NovelToon NovelToon
Ibu Susu Berdarah Dingin

Ibu Susu Berdarah Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Cintamanis / Ibu susu / Balas Dendam / Transmigrasi / Agen Wanita
Popularitas:74.4k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.

Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.

______________________________________________

"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.

"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENENANGKAN JAYDEN

Sorakan rakyat di alun-alun masih membahana, namun di balkon itu, Jayden seolah berada di dunianya sendiri yang hampa.

Tangannya yang memegang pagar balkon bergetar hebat, meskipun dia adalah seorang Grand Duke yang tangguh, melihat ibu kandungnya sendiri berakhir di ujung pedang algojo tetaplah sebuah hantaman yang menghancurkan jiwanya.

Jayden menunduk, napasnya terasa berat dan sesak.

Bayangan dimana saat Isabella masih sering mengusap rambutnya sebelum ambisi kekuasaan mengubah wanita itu menjadi monster, berkelebat menyakitkan di benaknya.

Calista yang berdiri di sampingnya menyadari perubahan itu.

Aura dingin Jayden yang biasanya menusuk kini terasa rapuh.

Calista tidak mengatakan apa-apa untuk sesaat, dia tahu kata-kata sabar atau ini yang terbaik, hanya akan terdengar seperti omong kosong sekarang.

Perlahan, Calista melangkah mendekat, dia meletakkan tangannya di atas tangan Jayden yang sedang mencengkeram pagar balkon. Kulit Jayden terasa sedingin es.

"Jayden," panggil Calista dengan suara yang sangat lembut, jauh dari nada bicaranya yang biasanya tajam dan mengejek.

"Aku membunuh ibuku sendiri, Calista. Rakyat bersorak, tapi aku merasa seperti seorang monster," ucap Jayden tidak menoleh.

Calista menggeser posisinya, berdiri tepat di depan Jayden, menghalangi pandangan pria itu dari pemandangan mengerikan di bawah sana.

Calista menatap mata Jayden yang tampak berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang tidak akan pernah dibayangkan oleh siapapun di Florist.

"Kau tidak membunuhnya," ucap Calista tegas namun tenang.

"Hukum yang membunuhnya, dosanya sendiri yang membunuhnya, dan kau hanya memilih untuk menjadi pria yang menyelamatkan ribuan nyawa rakyat dan masa depan Lorenzo daripada membiarkan satu orang terus menghancurkan segalanya," lanjut Calista, menatap dalam mata Jayden.

"Tapi dia tetap ibuku..." bisik Jayden parau.

Calista menarik napas panjang, lalu dia meraih kedua tangan Jayden dan menggenggamnya erat.

"Melihatmu sedih seperti ini membuktikan bahwa kau bukan monster, Jay, karena monster tidak akan merasa sakit, monster tidak akan merasa bersalah, justru karena kamu merasa hancur, itu artinya kamu masih punya hati yang jauh lebih mulia daripada Isabella," ucap Calista, mengusap lembut tangan Jayden, yang masih sedikit gemeteran.

"Kalau kamu merasa menjadi anak terkutuk, maka biarkan aku menjadi rekan terkutuk mu. Kita akan memikul beban ini bersama, kamu tidak sendirian menghadapi kegelapan ini, Jay," ucap Calista tersenyum kecil, mencoba memberikan sedikit kehangatan.

Jayden menatap Calista dalam, di tengah sorakan rakyat yang haus darah dan aroma kematian yang menyengat, wajah Calista adalah satu-satunya hal yang terasa nyata dan menenangkan bagi Jayden.

Perlahan, Jayden menyandarkan dahinya di bahu Calista, membiarkan dirinya rapuh selama beberapa detik saja di hadapan wanita misterius itu.

"Terima kasih... Calista," gumam Jayden pelan.

Calista menepuk-nepuk punggung Jayden dengan lembut, membiarkan Grand Duke yang perkasa itu bersembunyi sejenak dari dunia.

"Sudah, jangan dilihat lagi, ayo kita pulang, Lorenzo pasti sudah menunggumu, dia butuh pamannya yang kuat, bukan paman yang bermuka murung seperti ini," ucap Calista, sedikit bercanda untuk mengalihkan pikiran Jayden.

Jayden menegakkan tubuhnya kembali, lalu dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai emosinya, meski matanya masih terlihat lelah, sorot matanya yang tajam mulai kembali.

"Kau benar. Ayo kembali, aku harus memastikan Lorenzo aman," jawab Jayden, suaranya kembali stabil.

Saat mereka berbalik untuk meninggalkan balkon, Jayden tetap menggenggam tangan Calista, seolah takut jika dia melepaskannya, dia akan tenggelam lagi dalam rasa bersalahnya.

Sementara Calista, dia tidak menolak, dia membiarkan Jayden menggandengnya menuruni tangga istana.

Owen yang menunggu di bawah dengan wajah cemas langsung menarik napas lega melihat tuannya sudah lebih tenang.

"Yang Mulia, kereta sudah siap," lapor Owen, sopan.

"Bawa kami pulang ke kediaman utama, Owen," perintah Jayden, dingin.

"Dan pastikan tidak ada upacara atau pesta penyambutan malam ini. Aku ingin tenang," lanjut Jayden, berjalan ke arah kereta kuda nya.

"Sesuai perintah Anda Yang Mulia," jawab Owen, mengangguk sopan.

Jayden dan Calista menggunakan kereta kuda yang sama,

Di dalam kereta kuda yang membawa mereka pulang, Jayden hanya diam menatap keluar jendela, namun tangannya masih tidak melepaskan tangan Calista.

Calista menyandarkan punggungnya, menatap Jayden dengan perasaan yang aneh.

Di dunia lamanya sebagai Yura, dia tidak pernah peduli pada perasaan orang lain, karena baginya, target adalah target, tapi sekarang, melihat pria di sampingnya ini, dia merasa ingin terus berada di sana untuk menjaganya.

"Jay," panggil Calista pelan saat kereta mulai berjalan.

"Ya?" jawab Jayden, tanpa mengalihkan pandangan nya dari luar jendela.

"Setelah sampai nanti, aku akan membuat mu teh herbal khusus, resep rahasia dari... yah, dari tempat asalku. Itu akan membuatmu tidur nyenyak tanpa mimpi buruk," tawar Calista.

"Hanya teh? Tidak ada racun di dalamnya?" tanya Jayden menoleh dan menatap Calista dengan tatapan yang sedikit lebih hangat.

"Tergantung, kalau kamu masih merengut, mungkin aku akan menambahkan sedikit bubuk racun agar kamu lebih semangat," jawab Calista terkekeh.

Jayden tersenyum tipis, kali ini senyum yang benar-benar sampai ke matanya.

"Terserah kau saja, Calista, terserah kau saja."

Kereta kuda terus melaju membelah jalanan ibu kota yang masih riuh oleh suara rakyat yang berpesta spontan.

Di dalam kabin yang sempit itu, keheningan terasa sangat pekat, namun tidak lagi mencekam.

Jayden masih menggenggam tangan Calista, ibu jarinya sesekali mengusap punggung tangan wanita itu tanpa sadar, seolah mencari jangkar agar pikirannya tidak melayang kembali ke panggung eksekusi tadi.

"Kenapa kau terus melihatku seperti itu?" tanya Jayden tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela kereta.

Calista, yang memang sejak tadi memerhatikan garis rahang Jayden yang kaku, hanya menaikkan bahunya santai.

"Aku hanya sedang menghitung, butuh berapa lama sampai Grand Duke yang agung ini berhenti menyalahkan dirinya sendiri," jawab Calista, tanpa mengalihkan pandangan nya dari Jayden.

"Kau tahu itu tidak mudah," jawab Jayden, menatap mata Calista yang jernih.

"Aku tahu, tapi aku juga tahu bahwa waktu tidak akan berhenti hanya karena kamu sedang berduka," ucap Calista, menarik tangannya dari genggaman Jayden, bukan karena ingin menjauh, tapi untuk mengambil sebuah botol kecil dari saku jubahnya.

"Apa itu?" Jayden mengerutkan kening.

"Minyak aroma terapi, buatanku sendiri dari sisa bahan di dapur kemarin," jawab Calista, bohong.

Sebenarnya itu adalah teknik relaksasi yang Yura pelajari di pelatihan agen rahasia nya dulu, menjadi seorang agen rahasia tidak hanya harus pandai membunuh tanpa jejak, tapi dia belajar banyak hal, mulai dari obati bahan liar dan semacam nya.

"Sini, mendekat sedikit," ucap Calista, membuka botol itu.

Tanpa menunggu persetujuan, Calista menuangkan sedikit minyak ke jemarinya dan mulai memijat pelipis Jayden.

Gerakannya mantap, menekan titik-titik saraf yang biasanya tegang karena stres.

1
Tiara Bella
lanjut semangat ya Thor ...
Tiara Bella
ibu susu Calista pnya bayi besar sabar ya pangeran Lorenzo...
Endang Sulistia
pinter nih si Lorenzo...
Endang Sulistia
ada lamaran kecil kecilan..🤔🤔🤔
T1 T1n
yg penting tiap hari up kak ❤️❤️❤️
IG : hofi03_sakroni: siap beb, di usahakan up stabil setiap hari 🤍
total 1 replies
kaylla salsabella
gasken mak🏍🏍🏍
Maria Lina
cerita ya 2 ..ditamat kn dlu ya thor..tar yg lain dikit up nya.komen aj thor
Maria Lina: ok thor siap🫠
total 2 replies
Retno Palupi
wua... Calista punya 2 bayi😄😄
Lienaa Likethisyow
yura dilawan..salah sasaran oe🤣🤣..lanjut thor yg banyak ya💪💪👍👍 semangat😍😍
Lienaa Likethisyow
cie..cie..Jayden so sweet.😍😍..lanjut thor💪💪👍👍
Lienaa Likethisyow
ulet bulu ilang deh..digertak aja ngacir..sok sokan garang masih garang Calista lah🤣🤣🤣..semangat thor💪💪👍👍
IG : hofi03_sakroni: takot dia kak
total 1 replies
kaylla salsabella
seru🥰🥰🥰
IG : hofi03_sakroni: terimakasih kay, stay tune ya beb 🤍
total 1 replies
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Mengungkapkan perasaan sangat penting untuk kelegaan hati, alih-alih memendamnya sendiri lebih baik kamu mengungkapkan apa isi hati kamu.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Dengar baik-baik Diana, apa yang diucapkan Calista itu adalah sebuah peringatan keras bagimu...😤😰
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.
kaylla salsabella
cari mati aja tuh pelayan
kaylla salsabella
jangan pingsan Owen🤣🤣🤣
Leni Ani
kan habis thor up thor😭😭😭😘💪💪💪👍
Leni Ani
biar pun ngak calista bilang sm jay tp mimpi pun datang ke dia👍
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya keren banget, pokoknya kalian harus membaca nya
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
aduhhhhh seru banget lagi cerita nya😭😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!