Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.8
Malam itu datang pelan, seperti seseorang yang ragu mengetuk pintu. Ia tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada hujan deras atau angin kencang yang membuat tirai bergetar dramatis. Malam itu datang seperti kebiasaan, perlahan, hampir sopan, seolah tahu bahwa di salah satu kamar kecil di sudut asrama mahasiswi, ada seseorang yang belum siap menerimanya.
Lampu kamar Ryn Moa sudah menyala sejak satu jam lalu, tapi ia belum benar-benar hadir di sana. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan cahaya lampu jalan menyusup tipis ke lantai. Di luar, suara motor sesekali melintas, bercampur dengan suara jangkrik yang terdengar malas, seolah dunia berjalan normal, tanpa tahu bahwa satu hati sedang dalam kondisi darurat. Kamar itu tidak besar. Dindingnya dipenuhi tempelan acak, poster film lama, sticky notes berisi potongan kalimat motivasi yang sudah tidak lagi ia baca, dan foto-foto buram hasil cetak murah, teman-temannya tersenyum lebar, momen-momen yang seharusnya membuat hangat. Rak buku di sudut kamar tampak penuh sesak, bukan hanya oleh buku kuliah, tapi juga novel-novel dengan sudut halaman terlipat dan buku catatan dengan sampul lusuh.
Ryn Moa duduk di atas kasur dengan punggung bersandar ke dinding. Rambutnya dibiarkan terurai, kaus longgar kebesaran menutupi tubuhnya yang melipat kaki seperti orang kehabisan energi. Ponselnya berada di tangan, layar menyala, tapi ibu jarinya tak bergerak. Tubuhnya ada di sana, tapi pikirannya tercecer di banyak tempat. Ia hanya menatap, seolah layar ponsel itu bukan sekadar benda, melainkan cermin yang memantulkan kebingungannya sendiri.
Malam itu, Ryn Moa duduk di kamar sambil menatap layar ponselnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di balik kesederhanaannya, ada ribuan pikiran yang berlomba-lomba di kepalanya. Ada kelelahan yang tidak bisa dijelaskan oleh aktivitas fisik. Ada sesak yang tidak sepenuhnya sakit, tapi cukup untuk membuat napas terasa berat.
Di layar itu, ada dua notifikasi. Dan entah kenapa, angka sekecil itu terasa seperti pilihan hidup dan mati.
“Ada dua notifikasi.”
Tidak lebih. Tidak kurang. Hanya dua pesan. Tapi dua pesan itu terasa seperti dua jalan yang bercabang di tengah hutan, keduanya tampak aman dari kejauhan, tapi hanya satu yang bisa ia pilih untuk dilalui lebih jauh. Yang pertama muncul lebih dulu. Nama yang sudah terlalu familiar, terlalu aman, terlalu sering membuatnya tersenyum tanpa berpikir. Nama yang selama ini terasa seperti rumah. Satu dari J-Hope.
Hobi:
“Kamu udah makan? Jangan lupa istirahat!”
Ryn Moa membaca pesan itu lebih dari sekali. Ia mengenal gaya mengetiknya. Singkat, penuh perhatian, selalu diawali dengan kepedulian kecil yang konsisten. Pesan itu tidak pernah menuntut balasan cepat. Tidak pernah memaksa. Selalu ada, seperti tangan yang siap menopang kapan pun ia goyah. Pesan yang sederhana. Hangat. Perhatian tanpa syarat. Jenis pesan yang biasanya membuatnya merasa diperhatikan bahkan istimewa. Dulu, pesan seperti itu cukup membuat hari Ryn Moa membaik. Cukup untuk membuatnya membalas cepat, menambahkan emoji, lalu merasa dunia tidak seburuk itu.
Dan itu Dulu.
Namun malam ini, ada jeda. Jeda yang tidak biasa. Jeda yang membuat alisnya sedikit berkerut tanpa sadar. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena ada pesan lain. Satu lagi dari Namjoon.
Namjoon:
“Kalau kamu punya draft lain, kirim saja. Aku senang baca tulisannya.”
Kalimat itu tidak panjang, Tidak ada emoji, Tidak ada basa-basi. Namun entah bagaimana, rasanya seperti seseorang duduk di sampingnya dan berbicara dengan suara rendah, tenang, dan penuh perhatian, bukan pada dirinya sebagai orang, tapi pada pikirannya. Pada hal yang ia sembunyikan dari banyak orang, tulisannya.
Ryn Moa menelan ludah. Ada sensasi aneh di tenggorokannya, seperti kata-kata yang ingin keluar tapi tidak tahu harus ke mana. Ia membaca pesan itu lagi. Dan lagi, setiap kali dibaca, maknanya terasa sedikit bergeser. Bukan berubah, tapi semakin dalam. Ia menggeser ponsel sedikit menjauh, lalu mendekatkannya lagi. Seperti ingin kabur, tapi juga tidak benar-benar mau. Gerakan kecil itu mencerminkan kebimbangannya dengan jujur. Dan esoknya ia akan satu kelas lagi dengan Taehyung. Pikiran itu datang tanpa izin, seperti iklan yang tiba-tiba muncul di tengah video.
Taehyung, Nama itu tidak muncul dengan lembut. Ia muncul seperti fakta. Seperti sesuatu yang tidak bisa dihapus hanya karena suasana hati berubah. Nama yang menjadi alasan ia berada di kampus ini. Nama yang dulu membuatnya berani mengambil keputusan gila. Nama yang selama ini ia pikir adalah pusat ceritanya. Ia mengingat dengan jelas hari-hari awal itu. Keputusan kuliah di kampus yang sama, yang terasa besar. Harapan-harapan kecil yang ia simpan rapi, seolah cukup dengan berada di tempat yang sama, perasaannya akan menemukan jawaban.
Ryn Moa memegang kepala. Secara harfiah, Kedua tangannya mencengkeram rambutnya, jari-jarinya masuk di antara helaian hitam yang berantakan. Ia menjatuhkan ponsel ke kasur, lalu menengadah, menatap langit-langit kamar yang penuh stiker bintang sisa masa SMA. Stiker-stiker itu sudah memudar warnanya. Beberapa sudutnya mengelupas. Tapi dulu, ia menempelkannya dengan penuh keyakinan bahwa masa depan akan bersinar, bahwa hidup akan mengikuti garis lurus yang bisa ia tebak.
Kenapa hidupku seperti drama?
Kalimat itu meluncur pelan dari bibirnya, hampir seperti keluhan ke semesta. Tidak ada nada marah. Tidak ada teriakan. Hanya kelelahan. Ia tidak minta ini, tidak minta hatinya dibuat seperti labirin tanpa peta.Ia hanya ingin hidup normal, mengagumi satu orang, Belajar, Lulus, Selesai.
Daftar itu terdengar sederhana. Bahkan membosankan. Tapi justru di situlah kenyamanannya berada dalam kepastian, dalam rencana yang tidak berbelok tanpa izin. Namun… yang paling membuatnya bingung adalah rasa hangat di dada ketika mengingat senyum Namjoon. Rasa itu tidak menggebu-gebu. Tidak membuatnya ingin tertawa atau berteriak. Justru sebaliknya, tenang, stabil, dan diam-diam menetap. Bukan senyum lebar, bukan senyum menggoda, bukan senyum yang sadar sedang dilihat. Melainkan senyum kecil, samar, seolah dunia berhenti sebentar hanya untuknya sendiri.
Senyum itu… terlalu dewasa. Terlalu lembut, Terlalu… memabukkan. Ryn Moa menutup mata, dan sialnya, senyum itu justru semakin jelas. Ia bisa membayangkan Namjoon duduk di ruangan klub penulisan, bahu sedikit membungkuk, pena di tangan, alis berkerut saat membaca. Lalu, ketika menemukan kalimat yang ia suka, entah dari siapa, sudut bibirnya terangkat sedikit. Tidak berisik, Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk membuat seseorang yang melihatnya lupa cara bernapas. Ryn Moa menutup wajah dengan bantal. Bantal itu empuk, beraroma deterjen murah, dan sama sekali tidak membantu mengusir kekacauan pikirannya.
“Aku… kenapa, sih…”
Suaranya teredam, terdengar kecil dan hampir menyedihkan. Ia tidak tahu kapan tepatnya pergeseran itu terjadi. Tidak ada momen dramatis, tidak ada petir, tidak ada musik latar. Hanya serangkaian kejadian kecil yang menumpuk pelan-pelan, seperti tetesan air yang akhirnya melubangi batu. Tatapan singkat, kalimat yang tepat sasaran. Cara Namjoon mendengarkan tanpa memotong. Cara ia membaca tulisan seolah itu sesuatu yang penting, bukan sekadar tugas klub.
Tapi takdir sudah mulai menggeser hatinya perlahan. Bukan ke arah Taehyung, bukan ke arah J-Hope. Melainkan ke seseorang yang diam-diam memperhatikannya… dan selalu muncul di detik yang tidak ia duga.
Kim Namjoon, nama itu terasa berat dan ringan sekaligus. Berat karena maknanya tiba terlalu cepat. Ringan karena entah kenapa, memikirkannya tidak membuat dadanya sesak, tapi justru menjadi hangat. Ryn Moa membuka wajahnya dari bantal dan menatap langit-langit lagi. Ia meraih ponselnya, Notifikasi itu masih ada. Dua nama, Dua dunia.
...⭐⭐⭐...
Ryn Moa menggigit bibir bawahnya, lalu mengetik balasan untuk J-Hope terlebih dulu. pesan itu singkat dan aman. Kalimat yang sudah sering ia pakai. Tidak terlalu dingin. Tidak terlalu dekat. Aman untuk semua pihak, termasuk dirinya sendiri.
Setelah itu, jari-jarinya berhenti di atas nama Namjoon dengan sangat lama. Ia bisa saja membalas singkat. Mengatakan terima kasih. Atau pura-pura tidak punya apa-apa. Itu pilihan paling aman. Tapi tangannya bergerak ke arah lain. Akhirnya, ia membuka folder tulisannya. Folder yang jarang ia buka di depan orang lain. Draft yang belum selesai. Kalimat yang masih mentah dan tulisan yang penuh keraguan, tapi juga kejujuran yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras. Tangan Ryn gemetar sedikit saat menekan tombol kirim. Detik itu terasa sunyi. Seperti dunia menahan napas bersamanya. Dan babak besar itu baru saja dimulai.
Di luar sana, dunia tetap berjalan seperti biasa. Lampu jalan tetap menyala. Motor tetap melintas. Jam dinding tetap berdentang tanpa peduli pada isi hati manusia. Namun bagi Ryn Moa, malam itu menjadi titik awal sebuah cerita yang tidak pernah ia rencanakan, cerita tentang pilihan, tentang perasaan yang tumbuh diam-diam, dan tentang seseorang yang masuk ke hidupnya tanpa permisi, lalu menata ulang seluruh hatinya dengan senyum kecil yang terlalu lembut untuk diabaikan.
...⭐⭐⭐⭐...
Bersambung....