Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Leon… aku…” ucapku sendu.
Kalimat itu menggantung di udara. Dadaku sesak, kata-kata yang ingin keluar terasa tertahan di tenggorokan.
“Tak perlu jelaskan. Aku tahu kamu lagi sangat terluka,” jawab Leon pelan, tatapannya lembut menenangkan.
Aku menunduk, mengusap air mata yang terus mengalir tanpa izin. Rasanya melelahkan… berpura-pura kuat padahal di dalam aku hancur.
“Leon,” lirihku lagi, “apa kamu percaya akan cinta?”
Leon mengerutkan keningnya, sedikit terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba. Namun sedetik kemudian ia tersenyum tipis.
“Tentu,” jawabnya mantap.
Aku menatapnya, mencoba mencari keyakinan dalam sorot matanya.
“Cinta itu bukan tentang siapa yang paling sempurna,” lanjutnya pelan, “tapi tentang siapa yang tetap memilih bertahan, bahkan saat keadaan tidak sempurna.”
Dadaku terasa semakin sesak.
“Kalau begitu… kenapa rasanya sakit sekali, Leon?” suaraku bergetar. “Kenapa saat aku mulai percaya, semuanya justru terasa semakin menyakitkan?”
Leon terdiam sejenak. Tatapannya berubah sendu.
“Karena kamu mencintai dengan tulus,” katanya akhirnya. “Dan orang yang mencintai dengan tulus… selalu paling berisiko terluka.”
Air mataku jatuh lagi.
Mungkin benar. Mungkin aku memang terlalu tulus. Atau mungkin… aku hanya mencintai orang yang salah.
Leon mengulurkan tangannya, tak memaksaku untuk menggenggamnya. Hanya menawarkan.
“Jangan berhenti percaya pada cinta hanya karena satu orang gagal menjaganya,” ucapnya lembut. “Cinta itu tetap indah. Hanya saja, tidak semua orang pantas menerimanya.”
Aku menatap tangannya yang terbuka.
Ia mengangkat tangannya, seolah ingin menghapus air mataku, namun ragu. Hanya berhenti beberapa senti dari wajahku.
Dan saat itulah—
Suara rem mobil berdecit cukup keras di depan kami.
Sebuah mobil berhenti mendadak di tepi jalan.
Aku refleks menoleh.
Pintu mobil terbuka.
Mas Bram turun.
Langkahnya pelan tapi pasti, jasnya masih rapi seperti habis dari kantor. Sorot matanya tajam, tepat mengarah pada Leon yang berdiri di depanku.
Lampu jalan memantulkan bayangan kami bertiga di aspal yang mulai gelap.
“Romantis sekali,” ucapnya datar.
Jantungku seperti jatuh ke kaki.
“Mas…” suaraku tercekat.
Leon menurunkan tangannya, langsung menjaga jarak.
Tanpa basa-basi, Mas Bram menarik tanganku.
“Mas—!” seruku kaget saat pergelangan tanganku digenggam erat.
“Kita pulang,” ucapnya dingin, seolah tak ada ruang untuk bantahan.
Leon tampak terkejut, jelas tidak mengenal siapa pria yang tiba-tiba datang dan bersikap seolah memiliki hak atasku.
“Maaf, Pak… jangan paksa dia,” ucap Leon tegas namun tetap sopan. “Kalau dia tidak mau, jangan dipaksa.”
Bram berhenti sebentar. Tatapannya beralih pada Leon untuk pertama kalinya.
Tatapan dua pria asing yang sama-sama tidak saling mengenal.
“Ini urusan saya dan dia,” jawab Bram singkat. Tidak menjelaskan siapa dirinya. Tidak merasa perlu.
Leon mengerutkan kening. “Kalau begitu pastikan dulu dia memang ingin ikut.”
Aku terdiam di tengah mereka.
Lampu jalan memantulkan bayangan kami di aspal, suara kendaraan terus melintas seakan tak peduli pada ketegangan yang terjadi.
“Mas… lepaskan,” kataku pelan. “Orang-orang lihat…”
Baru saat itu genggaman Bram sedikit melonggar, tapi tangannya tetap menuntunku menuju mobil.
Leon tidak mengejar. Ia hanya berdiri di tempat, menatap dengan kekhawatiran yang jelas.
Pintu mobil tertutup.
Mesin menyala.
Dan mobil melaju meninggalkan Leon yang kini hanya menjadi siluet di bawah lampu jalan.
Beberapa menit di dalam mobil terasa lebih menyesakkan daripada udara luar.
“Dia siapa?” tanya Bram akhirnya, suaranya rendah.
“Hanya teman,” jawabku jujur.
“Hanya teman sampai kamu menangis di depannya?”
Aku menoleh. “Dia orang yang kebetulan ada saat kamu tidak ada.”
Kalimat itu membuat suasana langsung membeku.
Bram tidak mengenal Leon. Leon pun tidak tahu siapa Bram sebenarnya bagiku.
Yang mereka tahu hanyalah satu hal sederhana—
Aku berdiri di antara dua pria, dan tidak satu pun dari mereka benar-benar tahu isi hatiku.
Mobil kembali berhenti di lampu merah.
Cahaya merah memantul di wajah Bram yang terlihat tegang.
“Lain kali,” ucapnya pelan namun tegas, “jangan buat orang asing merasa punya hak untuk berdiri sedekat itu denganmu.”
Orang asing.
Entah kenapa kata itu terasa ironis.
Karena terkadang… yang paling terasa asing justru orang yang duduk tepat di sampingku sekarang.
“Mas Bram… mobilku gimana?” tanyaku saat mobilnya melaju cukup kencang membelah jalan malam.
“Orang kantor yang bawa,” jawabnya singkat tanpa menoleh.
Aku mengangguk pelan, lalu kembali menatap ke depan. Sunyi lagi.
Beberapa detik kemudian ia bersuara, nadanya berat.
“Aku nggak suka kamu dekat dengan pria mana pun.”
Aku menoleh cepat. “Kenapa nggak suka?!”
Suaraku naik tanpa bisa kutahan.
“Kamu juga berhak nikah diam-diam, jadikan aku istri kedua,” sinisku tajam. “Aku nggak pernah protes waktu itu, kan?”
Mobil mendadak direm sedikit lebih keras.
Suasana berubah panas dalam hitungan detik.
“Jangan samakan,” ucapnya tegas. “Itu beda.”
“Beda di mana, Mas?” tawaku hambar. “Kamu menikahiku tanpa memberiku pilihan. Kamu tidak pernah jujur soal semuanya. Dan sekarang kamu cemburu karena aku berdiri di pinggir jalan dengan pria lain?”
Bram terdiam, rahangnya mengeras.
“Kamu pikir mudah bagiku?” balasnya rendah. “Semua keputusan itu—”
“Keputusan siapa?” potongku. “Keputusan kamu. Bukan keputusanku.”
Air mataku jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena lemah.
Karena marah.
“Aku cuma manusia, Mas,” lirihku. “Aku juga butuh dihargai. Aku bukan properti yang bisa kamu simpan lalu marah ketika orang lain mendekat.”
Mobil kembali melaju dalam diam yang menusuk.
Beberapa saat kemudian, suaranya terdengar lebih pelan.
“Aku tidak pernah berniat menyakitimu.”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Kalimat itu menggantung di antara kami.
Lampu jalan menyapu wajahnya, memperlihatkan garis kelelahan yang jarang kusadari.
“Aku tidak suka melihat kamu bersama pria lain,” ucapnya akhirnya, kali ini tanpa nada tinggi. “Karena… aku takut.”
Aku menoleh.
“Takkut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat aku jaga dengan benar.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Pengakuan itu sederhana. Tidak romantis. Tidak indah.
Tapi nyata.
Namun lukaku… juga nyata.
“Mas,” bisikku pelan, “kamu tidak bisa menuntut kesetiaan penuh dari hatiku, sementara sejak awal kamu membaginya.”
Mobil berhenti tepat di halaman rumah.
Sepanjang perjalanan, tak ada lagi yang kami bicarakan. Ucapan terakhirku masih menggantung di udara—tentang hati yang sejak awal sudah dibagi.
Aku turun tanpa menunggunya membukakan pintu.
Langkahku terasa berat saat masuk ke dalam rumah.
Namun baru saja kakiku melewati ambang pintu—
Aku membeku.
Di ruang tamu, duduk seorang wanita yang wajahnya tak asing lagi bagiku.
Elegan. Tenang. Dan seolah berada di tempat yang memang miliknya.
Monika.
Istri pertama Mas Bram.
Ia berdiri perlahan saat melihatku, bibirnya melengkung tipis.
“Selamat malam,” sapanya lembut, terlalu lembut hingga terdengar menusuk.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Mas Bram yang baru saja masuk di belakangku ikut terdiam.
“Monika…?” suaranya terdengar kaku.
“Aku sudah bicara dengan Mama,” jawabnya santai. “Untuk sementara… aku akan tinggal di sini.”
Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong.
“Apa?” suaraku hampir tak terdengar.
Monika menatapku dari ujung kepala sampai kaki, bukan dengan kebencian—justru dengan senyum tipis penuh arti.
“Rumah ini juga rumahku,” ucapnya ringan. “Secara hukum, aku masih istri sah Mas Bram
****