Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: LIBURAN & PENGAKUAN
Revan mengangguk hormat, lalu meraih tangan Kakek. "Sudah waktunya, Kek. Menunggu lebih lama hanya akan memberi celah bagi Adrian dan Julian untuk menyakitinya lebih jauh. Saya minta maaf jika ini membuat nama besar Adiwijaya sedikit terguncang, tapi keselamatan Valerie adalah prioritas saya."
Kakek tertawa kecil, meskipun batuk tipis menyertainya. "Nama besar itu tidak ada artinya jika cucuku menderita. Aku bangga padamu, Revan. Aku tidak salah memilihmu untuk menjaganya."
Kakek meraih tangan Valerie dan tangan Revan, lalu menyatukan keduanya di atas selimutnya. "Sekarang rahasia itu sudah terbuka. Kalian tidak perlu lagi bersembunyi dan bisa tinggal bersama dengan tenang. Jangan biarkan Hendrawan atau Adrian menyentuhnya lagi."
"Kami akan selalu bersama, Kek," jawab Revan sambil menatap Valerie dengan tatapan yang sangat dalam dan protektif.
Setelah berbincang cukup lama dengan Kakek, Revan mengajak Valerie berjalan-jalan sebentar di taman rumah sakit untuk menghirup udara segar. Mereka duduk di sebuah bangku kayu yang dinaungi pohon rindang.
"Mas..." Valerie memulai pembicaraan, matanya menatap ke arah bunga-bunga yang bermekaran. "Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk tidak menyerah padaku saat keadaan menjadi sangat buruk kemarin."
Revan menoleh, lalu perlahan ia meraih tangan Valerie. Ia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang selalu berhasil membuat Valerie merasa tenang.
"Aku tidak akan pernah menyerah, Erie. Menikahimu mungkin awalnya adalah sebuah amanah, tapi sekarang... melindungimu adalah separuh dari hidupku," ucap Revan dengan suara baritonnya yang menenangkan.
Valerie menyandarkan kepalanya di bahu Revan. Ia merasa tidak perlu takut akan hari esok. Meskipun ia tahu Julian dan Adrian mungkin masih menyimpan dendam, selama ada Revan di sisinya, ia merasa sanggup menghadapi apa pun.
Tiba-tiba, ponsel Revan bergetar. Sebuah notifikasi masuk. Revan membukanya dan sedikit mengernyitkan dahi.
"Ada apa, Mas?" tanya Valerie.
"Julian," jawab Revan singkat. "Dia baru saja mengunggah pernyataan di forum kampus sesuai perintahku. Dia mengakui keterlibatannya dan meminta maaf secara terbuka kepadamu. Dia juga sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya ke dekanat."
Valerie menghela napas panjang. "Semoga ini benar-benar berakhir untuknya."
"Ini baru permulaan dari kehidupan baru kita, Erie," bisik Revan. Ia merangkul bahu Valerie, menariknya lebih dekat, membiarkan keheningan taman menjadi saksi bahwa kini mereka benar-benar telah memenangkan satu babak besar dalam hidup mereka.
Revan menyadari bahwa setelah badai yang begitu hebat, Valerie membutuhkan lebih dari sekadar perlindungan hukum, ia membutuhkan ketenangan jiwa. Keesokan harinya, tanpa banyak bicara, Revan meminta Valerie untuk mengemas pakaiannya.
"Kita akan pergi ke mana, Mas?" tanya Valerie bingung.
"Ke tempat di mana tidak ada gosip kampus, tidak ada Adrian, dan tidak ada Julian," jawab Revan sambil memasukkan koper kecil Valerie ke dalam bagasi. "Hanya kita berdua."
Revan membawa Valerie ke sebuah vila pribadi di kawasan pegunungan yang asri, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Vila itu dikelilingi oleh hutan pinus dan kabut tipis yang selalu menyelimuti teras setiap pagi.
Malam Pertama di Vila
Udara pegunungan yang sangat dingin membuat Valerie terus merapatkan sweternya. Di ruang tengah, Revan baru saja menyalakan perapian. Cahaya api yang menari-nari menciptakan bayangan panjang di dinding kayu vila.
Valerie datang membawa dua cangkir cokelat panas dan duduk di karpet bulu di depan perapian, tepat di samping Revan.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Mas. Rasanya seperti aku bisa bernapas lagi," bisik Valerie.
Revan menerima cangkir itu, namun matanya tidak lepas dari wajah Valerie yang kini tampak lebih rileks di bawah pendar api. "Aku ingin kau tahu bahwa kau bebas di sini, Erie. Tidak ada yang menilaimu. Kau bisa melukis, bisa berlari di hutan, atau hanya diam tanpa perlu takut dipantau oleh siapa pun."
Valerie menatap kobaran api, lalu perlahan ia memberanikan diri untuk menatap Revan. "Mas... selama ini aku selalu menganggap pernikahan ini sebagai 'kontrak penyelamatan'. Tapi belakangan ini, saat kau membelaku di aula, saat kau menjagaku... aku merasa ada sesuatu yang berubah di sini," Valerie menyentuh dadanya sendiri.
"Dulu aku takut padamu karena kau sangat dingin dan kaku. Tapi sekarang, aku justru takut jika aku harus kehilanganmu."
Revan tertegun. Ia meletakkan cangkirnya, lalu menatap Valerie dengan tatapan yang begitu intens, namun penuh dengan kepedihan masa lalu yang baru kali ini ia izinkan untuk terlihat.
"Erie, kau tahu..." suara Revan bergetar rendah. "Dulu, saat aku masih tinggal di paviliun belakang rumahmu sebagai anak seorang ART, aku sering melihatmu melukis di taman dari kejauhan. Bagiku saat itu, kau adalah matahari yang terlalu silau untuk kutatap. Aku hanya anak angkat yang bahkan tidak punya nama besar, sementara kau adalah putri mahkota Adiwijaya."
Valerie ternganga. Ia tidak pernah tahu bahwa Revan sudah memperhatikannya sejak lama.
"Aku bekerja keras, belajar hingga larut malam, dan berusaha membangun karir hukumku hanya agar aku bisa pantas berada di lingkaranmu. Tapi ironisnya, saat aku berhasil, statusku justru berubah menjadi 'pamanmu'. Gelar itu seperti tembok besar yang menghancurkan harapanku. Aku mencintaimu dalam diam, Erie. Cinta yang menurutku terlarang dan menjijikkan karena posisi kita."
Revan meraih tangan Valerie, menggenggamnya dengan jari-jari yang gemetar.
"Malam di klub itu... saat skandal itu meledak dan Papa-mu memaksaku menikahimu, bagi dunia itu adalah bencana. Tapi bagiku?" Revan tersenyum pahit namun tulus. "Itu adalah doa paling egois yang akhirnya dikabulkan. Aku merasa berdosa karena merasa bahagia di atas penderitaanmu saat itu. Aku bersikap dingin selama ini karena aku takut jika aku terlalu dekat, aku tidak akan bisa mengendalikan perasaan yang sudah kupendam selama belasan tahun ini."
Valerie merasakan air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak menyangka bahwa pria tangguh di depannya ini telah memikul beban perasaan yang begitu berat sendirian.
"Jadi... selama ini kau mencintaiku, Mas?" bisik Valerie.
Revan menatap Valerie, lalu perlahan ia menarik tangan Valerie dan memberikan kecupan yang sangat dalam di punggung tangannya, seolah sedang menyembah satu-satunya wanita yang ia puja sejak ia bukan siapa-siapa.
"Selalu, Erie. Dulu, sekarang, dan selama hukum di dunia ini masih berlaku, aku akan tetap mencintaimu. Bukan sebagai pamanmu, tapi sebagai pria yang beruntung bisa memilikimu."
Valerie tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia memajukan tubuhnya dan memeluk Revan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Ia baru menyadari bahwa perlindungan Revan yang selama ini terasa menyesakkan, sebenarnya adalah bentuk cinta yang sangat besar dari seorang pria yang pernah merasa tidak layak untuk mencintai.
Malam itu, di bawah temaram api perapian, rahasia hati Revan yang paling gelap akhirnya terang benderang, menyatukan mereka dalam ikatan yang jauh lebih kuat dari sekadar dokumen negara.
wahh mantap Thor.. updatenya dobel-dobel 👍