Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 18 - JALAN KELUAR
Morgana berjalan di depan dengan langkah ringan yang sama sekali tidak mencerminkan bahaya di sekitar mereka. Sesekali dia bersiul dengan nada yang tidak jelas, seperti lagu tanpa melodi yang justru membuat suasana semakin menyeramkan.
"Nivraeth harap kalian sudah siap~," ucapnya tanpa menoleh. "Sarang Shadowlings bukan tempat piknik. Mereka kecil, tapi banyak. Dan kalau sudah waspada, mereka menyerang bergerombol seperti lebah yang sarangnya diganggu."
"Kau bilang kau bisa bantu kami lewat," ucap Razen sambil memegang pedangnya dengan erat. Lukanya sudah jauh lebih baik berkat potion, tapi dia masih belum seratus persen pulih.
"Jangan salah paham serangga~, jika Nivraeth mau, bahkan membunuh seluruh populasi Shadowlings bagi Nivraeth itu semudah bernafas, tapi apa serunya~. Nivraeth datang untuk melihat hiburan."
Suara Morgana yang tiba-tiba berubah, membuat Razen, Eveline, dan Ash. Merinding ketakutan. Mereka tau atau sadar, bahwa orang atau mahluk yang ada di depan mereka ini adalah predator puncak, yang bahkan printahnya tak mampu di tolak oleh Violet sang Ratu Lunaria.
"Nivraeth bilang 'bantu', bukan 'bawa lewat tanpa usaha'~." Morgana akhirnya berhenti dan menoleh. Senyumnya lebar tapi matanya serius. "Kalian harus kerja. Nivraeth hanya kasih jalan dan... sedikit tips."
"Tips seperti apa?" tanya Eveline waspada.
Morgana menunjuk ke arah depan di mana pepohonan mulai menipis dan digantikan oleh formasi batu besar yang aneh. Di antara batu batu itu, ada celah celah gelap yang sepertinya mengarah ke bawah tanah.
"Shadowlings tidak suka cahaya terang. Tapi mereka juga tidak sepenuhnya buta di siang hari." Morgana berjongkok dan menggambar di tanah dengan jarinya. "Mereka berburu dengan bau dan getaran. Jadi, kalian harus pelan. Sangat pelan. Dan jangan sampai berdarah. Bau darah bikin mereka gila."
Ash menatap tangannya yang masih ada bekas luka dari pertarungan dengan Shadow Bear. Untungnya sudah tertutup sempurna. "Kalau kita diserang?"
"Lari atau bunuh dengan cepat dan diam." Morgana berdiri. "Bunuh satu dengan berisik, yang lain datang. Bunuh sepuluh dengan berisik, semua datang. Dan percaya Nivraeth, kalian tidak mau hadapi dua puluh Shadowling sekaligus~."
"Menyenangkan," gumam Ash sarkastik.
Morgana tertawa kecil. "Oh, satu lagi. Jangan dengarkan suara mereka."
"Suara?" Eveline mengerutkan kening.
"Shadowlings bisa... meniru. Suara orang yang kalian kenal. Orang yang kalian sayang. Mereka pakai itu untuk mancing mangsa keluar dari persembunyian." Morgana menatap mereka satu per satu. "Jadi kalau kalian dengar suara teman kalian dari kegelapan, jangan percaya. Itu bukan mereka."
Hening sejenak. Angin bertiup pelan, membawa bau tanah lembab dan sesuatu yang manis membusuk.
"Baiklah," ucap Razen akhirnya. "Kita masuk. Formasi ketat. Eveline di depan, dia paling bisa bergerak tanpa suara. Ash di tengah. Aku di belakang."
"Dan Nivraeth?" tanya Morgana sambil memiringkan kepala.
"Kau bilang kau bantu. Jadi kau tentukan sendiri posisimu."
Morgana tersenyum lebar. "Nivraeth akan ada di mana Nivraeth dibutuhkan~. Atau mungkin tidak. Tergantung seberapa menghibur kalian~."
Sebelum ada yang bisa protes, Morgana sudah melangkah masuk ke antara formasi batu, menghilang ke dalam bayangan.
"Aku benar benar tidak suka cara dia bicara," gumam Ash.
"Tidak ada yang suka," balas Eveline. "Tapi kita butuh dia sekarang. Jadi berhenti mengeluh dan fokus."
Mereka mulai bergerak masuk.
---
Sarang Shadowlings ternyata bukan gua biasa. Ini lebih seperti labirin alami yang terbentuk dari batu batu besar yang saling bertumpuk dengan cara yang tidak masuk akal. Celah-celah sempit menjadi jalan, dan kadang kadang mereka harus merangkak atau memanjat untuk lewat.
Cahaya matahari hampir tidak masuk. Hanya sedikit sinar yang menembus dari celah-celah di atas, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang membingungkan.
Dan yang paling mengganggu, hening.
Terlalu hening.
Tidak ada suara burung. Tidak ada suara angin. Bahkan langkah kaki mereka yang sudah sangat hati hati terdengar terlalu keras di keheningan ini.
Eveline bergerak seperti bayangan. Setiap langkahnya diperhitungkan, setiap napasnya dikendalikan. Ash mencoba meniru, tapi dia tidak sehalus itu. Beberapa kali kakinya menginjak batu kecil yang berbunyi, dan setiap kali itu terjadi, Eveline menoleh dengan tatapan tajam.
Maaf, bisik Ash dengan gerakan bibir tanpa suara.
Eveline hanya menggeleng dan melanjutkan.
Mereka sudah berjalan sekitar sepuluh menit ketika Ash melihatnya.
Sesuatu bergerak di bayangan.
Kecil. Cepat. Menghilang sebelum dia bisa lihat jelas.
Dia menyentuh bahu Eveline dan menunjuk ke arah bayangan itu. Eveline mengangguk. Dia juga melihatnya.
Razen di belakang mengangkat pedangnya sedikit, siap untuk apa pun.
Mereka terus bergerak, tapi sekarang dengan kewaspadaan maksimal.
Lalu, suara itu datang.
"Ash..."
Suara lembut. Familiar. Suara yang membuatnya berhenti bernapas sebentar.
Suara ibunya.
"Ash... tolong ibu..."
Ash membeku. Tangannya mengepal. Dia tahu ini jebakan. Morgana sudah bilang. Tapi mendengar suara itu tetap membuat dadanya sesak.
Eveline menoleh, melihat ekspresi Ash. Dia langsung memegang tangan Ash dan menggeleng keras.
Jangan dengarkan.
Ash mengangguk, mencoba mengabaikan suara itu. Tapi suara itu tidak berhenti.
"Ash... kenapa kamu tinggalkan ibu... kenapa kamu tidak pulang..."
Tutup telinga, bisik pikirannya. Tapi tangannya tidak bergerak. Seperti ada yang menahannya.
"Ash... Ibu kesepian... Ibu butuh kamu..."
Dadanya makin sesak. Matanya mulai panas.
Lalu tiba-tiba, tamparan keras di pipinya.
PLAK!
Eveline menatapnya dengan mata tajam. Dia tidak bilang apa-apa, tapi pesannya jelas. Fokus. Atau kita semua mati.
Ash menarik napas dalam, menggelengkan kepala. "Terima kasih," bisiknya hampir tidak terdengar.
Eveline mengangguk dan kembali memimpin.
Suara itu perlahan memudar, digantikan oleh bisikan-bisikan lain yang tidak jelas. Suara-suara yang mencoba mancing reaksi, tapi mereka semua mengabaikannya.
Sampai mereka tiba di sebuah ruang terbuka kecil di antara formasi batu.
Dan di sana, mereka melihatnya.
Shadowlings.
Puluhan.
Mahluk-mahluk kecil seukuran kucing, dengan tubuh hitam legam yang sepertinya terbuat dari asap padat. Mata mereka bersinar merah samar, dan mulut mereka penuh dengan gigi-gigi kecil yang tajam seperti jarum.
Mereka semua tidur. Atau setidaknya terlihat seperti tidur. Tubuh mereka naik turun pelan mengikuti napas.
Eveline mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
Mereka semua membeku di tempat.
Jalan keluar ada di seberang ruangan itu. Mereka harus melewati sarang Shadowlings tanpa membangunkan mereka.
Eveline perlahan-lahan melangkah masuk. Setiap langkahnya seperti tarian, menghindari tubuh-tubuh Shadowling yang berserakan di tanah.
Ash mengikuti dengan jantung berdebar keras. Keringatnya mengalir meski udara dingin.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Hampir setengah jalan.
Lalu kakinya menginjak sesuatu.
Bukan batu. Bukan tanah.
Ekor Shadowling.
Mahluk itu langsung terbangun dengan jeritan melengking yang membuat telinga Ash sakit.
"LARI!" teriak Razen.
Semua Shadowling terbangun sekaligus. Mata merah mereka menyala terang, dan mereka semua menoleh ke arah Ash.
Lalu menyerang.
Eveline langsung menarik Ash, membantingnya ke depan. "JANGAN BERHENTI!"
Mereka berlari dengan kecepatan penuh. Shadowlings mengejar dari segala arah, melompat dari dinding, dari atas, dari samping.
Razen mengayunkan pedangnya, api merah menyala, membakar beberapa Shadowling yang terlalu dekat. Tapi ada terlalu banyak.
Eveline melempar belatinya, mengenai kepala satu Shadowling yang melompat ke arah Ash. Mahluk itu jatuh dan langsung berubah jadi asap.
Ash berlari tanpa melihat ke belakang. Napasnya putus-putus. Kakinya hampir tersandung berkali-kali.
Lalu dia melihat celah-cahaya di depan. Jalan keluar!
"SANA! CEPAT!" teriaknya.
Mereka melesat ke arah cahaya. Shadowlings masih mengejar, jeritan mereka membuat sakit telinga.
Razen yang paling belakang tiba-tiba tersandung. Dia jatuh, dan beberapa Shadowling langsung menerjangnya.
"RAZEN!" Ash berbalik, ingin kembali.
Tapi Eveline menahannya. "JANGAN! DIA BISA URUS DIRI SENDIRI!"
Razen berguling, pedangnya menyala lebih terang. Dia mengayun dengan gerakan lebar, menciptakan lingkaran api yang membakar Shadowlings di sekitarnya.
"PERGI! AKU AKAN MENYUSUL!" teriaknya.
Ash dan Eveline terpaksa terus berlari, keluar dari celah cahaya.
Mereka terjatuh di tanah lapang di luar sarang, napas terengah-engah, tubuh penuh luka kecil dari cakaran Shadowling.
Beberapa detik kemudian, Razen melompat keluar, bajunya robek, ada beberapa luka di lengan dan wajah, tapi dia masih hidup.
Dia langsung roboh di samping mereka, napasnya berat.
"Aku... benci... tempat ini...," erangnya.
Ash tertawa. Bukan karena lucu. Tapi karena lega. "Kita... selamat..."
Eveline duduk dengan punggung bersandar ke batu, matanya menatap langit. "Untuk sekarang."
Dari balik pohon, Morgana muncul sambil bertepuk tangan pelan. "Bagus~! Kalian lolos! Dengan sedikit kekacauan, tapi lolos~!"
"KAU!" Ash menunjuknya dengan marah. "Kau bilang kau akan bantu!"
"Nivraeth bantu. Nivraeth kasih info. Kalian yang eksekusi~." Morgana berjalan mendekat. "Tapi tidak apa. Nivraeth tidak berharap banyak dari serangga kecil."
"Aku akan..." Ash mencoba berdiri tapi kakinya lemas. Dia jatuh lagi.
Morgana tertawa. "Istirahat dulu. Nanti Nivraeth akan ajari kalian cara yang benar~. Tapi sekarang..." Dia menunjuk ke arah timur laut di mana ada kilatan cahaya ungu di kejauhan. "Lunaria sudah dekat. Beberapa jam lagi kalian sampai."
Ash menatap ke arah itu. Cahaya ungu yang indah, berbeda dari cahaya keemasan yang kadang keluar dari tubuhnya.
Lunaria.
Tempat di mana Violet akan melatihnya.
Tempat di mana dia akan belajar kontrol.
Atau tempat di mana dia akan kehilangan diri sepenuhnya.
Dia tidak tahu mana yang akan terjadi.
Tapi dia tidak punya pilihan selain terus maju.
---
Mereka beristirahat sekitar satu jam. Razen dan Eveline mengobati luka-luka mereka dengan salep sederhana yang dibawa. Ash hanya duduk diam, menatap tangannya.
Dia masih bisa merasakan sisa-sisa dari kekuatan yang keluar saat melawan Nightshade. Seperti ada sesuatu yang tertidur di dalam dadanya, menunggu untuk bangun lagi.
"Ash," panggil Eveline. "Makan ini."
Dia menyerahkan sepotong roti kering dan daging asap. Ash menerimanya dengan lesu.
"Kau harus makan," ucap Eveline. "Regenerasimu butuh energi."
"Aku tahu." Ash menggigit rotinya tanpa semangat. "Cuma... aku mikir."
"Mikir apa?"
Ash menatap Morgana yang duduk agak jauh, sedang bermain main dengan seekor burung kecil yang entah kenapa malah terlihat seperti ingin melarikan diri namun tak bisa. "Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut aku makin jadi seperti Uroboros dan makin jauh dari Ash yang asli."
Eveline duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat, dia tidak bilang apa-apa. Hanya duduk bersama.
Lalu dengan suara pelan, dia berkata, "Kalau kau mulai lupa siapa dirimu, aku akan ingatkan. Razen juga. Kita tidak akan biarkan kau hilang."
Ash menoleh ke arahnya. Wajah Eveline yang biasanya dingin dan tanpa ekspresi sekarang terlihat... lembut. Hangat.
"Terima kasih," bisik Ash.
"Jangan biasakan," balas Eveline, tapi dia tersenyum tipis.
Razen yang mendengar percakapan mereka dari agak jauh juga tersenyum. Keluarga kecil ini rusak, penuh luka, dan tidak sempurna.
Tapi mereka punya satu sama lain.
Dan untuk sekarang, itu yang paling penting.
---
Satu jam kemudian, mereka kembali berjalan. Kali ini jalanannya lebih mudah. Tidak ada monster. Tidak ada jebakan. Hanya jalan setapak yang mengarah ke timur laut.
Dan seiring mereka berjalan, cahaya ungu di kejauhan semakin besar. Semakin jelas.
Sampai akhirnya, mereka keluar dari garis pepohonan terakhir.
Dan di hadapan mereka, terbentang pemandangan yang membuat Ash kehilangan kata-kata.
Lunaria.
Kota raksasa yang dibangun di lereng gunung, dengan bangunan bangunan tinggi yang terbuat dari batu putih dan kristal ungu. Di tengah kota, berdiri sebuah menara raksasa yang menjulang tinggi, puncaknya bersinar dengan cahaya ungu yang indah.
Jalan-jalan di kota itu dipenuhi oleh cahaya kristal yang melayang-melayang, seperti kunang-kunang raksasa. Dan di udara, ada aura sihir yang begitu pekat sampai Ash bisa merasakannya dari sini.
"Wow," ucapnya tanpa sadar. "Ini... indah."
"Ini Lunaria," ucap Razen. "Kota sihir terbesar di dunia. Tempat di mana ilmu pengetahuan dan sihir bertemu."
Morgana muncul di samping Ash, membuat Ash melompat kaget.
"Nivraeth benci tempat ini~," ucapnya dengan nada ceria yang kontras dengan kata-katanya. "Terlalu ramai. Terlalu berisik. Terlalu banyak manusia kecil yang sok pintar."
"Lalu kenapa kau ikut sampai sini?" tanya Ash.
"Karena Nivraeth janji kita vessel kesayangan~. Dan Nivraeth tidak suka ingkar janji." Morgana menatap Ash dengan matanya yang berbinar polos seperti anak kecil yang baru dapat mainan. "Besok. Nivraeth akan datang. Bersiaplah~."
Lalu tanpa memberi waktu untuk pertanyaan, Morgana melangkah ke bayangan pohon terdekat dan menghilang begitu saja.
Ash menatap tempat Morgana menghilang dengan perasaan campur aduk.
"Ayo," ucap Razen sambil menepuk bahunya. "Kita harus ke istana. Violet pasti sudah menunggu."
Mereka turun menuju gerbang kota, meninggalkan hutan di belakang mereka.
Dan saat mereka melangkah melewati gerbang besar yang dijaga oleh dua penjaga dengan tongkat sihir, Ash merasakan sesuatu berubah.
Udara terasa berbeda. Lebih berat. Lebih... hidup.
Ini adalah awal dari babak baru.
Babak di mana dia akan belajar kontrol.
Atau babak di mana dia akan kehilangan segalanya.
Hanya waktu yang akan tahu.