Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: FENOMENA LANGKA
Revan kembali menatap Valerie, kali ini dengan tatapan yang lebih intens. Ia mencondongkan wajahnya, hanya menyisakan jarak beberapa milimeter dari hidung Valerie. Aroma handuk basah dan sabun mawar dari tubuh Valerie mulai mengacaukan konsentrasi hukum di kepala Revan.
"Bagi orang lain mungkin biasa. Tapi tidak bagiku," bisik Revan, suaranya kini melunak, kehilangan nada otoriternya. "Besok, kau tetap bersamaku. Aku tidak ingin ada interupsi dari siapa pun. Mengerti?"
Valerie memberanikan diri. Ia tidak mundur, justru sedikit memajukan wajahnya hingga bibir mereka nyaris bersentuhan. "Kalau Mas tidak cemburu, kenapa jantung Mas detaknya kencang sekali? Aku bisa mendengarnya sampai sini."
Revan tersentak. Ia merasa seperti terdakwa yang skakmat oleh bukti nyata. Alih-alih menjawab, ia justru menarik napas panjang dan menarik diri sedikit. Ia merapikan piyama Valerie yang agak miring dengan tangan yang sedikit gemetar, sebuah gestur kecil yang sangat manis namun sarat akan kepemilikan.
"Itu karena aku baru saja... marah-marah di parkiran. Adrenalin," ucap Revan dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.
Ia kemudian berbalik, membelakangi Valerie agar gadis itu tidak melihat wajahnya yang mulai kacau. "Sudah, keringkan rambutmu. Jangan sampai sakit. Besok pagi aku yang akan mengantarmu sampai ke depan pintu kelas. Dan soal Julian... aku yang akan membalas pesannya. Tidurlah lebih dulu."
Begitu pintu kamar tertutup, Revan langsung menyandarkan punggungnya ke meja makan. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hampir saja..." gumamnya lirih.
Ia mengambil ponsel Valerie, jemarinya bergerak di atas layar. Bukannya membalas dengan kata-kata kasar, Revan justru mengetik pesan singkat yang sangat elegan namun "mematikan" status Julian.
"Terima kasih ajakannya, Pak Julian. Tapi besok Valerie ada janji makan siang dengan keluarga besarnya. Saya sendiri yang akan menjemputnya. Mari kita fokus pada agenda rapat fakultas besok saja. Salam, Revanza."
Pagi harinya di koridor Fakultas Hukum, suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Valerie berjalan dengan langkah kecil, mencoba menyeimbangkan ritme langkah Revan yang lebar namun sengaja diperlambat agar tetap berada di samping istrinya.
Dari kejauhan, Julian sudah berdiri di depan pintu ruang dosen, tampak rapi dengan kemeja slim-fit dan senyum yang langsung mengembang saat melihat Valerie. Namun, senyum itu perlahan memudar saat ia melihat siapa yang berjalan di samping gadis itu.
"Selamat pagi, Valerie. Pak Revan," sapa Julian, mencoba tetap sopan meski matanya menatap tajam ke arah Revan.
Revan berhenti tepat di depan Julian. Ia tidak melepaskan tangannya yang membawa tas buku milik Valerie, sebuah tindakan yang sebenarnya terlalu "manis" untuk ukuran seorang dosen kepada mahasiswinya, namun Revan melakukannya dengan wajah sedatar tembok.
"Pak Julian," sahut Revan pendek. "Saya rasa pesan saya tadi malam sudah cukup jelas soal agenda makan siang."
Julian terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Tentu, Pak Revan. Saya hanya terkejut Bapak begitu memperhatikan jadwal makan siang mahasiswi Bapak sendiri. Apa keluarga Adiwijaya memberikan mandat khusus kepada Anda sampai urusan makan pun harus Anda yang atur?"
Valerie merasa jantungnya berpacu. Ia menoleh pada Revan, takut pria itu akan meledak dan membongkar rahasia mereka.
Revan justru maju satu langkah, membuat Julian harus sedikit mendongak. "Mandat saya adalah memastikan Valerie tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak relevan dengan pendidikannya. Termasuk... undangan makan siang yang dibungkus dengan alasan kesehatan keluarga."
Julian menatap Valerie. "Val, aku hanya ingin memberitahu perkembangan dokter spesialis yang menangani Kakekmu di rumah sakit pusat. Aku pikir kau ingin tahu."
Valerie tampak bimbang. Ia memang sangat mengkhawatirkan Kakeknya. Melihat keraguan di mata Valerie, emosi Revan kembali terusik. Namun, alih-alih mengaku cemburu, Revan justru melakukan tindakan yang sangat berisiko.
Revan merogoh saku kemejanya, mengeluarkan selembar sapu tangan bersih, lalu dengan gerakan sangat lembut namun penuh penekanan ia mengusap sudut bibir Valerie yang sebenarnya bersih.
"Ada sisa selai dari sarapan tadi, Erie," ucap Revan dengan suara bariton yang lembut namun sengaja dikeraskan agar Julian mendengar. "Lain kali, perhatikan penampilanmu sebelum keluar rumah. Aku tidak ingin orang menganggap wali-mu tidak mengurusmu dengan benar."
Julian mematung. Tindakan itu terlalu intim. Terlalu pribadi. Tidak ada dosen atau paman mana pun yang mengusap bibir keponakannya dengan tatapan seposesif itu.
"Ehem," Julian berdehem keras, wajahnya mulai memerah. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Val, nanti aku kirimkan detail soal Kakek lewat pesan saja, karena sepertinya... 'Wali'-mu ini sangat sibuk hari ini."
Setelah Julian pergi dengan langkah gusar, Valerie langsung menarik ujung kemeja Revan.
"Mas! Apa yang kau lakukan? Tadi itu hampir saja..." bisik Valerie panik.
Revan memasukkan kembali sapu tangannya, wajahnya kembali dingin namun ada kilat kepuasan di matanya. "Aku hanya merapikan penampilanmu, Erie. Itu tugas logis seorang suami, bukan?"
"Tapi tidak ada selai di bibirku!" protes Valerie.
Revan terdiam sejenak, lalu ia menunduk, berbisik tepat di telinga Valerie hingga napasnya membuat Valerie merinding. "Memang tidak ada. Aku hanya ingin dia tahu bahwa area itu... sudah ada yang memiliki hak aksesnya. Masuklah ke kelas. Aku akan menjemputmu tepat jam dua belas."
Revan berbalik dan berjalan menuju ruangannya dengan langkah tegap, meninggalkan Valerie yang mematung di koridor dengan wajah semerah tomat.
Julian berdiri di koridor sambil menatap punggung Revan yang menjauh. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku celana.
"Sejak kapan seorang wali mengurusi selai di bibir keponakannya seserius itu?" batin Julian geram.
Bagi Julian, Revan hanyalah pria yang beruntung karena kepercayaan Kakek Adiwijaya. Ia menganggap Revan sebagai penghalang jalannya untuk mendekati Valerie.
Karin Tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya. Begitu Valerie melangkah masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku biasanya, Karin langsung menggeser kursinya hingga menimbulkan suara decit yang nyaring, membuat beberapa mahasiswa lain menoleh.
"Valerie Adiwijaya," bisik Karin dengan nada menginterogasi, matanya menyipit tajam. "Tolong jelaskan padaku, fenomena alam apa yang baru saja terjadi di koridor?"
Valerie mencoba menyibukkan diri dengan mengeluarkan buku catatan, tangannya masih sedikit gemetar. "Fenomena apa? Tidak ada apa-apa, Karin."
"Jangan bohong! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri," Karin mendekatkan wajahnya, suaranya naik satu oktav karena antusias. "Pak Revan, dosen paling kaku, paling dingin, dan paling anti-sentuhan fisik di fakultas ini baru saja mengusap bibirmu. Dan cara dia menatapmu... itu bukan tatapan seorang paman kepada keponakannya, Val. Itu tatapan pria yang siap menandai wilayahnya!"
Valerie menelan ludah, mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Dia... dia hanya disiplin. Kau tahu kan Mas Revan sangat menjaga image keluarga Kakek. Dia tidak ingin aku terlihat berantakan di kampus."
"Disiplin?" Karin tertawa sangsi. "Kemarin di parkiran dia mengusir pria berantakan itu seperti singa yang melindungi betinanya. Tadi, dia menyingkirkan Pak Julian dosen paling idola di sini seperti mengusir lalat pengganggu. Dan sekarang kau bilang itu cuma disiplin?"
Karin menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada sambil menatap Valerie penuh selidik. "Val, jujur padaku. Apa ada sesuatu di antara kalian? Maksudku, aku dengar dari pak Julian kalian bahkan tinggal di apartemen yang sama? Statusnya memang 'Wali', tapi kalau walinya setampan dan seposesif Pak Revan..."