NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Dewa

Reinkarnasi Pendekar Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:6.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Boqin Changing

Boqin Changing, Pendekar No 1 yang berhasil kembali ke masa lalunya dengan bantuan sebuah bola ajaib.

Ada banyak peristiwa buruk masa lalunya yang ingin dia ubah. Apakah Boqin Changing berhasil menjalankan misinya? Ataukah suratan takdir adalah sesuatu yang tidak bisa dia ubah sampai kapanpun?

Simak petualangan Sang Pendekar Dewa saat kembali ke masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemberian Yuo Liang

Benda yang diberikan Yuo Liang adalah Apel Emas. Apel Emas termasuk sumber daya yang sangat langka di Kekaisaran Qin. Buah ini hanya tumbuh setiap lima puluh tahun sekali, dan dalam satu kali panen, satu pohon hanya menghasilkan beberapa buah saja.

Apel Emas sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas tulang penggunanya. Karena manfaatnya yang besar dan jumlahnya yang sangat terbatas, harga sumber daya ini pun menjadi sangat mahal.

Melihat pemberian Yuo Liang tersebut, Boqin Changing terkejut. Sumber daya ini jelas sangat dibutuhkannya untuk menaikkan kualitas tulangnya dari tulang baja menjadi tulang perunggu. Namun, ia merasa pemberian Yuo Liang terlalu berlebihan untuknya.

“Paman, maaf. Aku tidak bisa menerima pemberian ini,” ucap Boqin Changing sambil menyerahkan kembali bungkusan itu.

“Ayolah, Chang’er, terimalah. Ini adalah balas budiku atas bantuanmu.”

Dalam dunia pendekar, membalas budi adalah hal yang lumrah dilakukan, terlebih jika menyangkut nyawa seseorang. Yuo Liang merasa bantuan dari Boqin Changing kali ini memang pantas diganjar dengan hadiah yang tinggi.

“Tapi, Paman.....”

“Sudahlah, Chang’er, terima saja. Aku akan terus merasa berutang budi jika tidak segera membalasnya,” potong Yuo Liang.

“Baiklah, Paman. Aku mengucapkan terima kasih atas pemberian Paman ini. Mulai sekarang, tidak ada lagi utang budi di antara kita.”

“Lalu, Saudara Tian. Sejujurnya, aku tidak membawa banyak barang berharga saat ini. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu,” ucap Yuo Liang sambil menyerahkan sebuah kantong kulit kepada Wang Tian.

“Saudara Liang, aku tidak membantu apa-apa. Aku rasa aku tidak perlu menerima apa pun darimu,” tolak Wang Tian.

“Tidak, Saudara Tian. Kau jelas membantuku membereskan kekacauan yang kubuat di atas kapal ini. Tanpamu, mungkin sampai sekarang para penumpang masih takut padaku.”

“Lagipula, kau adalah guru dari Chang’er. Aku rasa pantas jika kau juga mendapatkan kompensasi dariku.”

Wang Tian kemudian membuka kantong kulit pemberian Yuo Liang. Begitu melihat isinya, ia terkejut karena di dalamnya terdapat cukup banyak pil berharga.

“Saudara Liang, ini terlalu banyak.”

“Hohoho, tidak apa-apa, Saudara Tian. Kau juga bisa memberikannya kepada Chang’er sebagai sumber daya beladirinya.”

Mendengar bahwa sumber daya ini juga bisa dikonsumsi oleh muridnya, Wang Tian terdiam. Ia tahu betul bahwa kebutuhan sumber daya bagi seorang pendekar seakan tidak pernah ada habisnya.

Semakin tinggi ranah yang ingin dicapai, semakin besar pula sumber daya yang dibutuhkan. Muridnya ini sangat spesial dan membutuhkan banyak sumber daya untuk meningkatkan kultivasinya.

“Baiklah, Saudara Liang. Aku terima hadiah darimu. Terima kasih.”

Yuo Liang adalah orang yang cerdas. Ia tahu bahwa jika perkembangan Boqin Changing tidak terganggu, di masa depan anak itu akan menjadi pendekar terkuat di Kekaisaran Qin. Berbuat baik kepada mereka saat ini, ketika Boqin Changing belum benar-benar kuat, akan membekas di hatinya.

Jika ia bisa mengikat hati Boqin Changing dan gurunya sekarang, maka di masa depan akan lebih mudah baginya untuk meminta bantuan apabila dirinya atau paviliun mengalami masalah.

“Oh ya, satu hal lagi, Saudara Tian. Jika kau dan muridmu pergi ke ibu kota, berkunjunglah ke Paviliun Teratai Naga. Kami akan menyambut kalian dengan baik,” ucap Yuo Liang sambil menyerahkan token paviliunnya.

Wang Tian menerima token tersebut, lalu mereka melanjutkan sarapan pagi bersama. Obrolan-obrolan ringan pun terjadi di antara mereka. Setiap kali pembicaraan menyangkut Boqin Changing, Yuo Liang tidak henti-hentinya terkejut.

“Anak ini sungguh monster. Hanya dalam waktu dua tahun, dia bisa mencapai ranah pendekar ahli dari pendekar menengah,” gumam Yuo Liang setelah mendengar cerita dari Wang Tian.

Andaikata saat ini Wang Tian tidak berada di hadapannya, Yuo Liang pasti akan mengajak Boqin Changing bergabung dengan Paviliun Teratai Naga. Ia yakin para petinggi paviliun akan memberikan sumber daya terbaik agar anak ini bisa berkembang lebih jauh.

Setelah selesai makan pagi, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Perjalanan menuju lokasi selanjutnya masih memakan waktu sekitar dua hari. Yuo Liang juga perlu beristirahat untuk memulihkan kondisinya hingga seratus persen.

Selama dua hari perjalanan, tidak ada kejadian istimewa yang terjadi. Perjalanan berlangsung lancar tanpa gangguan apa pun. Kini kapal telah merapat di pelabuhan tujuan dan para penumpang bersiap untuk turun.

Saat hendak turun dari kapal, Yuo Liang memutuskan menunggu pasangan guru dan murid tersebut. Ia ingin berpamitan karena rekannya sudah menunggunya di pelabuhan. Ketika melihat Wang Tian dan Boqin Changing mendekat, ia pun menghampiri mereka.

“Saudara Tian, Chang’er, kebetulan sekali kita bertemu lagi,” ucap Yuo Liang basa-basi.

“Ah, Saudara Liang. Mari kita turun bersama,” sambut Wang Tian.

Mereka pun turun bersama menuju area pelabuhan. Sesampainya di sana, terlihat seseorang membawa dua ekor kuda dan menunggu mereka. Orang itu tampaknya berasal dari Paviliun Teratai Naga karena langsung menyambut Yuo Liang.

“Saudara Tian, Chang’er, aku pamit dulu. Semoga kita bisa segera bertemu lagi.”

“Tentu, Saudara Liang. Semoga kita bisa bertemu kembali.”

“Paman, hati-hati di jalan.”

Yuo Liang kemudian menaiki kuda yang dibawa oleh rekannya dan meninggalkan Wang Tian serta Boqin Changing. Sepanjang perjalanan, senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Tetua Liang, sepertinya kau sangat bahagia hari ini,” ujar rekannya.

“Zhie, kau tidak akan percaya apa yang kutemui beberapa hari terakhir ini. Hahaha!”

“Apa maksudmu, Tetua?”

“Hahaha! Aku bertemu monster kecil yang mengerikan,” jawab Yuo Liang kepada bawahannya, Que Zhie.

Que Zhie tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengira tetuanya masih sedikit mabuk laut hari itu.

Di tempat lain, Wang Tian dan Boqin Changing melanjutkan perjalanan mereka menuju Hutan Kabut Awan. Perjalanan mereka masih cukup jauh dan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai.

...*********...

Hari demi hari berlalu. Kini perjalanan Wang Tian dan Boqin Changing hampir mencapai Hutan Kabut Awan. Diperkirakan sekitar tiga hari lagi mereka akan tiba di tepi hutan tersebut.

Selama berminggu-minggu perjalanan sejak meninggalkan pelabuhan, tidak ada kejadian menonjol yang terjadi. Perjalanan berjalan aman tanpa gangguan apa pun. Mereka terkadang bermalam di alam terbuka atau menginap di desa-desa terdekat.

Saat ini, mereka tiba di desa terakhir sebelum Hutan Kabut Awan. Berbeda dengan desa-desa sebelumnya, desa ini terasa sangat sepi. Tidak tampak satu pun orang berada di luar rumah.

Wang Tian dan Boqin Changing menjadi waspada terhadap kondisi yang tidak wajar ini. Mereka berjalan mengamati keadaan sekitar, namun benar-benar tidak menemukan siapa pun, hingga akhirnya mereka melihat ke halaman sebuah rumah. Di sana, tampak seseorang sedang menguburkan mayat.

Orang itu menangis sambil menguburkan seseorang yang tampaknya sangat ia cintai. Pemandangan tersebut sungguh menggetarkan hati siapa pun yang melihatnya, termasuk Guru Tian dan muridnya.

“Guru, aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Boqin Changing.

“Baiklah, Chang’er. Ayo kita lihat,” jawab Wang Tian.

Sejak dimarahi oleh gurunya, Boqin Changing selalu meminta izin terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Ia tidak ingin terus-menerus diceramahi.

Di hadapan mereka, terlihat sebuah mayat yang telah dibungkus kain dan hendak dimasukkan ke dalam lubang tanah. Namun, yang menarik perhatian Boqin Changing adalah orang yang menguburkan mayat tersebut. Ketiak dan kaki pria itu tampak berwarna hitam.

“Ah, wabah hitam,” gumam Boqin Changing dengan perasaan terkejut.

1
Agus Dian
jurus si marimo ini mah
Agus Dian
kayak lpn ini ceritanya
Dirman Ha
yd gkpp
Dirman Ha
ih gh hooh
Dirman Ha
f dg joon
Dirman Ha
h DJ KP
Dirman Ha
g ghi
Dirman Ha
jg ci
alexa
mantap
rafli basyari
pagi" author masih ngantuk ini😂
rafli basyari
mantap bochang langsung tebas aja😂
indrawanto djiwanto
kok updatenya di sini?
🌸nofa🌸🍉🍉
kak, kayaknya bab ini masuk ke judul yang season 2
atau aku salah ya🤔
Adhytia Mo'o
Dari malaysia dong..🤭
Dirman Ha
uhh bo
Dirman Ha
ih go
Dirman Ha
ih hoo
Dirman Ha
hv go
alexa
up
Boqin Changing: lanjutannya sdh ada di novel lain kak. Silahkan dibaca
total 1 replies
Adhytia Mo'o
Uncle Ben..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!