pintu kamar diketuk.
"Su Ling? Kau di dalam?" suara Shen Yu terdengar hangat dari luar.
Su Ling buru-buru menghapus air matanya, menyembunyikan aura kesedihannya dengan teknik ilusi, dan memasang senyum manis.
"Masuklah."
Shen Yu masuk. Dia baru selesai melatih pasukan. Dia melihat Su Ling duduk di depan meja.
"Kau belum tidur?" Shen Yu mendekat, mencium puncak kepala Su Ling. "Kau harus istirahat. Tiga hari lagi kita akan berperang."
"Aku sedang memperbaiki jimatmu," kata Su Ling, menyerahkan Jimat Giok itu pada Shen Yu. "Aku menambahkan mantra perlindungan ekstra."
Shen Yu menerima jimat itu, lalu menggantungkannya kembali di pinggangnya. Dia tidak menyadari bahwa di dalam benda kecil itu, tersimpan wasiat kematian kekasihnya.
"Terima kasih," kata Shen Yu. Dia menatap mata Su Ling. "Kau terlihat pucat. Apakah cermin itu menyakitimu lagi?"
"Tidak," bohong Su Ling. Dia berdiri dan memeluk Shen Yu erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu agar ekspresinya tidak terlihat.
"Shen Yu... peluk aku malam ini. Jangan lepaskan sampai pagi."
Shen Yu tersenyum lembut, membalas pelukan itu.
"Tentu saja. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang namun dingin, seolah menjadi saksi bisu atas perpisahan yang sedang dihitung mundur.
10 bab sehari kek pelit bener