NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di bawah bintang bab 2

Malam turun dengan lembut di desa kecil itu.

Bintang-bintang bertaburan di langit seperti butir doa yang jatuh perlahan dari tangan Tuhan.

Aira duduk di ayunan taman, mengenakan selimut tipis, matanya menatap langit tanpa berkedip.

Alya datang membawa dua gelas susu hangat.

“Kamu belum tidur, Nak?” tanyanya lembut sambil menyerahkan segelas ke Aira.

Aira menggeleng, rambutnya bergoyang kecil.

“Belum, Bu. Aku lagi lihat jejak bintang.”

Alya tersenyum. “Jejak bintang?”

Aira menunjuk ke langit. “Iya. Kata Ayah, kalau bintang jatuh, dia ninggalin jejak kecil di langit. Aku pengen tahu ke mana mereka pergi.”

Alya duduk di sampingnya.

“Kadang bintang jatuh bukan karena hilang, Aira. Tapi karena dia udah nemu tempat baru buat bersinar.”

Aira terdiam, lalu menatap wajah ibunya. “Kayak Ayah, ya, Bu?”

Alya mengerjap pelan. “Ayah kamu?”

Aira mengangguk pelan. “Iya. Dulu waktu Ayah sering pergi kerja, aku pikir Ayah juga bintang yang jatuh. Tapi Ayah selalu pulang. Jadi mungkin dia bintang yang pulang ke langitnya.”

Alya menatap anaknya, bibirnya bergetar kecil. Ia tersenyum, tapi ada air hangat yang menitik di matanya.

“Iya, Nak. Ayah kamu selalu pulang. Karena langitnya ada di sini — di rumah ini, di kita.”

Mereka duduk berdua lama.

Angin malam membawa aroma bunga lavender yang sudah mulai bermekaran.

Dari kejauhan, suara jangkrik terdengar seperti irama tenang yang menemaninya bicara.

Beberapa hari kemudian, pagi datang dengan cahaya keemasan.

Aira sudah duduk di teras, membawa buku catatan kecil bergambar awan.

Ia sedang menulis sesuatu dengan pensil yang sudah pendek.

Raka keluar sambil mengancingkan kemeja kerjanya. “Lagi nulis apa, Langit kecil Ayah?”

Aira tersenyum lebar. “Nulis nama-nama bintang.”

Raka mendekat, membaca tulisan tangan kecil itu.

“Bintang Doa, Bintang Ibu, Bintang Ayah, Bintang Lavender, dan Bintang Aira…” Ia tertawa kecil. “Kenapa banyak banget?”

Aira menatapnya serius. “Karena tiap hari Aira lihat bintang beda-beda, Ayah. Jadi Aira mau kasih nama biar mereka nggak sendirian.”

Raka menatap anaknya lama, lalu mengusap kepala kecil itu.

“Kamu tahu nggak, Aira? Kadang Ayah juga ngasih nama ke waktu.”

Aira memiringkan kepala. “Nama ke waktu?”

“Iya. Waktu pagi Ayah kasih nama Awal, waktu siang namanya Sabar, dan waktu malam namanya Syukur.”

Aira terdiam, menatap ayahnya kagum. “Berarti Aira juga bisa kasih nama ke hari?”

“Tentu bisa.”

Aira berpikir sebentar, lalu tersenyum. “Kalau gitu, hari ini aku namain Langit Tersenyum.”

Raka tertawa kecil. “Itu nama paling indah yang pernah Ayah dengar.”

Sore itu, Aira bermain di taman bersama Alya.

Ia membawa ember kecil berisi air, menyiram bunga flamboyan yang mulai berdaun lebat.

“Bu,” katanya pelan, “bunga ini kayak keluarga kita, ya?”

Alya berhenti menyiram. “Maksudnya?”

“Dulu kan cuma satu pohon. Tapi lama-lama jadi banyak bunga. Kayak kita, dulu cuma Ayah sama Ibu, terus ada Aira.”

Alya tersenyum, hatinya menghangat. “Iya, Aira benar. Dan tahu nggak, setiap kali satu bunga tumbuh, itu artinya cinta kita juga nambah satu.”

Aira menatap bunga itu lama. “Berarti cinta kita udah banyak banget, ya, Bu.”

Alya mengangguk sambil memeluk anaknya. “Iya, Sayang. Cinta kita nggak bisa dihitung. Kayak bintang di langit malam.”

Aira tersenyum kecil. “Makanya Aira mau jadi bintang yang paling terang, biar Ayah sama Ibu bisa lihat Aira dari mana pun.”

Alya mengelus pipinya. “Kamu udah jadi cahaya buat kita, Nak.”

Langit sore itu mulai memerah, seolah ikut mendengar percakapan mereka.

Dari balik awan, cahaya jingga turun perlahan, menyelimuti taman itu seperti pelukan lembut dari langit.

Malam datang lagi.

Aira duduk di jendela kamarnya, memandangi langit penuh bintang.

Tangannya memegang buku catatan kecil yang sama. Di halaman terakhir, ia menulis dengan huruf besar:

“Jejak di Bawah Bintang tempat semua cinta bersembunyi.”

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka pelan.

Raka masuk, membawa segelas susu hangat.

“Udah malam, Aira. Tidur, ya.”

Aira menoleh. “Ayah, boleh Aira tanya?”

“Tentu boleh.”

Aira menatap jendela. “Kenapa bintang nggak pernah jatuh ke bumi?”

Raka tersenyum, lalu duduk di sampingnya.

“Karena kalau semua bintang jatuh, langit jadi gelap. Jadi kadang, mereka harus tetap di atas, biar dunia tetap punya cahaya.”

Aira menatap langit lama. “Berarti kayak Ibu, ya? Ibu selalu jaga Aira dari jauh, biar Aira nggak gelap.”

Raka menatapnya lembut. “Iya, dan Ayah juga begitu.”

Aira tersenyum, memeluk ayahnya. “Kalau gitu, Aira janji nggak akan berhenti nyari jejak bintang. Biar Aira selalu ingat Ayah sama Ibu, bahkan nanti kalau Aira udah besar.”

Raka mengusap punggungnya, hatinya hangat dan perih di saat yang sama.

“Janji, ya?”

“Janji, Ayah.”

Langit malam itu tampak lebih terang dari biasanya.

Dan di bawah cahaya bintang-bintang itu, janji kecil seorang anak kembali tercatat di langit sederhana, tapi abadi.

“Bintang tidak jatuh.

Ia hanya pindah tempat ke dalam hati orang yang mencintai.”

Hari-hari berlalu dengan tenang di rumah kecil itu.

Pagi datang bersama suara burung, dan sore selalu ditutup dengan warna langit yang berubah perlahan dari biru menjadi jingga.

Bagi Aira, setiap hari adalah petualangan kecil.

Ia sering berjalan di taman sambil membawa buku catatan kecilnya.

Kadang ia berhenti di dekat pohon flamboyan, kadang di bawah pot lavender yang wangi.

Hari itu, setelah pulang dari sekolah, Aira duduk di bangku taman sambil membuka buku catatannya.

Di halaman baru ia menulis:

“Hari ini langit terlihat lebih jauh.

Tapi bintang tetap pulang ke tempat yang sama.”

Alya yang sedang menyiram tanaman melihat tulisan itu.

“Kamu menulis lagi, Aira?”

Aira mengangguk.

“Aira cuma takut lupa.”

“Lupa apa?”

Aira menatap taman di sekelilingnya.

“Lupa rumah.”

Alya terdiam sejenak.

Ia duduk di samping anaknya dan mengelus rambutnya dengan lembut.

“Kamu tidak akan lupa rumah, Nak.”

“Kenapa?”

“Karena rumah bukan cuma tempat. Rumah itu orang-orang yang kamu cintai.”

Aira memikirkan kata-kata itu lama.

Lalu ia menulis lagi di bukunya.

“Rumah adalah tempat di mana Ayah, Ibu, dan langit bertemu.”

Sore itu Raka pulang agak terlambat dari biasanya.

Langit sudah berubah menjadi ungu tua ketika ia membuka pintu halaman.

Aira yang sedang duduk di ayunan langsung berlari menghampirinya.

“Ayah!”

Raka tertawa kecil dan mengangkatnya.

“Wah, Langit kecil Ayah kangen ya?”

“Iya!”

Aira lalu menunjukkan buku catatannya.

“Ayah lihat ini!”

Raka membaca tulisan kecil di halaman itu.

Ia tersenyum.

“Kamu tahu, tulisan kamu ini seperti puisi.”

Aira memiringkan kepala.

“Puisi itu apa?”

“Puisi adalah cara hati berbicara.”

Aira tertawa kecil.

“Berarti hati Aira cerewet.”

Raka ikut tertawa.

“Tidak cerewet. Hati kamu hanya ingin didengar.”

Malam datang dengan langit yang jernih.

Setelah makan malam, mereka bertiga duduk di taman seperti biasa.

Aira berbaring di rumput sambil menatap bintang-bintang.

“Ayah…”

“Iya?”

“Kalau suatu hari Aira besar dan pergi jauh, apakah bintang yang sama masih ada?”

Raka dan Alya saling berpandangan.

Raka menjawab perlahan.

“Bintang yang sama akan selalu ada.

Yang berubah hanya tempat kita berdiri untuk melihatnya.”

Aira memikirkan itu lama.

“Berarti kalau Aira jauh dari rumah…”

“Iya?”

“Aira masih bisa lihat bintang yang sama dengan Ayah dan Ibu?”

Alya menggenggam tangan kecilnya.

“Tentu saja.”

Angin malam berhembus lembut.

Daun flamboyan bergerak perlahan seperti ikut mendengarkan percakapan kecil itu.

Aira lalu membuka buku catatannya sekali lagi.

Di halaman baru ia menulis dengan hati-hati:

“Bintang adalah jalan pulang.

Selama kita masih melihatnya, kita tidak pernah benar-benar tersesat.”

Raka membaca tulisan itu dari balik bahunya.

Ia mengusap kepala Aira dengan bangga.

“Suatu hari nanti kamu akan punya banyak cerita.”

Aira menutup bukunya.

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa?”

“Selama Ayah dan Ibu ada di cerita itu.”

Alya memeluknya erat.

Malam terasa lebih hangat dari biasanya.

Di atas mereka, bintang-bintang tetap bersinar, seperti saksi kecil dari setiap kata yang diucapkan malam itu.

Dan tanpa mereka sadari, jejak kecil keluarga itu mulai tertulis di langit satu cerita, satu kenangan, satu cinta yang terus tumbuh.

Malam di desa kecil itu selalu datang dengan tenang.

Tidak ada suara kendaraan yang ramai, hanya angin lembut dan nyanyian serangga malam yang mengisi udara.

Aira duduk di halaman rumah bersama Alya dan Raka.

Rumput di taman terasa dingin di bawah kakinya, tapi ia tidak peduli. Matanya masih sibuk menatap langit.

Di tangannya ada buku catatan kecil yang hampir penuh.

“Bu,” katanya pelan, “Aira hampir kehabisan halaman.”

Alya tersenyum.

“Berarti kamu sudah menulis banyak cerita.”

Aira membuka halaman terakhir.

“Ini halaman terakhir.”

Raka menatap buku kecil itu.

“Kalau begitu, halaman terakhir harus jadi yang paling spesial.”

Aira berpikir sebentar.

“Kenapa?”

“Karena itu penutup dari semua cerita yang sudah kamu tulis.”

Aira menatap langit lagi.

Bintang-bintang malam itu terlihat lebih terang dari biasanya.

“Ayah… kalau Aira menulis tentang kita, apakah cerita ini akan selesai?”

Raka menggeleng.

“Cerita keluarga tidak pernah benar-benar selesai.”

“Kenapa?”

“Karena selama kita masih hidup dan saling mengingat, ceritanya akan terus berjalan.”

Aira menatap wajah ayahnya lama.

Lalu ia mulai menulis perlahan di halaman terakhir.

Tulisan tangannya kecil, tapi rapi.

“Di bawah bintang-bintang ini, ada tiga orang yang selalu pulang ke rumah yang sama.”

Ia berhenti sebentar.

Lalu menambahkan satu kalimat lagi.

“Ayah, Ibu, dan Aira.”

Alya membaca tulisan itu dan matanya langsung berkaca-kaca.

Ia memeluk anaknya dengan lembut.

“Aira menulis cerita yang sangat indah.”

Aira tersenyum kecil.

“Karena ceritanya memang indah.”

Angin malam berhembus lebih pelan.

Daun-daun flamboyan bergerak seperti ikut berbisik dengan langit.

Raka berdiri lalu mengambil selimut kecil dari kursi taman.

Ia menaruhnya di bahu Aira.

“Nanti kamu masuk angin.”

Aira tertawa kecil.

“Aira tidak kedinginan.”

“Tetap saja harus pakai selimut.”

Aira menatap ayahnya.

“Ayah selalu khawatir.”

Raka mengangkat bahu.

“Begitulah pekerjaan seorang ayah.”

Aira menutup buku catatannya.

“Ayah, kalau suatu hari Aira besar, apakah kita masih bisa duduk di sini?”

Alya dan Raka saling berpandangan.

Raka menjawab dengan suara lembut.

“Mungkin tempatnya berubah.”

Aira mengerutkan dahi.

“Tapi?”

“Tapi langitnya tetap sama.”

Alya menambahkan,

“Dan selama kita masih melihat langit yang sama, kita tetap keluarga yang sama.”

Aira tersenyum lega.

Ia berbaring di rumput dan menatap bintang-bintang.

“Berarti Aira tidak akan pernah benar-benar jauh.”

Raka duduk di sampingnya.

“Tidak pernah.”

Beberapa menit mereka hanya diam.

Malam terasa sangat tenang.

Aira memecah keheningan.

“Ayah…”

“Iya?”

“Aira sekarang tahu kenapa Ayah suka melihat langit.”

“Kenapa?”

Aira menunjuk ke bintang paling terang.

“Karena langit menyimpan semua cerita.”

Raka tersenyum.

“Dan kamu sekarang bagian dari cerita itu.”

Aira tertawa kecil.

“Berarti Aira juga bintang?”

Alya mengangguk.

“Bintang yang paling dekat dengan hati Ibu.”

Aira memejamkan mata sebentar.

Angin malam terasa hangat di wajahnya.

“Aira senang punya rumah ini.”

Raka menatap rumah kecil mereka yang berdiri di balik taman.

Lampu teras menyala lembut.

“Itu karena rumah ini dibangun dengan cinta.”

Alya menambahkan,

“Dan cinta selalu menemukan jalan pulangnya.”

Sebelum masuk ke rumah, Aira berdiri sekali lagi dan menatap langit.

“Terima kasih, langit.”

Raka tersenyum.

“Untuk apa?”

“Untuk semua bintang.”

Alya menggenggam tangan kecilnya.

“Dan untuk semua cerita.”

Aira menatap buku catatannya yang sudah penuh.

Meskipun halamannya habis, hatinya terasa penuh dengan sesuatu yang baru.

Kenangan.

Dan di bawah langit yang sama, jejak kecil keluarga itu tetap tertulis di antara bintang-bintang.

Tidak terlihat oleh semua orang.

Tapi cukup terang untuk mereka yang tahu ke mana harus melihat.

1
Dania
wow bagus .semangat tor
Dhila Azahra
😍👍
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!