NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Tak Berdarah

Malam telah larut di pinggiran Jakarta. Suara jangkrik di balik tumpukan material bangunan samping rumah terdengar seperti nyanyian duka yang panjang. Di dalam rumah mungil itu, cahaya lampu neon yang mulai redup menerangi ruang tamu yang sesak. Hilman duduk di kursi kayu panjang, memegangi dadanya yang terasa seolah diikat oleh kawat berduri. Rasa sesak itu datang lagi, lebih hebat dari biasanya, membuat setiap tarikan napasnya menjadi perjuangan hidup dan mati.

Andini sudah tertidur pulas di dalam kamar utama. Ia tidur dengan sisa senyum di bibirnya, mungkin masih terbawa mimpi tentang kemewahan yang dijanjikan Reno siang tadi. Namun, ponsel pintarnya tertinggal di atas meja makan, tepat di samping gelas kopi Hilman yang sudah dingin.

Ponsel itu bergetar. Layarnya menyala, membelah kegelapan ruangan.

Hilman awalnya berniat mengabaikannya. Ia bukan tipe pria yang suka mencampuri urusan privasi istrinya, meskipun ia tahu Andini sering menyembunyikan sesuatu darinya. Namun, getaran itu tak kunjung henti. Nama "Reno Sayang" muncul di layar kunci, diikuti oleh cuplikan pesan yang cukup panjang.

Tangan Hilman yang kasar dan penuh kapalan gemetar saat ia meraih ponsel itu. Ia hanya perlu menggeser sedikit bilah notifikasi—Andini terlalu meremehkan Hilman hingga ia merasa tidak perlu memasang kunci sandi yang rumit.

"Din, aku sudah pesan tiket untuk akhir pekan ini. Kita pergi jalan-jalan ya? Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja denganku tanpa gangguan 'pria tua' itu. Kamu bilang kamu butuh refreshing dari rumah pengapmu, kan? Aku akan menjemputmu jam 8 pagi saat dia berangkat kerja. I love you, cantik."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Hilman. Ia merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik, lalu meledak dalam rasa sakit yang amat sangat. Kalimat "pria tua" dan "rumah pengap" terasa seperti siraman air raksa di atas luka terbuka. Ia menatap kata-kata itu berkali-kali, berharap penglihatannya yang mulai kabur karena sakit telah salah membaca.

Namun, kenyataan itu tetap diam di sana, terpampang nyata di layar digital. Istrinya, wanita yang ia perjuangkan dengan setiap tetes keringat dan darahnya, sedang berencana untuk pergi berlibur dengan pria lain di saat suaminya sendiri sedang bertaruh nyawa menghadapi penyakit mematikan.

Hilman menutup matanya rapat-rapat. Air mata hangat mengalir di pipinya yang kuyu. Ia teringat bagaimana Andini selalu mengeluh tentang rumah ini, tentang bau badannya, tentang kemiskinan mereka. Ternyata, di balik keluhan itu, ada rencana untuk benar-benar meninggalkannya, meski hanya untuk beberapa hari.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah kamar. Hilman dengan cepat meletakkan kembali ponsel itu di posisi semula dan memejamkan mata, berpura-pura tertidur di kursi kayu.

Andini keluar dengan jubah mandinya. Ia tampak panik mencari sesuatu. Begitu melihat ponselnya di meja, ia menghela napas lega. Ia melirik sekilas ke arah Hilman yang tampak tertidur lelap dengan napas yang berat.

"Dasar kerbau. Tidur saja kerjanya, nggak tahu istrinya lagi punya urusan penting," gumam Andini sinis. Ia menyambar ponselnya, memeriksa pesan dari Reno, lalu tersenyum lebar sambil mengetik balasan dengan cepat.

Tanpa memedulikan Hilman yang sebenarnya sedang menahan isak tangis di balik kelopak mata yang terpejam, Andini kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Di ruang tamu, Hilman membuka matanya. Ia menatap langit-langit rumah yang kusam. Pikirannya berkecamuk. Ia punya alasan kuat untuk marah, untuk mendobrak pintu itu dan mengusir Andini saat ini juga. Ia punya bukti pengkhianatan istrinya.

Namun, Hilman bukanlah pria seperti itu.

Ia duduk tegak, mencoba meredakan batuk yang mulai mendesak keluar. Ia teringat janjinya saat menikahi Andini tujuh tahun lalu di depan ayahnya yang sedang sakit. Ia berjanji akan membahagiakan Andini, apa pun taruhannya.

Mungkin... mungkin ini kebahagiaan yang dia cari, pikir Hilman getir. Mungkin dengan pergi bersama Reno, dia bisa tersenyum tulus, sesuatu yang tidak pernah bisa aku berikan selama tujuh tahun ini.

Alih-alih melabrak, Hilman justru berdiri dengan goyah. Ia berjalan menuju dapur, mengambil dompetnya yang lusuh. Ia menghitung lembaran uang di sana. Ia baru saja mendapat uang insentif tambahan dari pabrik karena ia tetap masuk meskipun sakit. Total ada lima ratus ribu rupiah.

Ia meletakkan uang itu di dalam sebuah amplop kecil. Di atasnya, ia menulis dengan tangan gemetar: "Untuk uang jajan Andini akhir pekan ini. Pakailah untuk beli baju baru atau makan enak. Maaf Mas tidak bisa menemanimu jalan-jalan karena harus lembur."

Hilman memutuskan untuk menyembunyikan fakta bahwa ia tahu tentang Reno. Ia memilih untuk tetap menjadi "suami bodoh" di mata Andini. Jika ini adalah saat-saat terakhirnya—sebagaimana yang ia rasakan dari kondisi paru-parunya—ia ingin Andini mengingatnya bukan sebagai pria yang penuh amarah, melainkan sebagai pria yang tetap memberikan segalanya bahkan saat ia dikhianati.

Keesokan paginya, Hilman bangun lebih awal. Ia memasak nasi goreng kesukaan Syifa dan merebus air untuk kopi Andini. Saat Andini keluar kamar dengan wajah berseri-seri, Hilman menyodorkan amplop cokelat itu.

"Ini ada sedikit uang tambahan, Dek. Katanya kamu mau keluar akhir pekan ini sama teman-temanmu? Pakailah," ucap Hilman sambil mencoba tersenyum, meski wajahnya pucat pasi.

Andini tertegun melihat amplop itu. Ia tidak menyangka suaminya yang "pelit" (menurutnya) tiba-tiba memberikan uang tanpa diminta. "Tumben kamu baik, Mas? Nggak lagi akting mau minta sesuatu kan?"

"Nggak, Dek. Mas cuma ingin kamu senang. Mas tahu kamu jenuh di rumah terus," sahut Hilman pelan.

Andini menyambar amplop itu dengan cepat. "Ya sudah, makasih. Memang seharusnya begitu. Oh ya, akhir pekan ini aku mungkin nggak pulang. Teman-temanku mengajak menginap di luar kota. Kamu urus Syifa sendiri ya."

Hilman mengangguk. "Iya, Dek. Hati-hati di jalan."

Andini segera masuk ke kamar untuk berkemas dengan riang. Ia sama sekali tidak melihat bagaimana tangan Hilman berpegangan erat pada pinggiran meja untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk. Ia juga tidak melihat bagaimana Hilman menatapnya dengan pandangan yang penuh luka sekaligus kasih sayang yang tak terbatas.

Syifa yang sejak tadi memperhatikan dari balik pintu dapur mendekati ayahnya. "Ayah... kenapa uangnya dikasih ke Mama semua? Bukannya Ayah mau beli sepatu baru buat kerja? Sepatu Ayah sudah bolong bawahnya..."

Hilman berjongkok, mengelus pipi putrinya. "Nggak apa-apa, Nak. Sepatu Ayah masih bisa dipakai. Yang penting Mama senang dulu. Kalau Mama senang, rumah kita jadi hangat, kan?"

Syifa hanya diam, namun matanya yang cerdas seolah mengerti ada sesuatu yang salah. Ia memeluk ayahnya erat-erat. "Ayah jangan sakit ya... Syifa sayang Ayah."

Siang itu, Hilman berangkat ke pabrik. Di perjalanan, ia berhenti di sebuah warung telepon umum. Ia menelepon Reno—ia mendapatkan nomor itu dari ponsel Andini semalam.

Saat panggilan diangkat, suara Reno yang angkuh terdengar. "Halo, siapa ini?"

Hilman menarik napas panjang, menahan sesak di dadanya. "Ini suaminya Andini."

Hening sejenak di seberang sana. Reno tertawa kecil, suara yang penuh penghinaan. "Oh, sang pahlawan tua. Ada apa? Mau memintaku menjauhi istrimu? Atau mau minta uang?"

Hilman menutup matanya, menguatkan hati. "Bukan. Saya cuma mau minta tolong satu hal. Akhir pekan ini, tolong jaga Andini dengan baik. Dia wanita yang rapuh di balik sikapnya yang keras. Jangan biarkan dia sedih. Dan tolong... jangan bawa dia ke tempat yang berbahaya. Dia punya anak yang menunggunya di rumah."

Reno terdiam. Ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari pria yang ia anggap sebagai saingannya. "Kamu... kamu tahu kami mau pergi?"

"Saya tahu. Dan saya tidak akan melarangnya. Saya hanya ingin dia bahagia, meskipun kebahagiaan itu tidak ada pada saya. Tolong... jangan kecewakan dia," ucap Hilman dengan suara yang nyaris hilang, lalu ia memutuskan sambungan telepon.

Hilman menyandarkan kepalanya di bilik telepon umum itu. Air matanya jatuh lagi. Ia baru saja menyerahkan istrinya pada pria lain, hanya karena ia merasa dirinya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan selain sisa-sisa napasnya.

Ia tidak tahu bahwa Reno sebenarnya tertawa setelah telepon ditutup, menganggap Hilman adalah pria paling bodoh sejagat raya. Ia juga tidak tahu bahwa Andini di rumah sedang mencoba gaun paling seksi yang ia miliki, tidak sabar untuk meninggalkan suaminya yang "membosankan".

Namun, di balik semua kepedihan itu, Hilman melangkah menuju pabrik dengan satu tekad: ia harus bekerja lebih keras lagi hari ini. Ia harus segera memenuhi angka satu miliar itu. Karena ia tahu, saat Andini pulang dari liburannya nanti, mungkin ia sudah tidak ada lagi di sana untuk menyambutnya dengan senyuman lelah.

Hilman menyembunyikan pesan mesra itu, menyembunyikan rasa sakitnya, dan menyembunyikan kenyataan bahwa ia sedang sekarat—semua demi satu senyuman dari wanita yang sedang mengkhianatinya.

1
SisAzalea
sepatutnya ini waktu tidur ,malah nangis2 aku
SisAzalea
penasaran bagaimana mereka berjodoh
Mistikus Kata: panteng terus update tiap hari 19:00
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!