Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mansion Terkutuk
Lantai marmer di bawah kakiku terasa dingin. Sangat dingin. Seperti berjalan di atas es yang siap membekukanku hidup-hidup. Aku menatap ke sekeliling mansion ini dengan pandangan kosong, seperti dadaku sekarang.
Semuanya terlihat mewah, bahkan mungkin terlalu mewah. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Tangga marmer putih melengkung megah ke lantai dua. Lukisan-lukisan mahal terpajang di dinding. Vas bunga setinggi tubuhku berdiri di sudut-sudut ruangan.
Tapi semua kemewahan ini terasa seperti dekorasi di dalam peti mati.
"Selamat datang di rumahmu," kata Damian di belakangku. Suaranya datar. Seperti sedang menyambut tamu biasa. Bukan istri yang baru saja menyaksikan suaminya membunuh ayahnya sendiri.
Aku tidak menjawab. Aku bahkan tidak bisa merasakan apapun lagi. Seperti semua emosiku sudah habis terkuras di katedral tadi. Yang tersisa hanya kehampaan. Kehampaan yang menyakitkan.
Gaun pengantinku masih basah. Basah oleh darah ayah yang sudah mulai mengering, mengeras di kain sutra putih ini. Aku bisa mencium baunya, bau anyir yang begitu menyengat. Bahkan perutku terasa mual. Tapi aku tidak melepasnya, aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa.
"Bawa dia ke kamar," perintah Damian pada seseorang.
Seorang wanita tua dengan seragam pelayan mendekatiku. Wajahnya lembut, tapi matanya kosong. Seperti boneka. Dia membungkuk sopan.
"Permisi, Nyonya," katanya dengan suara pelan. "Saya akan mengantarkan Anda ke kamar."
Nyonya.
Aku sekarang menjadi Nyonya Vincenzo. Yang tak lain, istri dari pembunuh ayahku sendiri.
Kakiku bergerak mengikuti wanita itu. Aku tidak tahu kenapa aku mengikutinya. Mungkin karena aku sudah tidak punya pilihan lain. Mungkin karena tubuhku sudah terlalu lelah untuk melawan.
Kami menaiki tangga marmer itu. Setiap anak tangga terasa berat, seperti sedang naik ke guillotine. Di setiap sudut koridor, aku melihat pria-pria berbadan besar berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pengawal. Semuanya mengenakan jas hitam yang sama. Wajah mereka datar, dan tidak ada ekspresi apapun. Mereka menatapku sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.
Aku diawasi.
Setiap detik, setiap langkah, mungkin setiap waktu
Wanita tua itu berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Dia membukanya, lalu melangkah ke samping, membiarkanku masuk.
Kamarnya... aku tidak tahu harus bilang apa. Sangat mewah, dan tidak cukup menggambarkannya. Tempat tidur berukuran raja dengan seprai sutra putih. Lemari pakaian besar yang memenuhi satu sisi dinding. Meja rias dengan cermin besar dan lampu-lampu kecil di sekelilingnya. Sofa panjang berwarna krem. Karpet tebal yang lembut.
Tapi yang paling menarik perhatianku adalah, jendela besar yang menghadap ke taman belakang.
Aku berjalan mendekat, menatap keluar. Taman yang luas dengan lampu-lampu menerangi setiap sudutnya. Kolam renang besar, air mancur, bahkan pohon-pohon yanh sangat tinggi.
Dan pagar besi tinggi, dengan kawat berduri di bagian atasnya. Pengawal berjaga di setiap sudut dengan senjata teracung.
Penjara.
Ini penjara yang begitu mewah.
Aku mengangkat tangan, menyentuh kaca jendela. Dingin. Lalu aku merasakan sesuatu yang lain. Palang besi, teralis, terpasang di luar jendela.
Aku tidak bisa kabur dari sini.
Pintunya terbuka. Aku berbalik. Damian berdiri di ambang pintu. Dia sudah berganti pakaian. Celana hitam santai dan kemeja putih yang dikancingkan setengah, memperlihatkan sebagian dadanya. Rambutnya sedikit basah. Seperti baru mandi.
Bagaimana dia bisa mandi dengan tenang setelah membunuh seseorang?
"Kau harus berganti pakaian," katanya sambil berjalan masuk. "Gaun itu sudah terlihat kotor sekali."
Dengan santainya dia bilang kotor, ini bukan kotor. Tapi ini darah ayahku. DARAH AYAHKU SENDIRI.
"Aku tidak akan menggantinya," suaraku keluar. Serak tapi tegas. Ini pertama kalinya aku bicara sejak sampai di mansion ini.
Damian berhenti, lalu dia menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca.
"Alexa."
"Aku bilang aku tidak akan menggantinya!" teriakku. Suaraku memantul di dinding-dinding kamar besar ini. "Ini darah ayahku! Darah ayah yang KAU bunuh! Dan kau minta aku menggantinya begitu saja, seperti tidak terjadi apa-apa?"
Air mata mulai mengalir lagi. Aku pikir air mataku sudah habis. Ternyata tidak. Masih ada. Masih banyak.
Damian diam. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang aku tidak tahu. Kasihan? Tidak. Pria ini tidak tahu apa itu rasa kasihan.
"Ayahmu seorang pengkhianat, Alexa," katanya pelan. "Dia mendapatkan apa yang pantas untuk dia terima."
"BOHONG!" aku berteriak lagi. "Ayahku bukan pengkhianat! Dia... dia orang yang baik! Dia ayah yang baik! Dia..."
"Dia seorang pembunuh," ucap Damian, yang langsung memotong ucapku. Bahkan, kata-katanya seperti pisau yang tajam.
"Dua puluh tahun lalu," Damian melangkah mendekat, "Ayahmu bekerja untuk keluarga Vincenzo. Dia kepala keuangan, bahkan dia orang kepercayaan ayahku. Tapi satu malam, dia mencuri semua aset keluarga kami. Lima puluh triliun rupiah. Dia menguras brankas. Memindahkan semuanya ke rekening. Dan ketika ayahku mengetahuinya, ketika ayahku mencoba menghentikannya..."
Damian berhenti tepat di depanku. Matanya menatapku dengan tatapan yang penuh kebencian. Kebencian yang sudah tertanam dua puluh tahun.
"Ayahmu membunuh mereka semua," lanjutnya. Suaranya bergetar, hampir tidak terdengar. "Empat puluh tujuh orang. Kakakku Carlos yang baru berusia sepuluh tahun. Ibuku Isabella yang sedang hamil enam bulan dengan adikku. Paman, bibi, sepupu. Semuanya. Ayahmu membakar rumah kami. Membakar mereka semua hidup-hidup. Dan aku hanya bisa mendengar jeritan mereka dari luar karena aku saat itu sedang bermain di taman."
Tidak.
Tidak mungkin.
Ayah tidak mungkin melakukan itu. Ayahku yang selalu membacakan dongeng sebelum tidur. Yang selalu mengelus kepalaku dengan lembut. Yang selalu tersenyum hangat setiap kali aku pulang dari sekolah.
Tidak mungkin.
"Kau bohong, kau pasti bohong," bisikku. Tapi suaraku tidak yakin. "Katakan bahwa semua itu adalah kebohongan."
"Aku punya buktinya," kata Damian. Dia mengeluarkan ponselnya. Mengetuk beberapa kali. Lalu membalikkannya ke arahku.
Aku melihat foto-foto rumah yang terbakar. Tubuh-tubuh yang hangus. Tubuh seorang anak kecil, bahkan wanita hamil. Semuanya, bahkan aku melihat semua itu dengan jelas.
Aku memalingkan wajah. Aku tidak bisa melihatnya lagi. Aku merasa mual saat melihat itu semua.
"Dan ini," Damian menggeser layar ponselnya, "rekaman CCTV malam itu."
Aku tidak mau melihat, tapi mataku secara otomatis tertuju pada layar itu.
Video hitam putih. Berkualitas buruk. Tapi aku bisa melihatnya. Seseorang keluar dari rumah besar yang sudah mulai terbakar. Orang itu membawa tas besar. Berlari ke mobil. Dan ketika dia sempat menoleh ke kamera.
Itu wajah ayah. Wajah ayah yang dua puluh tahun lebih muda. Tapi itu memang wajahnya, dan aku sangat mengenalinya.
Kakiku terasa begitu lemas. Aku jatuh ke lantai. Gaun pengantinku mengembang di sekelilingku seperti awan putih yang ternoda merah.
Tidak.
Tidak. Tidak. Tidak.
"Ayahmu kabur dengan semua uang itu," kata Damian. Dia berjongkok di depanku. Menatapku sejajar. "Dia mengubah identitasnya. Membangun perusahaan baru dengan uang hasil curian. Dan selama dua puluh tahun, aku mencarinya. Aku menghabiskan dua puluh tahun hidupku untuk mencari pembunuh keluargaku. Dan ketika aku menemukannya..."
Dia mengangkat tangannya, menyentuh pipiku. Aku ingin menepis tangannya. Tapi aku tidak bisa bergerak.
"Aku menemukan dia, yang ternyata mempunyai seorang putri," bisik Damian. "Putri yang begitu cantik, yang baru berusia dua puluh tiga tahun. Putri yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu ayahnya. Putri yang begitu polos, yang baik, dan yang paling sempurna untuk dijadikan istri, sekaligus alat untuk balas dendamku."
Aku menatapnya. Air mataku terus mengalir.
"Jadi... aku hanya sebuah alat bagimu?"
Damian tersenyum tipis. Senyum yang menyakitkan.
"Ya."
Satu kata itu menghancurkanku lebih dari apapun.
Aku merasa seperti diremas. Dicabik. Dihancurkan dari dalam. Semua yang aku percayai selama ini runtuh. Ayah yang aku cintai ternyata pembunuh. Pernikahan yang kupikir setidaknya didasari rasa hormat ternyata hanya balas dendam.
Aku bukan siapa-siapa.
Aku hanya sebuah alat balas dendam.
"Kenapa kau tidak membunuhku saja sekalian?" tanyaku dengan suara pecah. "Kalau kau membenci keluargaku, kenapa kau tidak membunuh aku, seperti kau yang membunuh ayah tepat di hadapanku?"
Damian terdiam. Dia menatapku lama. Sangat lama. Ada sesuatu yang berkilat di matanya. Sesuatu yang tidak bisa aku pahami.
"Karena membunuhmu itu terlalu mudah," jawabnya akhirnya. "Aku ingin kau hidup. Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan selama dua puluh tahun. Kehilangan, kesendirian, dan rasa sakit yang tidak pernah hilang."
Dia berdiri. Menatapku dari atas.
"Kau akan hidup di sini, Alexa. Sebagai istriku. Sebagai milikku. Dan setiap hari, kau akan mengingat bahwa ayahmu adalah seorang pembunuh. Dan kau adalah putri seorang pembunuh itu. Kau akan membawa dosa ayahmu seumur hidupmu."
Dia berbalik, berjalan ke arah pintu.
"Besok pagi kita akan mengadakan konferensi pers," katanya tanpa menoleh. "Kau akan berdiri di sampingku sebagai istri yang baik. Kau akan tersenyum. Kau akan meyakinkan semua orang bahwa kematian ayahmu adalah kecelakaan tragis. Kalau kau berani membocorkan yang sebenarnya..."
Dia berhenti di ambang pintu. Menoleh sekilas.
"Ibumu masih hidup, kan? Adikmu yang berusia lima belas tahun juga. Akan sangat disayangkan kalau terjadi sesuatu pada mereka."
Ancaman itu menggantung di udara seperti pisau siap menusuk kapan saja. Damian keluar. Pintu ditutup. Aku mendengar bunyi kunci berputar dari luar.
Dikunci.
Aku dikunci di sini. Aku menatap gaun pengantinku yang berlumuran darah ayah. Darah ayah yang ternyata pembunuh. Pembunuh empat puluh tujuh orang. Termasuk anak-anak. Wanita hamil.
Aku ingin marah pada ayah. Aku ingin membencinya. Tapi aku tidak bisa. Yang aku rasakan hanya sakit. Sakit yang luar biasa. Sakit yang membuat dadaku sesak sampai aku tidak bisa bernapas.
Ayah.
Kenapa?
Kenapa kau melakukan itu?
Kenapa kau tidak pernah bilang apapun padaku?
Kenapa kau meninggalkanku dengan semua kebohongan ini?
Aku memeluk kakiku. Menenggelamkan wajahku di lutut. Dan aku menangis. Menangis sampai suaraku serak. Sampai tidak ada air mata lagi yang keluar. Sampai tubuhku mati rasa.
Gaun pengantinku yang putih sekarang hampir seluruhnya merah. Seperti aku yang sudah tidak bersih lagi. Aku putri pembunuh. Dan aku istri pembunuh lain yang membalas dendam.
Di mana tempatku di dunia ini?
Di mana?
***
Aku tidak tidur semalaman. Aku hanya duduk di lantai, memeluk lutut, menatap kosong ke depan. Cahaya bulan masuk melalui jendela yang berteralis itu, membuat bayangan-bayangan panjang di lantai kamar.
Pagi datang tanpa aku sadari. Cahaya matahari mulai menyusup masuk. Dan pintu kamar terbuka.
Wanita tua yang sama masuk dengan nampan berisi sarapan. Dia menaruhnya di meja, lalu berbalik menatapku. Wajahnya tetap datar. Tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu seperti simpati?
"Nyonya harus mandi dan bersiap," katanya pelan. "Tuan Damian menunggu di bawah. Konferensi pers dimulai pukul sepuluh menit lagi."
Aku tidak menjawab. Aku bahkan tidak menatapnya.
"Nyonya," panggilnya lagi. Kali ini suaranya sedikit lebih lembut. "Saya tahu ini berat. Tapi Nyonya harus kuat. Kalau tidak..."
"Kalau tidak apa?" akhirnya aku bicara. Suaraku serak. "Dia akan membunuh ibu dan adikku?"
Wanita itu diam. Tapi diamnya sudah menjawab segalanya. Aku berdiri perlahan. Tubuhku terasa kaku. Sakit di mana-mana. Aku berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai.
Kamar mandinya sebesar kamar tidurku yang dulu di rumah. Bathtub besar. Shower dengan kaca tembus pandang. Wastafel marmer. Cermin besar yang memantulkan seluruh tubuhku.
Aku menatap pantulanku di cermin.Gaun pengantin berdarah. Rambut berantakan. Wajah pucat. Mata bengkak. Bibir pecah-pecah.
Aku terlihat seperti hantu.
Atau mayat hidup.
Dengan gerakan lambat, aku melepas gaun itu. Satu per satu. Kancing-kancing kecil di punggungnya. Resleting tersembunyi. Sampai akhirnya gaun itu jatuh ke lantai dengan bunyi lembut.
Darah sudah mengering. Meninggalkan noda cokelat kehitaman di kain putih itu.
Aku melangkah masuk ke shower. Memutar keran. Air dingin menghujani tubuhku. Dingin sekali sampai aku menggigil. Tapi aku tidak menggantinya dengan air hangat. Aku membiarkan air dingin itu membasahi seluruh tubuhku. Mencuci darah yang menempel di kulitku.
Tapi tidak bisa mencuci dosa yang mengalir di darahku.
***
Satu jam kemudian, aku berdiri di depan cermin lagi. Kali ini dengan pakaian yang berbeda. Dress hitam selutut. Elegan tapi sederhana. Rambut disisir rapi. Wajah sudah dipoles makeup tipis untuk menyamarkan mata bengkak.
Aku terlihat seperti istri CEO yang sempurna.
Tapi di dalam, aku sudah mati.
Pintu terbuka. Damian masuk. Dia mengenakan jas abu-abu gelap dengan dasi hitam. Rambut tersisir rapi. Wajahnya... tampan. Sangat tampan. Seperti malaikat.
Tapi aku tahu dia iblis.
"Sempurna," katanya sambil menatapku dari atas ke bawah. "Kau terlihat begitu cantik."
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Dia mendekat. Mengulurkan tangannya.
"Ayo. Wartawan sudah menunggu kita."
Aku menatap tangannya. Tangan yang membunuh ayahku. Tangan yang akan menggenggam tanganku di depan kamera. Tangan yang akan berbohong pada dunia.
Tapi aku tidak punya pilihan.
Aku meletakkan tanganku di tangannya. Dingin. Seperti menyentuh mayat.
Kami berjalan keluar bersama. Menyusuri koridor panjang. Turun tangga marmer. Melewati ruang tamu besar. Keluar ke taman depan di mana puluhan wartawan sudah berkumpul dengan kamera dan mikrofon.
Mereka langsung membanjiri kami dengan pertanyaan. Pertanyaan tentang kematian ayah. Pertanyaan tentang pernikahan kami. Pertanyaan tentang masa depan.
Damian tersenyum. Senyum sempurna yang membuat semua orang terpesona.
"Terima kasih sudah datang," katanya dengan suara yang hangat. Suara yang sangat berbeda dengan yang biasa dia gunakan padaku. "Saya dan istri saya ingin mengklarifikasi beberapa hal tentang tragedi kemarin."
Istri saya. Kata-kata itu terasa seperti racun di telingaku.
"Ayah mertua saya, Rafael Vasquez, meninggal dalam kecelakaan senjata api yang sangat tragis," lanjut Damian. Wajahnya murung. Seperti benar-benar berduka. "Ini adalah kecelakaan. Senjata itu seharusnya tidak ada di sana. Dan saya sebagai yang bertanggung jawab atas keamanan acara, merasa sangat bersalah."
Bohong.
Semuanya bohong. Tapi aku berdiri di sampingnya. Diam. Seperti boneka.
"Nyonya Vincenzo," salah satu wartawan memanggil. "Bagaimana perasaan Anda tentang kematian ayah Anda?"
Semua kamera beralih ke arahku. Semua mikrofon diarahkan ke wajahku.
Aku merasakan tangan Damian menggenggam pinggangku. Dari luar terlihat seperti dukungan suami yang penuh cinta. Tapi aku merasakan kekuatan genggamannya. Ancaman di balik setiap sentuhan itu.
Aku membuka mulut. Tapi tidak ada suara yang keluar.
Bagaimana perasaanku?
Aku kehilangan ayah. Aku baru tahu ayah adalah pembunuh. Aku dipaksa menikah dengan pembunuh ayahku. Aku dikurung seperti budak.
Bagaimana perasaanku?
"Saya..." suaraku akhirnya keluar. Pelan. Gemetar. "Saya... sangat sedih. Tapi saya tahu ini kecelakaan. Dan... saya berharap ayah tenang di sana."
Bohong.
Semua bohong yang keluar dari mulutku.
Damian tersenyum. Dia menatapku dengan tatapan yang terlihat penuh cinta di depan kamera. Tapi aku melihat kepuasan di matanya. Kepuasan karena berhasil membuatku tunduk.
Konferensi pers berlangsung tiga puluh menit. Tiga puluh menit aku berdiri di sana, tersenyum, berbohong, berpura-pura menjadi istri yang bahagia.
Dan ketika semuanya selesai, ketika semua wartawan pergi, ketika kamera-kamera dimatikan. Damian melepaskanku seperti membuang sampah.
"Bagus," katanya dingin. "Kau sangat pandai berakting."
Lalu dia pergi. Meninggalkanku sendirian di taman itu. Aku menatap punggungnya yang menjauh. Dan aku bertanya pada diriku sendiri.
Apakah yang ayah lakukan dua puluh tahun lalu benar-benar setega yang Damian katakan?
Atau ada sesuatu yang lain?
Sesuatu yang Damian sembunyikan?
Dan jika ada, bagaimana aku bisa mencari tahu kebenarannya ketika aku dikurung di mansion ini seperti burung dalam sangkar?
Tapi satu yang pasti, aku tidak akan menyerah. Aku harus mencari tahu kebenaran tentang ayahku. Karena aku tidak percaya ayah yang selama dua puluh tiga tahun mencintaiku dengan tulus, bisa menjadi monster seperti yang Damian gambarkan. Ada yang salah. Pasti ada. Dan aku akan menemukannya. Apapun risikonya.